๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Kenapa kamu menyukaiku?” Talisa bertanya dan Arun menjawabnya dengan tawa pelan. Talisa tahu dia selalu
tidak punya jawaban selain ‘tidak tahu’. Tapi, Talisa tidak kecewa karena dia sendiri pun masih
berada dalam ambigu itu. Dia hanya tidak bisa membiarkan Arun sendirian dengan penyakit paru-paru yang mematikan
itu. Talisa
tidak bisa menjauhinya begitu saja hanya karena berpikir bahwa orang seperti
ini tidak akan memberinya masa depan yang cerah.
Tubuh Arun sangat rapuh dan lemah. Dia tidak bisa bertahan di panas terik atau hujan.
Dia akan mudah jatuh sakit. Paling tidak dua kali dalam setahun, ibunya akan
mengirimnya ke rumah sakit. Talisa merasa bahwa ia membutuhkan
seseorang yang lebih kuat darinya dan menjaganya –dari patah
hati juga pengkhianatan yang sudah sering Arun alami sebelumnya.
Talisa berjanji pada
dirinya sendiri tidak akan mematahkan hati Arun seperti perempuan sebelum dirinya. “Apa kamu tahu …,” dia melekatkan wajahnya pada Arun agar lelaki itu dapat
mendengar suaranya yang pelan. “Aku merasa kalau seandainya kamu tidak sakit, kamu pasti tidak akan memilihku.”
“Kenapa?” tanya dia.
“Selalu ada yang lebih baik dariku, bukan?”
“Oh ya?”
“Ya… kamu akan punya banyak pilihan… kamu bisa
bekerja seperti orang lain, bertemu banyak orang… dan
mungkin akan menemukan seseorang di antaranya…”
“Tapi, hidupku tidak seperti itu.”
“Ya, mungkin itu cara Tuhan mempertemukan
kita….”
“Ini juga pertemuan yang menyenangkan.…”
Talisa menghela nafas saat ia
bersandar padanya. Membayangkan semua sudah ada dalam genggaman : cinta yang selama ini ia cari. Kebersamaan yang
menuntun Talisa pada sebuah masa depan cinta.
Tapi, tidak untuk selama-lamanya. Arun tidak akan sembuh. Talisa tidak akan melihat
tubuhnya lebih berisi dari ini. Arun akan memberinya kematian yang cepat….
Arun mengetuk hatinya dengan sebuah kalimat memilukan saat pertama kali bertemu. “Orang
sepertiku tidak akan bisa menikah, Talisa.
Hidupku seperti ikan mas di dalam toples kaca. Jika tidak ada orang yang
memberi makan dan mengganti airnya, dia akan mati.”
kata dia dan itu membuatnya menangis terisak.
Itu adalah kata-kata Talisa saat patah hati
dulu : ‘dirinya tidak akan bisa
menikah karena tidak ada yang benar-benar mencintainya’. Talisa tidak percaya bahwa dia mendengar ucapan yang sama dari orang lain, karena Talisa pikir dirinya lah satu-satunya
di dunia yang sulit untuk bahagia.
Padahal mereka masih asing satu sama lain. Tapi, Talisa merasa mereka memiliki kemiripan
–jiwa yang terpenjara. Jiwa yang tidak pernah bisa pergi jauh dari rasa takutnya. Selama ini yang Talisa tahu dalam kebanyakan kisah cinta adalah lelaki yang harus berbuat banyak untuk wanitanya.
Hanya itu yang ia tahu dari kebanyakan teman perempuan yang terbiasa dimanja. Mereka
bilang, lelaki akan melakukan apa saja demi orang yang dicintainya –sungguh,
dalam kisah cinta Talisa, dia tidak pernah menemukan orang yang demikian.
Dia pernah berjuang dan mengejar
seorang lelaki yang akhirnya jatuh ke pelukan wanita lain hingga bahkan
berkali-kali. Tapi, dalam sebagian kisah cinta lain, dia menemukan bahwa cinta
sebenarnya adalah pengorbanan. Ada banyak perempuan yang berjuang demi seorang
lelaki yang bahkan memang tidak pantas untuknya –mungkin Talisa bisa menjadi salah
satunya. Mengenal Arun, dia sadar bahwa sebenarnya dirinya terlalu menuntut kesempurnaan sedangkan dia sendiri sangat jauh
dari kata ‘sempurna’.
Sempurna tidak selalu bahagia. Mereka tidak sempurna,
tapi bahagia –dulu. Talisa hanya tidak tahu bahwa sebenarnya Arun tidak lemah. Dia tidak rapuh
–hanya luarnya saja. Tapi, di dalam tubuh yang sakit-sakitan itu, dia masih
saja orang yang keras hati. Dia tidak akan mengalah sekali pun demi cinta.
Setelah beberapa bulan
kemudian, barulah Talisa menyadarinya. Talisa ingat
satu dari sekian banyak kata-kata menyakitkan yang Arun lontarkan ketika Talisa menuntut laki-laki
itu agar mengembalikan semua masa-masa bahagia mereka sebelum Arun menunjukan keras kepalanya.
“Kalau aku tidak keras hati, dari dulu aku pasti sudah sembuh, Talisa. Tidak ada yang bisa memaksaku untuk
menyukai apa yang tidak ku sukai.”
Dia tidak mau mendengarkan siapapun selain
dirinya sendiri.
“Ibuku sendiri penah mengatakan kalau aku mati,
kesedihan karena kehilangan itu hanya bertahan empat
belas hari. Setelah itu, semuanya akan kembali seperti
semula. Orang yang hidup akan
menjalani kehidupan mereka lagi,” tegas dia. “Begitu
juga dengan patah
hati. Setelah berpisah, apa lagi yang
bisa dilakukan?”
Benar tapi menohok. Mengapa dia harus
mengatakan hal-hal yang sebenarnya menegaskan bahwa Talisa bisa pergi kapan
saja darinya jika dia merasa tidak
tahan –dengan catatan Arun tidak akan menyesali apapun. Pantas saja
setiap Talisa marah dan pergi, dia tidak mengejar. Setiap Talisa menyerah, Arun tidak menariknya untuk berdiri kembali.
Arun hanya
membiarkannya
pergi begitu saja dan menganggapnya jalan yang terbaik baik bagi siapapun. Mungkin Arun orang yang terlalu pasrah.
Tapi, Talisa sudah lelah berlari. Semakin jauh berlari, Arun semakin tidak ingin
mengejarnya.
Sekali Talisa
menoleh ke belakang, kabut tebal menghalangi jalannya untuk kembali. Ia tersesat. Itulah alasan
kenapa kemudian bisa berada di sini sekarang –Jakarta. Menghilang ke Kota Kertas
seperti Margo Roth Spiegelman yang kecewa kehidupannya tidak sebaik yang dikira
orang-orang. Begitu patah hati, ia merasa tidak memiliki apa-apa. Saat kita
merasa telah kehilangan sesuatu yang berharga, terkadang kita berpikir bahwa
kita tidak pantas untuk apa pun. Saat Talisa memikirkan suatu tempat di mana dia bisa meninggalkan
kenangannya, ia teringat pada satu ‘tempat’ yang pernah dia datangi ketika menangis, membawa semua luka yang tak bisa disembunyikan lagi.
Dia akan selalu mendengarkannya. Chakka akan memberi tahu apa yang sebenarnya
terjadi kepadanya. Chakka pasti tahu mengapa hidupnya seperti dikutuk. Seperti dikutuk.
***
“Wow!” itulah reaksi
lelaki tiga puluh tahunan itu melihat Talisa lagi setelah lama mereka tidak
bertemu dan bicara. Ia tertawa pelan sambil menggeleng-geleng tidak percaya. “Ini
benar-benar sangat mendadak!”
Tidak ada yang berubah
dari Chakka seakan waktu tak meninggalkan bekas pada setiap fitur dirinya. Dia tetap
segar dan bertubuh sedang. Hari ini, seperti biasa, mengenakan setelan jas
mahal bak CEO tampan ala novel roman.
“Aku tidak ingin
mendengar penolakan,” kata Talisa, mengukir seulas senyum di bibirnya. Tak ada
perasaan yang berlebihan ketika ia kembali berjalan bersama Chakka sambil
menyeret koper kecilnya menuju mobil Chakka yang tengah menunggu di depan.
“Aku tidak pernah menolak
kehadiranmu. Kamu tahu, aku tidak ingin kamu mendapat masalah dari istriku,” jelas
dia dengan jujur sekali hingga Talisa tergelak karena di telinganya itu
terdengar sangat lucu.
Ya, Chakka sudah
beristri. Namun sama sekali tak ada beban lagi bagi Talisa. Toh, ketika ia
melihat Chakka, semuanya terasa biasa saja. Tak ada niat untuk mengejar Chakka
lagi sekalipun dia punya kesempatan berkali-kali untuk itu. Kalau Talisa memang
ingin, dia sudah melakukannya dari dulu. Saat ia pergi ke Bali dan transit di
Jakarta, mereka sempat bertemu dan mengobrol. Saat itulah ia menyadari bahwa
perasaannya pada Chakka sudah mulai pudar. Setelah pertemuan itu, mereka tak pernah
berkomunikasi lagi karena merasa bersalah terhadap Dara yang menderita sakit.
Talisa tersenyum.”Oh ya? Kamu
sudah menikah lagi?” tanya Talisa.
“Untuk ketiga kalinya,”
jawab Chakka santai.
“Apa yang terjadi pada
yang kedua?” Talisa bertanya lagi karena jawaban Chakka malah memancing
keingintahuannya.
“Kamu datang ke sini bukan
untuk mau tahu urusanku, bukan?” balas Chakka yang tampak enggan menjawab. Dia
masuk ke mobil dan duduk di belakang stir selagi Talisa terdiam di depan pintu
yang sudah dibukanya.
“Ya, aku datang untuk
urusanku sendiri,” kata Talisa, sedikit kesal saat ia mendudukan pantatnya di
samping Chakka yang sudah menyalakan mesin. Tapi, pertanyaan tadi masih
membuatnya penasaran. “Tapi, benar kamu sudah menikah tiga kali?”
“Mengapa itu kedengaran
aneh untukmu?” celetuk Chakka, terdengar gusar.
“Itu memang tidak aneh
untukmu,” balas Talisa dan hatinya masih bertanya-tanya. Apa pernikahan yang
ketiga ini benar-benar membuktikan perkataan Dara di masa lalu ‘semua wanita
yang bersama Chakka hidupnya akan celaka?’.
Dara memang meninggal
dunia tiga tahun yang lalu dalam keadaan depresi entah karena apa. Menurut
Talisa, wajar bila kemudian Chakka menikah lagi. tapi, tak pernah tahu dalam
tiga tahun, Chakka bisa menikah dua kali lagi. Apa yang kedua juga meninggal
dunia seperti Dara? Dan apakah yang ketiga ini juga akan bernasib sama?
Bagaimana mungkin Talisa
tidak akan gelisah karenanya?
***
Next

Komentar
0 comments