๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Shelley pulang mengendarai mobilnya dengan perasaan yang cukup ringan. Setidaknya jauh lebih ringan dari saat ia mengira akan terus bertarung dengan bayangan Paris yang enggan pergi dari kehidupannya dan Winter. Mulai detik itu, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan lebih menjaga dirinya dari amukan Winter. Hanya satu yang diinginkan pria itu darinya, tidak mengusik apa pun yang dia lakukan di luar. Sekarang, sudah jelas Winter tak akan punya banyak waktu bersama Paris. Dia akan melihat Winter berjalan kembali ke pelukannya begitu perempuan itu dikubur.
Tapi, berurusan dengan Winter tidaklah semudah itu. Perasaan ringan yang baru saja mengisi rongga dadanya sekembali dari tempat Paris lenyap seketika saat tiba-tiba rambutnya ditarik dengan kuat begitu ia baru saja masuk rumah.
“Sudah kukatakan bukan?!” teriak Winter yang ternyata sudah pulang lebih dulu. Wajahnya merah padam. Ia sering mengamuk tapi tak pernah semenakutkan itu. “Lebih baik bagimu untuk tetap di rumah dan menungguku pulang!”
“Lepaskan aku, Winter!” jerit Shelley saat lelaki itu kembali menyeretnya. Ia sempat pasrah jika lelaki itu kembali melakukan kekerasan di tempat tidur atau mengurungnya di lemari atau membenamkan kepalanya di bak mandi. Tapi, sepertinya lelaki itu tampak tidak akan melakukan satu dari tindakan yang biasa ia lakukan terhadap Shelley sebelum ini. Dia melempar tubuh Shelley yang lemas ke sudut kamar dengan keras sampai perempuan itu meringkuk kesakitan.
Tak puas dengan itu, Winter keluar sebentar dan kembali dengan seutas tali.
“Apa... yang kau lakukan?” Shelley masih bertanya saat Winter mendekat dan menarik kedua tangannya lalu mulai mengikat.
“Aku harus melakukannya...,” kata Winter dengan cepat menyimpul dengan erat hingga Shelley kembari menjerit kesakitan.
Tubuhnya terlalu sakit untuk melawan. Kakinya yang masih bebas bisa saja menendang Winter tapi yang pasti lelaki itu akan lebih kasar untuk membuatnya tak bergerak.
“Mengapa... kau harus melakukan ini padaku?”
“Kau pikir aku tidak tahu kau mengendap-endap masuk untuk menghabisinya?! Kau pikir aku sebodoh itu?!”
“Kau yang membuatku melakukannya! Dia tidak pernah tahu kau memperlakukanku seperti ini hanya karena dirinya!” teriak Shelley. “Aku ingin dia mati supaya kau berhenti menyiksaku seperti ini!”
“Mengapa kau harus memberitahunya?!” teriak Winter, memberinya sebuah tamparan keras yang menjatuhkannya kembali ke lantai.
“Kau yang membuatku melakukannya!” teriak Shelley dengan cara yang sama.
Dengan sigap, Winter kembali mencengkram lehernya, menekannya begitu kuat. Sepertinya ia sudah berhenti bermain-main dengan Shelley yang tak sanggup lagi melawan. “Bagaimana rasanya?” tanya Winter, tanpa mengurangi kekuatan cengkramannya.
“Ap... apa yang... membuatmu marah... padaku?” Shelley masih melawan; dengan tatapan tajam. “Tahu... dia akan mati... dengan sendirinya... a.. atau... tahu... ka... kalau dia tidak... mencintaimu... lagi?”
“Kau perempuan yang keras kepala,” Winter menggumam; cengkramannya masih kuat.
“La...kukan...,” Shelley semakin menantangnya; sekali pun ia tak bisa bernafas. Ia tahu setiap ia meminta Winter untuk membunuhnya, laki-laki itu tidak akan melakukannya.
Winter hanya menjadikannya pelampiasan emosi karena dia tidak bisa meluapkan itu pada orang lain. Dia dengan leluasa menyakitinya karena terlalu percaya diri Shelley akan diam dan menerimanya begitu saja. Namun kali ini situasi menjadi terbalik saat ia menemukan kemarahan Winter bukan karena Shelley mencoba membunuh Paris, namun karena ia mendengar sendiri pengakuan perempuan itu.
“Aku mati, dia juga akan mati,” Shelley memperingatkan. “Dengan begitu... kau tidak akan punya siapa-siapa lagi....”
Winter tertegun di hadapannya seolah mengakui bahwa Shelley benar. “Dia akan hidup,” tegasnya kemudian; kembali melempar tatapan tajam pada Shelley yang meringkuk di sudut melindungi diri. “Dia akan sembuh....”
“Kau ingin dia tetap hidup?” tanya Shelley. Meskipun tertekan ia masih dapat berpikir; memanfaatkan celah yang diberikan Winter tanpa ia sadari. “Untuk melihat suatu hari nanti... dia hanya mengucapkan terima kasih padamu... lalu pergi dengan orang yang membuatnya jatuh cinta?”
“Diam, Shelley!” teriak Winter, hendak meraih Shelley lagi untuk membungkam mulutnya.
“Tidakkah kau sadar bahwa aku pemenangnya sekarang?!” balas Shelley lebih keras. “Kau tidak punya nyali untuk membunuhku! Kau lemah, Winter!”
“Persetan denganmu!”
“Coba saja!” pekik Shelley, kembali putus asa saat Winter kembali menghempaskan tubuhnya ke dinding. Ia bangkit dengan tertatih saat lelaki itu ingin kembali menarik tubuhnya untuk siksaan berikutnya. “Kalau kau bisa membunuhku sekarang, kau tidak akan kehilangan apa pun nanti!”
Pekikan itu sedikit membuat Winter berpikir.
“Kalau kau membiarkanku hidup hari ini, kemungkinan bagimu untuk menyelamatkan perempuan itu dari kematian sangat kecil,” Shelley perlahan bangkit untuk duduk dan tetap waspada apabila lelaki itu kembali menghempasnya. “Aku mengumpulkan semua hasil pemeriksaan kekerasan yang kau lakukan padaku untuk mengirimmu ke penjara. Kau tahu persis alasanku selama ini tidak pernah melakukannya. Bayangkan jika aku melakukannya, apa yang tersisa darimu? Kau akan kembali jatuh miskin dan bahkan lebih buruk. Kau tidak akan bisa memberinya tempat yang nyaman untuk tinggal dan membiayai pengobatannya! Ingat itu!”
Shelley tahu, saat ini dalam hatinya, Winter bersumpah serapah.
“Bunuh aku selagi kau punya kesempatan!” tantang Shelley dengan lantang. “Karena mulai besok aku tidak akan pernah membiarkanmu menyakitiku lagi! Kalau kau masih berani, aku akan membongkar semua kedokmu! Lihat saja!”
Tak lama lagi, ia akan melihat Winter mundur. Kegilaannya akan berakhir.
“Terserah apa pun yang ingin kau lakukan,” Winter berkata, sambil perlahan menjauh. “Tapi, kau akan tetap melihatnya hidup... kau akan tetap tahu... bahwa aku selalu mencintainya... dan kau akan tetap menjadi bayang-bayang kesepian yang mencoba mencari tempat berteduh....”
“Kau akan membayar semua yang kau lakukan, Winter...,” Shelley mengancam untuk yang terakhir kalinya karena pengakuan Winter kembali mengguncang perasaannya.
***
Bertahun-tahun kemudian, Shelley tetap melihat Paris bernafas. Keajaiban menyembuhkan perempuan itu namun tetap saja tak merubah nasibnya. Terakhir kalinya Winter membuat kesal dirinya saat lelaki itu menolak untuk menikah. Lalu untuk yang pertama kali dalam hidupnya, Shelley mengadu pada sang ayah.
“Aku tidak tahu persis sejak kapan...,” dengan tangis yang cukup meyakinkan itu, Shelley berterus terang padanya tentang kegelisahannya. “Paris terus saja mengganggu Winter, Ayah. Aku pikir aku sudah gagal. Aku tidak punya harapan. Sama sekali tidak.”
Shelley lebih memilih mengadukan Paris karena jika itu Winter, sang ayah tidak akan setuju dengan pernikahan mereka. Tapi, dengan ‘memukul’ Paris lewat ayahnya, Winter akan mendapat pelajaran berharga untuk tidak mempermainkan perasaannya lagi. Seperti yang ia inginkan, Daniel mendatangi Paris tanpa pernah tahu kenyataan bahwa putrinya itu baru saja sembuh dari penyakit parah. Namun, sama sekali tidak disangka oleh Shelley, sang ayah tega memukul Paris yang dia pikir sengaja menggoda Winter.
“Kau benar-benar tidak tahu malu!” maki Daniel, sementara Paris syok. Ia tidak tahu akan didatangi lalu harus menerima pukulan dari ayahnya untuk sesuatu yang tidak dia lakukan. “Sudah seharusnya aku membunuhmu sejak dulu karena kau tidak pernah berhenti untuk menyakiti orang lain!”
Paris –entah mengapa, tidak membela dirinya seperti yang biasa dia lakukan.
Ya, perempuan itu sudah jauh berubah. Meski pun hatinya sakit, tapi ia tidak membalas kata-kata ayahnya. Namun, sudah pasti, Paris mengadu pada Winter karena keesokan harinya dengan amarah yang sangat, Winter kembali memukul dan mencekiknya sebagai pembalasan.
Shelley tidak pernah takut lagi pada siksaan lelaki itu. Dia menerima perlakuan Winter karena sudah terbiasa; lebih dari sekedar terbiasa. Sepintas Shelley kalah karena Winter tetap akan meninggalkannya sebagai balasan apa yang dia perbuat pada Paris. Namun, secara mengejutkan Winter harus menerima kenyataan yang miris. Begitu membaik, Paris meninggalkan apartemen itu diam-diam. Dia pergi ke tempat di mana Winter tak akan bisa menemukannya karena tak ingin lagi berurusan dengan sang ayah dan juga masa lalunya.
Hari di mana akhirnya Winter datang kembali padanya pun terjadi. Meski hanya berupa raga tanpa perasaan. Shelley sudah tahu, selamanya hati Winter akan selalu menjadi milik Paris meski peremuan itu sudah membuangnya....
***
Raga tanpa perasaan :((