๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kabar resmi dari Bu Mita, Harris mengundurkan diri dari perannya sebagai Coppelius. Dan aku adalah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab dalam konteks reputasiku sebagai murid bandel yang jadi penyebab terganggunya latihan drama. Pasti Monalisa yang mengadu seolah-olah aku yang bikin Harris jadi nggak betah.
“Terus… sekarang lo harus cari orang buat gantiin Harris?” tanya Andin, dia terlihat prihatin saat aku kehilangan semangat di pagi hari yang cerah yang seharusnya jadi mood-booster.
“Itu hukuman…,” kataku lesu. “Gue mau cari kemana coba?”
“Lo kan bisa ingat-ingat siapa yang ikut audisi jadi Coppelius,” kata Genta mengusul. Idenya cemerlang sih tapi…seingatku saat audisi lumayan susah mencari pemeran Coppelius. Dan sekali lagi, Bu Mita cenderung melihat fisik daripada kemampuan akting. Biasanya sih, kalau cowok-cowok keren di sekolah nggak akan minat sama drama –takut dibilang lembek gitu.
Aku menggeleng-geleng, lalu menjerit. “Siaaaal!”
Saat istirahat siang aku memulai ‘perburuan’. Dengan memasang selebaran di mading dan menyebarkannya ke penjuru kelas, aku berharap akan ada cowok keren bertalenta yang mau jadi Coppelius. Tapi, yang mendaftar cuma cowok-cowok bertampang standar yang gagal di audisi pertama. Gayanya macam-macam. Ada yang akting-nya kaku, ada yang tiap sebentar lihat dialog, ada juga yang ngomongnya terbata-bata, dan yang lebih parah ada yang girang nggak jelas seperti psikopat. Hiiiy!
Aku menutup audisi dengan kecewa setelah mencoret semua nama pendaftar. Pencarian itu membuang waktuku sampai aku telat ke Jukebox dan dimarahi Mas Ubai –ownernya.
Yang jadi Coppelius itu, haruslah cowok yang tinggi dan tegap –karena biasanya kalau dipakaikan kostum macam apapun pasti cocok. Serta good looking –seperti Harris. Di sekolah ini lumayan banyak, tapi masalahnya nggak satupun dari mereka yang mendaftar. Terpaksa aku harus melakukan pendekatan. Dengan modal nekat dan pasang muka tembok. Aku mulai membuat daftar nama cowok-cowok keren yang mungkin mau jadi Coppelius.
Noval –anak kelas tiga. Awalnya dia menyambut baik aku dan bahkan sempat ngobrol sebentar. Tapi, waktu aku lagi membahas soal kelas drama dia langsung menghadapkan telapak tangannya ke wajahku. “Sorry, ya, El, gue tuh nggak cocok di kelas drama,” .
Lando –anak kelas satu yang tinggi banget, punya perawakan mirip Marcel Darwin tapi punya kulit yang agak gelap. Senyumnya manis, tapi dia punya acara ekstrim untuk menolak,” Gue nggak mau dibedakin,” . Apa hubungannya? Aku sempat heran. Mungkin karenaa cowok ini gayanya macho banget dan ikut drama malah bikin kesan itu jadi hilang. Namanya juga anak baru masuk SMA.
Dion –anak kelas dua yang pernah sekelas di kelas satu. Dia langsung menggeleng dan sepertinya sudah tahu kalau aku sedang mencari pemain. “Gue nggak mau dipasangin sama Monalisa,” . Aku lupa, Dion mantannya Monalisa. Kalau seandainya yang main bukan Monalisa mungkin dia mau. Tapi sangat nggak mungkin bikin Monalisa keluar. Lagian semua ini terjadi karena Monalisa. Sumpah deh, aku benar-benar pusing.
Taura –anak kelas dua yang terkenal playboy. Jangankan ditawari jadi Coppelius, aku malah digoda sampai merinding dan langsung kabur karena cowok itu main pegang-pegang.
Brian –anak kelas tiga yang rada kebulean. Dia terus-terusan bilang nggak bahkan di saat aku belum jelasin apa-apa. Sepertinya sudah santer terdengar kalau aku tengah memburu semua cowok keren di sekolah untuk masuk kelas drama –paling nggak hanya untuk memerankan Coppelius.
Yang ada belum mendekat saja aku sudah disuruh berhenti di jarak lima meter dari mereka –aku langsung diusir seperti pengamen di lampu merah yang mengganggu ketertiban. Menyedihkan…
***
Komentar
0 comments