[Hal.6] [Ch.3]WHO KILLED PARIS - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Shelley

“Ayahku selalu berkata ‘jangan berurusan dengan Paris’,” kata Shelley; tenang dan datar. “Karena dia tahu, Paris akan selalu membuatku menangis dengan kata-katanya.”
“Kalian tidak pernah bicara satu sama lain?”
Shelley menggeleng. “Tidak,” jawabnya mantap. Itu benar, jika yang dimaksud penyidik ini adalaah bicara selayaknya saudari. Tapi, yang didengar Shelley dari Paris hanyalah hinaan, umpatan, cacian dan bahkan ancaman untuk tidak melaporkan apa yang dilakukan gadis itu pada ayahnya.
Ah, mengapa dia tidak mati saja oleh tuberkolosis itu? Mengapa Winter malah muncul untuk menyelamatkan nyawanya? Mengapa Winter tidak sadar bahwa dia sudah melepaskan sesosok monster dari belenggunya sendiri?
Meski pun akhirnya Paris memang mati menggenaskan, ia masih kurang puas. Paris telah menyebabkan penderitaan yang begitu panjang dalam hidupnya. Setelah mati pun, perempuan itu masih saja menyulitkan dirinya.
“Kapan terakhir kali Anda bertemu dengannya?”
“Sudah lama,” jawab Shelley singkat. Dia tidak mau mengingat bagian itu sedikit pun.
“Tepatnya?”
Shelley menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “Saat ayahku mendatangi tempat persembunyiannya bersama Winter dan ayahku memukulnya dengan sangat keras. Aku ada di sana dan ayahku sama sekali tidak tahu itu...,” kenang Shelley. Dia harap itu cukup bagi polisi. “Itu lima tahun yang lalu.”
“Setelah itu?”
Shelley menggeleng lagi. “Aku tidak tahu. Dia meninggalkan tempat itu dan seperti biasanya menghilang lagi seperti pengecut,” jelasnya. “Itu keahliannya.”
“Apa Anda yakin bahwa Winter juga tidak pernah menemuinya lagi?”
“Aku rasa tidak.”
“Bagaimana mungkin Anda bisa memastikannya?”
“Aku menyuruh orang untuk memata-matai suamiku. Apa itu salah?”
“Jadi... Winter adalah suami Anda?”
“Ada yang salah dengan itu? Apakah ayahku atau Winter tidak memberitahu kalian kemarin?”
Polisi itu mulai menjengkelkan baginya. Dan sebaliknya, polisi pun juga mulai gerah dengan cara angkuh Shelley menjawab setiap pertanyaan. Hampir sama dengan Winter yang tampak tidak suka ditanyai masalah pribadi. Namun, demi keadilan bagi gadis malang itu, penyidik pun harus pintar-pintar berhadapan dengan saksi yang tak bersahabat.
“Ya, aku dan Winter menikah. Sementara Paris tidak terima bahwa itu adalah aku sehingga dia mencoba untuk mengambil Winter dariku. Itu salah satu dari seribu alasan mengapa aku membenci Paris. Tapi, aku tidak membunuhnya walau sejujurnya... dia pantas untuk mati,” tegas Shelley. “Aku memang punya dendam terhadap Paris, tapi aku tidak membunuhnya.”
Air mata tiba-tiba menetes. Pengakuan itu rupanya mengusik kepiluan yang selama ini terpendam jauh di dasar hatinya yang pernah terluka oleh Winter dan Paris. Ia telah bertekad untuk tidak menangis, toh, akhirnya cintanya pada Winter sepertinya harus kandas karena lelaki itu tampak akan meninggalkannya.
Interogasi dihentikan karena Shelley tidak sanggup menjawab pertanyaan lagi. Polisi memahami itu karena pada dasarnya Shelley masih terguncang oleh ketidakpercayaan sang ayah terhadap dirinya.
***
“Dengar, kutu buku aneh, kalau kau berani buka suara pada ayah, aku akan menyebarkan foto-fotomu!” ancaman Paris begitu seriusnya sampai-sampai Shelley gemetaran.
