๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ

Satu pagi yang cerah,
Talisa berada di kantor dan menunggu bosnya yang baru datang. Tak ada
ketegangan berlebihan walaupun sekarang dia bukan lagi karyawan biasa. Ia hanya
perlu berpakaian rapi dan menyambut dengan hangat pria berusia akhir empat
puluhan itu, Pak Danang –bosnya yang baru.
Talisa sudah memindahkan
kantornya dari lantai tiga ke lantai dua dan meminta agar lantai tiga dijadikan
gudang atau ruang arsip. Apa pun yang ada di lantai tiga itu, Talisa sudah tak
ingin berurusan dengannya.
Orang itu datang telat
sekitar setengah jam. Talisa menjadi orang di barisan paling pertama yang
menyapa dan dipercaya oleh Chakka untuk memperkenalkan seisi kantor kepada
atasan mereka yang baru. Lalu setelah perkenalan, Pak Danang mengajak Talisa
bicara empat mata di kantornya. Mereka membicarakan rencana perusahaan ke
depannya dan beberapa hal baru yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas
kerja.
Sejak itulah Talisa mulai
sibuk membangun dirinya. Melupakan masa lalunya terutama satu bagian rusak yang
tak sudi ia ingat lagi. Saat cuti ia memilih pergi ke luar kota yang jauh dari
kebisingan untuk menginap selama beberapa hari di sini. Paling jauh, Talisa berlibur
ke Pulau Dewata selama seminggu untuk menenangkan diri. Dia berbelanja, ke
salon, membeli apa saja yang wanita butuhkan untuk terlihat sempurna. Sejak Ayi
bergabung di perusahaan dan menjadi teman akrabnya, dia juga mulai menjalin
pertemanan dengan banyak gadis dan
mengadakan perkumpulan khusus wanita di mana mereka akan membicarakan
soal fashion atau pacar. Selama itu Talisa melakukan banyak hal yang
menyenangkan dan membuatnya mengenyampingkan Chakka, kecuali satu hal : jatuh
cinta. Dia memang pernah berpacaran; beberapa kali malah. Tapi, semuanya selalu
berakhir dengan cara yang sama : Talisa meninggalkan mereka begitu saja karena
tak menemukan apa yang dia cari.
Ketika usianya dua puluh
enam tahun, tentu ibu dan kakak perempuannya mulai khawatir. Mereka takut
Talisa akan menjadi seorang perawan tua yang sibuk berkarir. Meski pun Talisa
kelewat mandiri dan diakui bisa menyelesaikan setiap permasalahan, dia tetaplah
seorang perempuan yang butuh dilindungi. Tapi, sepertinya Talisa memang tidak
pernah benar-benar tertarik pada lelaki sejak –yang mereka tahu, Talisa pernah
patah hati dengan seorang pria yang tak pernah dikenalkan Talisa pada
keluarganya. Dia mengaku berpacaran, tapi tak ada satu pun yang ia bawa pulang.
Sampai suatu pagi cerah
yang lain berikutnya di mana Talisa datang ke kantor dengan semangat, seorang
Office Boy mengantarkan beberapa surat yang ia terima dari bagian Front Office.
Di antara surat-surat itu terselip sebuah undangan pernikahan berwarna putih,
di bagian depan nama Onny tertulis dengan indah berwarna warna emas. Sahabat
lamanya itu akan segera menikah; Talisa senang mendengar itu. Sudah lama juga
mereka tak bertemu.
Seperti biasanya saat
akan ke pesta, Talisa ke salon dan membeli baju yang bagus. Meski pun ia akan
datang sendirian di saat perempuan seumurannya datang bersama pasangan. Ia
bersyukur bisa berdandan dengan cantik, menyembunyikan kerapuhan yang tak
pernah dilihat orang lain pada dirinya. Ia melangkah seorang diri di antara
para undangan menuju ke pelaminan di mana Onny bersanding dengan suaminya
tengah menebar senyum bahagia.
Rasa iri tiba-tiba
menyusup diam-diam di hatinya. Tentu saja sebagai seorang perempuan, Talisa
juga ingin menikah. Ingin dipakaikan sunting di kepalanya dan menjadi ratu
sehari. Tapi, siapa yang akan mengajaknya ke singgasana itu? Bagi Talisa, jatuh
cinta lagi tidak semudah itu sekalipun sudah lima tahun semuanya berlalu. Ia
merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa menemukan yang seperti Chakka.
Sayangnya, di pelaminan
Talisa tidak bisa bicara banyak dengan Onny. Banyak undangan yang mengantri di
bawah untuk bisa berfoto bersama pengantin. Talisa berencana setelah Onny
selesai dengan resepsi ini, ia akan menemuinya lagi supaya mereka bisa bicara
lebih banyak. Setelah memberi selamat, bicara singkat, Talisa pun pergi. Ia
berusaha melangkah dengan angkuh mengabaikan tatapan orang pada penampilannya
yang memancing keterpesonaan lebih-lebih makhluk bertitel laki-laki entah mereka
masih sendiri atau sedang bersama istri dan anak-anaknya. Sosok Talisa seperti seonggok
daging segar di tengah-tengah sekelompok singa kelaparan.
Ada kemirisan di dalam
hatinya seketika, semua orang tampak menyukainya tapi menurutnya tak
benar-benar ada yang mencintainya apabila ia lepaskan semua topeng ini. Siapa
yang akan menerima perempuan dengan masa lalu yang buruk? Perempuan yang tak
akan pernah bisa membuang masa lalu itu? Perempuan yang selalu gelisah akan
masa lalu yang memaksa untuk tetap diingat sampai kapan pun?
****
Sekali lagi, Talisa
menatap bayangan dirinya di cermin. Dari luar tak ada yang salah dengan
dirinya. Ia cantik. Ia mengenakan segala sesuatu di tubuhnya dengan pantas. Tak
heran, tamu-tamu undangan itu terus memeolototinya sampai ia mengilang di balik
pintu toilet. Tatapan itu membuatnya jengah. Tak bisakah orang-orang menatapnya
biasa saja? Tapi, itu hak mereka. Seharusnya ia tak datang dengan penampilan ini.
Lain ceritanya jika dia bersama seseorang di sampingnya, tatapan yang demikian
itu tak akan menjengahkan seperti ini.
Setelah yakin bahwa ia
akan pulang, Talisa pun keluar. Namun, tiba-tiba saja bulu romanya berdiri.
Perutnya tiba-tiba mual.
Bercak merah terlihat di
lantai membentuk sebuah jejak menuju toilet laki-laki yang pintunya tepat berada
di depan pintu toilet wanita.
Talisa sempat tercenung.
Berharap dia sedang berhalusinasi. Entah sejak kapan dia takut melihat darah. Merahnya darah itu mengingatkannya pada
sebuah kejadian mengerikan yang ingin ia lupakan. Ia menjadi tak tenang,
sekaligus penasaran. Darah siapa itu? Apa yang terjadi di dalam toilet itu?
Dengan perlahan, Talisa
membuka pintu itu sementara ia membayangkan mungkinkah ada pembunuhan di dalam?
Mana mungkin? Ada resepsi pernikahan di sini!, ia membatin dengan khawatir saat
mendorong pintu itu dan menemukan lebih banyak percikan darah di lantai. Di
saat yang sama ia mendengar seseorang terbatuk-batuk. Ia mengikuti jejak merah
di lantai itu hingga ke kloset yang berada paling ujung.
Dan dia menemukan seorang
lelaki tinggi dan kurus yang berusaha menghentikan batuk yang dideritanya. Batuk
itu meneteskan darah di mana-mana.
Rupanya hanya seorang
pria sakit berwajah pucat yang sekarat.
Talisa tidak pernah tahu,
bahwa ia akan bertemu seseorang yang kebalikan dari dirinya : rapuh di luar,
dan kuat di dalam. Talisa tidak pernah tahu bahwa orang itu mengubah apa yang
ia tahu tentang cinta selama ini. Talisa tidak pernah tahu bahwa ia akan jatuh
cinta pada seseorang yang tak punya satu pun kemiripan dengan Chakka; sosok yang
selalu dianggapnya paling sempurna di dunia baginya.
Dia adalah Arun. Arun
yang diramalkan Chakka akan datang dalam hidup Talisa dan Talisa akan
mencintainya lebih dari Talisa mencintai dirinya....
Dan justru karena terlalu
mencintainyalah, Talisa merasakan sakit yang lebih menyakitkan daripada yang
pernah dilemparkan Chakka padanya.
Next
Komentar
0 comments