๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Gadis bernama Patsy itu... apa kau pernah bertemu dengannya lagi?” tanya Chev satu kali pada Eloise ketika ia memandangi dirinya di kaca.
“Ya, pernah. Dia menanyakan apa kau sudah membaik, secara mental,” jawab Eloise acuh sambil memandangi gambar yang baru saja diambil oleh fotografernya.
“Di mana kau bertemu dengannya?” tanya Chev lagi, masih memandangi dirinya dalam balutan busana rancangan seorang designer terkenal yang akan dipromosikan lewat tubuhnya.
“Dia menungguku di depan kantor,” jawab Eloise lagi. “Hanya sebentar, lalu langsung pergi.”
Chev membalikan badan dan menatap Eloise heran. “Kau tidak bertanya di mana dia tinggal?”
Eloise menggeleng. “Dia memang tidak punya tempat tinggal ‘kan?” jawabnya.
“Kau tidak membantunya?” Chev sedikit menuntut; teringat bahwa tanpa pertimbangan yang matang, gadis ini memberinya bantuan begitu saja. Mengapa dia tidak melakukan hal yang sama terhadap Patsy?
“Dia menolaknya,” tegas Eloise, tampak tak ingin disalahkan ketika dia terlihat seperti perempuan gila kerja yang oportunis. “Mungkin karena aku terlanjur memberitahunya bahwa aku sudah memberimu tempat tinggal sementara dan pekerjaan yang cocok. Dia mungkin enggan bertemu denganmu karena sekarang kau sudah terkenal.”
“Apa?”
“Dia masih merasa bersalah atas apa yang terjadi padamu, Chevy,” tegas Eloise menatapi Chev setengah membelalak agar berhenti bertanya. “Dia ingin kau melupakan semua kejadian buruk itu.”
Pemotretan harus dilanjutkan dan dia tidak ingin membuang-buang waktu dengan membicarakan sesuatu yang tidak penting baginya. Begitulah Eloise. Perempuan cantik dan kharismatik yang belum menemukan pasangan yang tepat sekali pun dia sudah banyak berkenalan dengan pria.
Eloise menyerahkan kamera itu kembali pada fotografer untuk sesi berikutnya.
Chev kembali menatapi bayangan dirinya. Lalu ia juga menemukan bayangan Eloise yang mengenakan mini dress merah dan high heels senada di belakangnya. Perempuan itu mengelus pundaknya; tampak menyingkirkan debu yang menempel pada setelan jas yang ia kenakan.
“Dia senang saat aku memberitahunya bahwa kau tidak perlu lagi mendekati nona-nona kaya untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu,” bisik Eloise tiba-tiba. Lalu menepuk pundaknya pelan. “Kembalilah bekerja, Cassanova!”
Lalu dia pergi.
Eloise terkadang bisa jadi sangat menyebalkan karena dia tukang perintah yang perfeksionis. Namun berkat perempuan itulah dia bisa menjadi dirinya yang sekarang; yang mana tidak pernah terbayang olehnya sebelum ini. Tapi, tidak serta merta dia terlepas dari pengaruh orang tuanya yang tetap menginginkan hal yang sama, terlebih saat ini ketika Chev dianggap mempunyai nilai lebih yang bisa ‘dijual’. Dia menjadi sosok yang menginspirasi setelah bangkit dari trauma akibat penculikan sadis yang hampir merenggut nyawanya. Terlebih keangkuhannya jauh berkurang. Bahkan Chev menjadi orang yang sangat berhati-hati dalam berkata-kata.
Orang-orang melihat perubahan itu sebagai sesuatu yang positif. Tapi, mereka tidak tahu bahwa luka batin sulit untuk sembuh. Di dalam dirinya, ia masih memendam rasa takut terhadap sesuatu yang tak ia ketahui.
***
“Ya, pernah. Dia menanyakan apa kau sudah membaik, secara mental,” jawab Eloise acuh sambil memandangi gambar yang baru saja diambil oleh fotografernya.
“Di mana kau bertemu dengannya?” tanya Chev lagi, masih memandangi dirinya dalam balutan busana rancangan seorang designer terkenal yang akan dipromosikan lewat tubuhnya.
“Dia menungguku di depan kantor,” jawab Eloise lagi. “Hanya sebentar, lalu langsung pergi.”
Chev membalikan badan dan menatap Eloise heran. “Kau tidak bertanya di mana dia tinggal?”
Eloise menggeleng. “Dia memang tidak punya tempat tinggal ‘kan?” jawabnya.
“Kau tidak membantunya?” Chev sedikit menuntut; teringat bahwa tanpa pertimbangan yang matang, gadis ini memberinya bantuan begitu saja. Mengapa dia tidak melakukan hal yang sama terhadap Patsy?
“Dia menolaknya,” tegas Eloise, tampak tak ingin disalahkan ketika dia terlihat seperti perempuan gila kerja yang oportunis. “Mungkin karena aku terlanjur memberitahunya bahwa aku sudah memberimu tempat tinggal sementara dan pekerjaan yang cocok. Dia mungkin enggan bertemu denganmu karena sekarang kau sudah terkenal.”
“Apa?”
“Dia masih merasa bersalah atas apa yang terjadi padamu, Chevy,” tegas Eloise menatapi Chev setengah membelalak agar berhenti bertanya. “Dia ingin kau melupakan semua kejadian buruk itu.”
Pemotretan harus dilanjutkan dan dia tidak ingin membuang-buang waktu dengan membicarakan sesuatu yang tidak penting baginya. Begitulah Eloise. Perempuan cantik dan kharismatik yang belum menemukan pasangan yang tepat sekali pun dia sudah banyak berkenalan dengan pria.
Eloise menyerahkan kamera itu kembali pada fotografer untuk sesi berikutnya.
Chev kembali menatapi bayangan dirinya. Lalu ia juga menemukan bayangan Eloise yang mengenakan mini dress merah dan high heels senada di belakangnya. Perempuan itu mengelus pundaknya; tampak menyingkirkan debu yang menempel pada setelan jas yang ia kenakan.
“Dia senang saat aku memberitahunya bahwa kau tidak perlu lagi mendekati nona-nona kaya untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu,” bisik Eloise tiba-tiba. Lalu menepuk pundaknya pelan. “Kembalilah bekerja, Cassanova!”
Lalu dia pergi.
Eloise terkadang bisa jadi sangat menyebalkan karena dia tukang perintah yang perfeksionis. Namun berkat perempuan itulah dia bisa menjadi dirinya yang sekarang; yang mana tidak pernah terbayang olehnya sebelum ini. Tapi, tidak serta merta dia terlepas dari pengaruh orang tuanya yang tetap menginginkan hal yang sama, terlebih saat ini ketika Chev dianggap mempunyai nilai lebih yang bisa ‘dijual’. Dia menjadi sosok yang menginspirasi setelah bangkit dari trauma akibat penculikan sadis yang hampir merenggut nyawanya. Terlebih keangkuhannya jauh berkurang. Bahkan Chev menjadi orang yang sangat berhati-hati dalam berkata-kata.
Orang-orang melihat perubahan itu sebagai sesuatu yang positif. Tapi, mereka tidak tahu bahwa luka batin sulit untuk sembuh. Di dalam dirinya, ia masih memendam rasa takut terhadap sesuatu yang tak ia ketahui.
***
Sekali dalam seminggu ia harus hadir dalam undangan pesta yang juga dihadiri oleh ibunya. Chev harus tampil sebagai ‘orang normal’ yang cinta pada keluarganya, terutama ibunya yang mengklaim bahwa dia sudah melalui hal yang berat saat mendampingi putranya sampai sembuh. Padahal yang sebenarnya bukan dia, melainkan Eloise.
Ibunya, Yvonne, akan mengenalkannya pada bermacam-macam orang dalam pesta itu. Kata-kata pamungkasnya adalah ‘ini adalah putra kesayanganku yang berharga’ dengan nada lembut penuh kasih sayang. Ibunya memang berbicara dengan lembut kepada siapa saja, tapi Chev masih bisa membedakan mana yang didasari oleh rasa cinta yang sesungguhnya sekalipun belum tahu bedanya oleh sebab itu tak pernah ada pada ibunya yang egosentris. Ia justru merasakan adanya bentuk ‘kepedulian’ itu saat Eloise mengejeknya atau memerintahnya sesuka hati. Karena terkadang cinta itu tak selalu berwujud lembut dan berbau wangi. Seperti itu pulalah dia memandang sosok lusuh Paris yang memapahnya dengan tertatih keluar dari sarang penculik.
Sekarang ia tak tahu di mana gadis itu. Tak ada petunjuk sama sekali tentangnya karena bagi Eloise yang sudah lama mengenalnya saja dia juga sangat misterius. Bisa muncul dan hilang secara tiba-tiba. Semakin sering dipikirkan, semakin Chev merasa bahwa mereka tak akan bertemu lagi. Sampai pada titik jenuh ketika ia duduk sambil menenggak minuman bersama beberapa orang gadis yang baru saja dikenalnya, Chev berpikir untuk meninggalkan pesta lebih awal. Sekali pun para gadis masih mengajaknya mengobrol seputar dunia mode yang ia geluti akhir-akhir ini.
Jawaban sekenanya tidak membuat gadis-gadis itu merasakan kejenuhan Chev terhadap mereka. Chev berkali-kali menunjukan gelagat tidak ingin diganggu dengan lebih banyak minum daripada bicara. Namun, cara itu tak berhasil. Satu-satunya hal yang membuat Chev benar-benar mengabaikan mereka adalah sosok seorang gadis pelayan yang sedang mengantarkan champagne untuk sekelompok tamu lain yang sedang mengobrol.
Seperti melindur, Chev meninggalkan kerumunan yang kini memandangnya heran bercampur bingung. Seperti tersihir, ia terus melangkah ke arah gadis pelayan yang bergerak meninggalkan kelompok itu dengan nampan yang nyaris kosong.
Ini mungkin mimpi, di saat Chev memikirkannya, Paris hadir di hadapannya; dalam balutan busana hitam putih seragam pelayan. Saking tidak percayanya pada apa yang ia lihat, ia merasa Tuhan mempermainkannya jika ini adalah khayalan; terlebih ia memang sedikit mabuk.
Tapi, melihat bahwa gadis itu juga melihat dirinya dan tampak cukup terkejut, pertemuan itu ternyata bukanlah mimpi.
***
Sepuluh menit, belum ada pembicaraan berarti yang membuat situasi lebih mudah bagi keduanya. Chev masih bingung, demikian pula Paris yang berusaha untuk tenang.
“Aku tidak ingin bosku melihatku masih di sini,” kata Paris padanya dengan gelisah. Seharusnya ia bekerja dan bukannya mengobrol dengan tamu di belakang. “Aku masih bekerja....”
“Aku tidak yakin bisa menemuimu lagi setelah ini,” kata Chev. “Seperti yang Eloise katakan, kau selalu menghilang dan muncul tiba-tiba, lalu menghilang lagi.”
Paris tertawa pelan. “Aku selesai dua jam lagi,” terangnya, mengisyaratkan bahwa kali ini dia tidak punya alasan untuk menghilang.
Chev mengangguk mengerti. “Aku menunggu,” katanya.
“Baiklah,” kata Paris, kemudian tersenyum sambil bersiap untuk pergi. Kemudian tiba-tiba ia membalikan badannya untuk mengatakan sesuatu yang sepertinya terlupa. “Namaku Paris.”
Chev tersenyum senang. Tak peduli Patsy atau Paris, baginya gadis itu tetap orang yang sama; yang pernah menyelamatkan hidupnya, yang memberi perasaan ini. Dia akan menunggu, selama apa pun itu.
Tanpa beranjak dari tempat di mana Paris meninggalkannya untuk bekerja, Chev memikirkan bahan obrolan untuk nanti agar mereka tidak saling mendiamkan dan canggung. Sejak mengenalnya, Chev memang tidak pernah mengobrol lama dengannya. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia ungkapkan, tapi semua itu berputar-putar dalam kepalanya dengan urutan yang tak beraturan sehingga ia bingung dari mana harus memulainya. Ia tidak bisa menggunakan cara yang sama dengan gadis-gadis yang bersamanya sebelum ini; merayu. Paris berbeda; dia pasti kebal terhadap rayuan.
Lagipula untuk apa merayu?
Chev menghela nafas panjang. Lalu tersenyum, menyadari bahwa berhadapan dengan orang yang benar-benar disukai itu tidak semudah menghadapi perempuan asing yang mudah tergoda. Dia tak ingin membuat kesalahan yang membuat Paris kemudian menghilang lagi.
“Aku pikir kau kembali ke pestanya dan bukannya masih menunggu di sini,” kata Paris, keluar dari pintu belakang. Kali ini dia sudah mengenakan jaket dan syal di lehernya. Sepertinya pekerjaan hari ini sudah selesai.
“Aku sudah terlalu lama berada di pesta,” jawab Chev singkat.
Paris tersenyum dan dengan isyarat di wajahnya, ia mengajak Chev untuk segera meninggalkan gang belakang yang sempit dan dingin itu. Meski belum tahu pergi ke mana, bagi Chev berjalan bersamanya seperti ini sudah jauh lebih dari cukup; daripada selama ini di mana ia hanya bisa bertanya di mana gadis itu tanpa pernah tahu jawabannya. Sekarang, dia hadir di sini; di sampingnya, mengajaknya bicara sehingga semua pertanyaan yang sudah ia susun tadi buyar. Paris menerjemahkannya dengan sangat baik seolah ia memang pengobrol yang handal sehingga dalam perjalanan tanpa tujuan itu tak ada lagi suasana canggung yang menyiksa.
“Kau tinggal di mana?” tanya Chev sembari melirik arlojinya; sudah lewat tengah malam dan entah sudah berapa jauh mereka hanya berjalan.
Paris memperhatikan sekitarnya. “Cukup jauh dari sini,” jelasnya. “Harus naik subway. Apa ini sudah lewat jam malammu?”
“Aku tidak punya jam malam,” kata Chev. Apa ia harus mengatakan sejujurnya bahwa dia harus tahu di mana Paris tinggal sehingga pertemuan mereka bukan hanya untuk malam ini? “Hm... aku berpikir untuk mengantarmu karena ini sudah larut.”
“Baik sekali,” celetuk Paris terkekeh.
Sesungguhnya Chev belum ingin mengakhiri malam ini; seakan besok dia tidak akan melihatnya lagi. Tapi, kecemasan Chev terhadap sesuatu memang selalu berlebihan. Di saat bahagia pun kadang ia juga gelisah; gelisah harapan tak sesuai kenyataan. Ia tak hentinya melirik arloji, menghitung waktu yang tersisa di saat perasaan rindunya belum seutuhnya terpuaskan. Satu atau dua pertemuan tak akan cukup sehingga ia tidak ingin beranjak dari menit ini; ketika memandangi Paris duduk selama perjalanan pulang dengan subway menceritakan bahwa dia melakukan banyak pekerjaan untuk bisa bertahan hidup.
Saat akhirnya ia berdiri di depan pintu apartemen Paris, perasaan cemas tak juga reda. Paris kini sudah berada di balik pintu itu dan mengucapkan selamat malam dengan senyuman; seakan memintanya untuk pergi. Tapi, Chev tidak ingin. Sebelum pintu itu menutup ia dengan cepat menahannya, memaksa untuk masuk agar bisa meraih Paris. Dia tidak ingin malam ini berakhir begitu saja hanya dengan ucapan selamat.
Paris cukup terkejut mendapati Chev sudah ada di depannya dan bahkan dialah yang menutup pintu. “Chev?”
Chev tidak menjawab dan hanya mendekapnya. Itulah yang ingin ia lakukan sejak tadi. Ia ingin sekali memiliki dirinya.
Woah, sedikit romatis ๐