Nanti malam akan ada pesta besar-besaran di rumah. Paris yang membuatnya untuk teman-teman yang katanya begitu memujanya; sementara Shelley tahu, semua teman Paris adalah palsu. Paris hanya tidak tahu bahwa di belakangnya, teman-teman yang selalu dia bahagiakan itu menyebutnya ‘jalang yang haus perhatian’.
Tapi, dia tak bisa berkutik. Dia harus tunduk pada kata-kata gadis dominan itu karena Paris punya hal memalukan yang akan dia sebarkan kalau Shelley berani mengadukannya. Yaitu sebuah foto yang diambil Paris saat Shelley sedang mandi. Dia selalu menggunakannya agar Shelley mengikuti semua perintah. Shelley bahkan harus rela jadi pesuruh di sekolah. Sejak Paris menyebarkan ke semua orang bahwa dirinya adalah anak adopsi, anak-anak lain memandangnya sebelah mata.
Hidupnya bagaikan neraka sejak Paris masuk ke dalam hidupnya. Tapi, bukan, ialah yang masuk dalam kehidupan Paris, sehingga gadis itu berusaha untuk terus menghalaunya keluar. Takdir hidupnya memang tidak adil. Sejak kecil menjadi yatim piatu seakan tak pernah cukup. Saat anak-anak lain merasa beruntung akhirnya diadopsi oleh keluarga mapan, Shelley merasa begitu sial telah diadopsi oleh Daniel yang jauh di atas mapan. Semua itu karena sesosok monster bernama Paris. Seumur hidupnya, Shelley telah merasa berada di tempat yang salah.
Shelley selalu mencari sudut yang sepi agar ia bisa menangis dan berharap hari yang buruk akan berlalu. Tapi, besok dan besoknya lagi, hari yang buruk selalu terjadi. Namun, dari rangkaian musibah yang dihadirkan oleh pengaruh Paris, ada satu hal yang membuatnya percaya bahwa selain ayah angkatnya, masih ada orang baik di dunia ini. Yaitu Winter, meski pun dia juga identik dengan Paris.
Suatu kali di sekolah, Paris pernah dengan sengaja menabraknya sampai buku-bukunya jatuh lalu pura-pura tidak melihat. Dia melenggang dengan tawa angkuh di sepanjang koridor. Dalam pikirannya, ingin sekali ia melempari Paris dengan buku yang sampulnya paling tebal. Namun, begitu Winter yang kebetulan lewat membantunya memunguti buku-buku itu,  khayalan tentang Paris yang jatuh berteriak kesakitan saat itu juga sirna.
“Kau tidak apa-apa?” Winter juga bertanya padanya dengan nada yang lembut; walaupun wajahnya tetap saja dingin.
Dengan gugup, Shelley mengangguk-angguk dan sejak itu ia berharap semoga Tuhan menjauhkan Winter dari Paris. Semoga, Winter jatuh cinta pada orang lain sehingga dia tidak akan menghiraukan Paris lagi. Lagipula gadis itu hanya menjadikannya semacam ‘anjing penjaga’.
Tapi, Tuhan malah semakin mendekatkan mereka.
Pesta malam itu menjadi awal bagi Paris dan Winter memulai sebuah hubungan yang akhirnya menjadi terlarang dan menimbulkan petaka. Shelley melihat mereka masuk ke kamar berdua dan baru keluar satu jam kemudian –saat pesta menjadi heboh oleh perkelahian teman-teman Andrew yang mengacau karena tidak terima dipermalukan oleh Paris hanya gara-gara seorang Winter.
Rasanya ingin mengadukan pada sang ayah bahwa mereka sering berbuat tidak pantas di rumah. Namun, Winter juga akan kena imbasnya. Winter selalu menjadi alasan baginya untuk tidak melakukan apa yang seharusnya dia lakukan sejak dulu. Shelley tidak tahu entah sampai kapan ia akan terus memendam cintanya pada Winter. Namun, ketika ia melihat satu celah untuk bisa keluar dari bayang-bayang Paris, ia langsung memanfaatkannya. Shelley memutuskan untuk kuliah di Boston hanya untuk tidak melihat Winter dan Paris bermesraan. Dia tidak perlu harus hidup di dunia dan menghirup udara yang sama dengan Paris.
Sayangnya, hanya beberapa saat.
***
Kabar pernikahan Daniel dan sahabat almarhum istrinya cukup mengejutkan Shelley di Boston. Daniel memintanya untuk pulang karena ia sudah menyiapkan acara makan malam untuk mengundang semua anggota keluarga dan mengumumkan rencananya.
Shelley sedikit keberatan; artinya dia dan Winter akan jadi satu keluarga. Sungguh, kabar yang mengejutkan. Tapi, membayangkan bahwa yang paling sedih di sini bukanlah dirinya, membuat ia tertawa penuh kemenangan. Pernikahan itu pasti akan membuat Paris kacau balau. Dan begitu ia pulang dengan wajah sumringah, akhirnya ia melihat wajah menyedihkan Paris.
Heran, sudah selama itu ayahnya tidak tahu bahwa Paris berkencan dengan calon saudara tirinya. Ya, Daniel selalu sibuk dan Harriet, terlalu percaya pada putranya. Seandainya saja Daniel menangkap basah mereka berdua di kamar, kiamat kecil akan terjadi di rumah itu. Hanya Shelley satu-satunya yang masih bisa berdiri dengan tegak. Saat itulah, ia akan melihat Paris mengemis pada ayahnya seperti anjing meminta tulang kepada tuannya.
Tapi, agaknya Winter dan Paris cukup solid. Mereka bungkam saat orang tua mereka sedang kasmaran satu sama lain. Shelley mencium ada rencana lain tapi dia tahu Paris dan Winter sama-sama tidak pintar. Kalau mereka pintar, tentu mereka akan menempuh jalur diplomatis dengan Daniel dan Harriet. Tapi, Paris malah menghilang tanpa alasan sebagai bentuk protes. Daniel yang tidak mengerti hanya bisa berdiskusi dengan Harriet tentang bagaimana caranya memberi pengertian pada sang putri yang keras kepala. Tapi, Paris tak pernah memberi celah.
Yang Shelley dengar kemudian saat ia telah kembali ke Boston adalah kabar bahwa Daniel menjebloskan anak semata wayangnya itu ke penjara karena ketahuan mencuri sepuluh ribu dolar dari brankas. Uang yang jumlahnya terlalu banyak untuk dibawa kabur remaja seorang diri. Di penjara akhirnya Paris mengakui hubungannya dengan Winter.
Saat itulah Shelley mengharuskan dirinya untuk pulang. Dia harus tahu keadaan Winter. Dia perlu untuk bersamanya. Kemudian, Shelley mulai optimis, dia dan Winter masih punya kesempatan. Setidaknya ia harus bersabar, sampai segala sesuatu tentang Paris benar-benar musnah dari rumah itu.
“Aku memang tidak menyukai Paris karena dia membenciku tapi, kau melakukan hal yang jahat padanya, Winter.”
Shelley meyakinkan Winter bahwa dengan tidak menengoknya di penjara sampai hari kebebasannya tiba, akan membuat Paris membencinya. Dengan begitu Paris tidak akan kembali sekalipun ia menangis darah.
Namun, bukan berarti Paris tak pernah pulang, biasnya hilang dari kehidupan Winter. Tidak. Ketika masih hidup saja, bayangannya terus menghantui. Shelley benci saat mengakui bahwa lebih berat bertarung dengan bayangan daripada kenyataan. Karena bayangan Paris sudah terlalu lama menyandera Winter. Tak peduli sekeras apa pun Shelley mengusirnya, bayangan itu semakin erat menawannya. Lalu Shelley mulai berharap pada waktu dan keteguhan; hal paling naif yang pernah ia lakukan untuk cinta yang masih terkungkung dalam es abadi. Kehangatan pun tidak bisa mencairkannya. Yang ada semakin hari ia semakin putus asa.
Begitulah waktu yang dijalani Shelley dengan kehidupan yang terlihat begitu sempurna dari luar. Hatinya dipenuhi dendam selama bertahun-tahun. Meski pun ia telah melihat Paris hidup di pinggir jalan, terbuang dari kerajaannya, dan terkikis oleh egonya sendiri, ia tak pernah puas. Kematiannya pun tak akan meredakan dendam itu. Semua itu tak berarti karena ia harus selalu melihat Paris menjadi pemenang atas hati yang selalu ia inginkan untuk menjadi miliknya.
***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments: