[Hal.8] [Ch. 3] WHO KILLED PARIS - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Dia tidak akan kembali. Apa yang kau harapkan, Winter?”
Winter tidak pernah menanggapi apa pun saat Shelley bicara tentang Paris. Tapi, saat itu ia mengangguk. “Aku tahu,” balasnya.
Setidaknya Shelley semakin yakin perlahan-lahan Winter berusaha untuk membebaskan dirinya sendiri dari jeratan Paris. Shelley hampir bisa memastikannya ketika laki-laki itu mengizinkannya mendekat dan menyentuhnya, hingga jarak di antara mereka menipis dan hubungan mereka semakin serius.
Tapi, tetap saja terkadang, ketika Shelley memeluk tubuhnya, ia tak merasakan jiwa lelaki itu ada bersamanya. Ciumannya tetap saja sedingin salju. Gairahnya terhadap Shelley tak lebih dari sekedar keinginan semu yang menghilang begitu saja setelah percintaan selesai. Winter akan meninggalkannya sendirian di tempat tidur lalu menyendiri di sudut lain rumah. Ya, Shelley sudah tahu, ia akan banyak menangis dan berusaha menyembunyikan kesedihannya dari ayahnya dan Harriet. Bagaimana pun ini adalah keputusannya. Dia tidak ingin menyerah setelah berusaha keras dan berlari sejauh ini demi Winter.
“Winter...,” Shelley ingin mengajaknya bicara saat Winter hanya menatap langit-langit kamar dengan hampa. Mereka sama-sama tidak bisa tidur.
“Apa?” balas Winter, tanpa mengalihkan perhatiannya.
“Apa kau pernah berpikir... untuk menikah?” tanya Shelley.
“Kau ingin menikah?” Winter balas bertanya sambil menoleh padanya.
“Aku hanya ingin memiliki dirimu seutuhnya. Apa itu salah?”
Winter terdengar menarik nafas panjang, lalu memutar tubuhnya menghadap Shelley yang hampir menangis karena tidak bisa membendung kesedihannya lagi. “Kau sudah memiliki semuanya,” ia berkata dengan tatapan dingin itu lagi.
Shelley menggeleng-geleng.
“Tapi, hatimu tidak.”
“Kau tahu itu sejak awal.”
Air mata Shelley pun mulai mengalir deras.
“Aku mencoba bertanggung jawab atas perasaanmu dengan membiarkanmu bersamaku,” sambung Winter, suaranya ibarat duri tajam yang menusuk dengan perih. “Karena aku tahu menolak atau menerima cintamu akan sama saja. Kau akan tetap menderita karena diriku. Daniel akan tetap membenciku karena Paris. Dia memberiku kesempatan hanya karena ibuku.”
“Hentikan...,” Shelley mulai meringis. Ia berusaha untuk bicara tanpa terisak. “Kenapa kau harus berkata begitu padaku?”
“Aku tidak sebaik yang kau kira, Shelley,” Winter mengusap kepalanya dengan lembut beberapa kali, lalu mengusap wajahnya yang basah. Sekilas ia terlihat iba padanya namun laki-laki itu mencengkram dagunya dengan keras. “Aku bisa tidur dengan banyak wanita karena aku tidak tertarik dengan tubuhmu kalau kau pikir kau itu bisa membujukku untuk melupakan Paris. Aku tidak menolak bercinta denganmu karena itu sedikit menyenangkan untuk beberapa saat. Tapi, ingat, aku tidak ingin dikendalikan oleh keparat kecil sepertimu.”
Untuk pertama kali, Shelley mengakui pada dirinya sendiri bahwa semua yang ia katakan pada ayahnya tentang kebaikan di dalam diri Winter adalah sebuah kebohongan. Dia berkata seolah-olah itu ada tapi tidak pernah.
Winter tiba-tiba menindih tubuhnya dengan kasar.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Shelley ketakutan.
“Aku akan memberimu apa yang selalu kau inginkan dariku,” jawab Winter, sembari memegangi kedua lengannya.
“Tidak...,” Shelley meronta. “Jangan, Winter....”
“Seharusnya kau tidak perlu meyakinkan Daniel agar kita bisa tinggal berdua saja...,” katanya lagi; dengan seringai menakutkan yang membuat Shelley bergidik. “Berteriaklah, Shelley.”
Laki-laki itu sama sekali tidak baik. Dia juga monster. Paris telah mengubahnya menjadi tak berperasaan. Malam itu, entah apa yang merasuki Winter sehingga laki-laki itu memperkosanya. Shelley berteriak, meronta berusaha melepaskan diri karena sakit yang luar biasa hingga suaranya habis. Tapi, Winter tidak menghentikannya dan ketika pagi datang, Winter meninggalkannya dalam keadaan terikat di tempat tidur sebagai hukuman.
Shelley terus bertanya-tanya mengapa Winter menyakitinya sampai seperti itu. Tapi, ia tak bisa menceritakannya pada siapa pun. Shelley hanya menemui seorang dokter untuk mengobatinya dan meminta dokter itu untuk tidak membuat laporan tentang kekerasan seksual yang ia alami dari kekasihnya. Hanya karena saat lelaki itu kembali entah dari mana untuk melepaskan ikatannya dan kemudian kembali bersikap lembut.
“Maafkan aku, Shelley,” ucapnya sambil mengusap rambutnya dengan pelan lalu menciumnya lembut. “Aku hanya bingung....
Shelley meratap. Begitulah seharusnya Winter memperlakukannya. Dengan mudah, Shelley menerimanya kembali. Ia tak pernah mengadukan apa yang diperbuat Winter padanya sama seperti ia tak pernah mengadukan kelakuan Paris. Winter selalu menjadi alasan baginya untuk tetap diam. Tak peduli laki-laki itu kadang memperlakukannya dengan kasar secara fisik atau verbal, Shelley tetap menunggu sampai lelaki itu kembali memeluk dan memanjakannya. Pada titik ini, Shelley masih percaya, suatu hari nanti Winter akan berubah. Lebih-lebih ketika di satu acara makan malam keluarga, Winter tiba-tiba melamarnya dan mereka pun bertunangan.
Akan tetapi, menyimpulkan semua yang pernah dilakukan Winter terhadap dirinya, Shelley akhirnya menyadari bahwa Winter menyiksanya karena ia begitu membenci Paris. Shelley hanya belum tahu bahwa saat itu rupanya lelaki itu sudah kembali menemukan gadis pujaannya. Winter tetap pulang ke pangkuannya karena saat itu Paris sedang diisolasi karena penyakit tuberkolosis.
Kalau bukan karena saat itu Shelley melihat seorang lelaki bertato menemui Winter di kantor dan kemudian pergi dengannya, Shelley tidak akan pernah tahu bahwa kesetiaannya telah dikhianati.
***
Seperti apa rasanya mencintai Winter? Memecahkan sebuah teka-teki silang di mana tak ada satu pun jawaban yang benar? Mengendarai sebuah mobil mewah di jalan yang ujungnya buntu?
Pertunangan itu digelar semeriah pesta pernikahan Daniel dan Harriet. Di pesta, Winter terlihat sumringah seolah ia begitu bahagia. Tapi, Shelley? Hampir setiap detik ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Seharusnya pertunangan ini menjadi momen paling bahagia di dalam hidupnya. Namun, entah mengapa, ketika Winter menggenggam tangannya dan mengajaknya berdansa, ia gemetaran.
“Ada apa denganmu?” Winter bertanya dengan penuh perhatian.
Shelley menggeleng gugup. “Tidak...,” jawabnya, mengalihkan pandangannya dari tatapan lembut Winter.
“Apa yang membuatmu takut?” tanya Winter lagi.
Shelley menunduk.
“Kau cantik sekali,” Winter tiba-tiba memuji.
“Kau tidak pintar memuji, Winter,” celetuk Shelley yang selalu tahu bahwa semua sikap yang ia tunjukan di pesta adalah palsu.
“Untuk hari ini mengapa tidak?” balas Winter sambil mendekatkan wajahnya dan bersiap untuk mengecup. “Kemarilah.”
Shelley ingin menghindar tapi ia tidak bisa. Winter mendapatkan bibirnya selama beberapa detik lalu tersenyum seakan ia begitu jatuh cinta. Ia sudah terbiasa diperlakukan tidak adil dan kasar, namun selalu tidak siap setiap Winter memperlakukannya dengan manis. Shelley semakin tak mengerti dengan lelaki ini.
“Kita sudah bertunangan. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik,” ucap Winter sambil tetap memandanginya.
“Kau selalu mengatakannya,” kata Shelley, kembali tertunduk. “Terakhir kali tiga hari yang lalu sebelum kau mengurungku di lemari.”
“Aku sudah bilang aku tidak suka kau banyak bertanya padaku. Kau tahu aku sibuk bekerja setelah kau memutuskan untuk mundur dari perusahaan Daniel. Aku harus melakukan semuanya sendiri,” balas Winter.
“Aku mundur karena aku tidak ingin orang-orang melihat bekas siksaanmu kepadaku, Winter...,” tegas Shelley. “Aku tidak mengerti mengapa aku masih saja melindungimu.”
“Aku tidak ingin dikendalikan olehmu. Lagipula... semakin kau ingin tahu tentang apa yang aku lakukan, semakin itu akan menyakiti perasaanmu. Sudahlah, jangan membebani dirimu dengan pikiran macam-macam tentangku,” Winter kembali mengusap rambutnya lembut. “Sebaiknya kau menunggu di rumah dengan tenang sampai aku kembali. Aku pasti pulang lalu menghabiskan waktuku yang tidak berharga denganmu.”
Ya, satu-satunya alasan Winter masih menyentuhnya adalah Paris yang masih dalam pengobatan intensif selama enam bulan. Entah begitu perempuan sialan itu sembuh dari penyakit menyedihkannya, Winter mungkin akan lebih banyak menghabiskan malam bersamanya.
Winter membeli sebuah apartemen mewah yang cukup jauh dari kediaman mereka. Di sanalah saat ini Paris tinggal. Tentu Winter sering mengunjunginya meski tak pernah menginap. Penyakit tuberkolosis bisa menular kepada siapa saja. Winter tahu Shelley curiga, tapi lelaki itu tidak suka dituduh. Setiap Shelley mengkonfrontasinya, saat itulah lelaki itu berbuat kasar. Pernah satu kali ia mencekik Shelley seakan ingin membunuhnya tapi Shelley masih menantangnya.
***
“Kau... tidak akan berani... membunuhku,” kata Shelley; sebetulnya ia pasrah jika memang harus mati di tangan lelaki yang dicintainya. Tapi, ia tahu, jika Winter ingin menyingkirkannya, dia sudah membunuhnya dari awal dan bukan malah melamarnya. Cengkraman yang membuatnya tidak bernafas sama sekali tidak membuatnya takut, walaupun kesakitan; Winter pernah melakukan yang lebih buruk dari ini; Winter pernah menenggelamkannya di bak mandi karena ketahuan memeriksa ponselnya.
Winter tersenyum lalu melepaskannya.
“Kau... sama sekali... tidak punya nyali, Winter...,” kata Shelley di sela-sela batuknya dan rasa tidak berdayanya. “Kau tidak bisa menghabisiku... karena... ada satu bagian... yang kau sukai dari... diriku....”
“Benarkah?” lelaki itu terkekeh, sambil mencengkram dagunya dengan kasar.
“Karena aku... gadis yang baik. Aku patuh kepada setiap ucapanmu. Tidak seperti Paris, bukan?” balas Shelley, menatapnya tajam walau seluruh tubuhnya saat ini kesakitan. “Aku... tidak pantas... untuk... apa yang kau... dan Paris lakukan....”
Winter mengangguk-angguk. “Ya, kau benar.” Ia berdiri sambil meraih lengan Shelley yang masih lemah dan menariknya dengan kasar. “Tapi, kadang-kadang gadis yang baik pun harus sering-sering diberi pelajaran agar dia mengerti....”
Sudah tak terhitung lagi berapa kali Winter mengurungnya di dalam lemari dalam kegelapan. Walaupun Shelley sering menegaskan bahwa dia tidak phobia terhadap ruang sempit dan gelap, bahwa baginya itu tak bisa disebut dengan hukuman karena justru saat dikurung di dalam lemari ia merasa lega.
Tak perlu berhadapan dengan sifat kasar Winter yang tak berdasar adalah sesuatu yang langka. Di dalam lemari itu, ia bisa tertidur dengan nyenyak tanpa peduli lelaki itu akan kembali atau tidak. Sialnya, Winter selalu kembali setiap malam dan membukanya. Lelaki itu juga memindahkan tubuhnya yang terlelap ke ranjang dan keesokan pagi dia sudah tidak ada. Hanya saja, di dapur sudah tersedia sarapan pagi untuknya.
Sungguh, mengapa ia mau saja bertahan di sisi lelaki itu hanya demi secuil perhatian seperti ini? Sementara Paris, dia mendapatkan sebagian besarnya? Kenapa semuanya selalu tentang Paris? Apa semua ini akan berhenti kalau seandainya perempuan itu mati?
***
Butuh keberanian besar untuk mendatangi apartemen itu; memastikan bahwa siang itu Winter masih berada di kantor dan sesibuk yang dia katakan untuk menyembunyikan dosanya. Shelley sudah mengumpulkan banyak informasi tentang kondisi Paris termasuk dokter dan perawat yang bertugas di rumah itu atas perintah Winter untuk menemukan celah baginya agar bisa masuk tanpa diketahui siapa pun.
Lama tak bertemu, Paris sudah begitu kurus. Dia banyak menghabiskan waktu di tempat tidur dengan berbagai jenis obat. Hari ketika akhirnya Shelley datang sebagai malaikat kematian baginya, Paris kembali dihujam oleh batuk darah yang parah. Meskipun miris namun Shelley sama sekali tak kasihan padanya. Bahkan saat Paris menunjukan bahwa saat ini dia hanyalah wanita lemah yang ingin bertahan hidup, tak membuat Shelley urung pada niatnya untuk menghabisinya dengan cepat. Dengan begitu, Winter tak perlu lagi datang ke sini. Dengan begitu, ia tak perlu lagi bersaing dengan masa lalu.
“Apa maumu, Shelley?” Paris bertanya di sela-sela batuknya yang berlumuran darah. Ia masih mengenali wajah saudari angkatnya itu walaupun mengenakan pakaian hitam yang membungkus seluruh anggota badannya dan sebagian wajahnya ditutupi oleh masker.
“Kau tahu, aku selalu merindukanmu, Paris,” jawab Selley, mendekat. Duduk di sisi ranjang tempat Paris duduk berusaha untuk menahan rasa terbakar di dadanya. “Kau begitu menderita.”
Paris tidak memberi tanggapan apa pun karena batuk itu sudah cukup membuatnya sibuk. Ia mengambil tisu di atas meja untuk menyumpal mulutnya yang terus mengeluarkan darah; darah itu bahkan terus menetes di atas seprai yang putih kini sedikit berwarna merah.
“Dalam waktu dekat aku dan Winter akan menikah,” kata Shelley padanya.
Reaksi Paris saat itu adalah terkejut. Shelley tidak heran bahwa Winter belum memberitahunya. Tentu saja.
“Apa dia pernah mengatakannya padamu? Bahwa kami sudah bertunangan?” tanya Shelley.
“Kau tahu betul aku tidak bisa menghadiri undangan saat ini,” jawab Paris, di luar dugaan Shelley yang menunggu raut perempuan itu melunak. “Aku ini penyakit menular.”
“Sama sekali tidak kedengaran seperti dirimu, Paris,” celetuk Shelley, heran. “Tapi, bukankah Winter akan menyembuhkanmu?”
“Aku akan memberimu satu kabar baik, Shelley. Aku tidak akan sembuh,” kata Paris, batuk lagi lalu mengambil tumpukan tisu yang baru untuk menyumpal mulutnya. “Bahkan saat kalian menikah nanti, mungkin aku sudah tidak ada di sini.”
“Oh, aku turut menyesal. Aku tidak menyangka kau akan berakhir seperti ini,” balas Shelley lagi. “Padahal, aku ingin sekali kau menjadi pengiring pengantinku.”
“Aku harap aku bisa,” kata-kata Paris yang terdengar santai justru membangkitkan kembali emosi Shelley yang tiba-tiba mereda saat akhirnya ia melihat Paris yang sekarat. “Kau dan Winter sangat serasi.”
“Kau berbohong!” teriak Shelley seketika menyambar leher kurus Paris. Dia menjatuhkan gadis itu untuk mencengkram lehernya –persis ketika Winter mencekiknya.
Paris meronta dan kelihatan amat tersiksa sementara darah terus mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Namun lama kelamaan ia tak lagi melawan; tahu sekuat apa pun ia mencoba melepaskan tangan Shelley, itu hanya membuatnya semakin kesakitan. Dan baginya, itu tak sesakit apa yang bergejolak di dadanya saat ini. Lebih baik terbebas dari rasa sakit daripada terus menahannya seperti selama ini; itulah yang dipikirkan Paris ketika ia pikir ia akan mati hari itu.
Tapi, entah apa penyebabnya, cengkraman Shelley melemah.
Perempuan jalang itu tampak begitu pasrah. Seolah siap untuk mati di tangannya. “Aku tidak takut mati, Shelley...,” katanya terbata-bata. “Yang aku takutkan... adalah sendirian....”
“Mengapa?!” teriak Shelley lagi. “Mengapa kau juga tidak melepaskannya?!”
“Melepaskan apa?” tanya Paris yang menahan segala bentuk rasa sakit dan pahit di sekujur tubuhnya.
“Aku seharusnya mencekikmu lebih keras seperti saat Winter mencekikku,”
“Winter? Mencekikmu...?”
“Semuanya gara-gara kau, jalang!”
“Aku tidak pernah tahu itu...,” Paris berkata. “Winter tidak pernah... menyebut soal dirimu....”
Shelley menarik dirinya. Apa pun yang dia pikirkan sebelum datang ke tempat ini untuk menghabisi Paris, jadi tak ingin lagi dia lakukan. Paris tidak lagi terlihat seperti bahaya yang mengancam. Perempuan itu sekarat. Dan sebentar lagi dia juga akan mati. Mengapa ia harus repot-repot mengotori tangannya sendiri dengan darah orang lain?
“Kau mengubahnya menjadi monster, Paris,” kata Shelley yang malah meneteskan air matanya.
Paris diam dan hanya menatapi Shelley yang menangis. Apa yang bisa ia katakan?
Dalam hatinya, Shelley masih saja mengutuk setiap kekerasan yang dilakukan Winter padanya.
“Gara-gara kau....”  
“Aku tidak mencintai Winter,” kata perempuan itu tiba-tiba. “Bukan berarti dia menolongku saat ini, semuanya kembali seperti dulu....”
“Apa....”
“Kita semua... sudah dewasa bukan?” balas Paris lagi. Sebuah pernyataan yang benar dari seorang Paris yang dulunya seorang jalang. “Semua orang pernah remaja. Semua orang pernah jatuh cinta... untuk pertama kali. Apa... yang salah dengan itu? Lagipula aku akan mati. Tidakkah kau lihat... aku sekarat?”
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments