๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Setelah cukup tenang, aku kembali ke tempat latihan. Beberapa orang sudah berada di sana dan cuma malas-malasan. Bu Mita nggak terlihat begitu juga dengan Coppelia. Dengan sedikit merasa bersalah, aku menghampiri mereka dan yang kudapatkan ketika aku ingin menunjukan bahwa aku menyesal adalah…
“Ngapain lo ke sini?!” Tia si pemeran Swanilda berdiri dari tribun dan sekarang berdiri di depanku.
Aku menelan ludah.
“Latihannya udah kacau gara-gara lo, lo mau apa lagi sekarang?” teriak dia lagi.
Tanpa sadar, kakiku membuat langkah mundur yang menjadikanku benar-benar salah di mata mereka.Pemeran-pemeran lain ikut berdiri, turun dari tribun, dan mengerubungiku dengan kemarahan. Beginikah rasanya melakukan kesalahan yang benar-benar fatal? Aku membiarkan diriku menerima amarah mereka sekalipun aku bisa saja mengatakan bahwa aku nggak sesalah itu.
Aku terjatuh dan pantatku menghempas lantai dengan kasar. Beberapa saat aku tertegun menahan sakitnya pinggangku yang terhenyak. Lalu sosok mereka tampak menjulang di hadapanku seolah akulah yang mengecil di tengah-tengah mereka. Tia mendorongku dengan cepat dan dalam sesaat, semua keberanianku luntur oleh siraman air dari botol mineral yang beramai-ramai mereka buang di atas kepalaku sambil tertawa.
“Rasain tuh!”
Aku nggak bersuara, hanya kaget betapa dinginnya air itu membasahi baju seragamku dan nggak ada seorangpun yang mengeluarkanku dari sana.
Dinding manusia di sekelilingku seolah semakin tinggi, hampir membuatku menangis, sebelum lingkaran itu melebar lalu terpecah mendadak, dan di antara mereka terlihat seseorang meretas kerumunan itu.
“Apa-apaan nih?!” teriaknya.
Aku berusaha menyadarkan diriku bahwa ini mimpi –lantaran ini pertama kalinya aku di-bully di sekolah dan aku nggak melawan. Aku masih nggak percaya, sampai aku melihat Rexi marah memandangi cewek-cewek itu satu persatu. Lalu menghampiriku untuk menarikku berdiri.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya dia dan aku melongo.
Apa aku nggak salah lihat?
Tapi, itu benar. Saat Rexi meraih tanganku, aku benar-benar yakin bahwa aku nggak sedang berhalusinasi. Rexi datang menolongku setelah selama ini dia anggap aku pengganggu –dan dia juga nggak jauh beda dari cewek-cewek ini?
Aku menggeleng. Itu cuma air. Walaupun aku jadi kelihatan kacau dan…kedinginan.
***
Komentar
0 comments