[Hal.16] [Ch.3] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Novel Dewasa Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Gue mulai parno duduk sendirian di cafรฉ pinggir jalan yang ramai oleh orang-orang yang singgah sebentar buat minum kopi. Tempat ini Gladys yang pilih. Sedikitnya gue mulai tahu seleranya. Cewek ini suka sama tempat terbuka dan minimalis, yang menu andalannya adalah kopi –dewasa banget. Dari tempat duduk gue sekarang, gue bisa lihat pejalan kaki lewat di trotoar dan nyebrang jalan.

Seorang pelayan mengenakan kaos oblong biru dan jeans hitam nyamperin meja gue. Dia ngasih gue daftar menu tapi gue bilang ke dia kalau gue lagi nunggu seseorang dan pesannya nanti aja. Pelayan cewek itu mengangguk lalu pergi dengan senyuman di wajahnya dan begitu dia minggir dari hadapan gue, sosok yang gue tunggu dengan perasaan deg-degan itu kelihatan juga.

Gue langsung berdiri, senyum sumringah sambil nyamperin dia sebelum Gladys sampai ke meja yang gue book dari dua jam lalu. Well, Gladys telat hampir selama itu dan gue nggak ngerti kenapa gue betah nungguin tanpa harapan. Tapi, kesabaran gue ternyata berbuah manis. Gladys datang dengan gaya yang beda banget dari pertama kita ketemu. Setelan kantor –blazer dan tanktop, dengan bawahan rok span yang semuanya hitam. Tentu aja, dia nggak pakai sneakers, tapi high heels yang tingginya mungkin sekitar 11 senti. Rambutnya digulung dan dia kelihatan serius banget melangkah dengan anggun ke arah gue plus senyuman manis yang bikin jantung gue ser-seran.

“Sorry, banyak kerjaan tadi di kantor,”  kata dia begitu sampai di hadapan gue.

“Nggak apa-apa,”  jawab gue spontan dan cepat, lalu terdiam beberapa saat di sana mandangin wajahnya dan cewek itu ajaibnya senyum-senyum kayak tersipu gitu.

“Boleh duduk?” tegur dia, karena gue malah bengong.

Tersadar gue langsung beranjak dari hadapannya dia terus menuntun dia ke meja yang udah disiapin pelayan.

Masih belum hilang senyum cantik di wajah Gladys yang dipoles make-up tipis dan sesuai dengan warna kulitnya yang agak gelap. Dia kelihatan tenang-tenang aja, sementara gue mulai deg-degan lagi. Pelayan datang nawarin menu, Gladys dan gue mulai memesan.

“Jadi gimana lo bisa dapet Facebook gue?” tanya Gladys memulai begitu pelayan cewek itu pergi dengan pesanan kami. “Lo nanya siapa? Tari? Danny?”

Gue ketawa dulu sebelum bilang sesuatu yang masuk akal. “Nggak seorang pun temen lo yang koperatif sama gue,”  jawab gue. “Kalau gue berhasil maksa mereka buat ngasih nomor HP lo, nggak mungkin gue kirim pesan Facebook,”

Gladys kelihatan nggak percaya, menggeleng-geleng, dia menatap gue ambigu. “Jadi…lo search Facebook gue sampai ketemu?” tebak dia dan gue cuma tersenyum simpul. Gladys terkekeh. “Sampai segitunya….”

“Gimana nggak, tiba-tiba gue ditinggal,”  kata gue, mengingat lagi momen dia naik taksi dan cuma  ngasih gue senyum yang seolah menebar harapan untuk ketemu lagi. Sejenak gue dibuai sama kesenangan sesaat oleh senyuman itu, begitu taksinya jauh gue sadar kebodohan gue. Tapi, udahlah, syukur dia masih mau ngeladenin gue.

“Gue salut sama lo.” kata Gladys, dia kelihatan serius. “Yah, kemungkinan kalau ada nomor HP nggak dikenal nelpon ke nomor pribadi mungkin gue males ngeladenin. Soalnya gue nggak pernah sebar nomor dan yang nelpon gue cuma itu-itu doang,”

Angkuh banget nih cewek.

“Terus habis ini, kalau gue yang nelpon lo masih nggak mau ngangkat?” tanya gue menatap dia lekat-lekat.

Senyum sempat hilang sebentar, sebelum dia ketawa pelan lagi. “Gue pikir-pikir dulu deh,”  jawabnya, menggoda gue dengan kerlingan mata yang bikin gue makin ketusuk aja.

Kalau cupid itu beneran ada, pasti daritadi dia udah berkali-kali memanah ke hati gue. Walaupun keramaian di sekitar kita berisik banget dan normalnya gue pasti udah nggak betah sama polusi dan suara klakson mobil, gue ngerasa ada di puncak Kashmir. Berdua sama cewek ini, mungkin diiringi sama lagu-lagu india yang ada adegan berlari-lari di padang rumput.

Tapi, stop dulu. Sang pelayan kembali dengan pesanan kita. Espresso buat Gladys dan Hot Chocolate buat gue. Sejenak kita saling diam karena Gladys kelihatan menikmati banget Espresso-nya. Gila! Ternyata kombinasi cewek dan Espresso kelihatan hot, apalagi ketika dia menyesapnya pelan-pelan. Yang ada di pikiran gue udah macam-macam selagi dia santainya minum dan gue pelototin –untung nggak sampai ngeces. Begitu dia selesai dan menoleh ke gue, gue juga pura-pura jaim dengan ikutan minum pesanan gue.

Selagi gue berusaha jaim dengan bersikap tenang sementara gue bingung harus ngomong apa, HP-nya Gladys bunyi. Damn! Padahal dia kelihatan mau ngomong sesuatu sambil mandangin gue dengan lirikan matanya, tapi suara benda itu bikin dia sibuk menggeledah tasnya untuk nyari hp.

“Ya, Nel…,” dia menjawab panggilan itu setelah berisyarat ke gue dia harus mengangkatnya karena kayaknya penting baget. Dia nggak lagi melihat kearah gue dan paling nggak gue bisa puas hanya dengan mandangin dia. Caranya bicara dan bahasa tubuhnya saat dia lagi ngomong. Yang paling bikin gue greget adalah senyumnya itu. Rasanya pingin gue cium…

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments