[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 21 (2/3)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Kenapa kamu menyukaiku?” Talisa bertanya dan Arun menjawabnya dengan tawa pelan. Talisa tahu dia selalu tidak punya jawaban selain ‘tidak tahu’. Tapi, Talisa tidak kecewa karena dia sendiri pun masih berada dalam ambigu itu. Dia hanya tidak bisa membiarkan Arun sendirian dengan penyakit paru-paru yang mematikan itu. Talisa tidak bisa menjauhinya begitu saja hanya karena berpikir bahwa orang seperti ini tidak akan memberinya masa depan yang cerah.


Tubuh Arun sangat rapuh dan lemah. Dia tidak bisa bertahan di panas terik atau hujan. Dia akan mudah jatuh sakit. Paling tidak dua kali dalam setahun, ibunya akan mengirimnya ke rumah sakit. Talisa merasa bahwa ia membutuhkan seseorang yang lebih kuat darinya dan menjaganya –dari patah hati juga pengkhianatan yang sudah sering Arun alami sebelumnya.
Talisa berjanji pada dirinya sendiri tidak akan mematahkan hati Arun seperti perempuan sebelum dirinya. Apa kamu tahu …,” dia melekatkan wajahnya pada Arun agar lelaki itu dapat mendengar suaranya yang pelan. “Aku merasa kalau seandainya kamu tidak sakit, kamu pasti tidak akan memilihku.”
“Kenapa?” tanya dia.
“Selalu ada yang lebih baik dariku, bukan?”
“Oh ya?”
“Ya… kamu akan punya banyak pilihan… kamu bisa bekerja seperti orang lain, bertemu banyak orang… dan mungkin akan menemukan seseorang di antaranya…”
“Tapi, hidupku tidak seperti itu.”
“Ya, mungkin itu cara Tuhan mempertemukan kita….”
“Ini juga pertemuan yang menyenangkan.…”
Talisa menghela nafas saat ia bersandar padanya. Membayangkan semua sudah ada dalam genggaman : cinta yang selama ini ia cari. Kebersamaan yang menuntun Talisa pada sebuah masa depan cinta.
Tapi, tidak untuk selama-lamanya. Arun tidak akan sembuh. Talisa tidak akan melihat tubuhnya lebih berisi dari ini. Arun akan memberinya kematian yang cepat….
Arun mengetuk hatinya dengan sebuah kalimat memilukan saat pertama kali bertemu. “Orang sepertiku tidak akan bisa menikah, Talisa. Hidupku seperti ikan mas di dalam toples kaca. Jika tidak ada orang yang memberi makan dan mengganti airnya, dia akan mati.” kata dia dan itu membuatnya menangis terisak.
Itu adalah kata-kata Talisa saat patah hati dulu : ‘dirinya tidak akan bisa menikah karena tidak ada yang benar-benar mencintainya’. Talisa tidak percaya bahwa dia mendengar ucapan yang sama dari orang lain, karena Talisa pikir dirinya lah satu-satunya di dunia yang sulit untuk bahagia.
Padahal mereka masih asing satu sama lain. Tapi, Talisa merasa mereka memiliki kemiripan –jiwa yang terpenjara. Jiwa yang tidak pernah bisa pergi jauh dari rasa takutnya. Selama ini yang Talisa tahu dalam kebanyakan kisah cinta adalah lelaki yang harus berbuat banyak untuk wanitanya. Hanya itu yang ia tahu dari kebanyakan teman perempuan yang terbiasa dimanja. Mereka bilang, lelaki akan melakukan apa saja demi orang yang dicintainya –sungguh, dalam kisah cinta Talisa, dia tidak pernah menemukan orang yang demikian.
Dia pernah berjuang dan mengejar seorang lelaki yang akhirnya jatuh ke pelukan wanita lain hingga bahkan berkali-kali. Tapi, dalam sebagian kisah cinta lain, dia menemukan bahwa cinta sebenarnya adalah pengorbanan. Ada banyak perempuan yang berjuang demi seorang lelaki yang bahkan memang tidak pantas untuknya –mungkin Talisa bisa menjadi salah satunya. Mengenal Arun, dia sadar bahwa sebenarnya dirinya terlalu menuntut kesempurnaan sedangkan dia sendiri sangat jauh dari kata ‘sempurna’.
Sempurna tidak selalu bahagia. Mereka tidak sempurna, tapi bahagia –dulu. Talisa hanya tidak tahu bahwa sebenarnya Arun tidak lemah. Dia tidak rapuh –hanya luarnya saja. Tapi, di dalam tubuh yang sakit-sakitan itu, dia masih saja orang yang keras hati. Dia tidak akan mengalah sekali pun demi cinta.
Setelah beberapa bulan kemudian, barulah Talisa menyadarinya. Talisa ingat satu dari sekian banyak kata-kata menyakitkan yang Arun lontarkan ketika Talisa menuntut laki-laki itu agar mengembalikan semua masa-masa bahagia mereka sebelum Arun menunjukan keras kepalanya.
“Kalau aku tidak keras hati, dari dulu aku pasti sudah sembuh, Talisa. Tidak ada yang bisa memaksaku untuk menyukai apa yang tidak ku sukai.
Dia tidak mau mendengarkan siapapun selain dirinya sendiri.
“Ibuku sendiri penah mengatakan kalau aku mati, kesedihan karena kehilangan itu hanya bertahan empat belas hari. Setelah itu, semuanya akan kembali seperti semula. Orang yang hidup akan menjalani kehidupan mereka lagi,” tegas dia. “Begitu juga dengan patah hati. Setelah berpisah, apa lagi yang bisa dilakukan?
Benar tapi menohok. Mengapa dia harus mengatakan hal-hal yang sebenarnya menegaskan bahwa Talisa bisa pergi kapan saja darinya jika dia merasa tidak tahan –dengan catatan Arun tidak akan menyesali apapun. Pantas saja setiap Talisa marah dan pergi, dia tidak mengejar. Setiap Talisa menyerah, Arun tidak menariknya untuk berdiri kembali. Arun hanya membiarkannya pergi begitu saja dan menganggapnya jalan yang terbaik baik bagi siapapun. Mungkin Arun orang yang terlalu pasrah.
Tapi, Talisa sudah lelah berlari. Semakin jauh berlari, Arun semakin tidak ingin mengejarnya. Sekali Talisa menoleh ke belakang, kabut tebal menghalangi jalannya untuk kembali. Ia tersesat. Itulah alasan kenapa kemudian bisa berada di sini sekarang –Jakarta. Menghilang ke Kota Kertas seperti Margo Roth Spiegelman yang kecewa kehidupannya tidak sebaik yang dikira orang-orang. Begitu patah hati, ia merasa tidak memiliki apa-apa. Saat kita merasa telah kehilangan sesuatu yang berharga, terkadang kita berpikir bahwa kita tidak pantas untuk apa pun. Saat Talisa memikirkan suatu tempat di mana dia bisa meninggalkan kenangannya, ia teringat pada satu tempat yang pernah  dia datangi ketika menangis, membawa semua luka yang tak bisa disembunyikan lagi.
Dia akan selalu mendengarkannya. Chakka akan memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya. Chakka pasti tahu mengapa hidupnya seperti dikutuk. Seperti dikutuk.
***
“Wow!” itulah reaksi lelaki tiga puluh tahunan itu melihat Talisa lagi setelah lama mereka tidak bertemu dan bicara. Ia tertawa pelan sambil menggeleng-geleng tidak percaya. “Ini benar-benar sangat mendadak!”
Tidak ada yang berubah dari Chakka seakan waktu tak meninggalkan bekas pada setiap fitur dirinya. Dia tetap segar dan bertubuh sedang. Hari ini, seperti biasa, mengenakan setelan jas mahal bak CEO tampan ala novel roman.
“Aku tidak ingin mendengar penolakan,” kata Talisa, mengukir seulas senyum di bibirnya. Tak ada perasaan yang berlebihan ketika ia kembali berjalan bersama Chakka sambil menyeret koper kecilnya menuju mobil Chakka yang tengah menunggu di depan.
“Aku tidak pernah menolak kehadiranmu. Kamu tahu, aku tidak ingin kamu mendapat masalah dari istriku,” jelas dia dengan jujur sekali hingga Talisa tergelak karena di telinganya itu terdengar sangat lucu.
Ya, Chakka sudah beristri. Namun sama sekali tak ada beban lagi bagi Talisa. Toh, ketika ia melihat Chakka, semuanya terasa biasa saja. Tak ada niat untuk mengejar Chakka lagi sekalipun dia punya kesempatan berkali-kali untuk itu. Kalau Talisa memang ingin, dia sudah melakukannya dari dulu. Saat ia pergi ke Bali dan transit di Jakarta, mereka sempat bertemu dan mengobrol. Saat itulah ia menyadari bahwa perasaannya pada Chakka sudah mulai pudar. Setelah pertemuan itu, mereka tak pernah berkomunikasi lagi karena merasa bersalah terhadap Dara yang menderita sakit.
Talisa tersenyum.”Oh ya? Kamu sudah menikah lagi?” tanya Talisa.
“Untuk ketiga kalinya,” jawab Chakka santai.
“Apa yang terjadi pada yang kedua?” Talisa bertanya lagi karena jawaban Chakka malah memancing keingintahuannya.
“Kamu datang ke sini bukan untuk mau tahu urusanku, bukan?” balas Chakka yang tampak enggan menjawab. Dia masuk ke mobil dan duduk di belakang stir selagi Talisa terdiam di depan pintu yang sudah dibukanya.
“Ya, aku datang untuk urusanku sendiri,” kata Talisa, sedikit kesal saat ia mendudukan pantatnya di samping Chakka yang sudah menyalakan mesin. Tapi, pertanyaan tadi masih membuatnya penasaran. “Tapi, benar kamu sudah menikah tiga kali?”
“Mengapa itu kedengaran aneh untukmu?” celetuk Chakka, terdengar gusar.
“Itu memang tidak aneh untukmu,” balas Talisa dan hatinya masih bertanya-tanya. Apa pernikahan yang ketiga ini benar-benar membuktikan perkataan Dara di masa lalu ‘semua wanita yang bersama Chakka hidupnya akan celaka?’.
Dara memang meninggal dunia tiga tahun yang lalu dalam keadaan depresi entah karena apa. Menurut Talisa, wajar bila kemudian Chakka menikah lagi. tapi, tak pernah tahu dalam tiga tahun, Chakka bisa menikah dua kali lagi. Apa yang kedua juga meninggal dunia seperti Dara? Dan apakah yang ketiga ini juga akan bernasib sama?
Bagaimana mungkin Talisa tidak akan gelisah karenanya?
***

Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments