[Hal.6] [Ch.2] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar


Kami ninggalin sekolah lebih awal dari biasanya. Soalnya nggak ada les tambahan karena tahun ajaran baru, baru aja dimulai. Di tahun kedua SMA ini aku nggak punya banyak rencana ke depan. Beda dari yang lain, aku nggak pernah mikirin yang namanya belajar, ujian dan; yang ada di pikiran aku hanya main. Itu yang aku sebut dengan nikmatin masa muda. Bersama Andin dan Genta –teman dari SMP, aku pergi ke mana pun yang kita suka dan ngelakuin apa aja yang kita inginkan. Selama itu nggak mengusik orang lain.

Kurang dari tiga bulan lagi aku tujuh belas tahun. Kata orang-orang, usia tujuh belas tahun itu akan membuka sebuah gerbang menuju kedewasaan –percaya nggak percaya. Tapi, itu kan cuma kata orang. Toh, kalau dibanding teman-teman yang lain, aku merasa lebih dewasa. Soalnya di usia yang masih seumur jagung ini, aku udah ngerasain gimana kerasnya kehidupan di luar gerbang sekolah di mana setiap anak dididik agar nggak menjadi sampah masyarakat. Sejak kecil, aku yatim piatu.

Aku nggak ingat lagi rasanya punya keluarga yang utuh. Yang aku ingat cuma saat-saat gimana aku kehilangan mereka satu persatu. Ayah meninggal karena kecelakaan dan ibu menyusul nggak lama setelah itu karena serangan jantung.

“Kenapa sih lo kesel banget sama Monalisa?” tanya Genta, saat aku sedang melamun, memikirkan sesuatu. “Lo nyadar nggak sih, kalau lo terus-terusan gangguin dia, dia bakal mengira lo tuh iri,”

“Iri?” aku hampir tertawa, memang apa dari Monalisa yang bisa bikin aku iri selain dari karena dia memang lebih cantik dari aku?

Genta menghela nafas. “Waktu audisi lo kan pengen banget dapat peran Coppelia,”  jelas dia. “Tapi, Bu Mita lebih memilih Monalisa karena dia sesuai dengan penggambaran tentang Coppelia,”

”Itu sih guenya aja yang lagi apes,”  komentarku. “Gue memang suka di seni peran, tapi mungkin tempat gue bukan di sini, tempat yang lebih besaaaar lagi..” aku pun tersenyum. “Broadway mungkin….”

Tiba-tiba kepalaku ditoel Andin yang duduk di belakang. “Plis deh!” teriaknya, melengking di telinga dan membuat aku terkejut. “Lo tuh harus fokus kalau lo bener-bener mau jadi aktris,”

Aku nyengir lagi. “Udahlah,”  kataku santai. “Nggak usah dipikirin gue dapat perannya atau nggak. Walaupun jadi figuran juga nggak apa-apa, sesuatu itu harus dimulai dari yang kecil. Ya nggak sih?”

“Salut deh sama orang yang punya banyak bakat kayak lo…,” kata Andin, dengan ekspresi sangsi, dan itu sepertinya bukan pujian. “Saking banyaknya bakat, orientasi lo jadi nggak jelas. Harusnya lo tuh protes sama Bu Mita waktu audisi! Semua setuju kok kalau lo cocok jadi Coppelia!”

Aku tertawa. Sungguh, aku benar-benar nggak terlalu peduli lagi sama peran yang aku inginkan setengah mati itu.Aku sempat berpikir, kalau ujung-ujungnya yang dipilih itu tetap Monalisa kenapa harus ada audisi segala?

Latihan sesi dua dimulai agak sore, karena pemeran utama –Monalisa sebagai Coppelia dan Harris –anak kelas tiga, sebagai Coppelius baru datang seenak udel mereka. Seperti biasa pemeran pembantu dapat jatah duduk lebih lama menonton pemeran utama berakting dan aku menguap. Semalam, aku nggak tidur cukup karena menyelesaikan lukisan yang sudah aku tinggal selama hampir sebulan lantaran sibuk kerja sambilan di toko CD.

Hari-hariku padat. Penuh dengan hobi dan kerja. Hidup itu harus seimbang antara mimpi dan realita, meskipun ternyata aku lebih sering mengkhayal daripada kerja. Hanya itu yang membuat aku nggak pernah menyerah.

Mimpi jadi seniman terkenal, entah itu teater, menyanyi, melukis, atau pengusaha kerajinan, atau mungkin penulis! Melihat Monalisa dengan pede-nya memerankan Coppelia, seketika membuat nyaliku ciut. Kalau ingin jadi artis, harus punya tampang yang bisa menjual. Aku ini cuma gadis biasa yang punya satu kelebihan –over-pede, yang diplesetin Monalisa jadi ‘nggak tahu malu’. Aku menghela nafas, dan nggak benar-benar memperhatikan latihannya.

Setelah latihan selesai aku langsung ke Jukebox –toko CD tempat aku kerja selama hampir setahun belakangan. Terus pulang, kalau nggak capek-capek amat aku melukis atau mengerjakan PR kalau nggak lupa tapi kalau badan sepertinya mau meledak, aku langsung tidur. Pagi-pagi, aku berangkat ke sekolah, belajar sampai jam dua siang dan ikut latihan drama walaupun aku lebih banyak duduk –di sela-sela itu, aku sempat menulis beberapa puisi.What a wonderful life…

Semua terasa sempurna kalau Andin dan Genta meramaikan hidupku dengan mengajak nongkrong saat lagi off kerja. Biasanya kami duduk di depan rumah, menyaksikan kereta api lewat dan merasakan getarannya. Kadang kami melompat-lompat di sepanjang rel dan begitu suara klaksonnya terdengar kami langsung berlari kocar-kacir.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments