[Hal.3] [Ch.1] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Gue lagi duduk sendirian. Mandangin keramaian, kedua temen gue –Bagas dan Tora, kelihatan jingkrak- jingkrak di lantai dansa sama cewek-cewek mereka yang pakai baju lumayan seksi. Gue cuma geleng-geleng kepala, sampai tiba-tiba Danny nyamperin.

“Jangan bengong aja lo.” tegur dia sambil duduk di samping gue, diikuti Tari, pacarnya yang pakaiannya agak sopan dari ceweknya Bagas atau Tora. Dan mereka membawa seseorang yang asing di mata gue.

“Apa kabar, Fer?” sapa Tari, dengan senyum ramah. Setahu gue, dibandingkan sama pacar temen gue yang lain, dia lebih normal. Dia nggak liar dan bergaul sama cewek-cewek yang baik juga, salah satunya seorang cewek yang berdiri di sampingnya. “Oh, iya, kenalin, ini Gladys, temen gue..”

Cewek itu berambut sebahu dan ikal. Dengan bibir tipis dan senyum seadanya dia bikin gue hang mendadak, sampai-sampai dia menarik tangannya karena gue megangnya kelamaan saat salaman. Gue sadar Tari dan Danny ketawa-tawa ngelihat gue jadi bloon. Sedangkan cewek itu risih, seolah nggak suka sama cara gue mandangin dia. Lha terus gue harus gimana juga? Coba lo bayangin deh, kalau misalnya lo ketemu cewek yang bikin lo langsung suka –istilahnya tuh love in first sight, kalau lo nggak bilang gue lebay.

Pertama dia tuh bukan cewek rambut panjang dan dicat pirang, body kayak triplek yang suka pake kemben ke pesta dan rok di atas lutut atau hotpants yang bikin cowok manapun ngeces kalau dia nungging. Kulitnya nggak seputih Donita, kalau standar cewek cantik itu memang harus punya kulit putih kayak mayat mau dikremasi. Terus juga nggak pasang tampang manis buat nunjukin dia punya minat sama gue. Kalau gue ketemu yang begitu sih biasanya langsung gue gandeng, ajakin minum sampai mabok, terus gue tinggal di kamar hotel dalam keadaan bugil.

Tapi, Gladys, dia tenang-tenang aja, sekalipun cowok keren sekelas gue duduk di sampingnya.Saat gue melototin dia dari ujung kaki ke ujung rambut dia cuma ngebales dengan “Apa?” pake tatapan jutek, plus celetukan yang bikin jantung gue kayak disambar gledek. “Lo nggak pernah lihat cewek ya?”

Nantangin nih!, gue senyum-senyum lagi. Minum lagi.Gue mulai beringsut ke dekatnya, dan dia mengernyit mandangin gue sambil megang sedotan softdrink-nya.

“Cewek kayak lo jarang pergi ke tempat beginian,”  kata gue, tenang.

“Kayak gue?” dia mengulas senyum sinis, sebelum minum dari sedotan dan gue makin ser-seran. “Maksud lo?”

“Lo lihat aja tuh cewek-cewek di sekitar lo.” kata gue. “Mana ada cewek ke klub pake sneakers, dan kaos oblong. Kecuali cewek tomboy lesbian,”

Dia ketawa-tawa. “Jadi itu pendapat lo soal gue?” dia bertanya, seperti nyelipin sebuah tantangan di mana dia  bakal ngebales dengan mencari celah kekurangan gue yang kelihatan pada diri gue sekarang, lewat tatapan yang menjurus –gantian dia yang melototin gue dari ujung kaki dan kepala.

So far, penampilan gue selalu outstanding. Jadi kira-kira dia bakal bilang apa?

“Gue juga ngerasa ada yang aneh,”  dia menatap gue penuh arti, dengan kerlingan mata yang bulu matanya lentik, bikin gue nggak berkedip. Dia mulai dengan gaya genit –khas cewek-cewek cantik standar buat godain cowok yang dia incar. “Lo cakep, keren, dan… di sekitar lo ada banyak cewek yang merhatiin lo dari tadi,”


Pujian dia agak bikin gue melayang. Akhirnya dia sadar juga, kalau gue terlalu sayang buat dianggurin sedari tadi.

“Tapi, yang jadi pertanyaan kenapa daritadi lo sendirian?” sambung dia, lalu mengalihkan wajahnya dari gue seolah melecehkan. “Asumsinya dua. Kalau lo nggak sedang nungguin seseorang, pasti lo nggak tertarik sama cewek-cewek yang harusnya bikin jakun lo naik turun karena…lo nggak punya rasa artinya….”

“Lo mau bilang gue homo?” celetuk gue lalu ngakak. Analisanya dalam banget!

Dia menoleh ke gue lagi. “Indeed!” katanya sebelum minum lagi dan kembali nyuekin gue.

“Gue bukan homo.” kata gue, berbisik ke telinganya dengan sengaja. “Lo mau bukti cewek kayak lo juga bikin gue selera?”

Gue lihat dia merinding dan langsung ngejauhin gue sambil memiringkan kepalanya sampai nyentuh bahu. Terus dia menatap gue sambil melotot, nggak suka dengan apa yang gue lakuin tadi. Jelas, kebanyakan cewek itu kelemahannya di telinga. “Lo apa-apaan sih?” dia protes karena gue terlalu dekat dan sepertinya dia bakal duduk dengan jarak satu meter dari gue.

Gue mencoba untuk tetap tenang di posisi gue. Ngebiarin dia ngelakuin apapun yang dia suka, soalnya dia udah bikin gue males. Lagian, kalau gue berhasil naklukin dia, terus mau diapain? Terlalu beresiko ngajakin dia mabuk dan ngamar malam ini, kalau besok pagi dia bakal mendamprat gue habis-habisan karena merampas ‘kesucian’-nya. Gue ketawa sendiri, kesucian? Yang bener aja, gue nggak mau ngambil resiko sama cewek kayak gitu. Tapi,…

Cewek yang seperti ini, nggak cocok kalau cuma buat one night stand. Kenapa? Dia bukan tipe yang sembarangan. Dia tipe yang serius kalau boleh gue bilang. Walaupun di tempat se-crowded ini dia bisa dengan santainya minum softdrink dan sibuk dengan HP-nya. Seolah dia kepaksa datang ke tempat kayak gini, sementara dia nemu kebahagiaan lain di layar HP-nya.Sama, gue juga mulai muak sama tempat ini. Apalagi kalau sendirian. Dan dia kelihatan sama sekali nggak punya minat untuk bersenang-senang seperti temannya.

“Mending kita keluar aja yuk. Gue males lama-lama di sini,”  ajak gue mencoba untuk lebih diplomatis, dan awalnya dia membalas gue dengan tatapan skeptis seolah di wajah gue yang tenang tersimpan modus tersembunyi.

Dia melihat sekitarnya, lalu nyerah. Ternyata tempat ini memang bikin dia nggak nyaman. Jadi tanpa bilang iya, dia mendahului gue ninggalin tempat itu. Untuk sekedar jalan-jalan di sepanjang jalan raya yang masih ramai.

Ternyata menghadapi cewek yang model begini susah-susah gampang.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments: