๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Sebenarnya gue capek…,” kata dia, ngaku juga kalau gue sempat jadi tempat pelampiasan rasa lelahnya. “Pulang kantor lalu dijemput sama Tari. Parahnya gue dipaksa buat ikut ke sini,”
Gue cuma ketawa pelan. “Lo kerja di mana?” tanya gue, ngikutin arah obrolan yang kedengarannya serius.
“Yah, di perusahaan e-commerce,” jawab dia, dengan lesu seolah dia nggak nikmatin hari-harinya dengan pekerjaan itu.
“Hebat dong,” kata gue. “Enak udah bisa kerja,”
“Lo sendiri?” tanya dia, menatap gue yang segera terkesiap. “Lo masih mahasiswa ya?”
“Gue baru tingkat empat”Jawab gue sedikit malu, merasa kalau gue ini bocah banget di hadapan cewek yang gue kira lebih muda dari gue.
Cewek itu ngangguk-ngangguk, kelihatan paham kalau gue merasa sedikit nggak pede dengan umur atau kuliah gue yang tersendat-sendat. “Sebenarnya gue juga masih kuliah kok…,” kata dia. “Sambil kerja juga,”
Justru itu lebih hebat lagi. Dalam sesaat gue jadi kagum sama nih cewek. Soalnya ini pertama kali gue ketemu atau mencoba dekat sama cewek kantoran karena gue biasa ngincar cewek-cewek di kampus yang punya sepanjang hari buat berduaan.
“Gue jarang punya waktu buat main-main,” aku dia lagi. “Gue setuju buat ikut ke sini karena gue tuh udah ngerasa jenuh banget sama kesibukan gue,”
“Lama-lama ikut Tari sama Danny, nanti lo bisa ketularan gila sama mereka,” celetuk gue, sekedar bercanda supaya dia nggak mulai serius. Habisnya jarang-jarang gue bisa dapat kesempatan begini enak. Berdua sama cewek yang gue pikir nggak bisa gue dapetin. Masa kita bakal ngomongin sesuatu yang serius?
Gue ngerasa aneh, heran juga gue nyerah di awal bahkan gue ngelakuin sesuatu buat ngedapetin dia. Tapi, memang, cewek yang satu ini lain daripada yang lain. Dia nguap beberapa kali di depan gue, dan mendadak lesu. Kayaknya bener-bener capek.
“Lo mau pulang sekarang?” tanya gue, berharap dia bersedia gue antar pulang karena itu cara yang paling mungkin buat bikin dia punya kesan bagus soal gue.
Gladys mengangguk, dengan lelah, sambil mengeluarkan handphone-nya untuk menelpon seseorang. “Gue telepon taksi dulu,” kata dia.
“Gue bisa nganter lo.” kata gue nawarin dan semoga yang tadi itu bukan basa-basi dia supaya bisa cepat pulang, tapi dia langsung menggeleng.
“Gue pulang naik taksi aja deh. Gue nggak mau nyusahin orang yang baru dikenal,” katanya, tersenyum.
“Ini udah lewat tengah malam, Dis,” ujar gue.
“Maaf ya,… siapa nama lo tadi?” kata dia, dengan cuek dan mendadak menjadi nyebelin lagi.Sedari tadi kita ngobrol dia bahkan nggak tahu nama gue? Atau dia nggak dengar gue sebut nama gue saat kenalan karena musiknya terlalu keras?Ngelecehin banget…
Gue kembali ngulurin tangan gue. “Ferre Saverio.” kata gue dengan sangat jelas, dan dia dengan senyum sumringah membalas uluran tangan gue lalu ketawa sendiri.
“Gladys Ananta,” dia mengucapkan namanya dengan lebih menyenangkan dari saat kita kenalan tadi. Dan dia nggak jutek ketika gue lagi-lagi belum ngelepasin tangannya tanpa gue sadari. Dia balas natapin gue, seolah membalas sinyal-sinyal rasa suka gue. Dan taksi sialan itu akhirnya datang, sehingga dia harus ngelepasin tangannya. Padahal sedikit lagi aja, mungkin Gladys bakal setuju buat gue antar pulang.
Tenang, Ferre Saverio, besok-besok lo masih bisa ketemu dia kok. Intinya sekarang, harus sabar. Prosesnya lebih panjang dari yang biasa.
ooOoo
Komentar
0 comments