[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 20 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Okay, sebelum mulai baca, izinkan aku untuk minta maaf terlebih dahulu karena setelah 'berabad-abad' lamanya baru memposting lanjutan serial horor ini. Sesuai dengan salah satu permintaan pembaca baru-baru ini yang membuat aku begitu tergugah, aku memutuskan untuk melanjutkan postingan novel masterpiece aku ini. Bagi yang lupa-lupa ingat, bisa diulang lagi dari awal dengan buka Daftar Isi .

Intinya, cerita sampai di saat Talisa memutuskan untuk pacaran dengan Pai si berandal, tapi karena kayaknya Talisa ogah-ogahan, Pai mulai curiga ada sesuatu yang disembunyikan Talisa saat tiba-tiba ngajakin pacaran. Anehnya, Chakka kayak orang posesif dan kebakaran jenggot begitu tahu Talisa jadian sama mahasiswa bandel yang konon pernah dia lihat berantem di kampus saat nganterin Talisa. Sementara doski sudah mempersiapkan pernikahannya dengan Dara. Nggak tahu kenapa si ganteng malah galau, takut Talisa-nya kenapa-napa karena si Pai ini nakal dan kayaknya kasar. Mulai ada rasa kali ya?

Terus bagaimana nasib Talisa yang malang saat Chakka akhirnya menikah??? Akankah Talisa mengacau di hari pernikahannya Chakka karena sakit hati? Atau doi ikhlas? Kayaknya enggak deh. Atau... Chakka malah batalin pernikahannya karena khawatir soal Talisa?? Hm.... yuuuuk!!!

Happy reading!!!!

Sedikit pemberitahuan, karena aku pernah mengedit cerita ini, mungkin mulai dari chapter ini akan ada perubahan gaya bahasa. Semoga kalian maklum. Tapi, itu tidak mempengaruhi jalan cerita. Penulis hanya ingin bahasanya enak didengar (meskipun nyatanya ini dibaca, hehehhehehheh). 
_________________________

Some Days that Skipped

Orang-orang sudah terdengar membicarakannya. Saat Talisa baru saja tiba di kantor dan meningat-ingat apa pekerjaan yang terlewat olehnya kemarin untuk dilakukan hari ini, ia sudah mendapati tatapan prihatin orang-orang kepadanya –memang tak semua yang menatapnya demikian karena ada juga yang tersenyum penuh cemooh. Firasat tak enak sudah terasa pagi ini ketika ia bangun tidur. Ia mencoba melupakan apa yang membuatnya terganggu sejak pembicaraan terakhir dengan Chakka : pernikahan dan kabar perusahaan akan dijual. Dua hal itu adalah momok paling mengerikan saat ini bagi Talisa.
Tapi, satu hal sudah pasti terjadi yaitu pernikahan. Dara sudah menyebar undangan itu dan semua orang –kecuali Talisa, sudah menerimanya. Seakan sengaja hendak membuat Talisa makin tersisih seolah-olah memang hanya Talisa yang akan berduka cita sementara yang lain bersuka ria.
Sekilas Talisa melihat undangan merah bernuansa emas itu ketika ia lewat menuju kantornya di lantai tiga. Berusaha untuk tak terlihat merasa terganggu sangatlah sulit terlebih setibanya di kantor, ia tak menemukan Chakka. Oh, tentu saja. Pernikahan mereka sudah dekat dan karena menurut Talisa ini amat mendadak baginya, sepertinya mereka sudah merencanakan itu jauh hari bahkan di saat masalah terus mendera mereka. Barangkali, mereka memang ditakdirkan untuk bersama tak peduli seburuk apa pun masalah mereka.
Terbesit di hatinya untuk menyerah saja. Karena setelah pernikahan, Talisa hanya tinggal menunggu keduanya meninggalkan kota ini dan tinggallah dia sendiri mengenang setiap kepedihan yang tersisa di sini.
Namun, segera terpikir olehnya untuk menelpon Chakka. Meski tak tahu apa yang akan ia katakan yang jelas ia harus menelpon. Tapi, ia harus kecewa. Chakka mematikan teleponnya. Tentu saja dia sengaja karena tahu Talisa akan berusaha  untuk terus bicara dengannya.
Chakka memang tak bisa dilawan. Ia seakan tahu gerak-gerik Talisa dan sebelum itu dia sudah menghalangi jalannya. Satu-satunya hal yang mungkin Talisa lakukan mungkin adalah mendatanginya langsung tapi ia tak cukup berani. Ia bisa saja muncul untuk mengacaukan pernikahan itu hanya untuk membalaskan sakit hatinya. Tapi, setelah itu apa? Chakka tidak akan pernah menjadi miliknya. Tidak akan pernah!
***         
“Apa yang kamu pikirkan, Talisa?” Pai menanyainya.
Talisa tersadar bahwa sedari tadi ia hanya memainkan sendok pada makanan yang belum ia santap sedikitpun dan Pai hanya bisa menengok. Berkali-kali ditanya, Talisa hanya menggeleng tapi ia tak bisa berhenti gelisah.
Pai mulai tak sabar. Tiba-tiba dia meraih tangan Talisa yang dan mencengkaramnya. “Katakan ada apa!” dia mendesak.
“Kamu...,” Talisa terkejut. Ia menatap Pai yang gusar dengan khawatir. Kenapa dia melakukan hal yang kasar seperti itu?
Talisa hanya lupa bahwa dia adalah Pai, si berandal. Begitu ia sadar, ia langsung berdiri. Tanpa bicara. Dan Pai tentu tidak menerimanya begitu saja.
“Hei, tunggu!” panggilnya kembali menarik lengan Talisa dengan kasar. “Kamu belum mengatakan apa-apa padaku!”
“Kenapa aku harus mengatakannya?” balas Talisa, berusaha menarik tangannya yang mulai perih. “Lepaskan aku!”
“Tidak!” Pai bersikeras tanpa mau melepaskan genggamannya. “Kamu pikir aku akan diam saja diperlakukan seperti itu olehmu?! Aku bosan dengan sikapmu! Tidak ada angin, tidak ada badai, kamu membuat seolah semua kejadian buruk yang kamu alami adalah kesalahanku, Talisa!”
“Lepaskan!” teriak Talisa lebih keras sampai semua orang di tempat itu memelototi mereka. Bahkan ada beberapa orang yang tengah menghampiri mereka sepertinya untuk melerai. Pai jelas terlihat akan menyakiti Talisa. “Aku tak tahu apa yang membuatku berada di sini denganmu, Pai! Sebaiknya kita akhiri saja ini! Aku tidak ingin bersama orang yang kasar sepertimu!”
“Apa kamu bilang?” Pai bertambah geram. “Kamu yang mengajakku pacaran!”
“Ya, dan aku baru sadar kalau itu keliru!” teriak Talisa saat orang-orang sudah mendekat untuk menolongnya lepas dari Pai. “Dan aku menarik ucapanku kembali! Selamat tinggal!”
Pai tercengang. Sontak kekuatannya melemah. Saat itulah tangannya tanpa sadar melepaskan Talisa yang langsung melarikan diri.
“Hei, apa pun masalahmu, sebaiknya kamu selesaikan dengan baik,” kata seorang pengunjung lelaki yang hendak menyeretnya kalau saja dia berani menyakiti seorang perempuan. “Jangan mengasari perempuan.”
“Apa kamu tak punya ibu atau saudara perempuan? Apa yang akan kamu lakukan kalau mereka disakiti orang lain?” kata seorang perempuan lain yang terlihat kesal padanya.
Pai menatap mereka tajam. “Aku tidak punya ibu atau saudara perempuan. Mau apa kalian kalau aku membunuh gadis itu?” balas Pai dan segera pergi.
Hatinya tak puas, ia merasa harus mencari tahu kenapa gadis itu bersikap seenaknya terhadap dirinya. Sedikitnya Pai sudah tahu bahwa dia hanya dipermainkan. Tapi, dipermainkan untuk apa? Apa yang didapatkan Talisa dengan mempermainkan dirinya?
***
Keesokan hari....
“Kamu kelihatan sibuk, Talisa,” tegur seseorang saat Talisa berusaha berkonsentrasi di depan komputernya. Dia benar-benar serius bekerja sesaat sebelum suara itu menariknya keluar dari rasa kecewa yang coba ia singkirkan dengan kesibukan.
Chakka. Dia datang ke kantor di saat pernikahannya tinggal tiga hari saja.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Talisa, kembali memandang ke layar komputernya. Dia meamang rindu tapi ia tak siap untuk tambahan rasa sakit apabila ia berlari menghampirinya untuk memeluk. Ia sangat yakin bahwa Chakka akan menolaknya dan mengatakannya lagi : Aku akan menikah.
“Aku hanya memastikan bahwa tidak ada masalah,” katanya, sambil duduk di atas meja kerjanya dan memperhatikan Talisa yang bersikap lebih acuh.
“Bukannya kamu mempunyai asisten yang handal?” balas Talisa. “Aku sudah menyelesaikan beberapa laporan. Kamu dan Dara tinggal tanda tangan. Dan percayalah, aku tidak sedang menggelapkan apa-apa hanya karena sakit hati sebelum kepergian kalian dari sini.”
Chakka terkekeh. “Aku tidak pernah meragukan kamu,” katanya. “Tapi, kita harus bicara satu hal dan ini penting.”
“Apa itu?” Talisa berusaha untuk tidak menatap wajahnya dan lebih memilih layar komputer untuk meredakan gelisah di hatinya.
“Aku sudah bertemu dengan orang yang akan membeli perusahaan ini. Kami sudah berdiskusi banyak sebelum menandatangani dokumen pengalihan,” jelasnya. “Aku merekomendasikan kamu untuk bisa memimpin setelah aku dan Dara tidak ada. Kamu akan bertanggung jawab penuh pada pemilik perusahaan yang baru.”
Talisa tertawa satu kali. “Oh, beruntungnya aku,” balasnya, sinis.
“Ini bukan karena aku, Talisa. Mengertilah, bahwa kamu sudah berusaha keras dan kamu pantas mendapatkannya,” ujar Chakka berpindah ke depan meja Talisa. “Aku tahu kamu mampu.”
“Ini ajaib. Di bawah sana ada banyak karyawan senior tapi kamu memilih anak kemarin sore,” komentar Talisa. “Untuk apa aku bertahan di sini setelah kamu tidak ada?”
“Aku mohon, jangan berpikir seperti itu. Ini kesempatan yang bagus untukmu,” katanya berusaha meyakinkan.
“Ini tebusan rasa bersalah karena kamu meninggalkanku?” Talisa kemudian menatapnya tajam. Lalu menggelengkan kepalanya. “Semua yang sudah kamu ambil dariku, tidak akan pernah setimpal, Chakka. Ingatlah itu!”
“Kenapa kamu selalu membuatku tidak punya pilihan?!” Chakka mulai gusar, ia menjauh dari meja dan mulai mondar-mandiri. “Aku berusaha untuk tidak menelantarkanmu setelah apa yang terjadi!”
“Dan pada akhirnya kamu memang menelantarkanku. Tamat!” celetuk Talisa, ia mencermati barisan angka di layar komputernya lagi. “Pergilah. Aku merasa baik-baik saja selama kamu tidak muncul beberapa waktu lalu. Aku berkencan dan mengalami hal-hal yang menyenangkan!”
“Apa?” Chakka memelototinya. “Jangan bilang kamu pergi dengan berandalan itu!”
“Apa pedulimu?!” teriak Talisa. Ia tak menyangka kebohongan yang konyol itu membuat Chakka terpancing. “Aku bosan, Chakka! Aku bosan kita berdebat seolah-olah sedang mempertahankan sesuatu di sini! Kita tidak punya apa-apa! Berhentilah memberiku perhatian yang ganjil!”
“Kamu boleh pergi dengan siapa pun tapi jangan dia!” Chakka mulai berteriak.
Talisa yang muak, berdiri dari kursinya dan memukul meja dengan marah. “Itu urusanku!” balas Talisa yang bersiap untuk meninggalkan ruangan itu sebelum Chakka membuat semua sarafnya meledak.
Tapi, entah mengapa Chakka menarik lengannya dan kemudian tubuhnya. Tiba-tiba saja Talisa sudah berada di dalam dekapannya.
“Aku datang ke sini untuk bicara baik-baik denganmu,” kata Chakka kemudian, dengan nada yang lebih tenang. Tak hanya itu, ia juga mengelus puncak kepala Talisa dengan lembut.
Ada apa dengannya?
“Aku takut, Talisa,” katanya kemudian. “Aku tak pernah setakut ini dalam hidupku.”
Dan aku tak pernah sehancur ini dalam hidupku, balas Talisa dalam hati dan seketika air mata panas menetes di pipinya.
“Seharusnya kamu tidak melepaskanku,” kata Talisa dan Chakka mempererat dekapannya.
“Tapi semua ini harus berakhir,” balasnya. “Kamu tidak akan bahagia dengan lelaki sepertiku.”
“Bagaimana kamu tahu itu? Intuisikah?”
Talisa merasakan Chakka mengangguk.
“Aku membawa sebuah kutukan. Perempuan yang pernah bersamaku tidak pernah bahagia, Talisa. Dan aku tidak ingin kamu seperti mereka. kamu terlalu berharga bagiku.”
“Apa yang terjadi pada mereka?” Talisa bertanya.
Chakka menggeleng. “Aku bisa melihat bahwa kamu akan bertemu dengan seseorang yang jauh lebih baik dariku,” jawabnya sambil melepaskan Talisa untuk memandang wajahnya. “Kamu akan mencintainya lebih daripada kamu pernah mencintaiku. Percayalah, itu akan terjadi.”
 Talisa tertunduk.
“Ini terakhir kalinya aku memohon agar kamu melepaskanku,” pintanya lagi dan kemudian Talisa mengangguk.
“Kamu harus berjanji satu hal padaku...,” kata Talisa kemudian, setelah ia menyeka habis semua air matanya. “Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Maukah kamu mengajariku?”
Chakka tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja...,” jawabnya.
Talisa tertunduk. Kemudian menarik dirinya. Rasanya itu sudah cukup.
“Apa kamu sudah makan siang?” tanya Chakka kemudian, setelah Talisa mulai tenang.
“Belum,” jawabnya sambil menggeleng. “Apa kamu punya rencana?”
“Ya, tiga hari lagi aku akan menikah,” jelasnya. “Aku akan kehilangan kesempatan untuk makan siang denganmu  setelah ini.”
“Untuk yang terakhir?”
Siang itu menjadi hari terakhir Talisa dan Chakka pernah terlihat bersama. Talisa membantu Chakka menghitung mundur hari-hari terakhirnya sebagai seorang pria lepas untuk kemudian terikat dalam sebuah pernikahan yang membuka gerbang baru bagi kehidupan keduanya. Siang itu juga, Chakka memberikan Talisa sebuah undangan dan memintanya untuk hadir dan membuktikan bahwa ia seorang perempuan yang tegar dan kuat sekaligus menghindari cemooh orang-orang apabila ia tak datang.
Lalu Talisa setuju untuk datang pada resepsinya. Tentu dengan penampilan terbaik. Ia harus membeli gaun yang bagus dan mahal juga ke salon untuk merias wajah dan menata rambut. Ia harus berhasil menjadi pusat perhatian setelah pada pesta sebelumnya adalah sebuah bencana.
Dan itulah yang Talisa ingat sebagai hal terakhir tentang Chakka seakan waktu dapat melompati beberapa hari hingga ia tiba di satu pagi dan terjaga oleh suara ibunya yang memanggil-manggil dari balik pintu kamar. Ia tak ingin membicarakan tentang resepsi pernikahan yang ia hadiri itu berikut hari-hari yang ia jalani setelahnya. Hal itu sangat buruk.
***
Maaf, harus dipotong lagi. Soalnya kalau kebanyakan isi, loadingnya jadi berat.. Heheheheh
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments