[Hal.2] [Ch.1] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Di kampus, siapa sih yang nggak kenal sama gue? Cakep, tajir, pintar dan digilai cewek-cewek. Tapi, sayangnya gue nggak punya orientasi yang jelas terhadap sesuatu.Contohnya, gue kuliah tapi sama sekali nggak ada niatan buat kuliah. Gue juga punya cewek, tapi gue nggak pernah nikmatin yang namanya pacaran. Mungkin gue nganggap itu cuma sesuatu yang harus dijalanin untuk sebuah tujuan yang disebut ‘normal’. Tapi, sebenarnya standar hidup yang lebih baik itu juga nggak ditentukan dari hal-hal seperti itu kan? Semua yang gue jalanin hanya sebuah keharusan supaya gue nggak beda dari yang lain alias normal. Sekolah, dan sosialisasi kadang gue ngerasa capek. Tapi, itu tetap harus gue jalanin, suka atau nggak suka. Dan yang menyenangkan itu cuma satu, kumpul sama ‘anak-anak’ dan kongkow-kongkow sambil godain cewek.

Selalu, kalau gue nyamperin mereka, mereka bakal bersorak sambil ninju perut gue. Cara salaman yang sekarang (dulunya sih nggak) bikin gue tersiksa –sakit banget.

“Vps, sorry…,” Tora Cuma cengar-cengir dengan tampang bersalah yang bikin gue geram selagi nahan sakit.

“Lu kira gue samsak apa?” gue menggerutu sambil berdiri kembali dengan tegak.

“Gue lupa lu udah penyakitan, man…,” dia masih menyeringai nggak jelas di depan gue sementara, Bagas dan Danny malah ketawa.

“Ngapain lu pada ngumpul di sini? Arisan?” tanya gue ngebales dengan tawa riang gue yang biasanya.

“Kita kan nungguin elu, Fer,”  kata Bagas.

Mereka selalu punya acara anti-galau yang bikin gue nggak perlu uring-uringan di kampus, dengerin dosen ngoceh sementara gue nggak tahan dengan topik soal kepribadian dan istilah-istilah yang bahkan sering salah gue ucapin.

Gue emang benci kuliah. Tapi, rasanya gue udah kapok banget nyari masalah dan setelah dipikir lagi masalah demi masalah yang pernah gue bikin itu, nggak menjadikan gue sesuatu. Malah bikin gue kehilangan banyak hal yang cukup diungkapkan dengan satu kata ‘kepercayaan’. Karena orang bilang kehilangan kepercayaan, berarti kehilangan segala-galanya. Dan lebih menyedihkan lagi yang kehilangan kepercayaan itu adalah orang-orang di sekitar gue –terhadap gue.

Lo nggak bisa selama-lamanya terus jadi bajingan yang bisa ketawa di saat orang lain sedih gara-gara perbuatan lo. Atau sama sekali nggak merasa bersalah setelah lo menghancurkan sesuatu. Tapi, mumpung gue lagi bete, gue setuju buat ikut mereka ke tempat biasa ditambah beberapa orang cewek yang lagi mereka pacarin. Sayang, gue nggak jadi nggak betah kalau jumlahnya ganjil, di mana cuma gue yang nggak punya pasangan.

Tiba-tiba Bagas nepok bahu gue. “Tenang aja, ntar ceweknya si Danny bawa temen ceweknya,”  kata dia. “Paling nggak buat nemenin lo doang,”

Gue cuma senyum-senyum. Sungguh, gue nggak bener-bener butuh ditemenin. Apalagi cewek.bukannya karena trauma patah hati atau segala macam, tapi gue lagi males kenalan sama cewek. Karena seperti kutukan, endingnya selalu sama –gue ditinggal dengan satu tamparan keras setelah diteriakin ‘bajingan’.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments