[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 20 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar


Satu pagi yang cerah, Talisa berada di kantor dan menunggu bosnya yang baru datang. Tak ada ketegangan berlebihan walaupun sekarang dia bukan lagi karyawan biasa. Ia hanya perlu berpakaian rapi dan menyambut dengan hangat pria berusia akhir empat puluhan itu, Pak Danang –bosnya yang baru.

Talisa sudah memindahkan kantornya dari lantai tiga ke lantai dua dan meminta agar lantai tiga dijadikan gudang atau ruang arsip. Apa pun yang ada di lantai tiga itu, Talisa sudah tak ingin berurusan dengannya.

Orang itu datang telat sekitar setengah jam. Talisa menjadi orang di barisan paling pertama yang menyapa dan dipercaya oleh Chakka untuk memperkenalkan seisi kantor kepada atasan mereka yang baru. Lalu setelah perkenalan, Pak Danang mengajak Talisa bicara empat mata di kantornya. Mereka membicarakan rencana perusahaan ke depannya dan beberapa hal baru yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas kerja.

Sejak itulah Talisa mulai sibuk membangun dirinya. Melupakan masa lalunya terutama satu bagian rusak yang tak sudi ia ingat lagi. Saat cuti ia memilih pergi ke luar kota yang jauh dari kebisingan untuk menginap selama beberapa hari di sini. Paling jauh, Talisa berlibur ke Pulau Dewata selama seminggu untuk menenangkan diri. Dia berbelanja, ke salon, membeli apa saja yang wanita butuhkan untuk terlihat sempurna. Sejak Ayi bergabung di perusahaan dan menjadi teman akrabnya, dia juga mulai menjalin pertemanan dengan banyak gadis dan  mengadakan perkumpulan khusus wanita di mana mereka akan membicarakan soal fashion atau pacar. Selama itu Talisa melakukan banyak hal yang menyenangkan dan membuatnya mengenyampingkan Chakka, kecuali satu hal : jatuh cinta. Dia memang pernah berpacaran; beberapa kali malah. Tapi, semuanya selalu berakhir dengan cara yang sama : Talisa meninggalkan mereka begitu saja karena tak menemukan apa yang dia cari.

Ketika usianya dua puluh enam tahun, tentu ibu dan kakak perempuannya mulai khawatir. Mereka takut Talisa akan menjadi seorang perawan tua yang sibuk berkarir. Meski pun Talisa kelewat mandiri dan diakui bisa menyelesaikan setiap permasalahan, dia tetaplah seorang perempuan yang butuh dilindungi. Tapi, sepertinya Talisa memang tidak pernah benar-benar tertarik pada lelaki sejak –yang mereka tahu, Talisa pernah patah hati dengan seorang pria yang tak pernah dikenalkan Talisa pada keluarganya. Dia mengaku berpacaran, tapi tak ada satu pun yang ia bawa pulang.

Sampai suatu pagi cerah yang lain berikutnya di mana Talisa datang ke kantor dengan semangat, seorang Office Boy mengantarkan beberapa surat yang ia terima dari bagian Front Office. Di antara surat-surat itu terselip sebuah undangan pernikahan berwarna putih, di bagian depan nama Onny tertulis dengan indah berwarna warna emas. Sahabat lamanya itu akan segera menikah; Talisa senang mendengar itu. Sudah lama juga mereka tak bertemu.

Seperti biasanya saat akan ke pesta, Talisa ke salon dan membeli baju yang bagus. Meski pun ia akan datang sendirian di saat perempuan seumurannya datang bersama pasangan. Ia bersyukur bisa berdandan dengan cantik, menyembunyikan kerapuhan yang tak pernah dilihat orang lain pada dirinya. Ia melangkah seorang diri di antara para undangan menuju ke pelaminan di mana Onny bersanding dengan suaminya tengah menebar senyum bahagia.

Rasa iri tiba-tiba menyusup diam-diam di hatinya. Tentu saja sebagai seorang perempuan, Talisa juga ingin menikah. Ingin dipakaikan sunting di kepalanya dan menjadi ratu sehari. Tapi, siapa yang akan mengajaknya ke singgasana itu? Bagi Talisa, jatuh cinta lagi tidak semudah itu sekalipun sudah lima tahun semuanya berlalu. Ia merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa menemukan yang seperti Chakka.

Sayangnya, di pelaminan Talisa tidak bisa bicara banyak dengan Onny. Banyak undangan yang mengantri di bawah untuk bisa berfoto bersama pengantin. Talisa berencana setelah Onny selesai dengan resepsi ini, ia akan menemuinya lagi supaya mereka bisa bicara lebih banyak. Setelah memberi selamat, bicara singkat, Talisa pun pergi. Ia berusaha melangkah dengan angkuh mengabaikan tatapan orang pada penampilannya yang memancing keterpesonaan lebih-lebih makhluk bertitel laki-laki entah mereka masih sendiri atau sedang bersama istri dan anak-anaknya. Sosok Talisa seperti seonggok daging segar di tengah-tengah sekelompok singa kelaparan.

Ada kemirisan di dalam hatinya seketika, semua orang tampak menyukainya tapi menurutnya tak benar-benar ada yang mencintainya apabila ia lepaskan semua topeng ini. Siapa yang akan menerima perempuan dengan masa lalu yang buruk? Perempuan yang tak akan pernah bisa membuang masa lalu itu? Perempuan yang selalu gelisah akan masa lalu yang memaksa untuk tetap diingat sampai kapan pun?

****

Sekali lagi, Talisa menatap bayangan dirinya di cermin. Dari luar tak ada yang salah dengan dirinya. Ia cantik. Ia mengenakan segala sesuatu di tubuhnya dengan pantas. Tak heran, tamu-tamu undangan itu terus memeolototinya sampai ia mengilang di balik pintu toilet. Tatapan itu membuatnya jengah. Tak bisakah orang-orang menatapnya biasa saja? Tapi, itu hak mereka. Seharusnya ia tak datang dengan penampilan ini. Lain ceritanya jika dia bersama seseorang di sampingnya, tatapan yang demikian itu tak akan menjengahkan seperti ini.

Setelah yakin bahwa ia akan pulang, Talisa pun keluar. Namun, tiba-tiba saja bulu romanya berdiri. Perutnya tiba-tiba mual.

Bercak merah terlihat di lantai membentuk sebuah jejak menuju toilet laki-laki yang pintunya tepat berada di depan pintu toilet wanita.

Talisa sempat tercenung. Berharap dia sedang berhalusinasi. Entah sejak kapan dia takut melihat darah. Merahnya darah itu mengingatkannya pada sebuah kejadian mengerikan yang ingin ia lupakan. Ia menjadi tak tenang, sekaligus penasaran. Darah siapa itu? Apa yang terjadi di dalam toilet itu?

Dengan perlahan, Talisa membuka pintu itu sementara ia membayangkan mungkinkah ada pembunuhan di dalam? Mana mungkin? Ada resepsi pernikahan di sini!, ia membatin dengan khawatir saat mendorong pintu itu dan menemukan lebih banyak percikan darah di lantai. Di saat yang sama ia mendengar seseorang terbatuk-batuk. Ia mengikuti jejak merah di lantai itu hingga ke kloset yang berada paling ujung.

Dan dia menemukan seorang lelaki tinggi dan kurus yang berusaha menghentikan batuk yang dideritanya. Batuk itu meneteskan darah di mana-mana.

Rupanya hanya seorang pria sakit berwajah pucat yang sekarat.

Talisa tidak pernah tahu, bahwa ia akan bertemu seseorang yang kebalikan dari dirinya : rapuh di luar, dan kuat di dalam. Talisa tidak pernah tahu bahwa orang itu mengubah apa yang ia tahu tentang cinta selama ini. Talisa tidak pernah tahu bahwa ia akan jatuh cinta pada seseorang yang tak punya satu pun kemiripan dengan Chakka; sosok yang selalu dianggapnya paling sempurna di dunia baginya.

Dia adalah Arun. Arun yang diramalkan Chakka akan datang dalam hidup Talisa dan Talisa akan mencintainya lebih dari Talisa mencintai dirinya....

Dan justru karena terlalu mencintainyalah, Talisa merasakan sakit yang lebih menyakitkan daripada yang pernah dilemparkan Chakka padanya.

Next

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments