๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Badgirl VS Goodboy
Ellody
Monalisa beraksi lagi, seakan-akan sekolah ini pentas kesenian yang biasa dia ikuti tiap tahun. Satu kata untuk drama queen itu…
“Norak!” aku berteriak sambil berdiri dari tempatku dan membuat pengeras suara dengan kedua tangan sehingga semua orang bisa lihat dan dengar kalau dia itu sama sekali nggak bisa membuat orang lain –yang normal, terkesan.
Dari rautnya yang kaget melihatku berdiri dari sekian belas kepala di aula ini, dia jelas kelihatan kesal. Mencak-mencak dengan mulut komat-kamit, sementara beberapa orang anak cowok reseh tertawa geli melihatnya. “Ellody…,” dia menyebutkan namaku dengan gigi gemeretak sebelum guru kesenian, Bu Mita, ikut-ikutan berdiri menengok ke belakang dengan marah–ke arahku.
“Kalau kamu nggak suka, kamu boleh keluar, Ellody,” katanya dan sekarang, tawa geli itu ditujukan kepadaku.
Siapa peduli, kataku sambil duduk lagi dengan sikap masa bodoh dan terpaksa melihat akting pas-pasan Monalisa yang nggak cocok memerankan Coppelia. Menurutku dia terpilih karena punya tampang cantik ditambah tubuh tinggi semampai, kulit putih dan rambut panjang yang selalu digerai. Yah, dia mirip boneka barbie kalau didandani sedangkan kemampuan aktingnya bisa disesuaikan nanti.
Padahal banyak orang yang mungkin lebih bisa menjiwai seni peran ketimbang Monalisa. Misalnya Diana –anak kelas satu yang baru bergabung dengan klub kesenian. Dia selalu duduk di barisan belakang dan nggak ada yang tahu kalau dia seorang penari berbakat dan menguasai panggung setiap kita selesai latihan –tapi sayang, nggak pernah ada yang melihatnya menari dan sadar bahwa dia sangat potensial.
Benar-benar nggak adil untuk orang yang tampangnya pas-pasan. Tapi, buat aku hidup itu masih tetap menyenangkan selama punya orang-orang yang menyayangi kita.
“Gue suka gaya lo.” Andin menunjuk ke arahku begitu dia melihat aku sedang berjalan ke arahnya.
Latihan drama yang ngebosenin itu selesai dan aku merasa sangat lelah.
“Gaya apaan?” tanyaku, bete sambil duduk dan merampas mangkok baksonya Genta yang lagi makan dengan lahap. “Emang gue ngapain?”
“Lo neriakin Mona norak,” jelasnya lalu ketawa. “Lo bener-bener sinting,”
Aku cuma nyengir, lalu menusuk bakso Genta dan memakannya.Itu cuma reaksi spontan. Karena menurutku, aku orang yang ekspresif kalau nggak mau disebut tomboy.
“Itu punya gue!” teriak Genta kembali ngerampas mangkok baksonya yang udah kosong sekarang, lalu mendengus. “Yah….”
“Vdah, cabut yuk!” ajakku sambil menyeret Andin.
“Oi, tungguin!” seru Genta yang nyaris ketinggalan, dia menyusul dengan cepat.
***
Komentar
0 comments