๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ

Okay, sebelum mulai baca, izinkan aku untuk minta maaf terlebih dahulu karena setelah 'berabad-abad' lamanya baru memposting lanjutan serial horor ini. Sesuai dengan salah satu permintaan pembaca baru-baru ini yang membuat aku begitu tergugah, aku memutuskan untuk melanjutkan postingan novel masterpiece aku ini. Bagi yang lupa-lupa ingat, bisa diulang lagi dari awal dengan buka Daftar Isi .
Intinya, cerita sampai di saat Talisa memutuskan untuk pacaran dengan Pai si berandal, tapi karena kayaknya Talisa ogah-ogahan, Pai mulai curiga ada sesuatu yang disembunyikan Talisa saat tiba-tiba ngajakin pacaran. Anehnya, Chakka kayak orang posesif dan kebakaran jenggot begitu tahu Talisa jadian sama mahasiswa bandel yang konon pernah dia lihat berantem di kampus saat nganterin Talisa. Sementara doski sudah mempersiapkan pernikahannya dengan Dara. Nggak tahu kenapa si ganteng malah galau, takut Talisa-nya kenapa-napa karena si Pai ini nakal dan kayaknya kasar. Mulai ada rasa kali ya?
Terus bagaimana nasib Talisa yang malang saat Chakka akhirnya menikah??? Akankah Talisa mengacau di hari pernikahannya Chakka karena sakit hati? Atau doi ikhlas? Kayaknya enggak deh. Atau... Chakka malah batalin pernikahannya karena khawatir soal Talisa?? Hm.... yuuuuk!!!
Happy reading!!!!
Sedikit pemberitahuan, karena aku pernah mengedit cerita ini, mungkin mulai dari chapter ini akan ada perubahan gaya bahasa. Semoga kalian maklum. Tapi, itu tidak mempengaruhi jalan cerita. Penulis hanya ingin bahasanya enak didengar (meskipun nyatanya ini dibaca, hehehhehehheh).
_________________________
Sedikit pemberitahuan, karena aku pernah mengedit cerita ini, mungkin mulai dari chapter ini akan ada perubahan gaya bahasa. Semoga kalian maklum. Tapi, itu tidak mempengaruhi jalan cerita. Penulis hanya ingin bahasanya enak didengar (meskipun nyatanya ini dibaca, hehehhehehheh).
Some Days that Skipped
Orang-orang sudah
terdengar membicarakannya. Saat Talisa baru saja tiba di kantor dan
meningat-ingat apa pekerjaan yang terlewat olehnya kemarin untuk dilakukan hari
ini, ia sudah mendapati tatapan prihatin orang-orang kepadanya –memang tak
semua yang menatapnya demikian karena ada juga yang tersenyum penuh cemooh.
Firasat tak enak sudah terasa pagi ini ketika ia bangun tidur. Ia mencoba
melupakan apa yang membuatnya terganggu sejak pembicaraan terakhir dengan
Chakka : pernikahan dan kabar perusahaan akan dijual. Dua hal itu adalah momok
paling mengerikan saat ini bagi Talisa.
Tapi, satu hal sudah
pasti terjadi yaitu pernikahan. Dara sudah menyebar undangan itu dan semua
orang –kecuali Talisa, sudah menerimanya. Seakan sengaja hendak membuat Talisa
makin tersisih seolah-olah memang hanya Talisa yang akan berduka cita sementara
yang lain bersuka ria.
Sekilas Talisa melihat
undangan merah bernuansa emas itu ketika ia lewat menuju kantornya di lantai
tiga. Berusaha untuk tak terlihat merasa terganggu sangatlah sulit terlebih
setibanya di kantor, ia tak menemukan Chakka. Oh, tentu saja. Pernikahan mereka
sudah dekat dan karena menurut Talisa ini amat mendadak baginya, sepertinya
mereka sudah merencanakan itu jauh hari bahkan di saat masalah terus mendera
mereka. Barangkali, mereka memang ditakdirkan untuk bersama tak peduli seburuk
apa pun masalah mereka.
Terbesit di hatinya untuk
menyerah saja. Karena setelah pernikahan, Talisa hanya tinggal menunggu
keduanya meninggalkan kota ini dan tinggallah dia sendiri mengenang setiap
kepedihan yang tersisa di sini.
Namun, segera terpikir
olehnya untuk menelpon Chakka. Meski tak tahu apa yang akan ia katakan yang
jelas ia harus menelpon. Tapi, ia harus kecewa. Chakka mematikan teleponnya.
Tentu saja dia sengaja karena tahu Talisa akan berusaha untuk terus bicara dengannya.
Chakka memang tak bisa dilawan.
Ia seakan tahu gerak-gerik Talisa dan sebelum itu dia sudah menghalangi
jalannya. Satu-satunya hal yang mungkin Talisa lakukan mungkin adalah
mendatanginya langsung tapi ia tak cukup berani. Ia bisa saja muncul untuk mengacaukan
pernikahan itu hanya untuk membalaskan sakit hatinya. Tapi, setelah itu apa?
Chakka tidak akan pernah menjadi miliknya. Tidak akan pernah!
***
“Apa yang kamu pikirkan,
Talisa?” Pai menanyainya.
Talisa tersadar bahwa
sedari tadi ia hanya memainkan sendok pada makanan yang belum ia santap
sedikitpun dan Pai hanya bisa menengok. Berkali-kali ditanya, Talisa hanya
menggeleng tapi ia tak bisa berhenti gelisah.
Pai mulai tak sabar.
Tiba-tiba dia meraih tangan Talisa yang dan mencengkaramnya. “Katakan ada apa!”
dia mendesak.
“Kamu...,” Talisa
terkejut. Ia menatap Pai yang gusar dengan khawatir. Kenapa dia melakukan hal
yang kasar seperti itu?
Talisa hanya lupa bahwa
dia adalah Pai, si berandal. Begitu ia sadar, ia langsung berdiri. Tanpa
bicara. Dan Pai tentu tidak menerimanya begitu saja.
“Hei, tunggu!” panggilnya
kembali menarik lengan Talisa dengan kasar. “Kamu belum mengatakan apa-apa
padaku!”
“Kenapa aku harus
mengatakannya?” balas Talisa, berusaha menarik tangannya yang mulai perih.
“Lepaskan aku!”
“Tidak!” Pai bersikeras
tanpa mau melepaskan genggamannya. “Kamu pikir aku akan diam saja diperlakukan
seperti itu olehmu?! Aku bosan dengan sikapmu! Tidak ada angin, tidak ada
badai, kamu membuat seolah semua kejadian buruk yang kamu alami adalah
kesalahanku, Talisa!”
“Lepaskan!” teriak Talisa
lebih keras sampai semua orang di tempat itu memelototi mereka. Bahkan ada
beberapa orang yang tengah menghampiri mereka sepertinya untuk melerai. Pai
jelas terlihat akan menyakiti Talisa. “Aku tak tahu apa yang membuatku berada
di sini denganmu, Pai! Sebaiknya kita akhiri saja ini! Aku tidak ingin bersama
orang yang kasar sepertimu!”
“Apa kamu bilang?” Pai
bertambah geram. “Kamu yang mengajakku pacaran!”
“Ya, dan aku baru sadar
kalau itu keliru!” teriak Talisa saat orang-orang sudah mendekat untuk
menolongnya lepas dari Pai. “Dan aku menarik ucapanku kembali! Selamat
tinggal!”
Pai tercengang. Sontak
kekuatannya melemah. Saat itulah tangannya tanpa sadar melepaskan Talisa yang
langsung melarikan diri.
“Hei, apa pun masalahmu, sebaiknya
kamu selesaikan dengan baik,” kata seorang pengunjung lelaki yang hendak
menyeretnya kalau saja dia berani menyakiti seorang perempuan. “Jangan
mengasari perempuan.”
“Apa kamu tak punya ibu
atau saudara perempuan? Apa yang akan kamu lakukan kalau mereka disakiti orang
lain?” kata seorang perempuan lain yang terlihat kesal padanya.
Pai menatap mereka tajam.
“Aku tidak punya ibu atau saudara perempuan. Mau apa kalian kalau aku membunuh
gadis itu?” balas Pai dan segera pergi.
Hatinya tak puas, ia
merasa harus mencari tahu kenapa gadis itu bersikap seenaknya terhadap dirinya.
Sedikitnya Pai sudah tahu bahwa dia hanya dipermainkan. Tapi, dipermainkan
untuk apa? Apa yang didapatkan Talisa dengan mempermainkan dirinya?
***
Keesokan hari....
“Kamu kelihatan sibuk,
Talisa,” tegur seseorang saat Talisa berusaha berkonsentrasi di depan
komputernya. Dia benar-benar serius bekerja sesaat sebelum suara itu menariknya
keluar dari rasa kecewa yang coba ia singkirkan dengan kesibukan.
Chakka. Dia datang ke
kantor di saat pernikahannya tinggal tiga hari saja.
“Apa yang kamu lakukan di
sini?” tanya Talisa, kembali memandang ke layar komputernya. Dia meamang rindu
tapi ia tak siap untuk tambahan rasa sakit apabila ia berlari menghampirinya
untuk memeluk. Ia sangat yakin bahwa Chakka akan menolaknya dan mengatakannya
lagi : Aku akan menikah.
“Aku hanya memastikan
bahwa tidak ada masalah,” katanya, sambil duduk di atas meja kerjanya dan
memperhatikan Talisa yang bersikap lebih acuh.
“Bukannya kamu mempunyai
asisten yang handal?” balas Talisa. “Aku sudah menyelesaikan beberapa laporan.
Kamu dan Dara tinggal tanda tangan. Dan percayalah, aku tidak sedang
menggelapkan apa-apa hanya karena sakit hati sebelum kepergian kalian dari sini.”
Chakka terkekeh. “Aku tidak
pernah meragukan kamu,” katanya. “Tapi, kita harus bicara satu hal dan ini
penting.”
“Apa itu?” Talisa
berusaha untuk tidak menatap wajahnya dan lebih memilih layar komputer untuk
meredakan gelisah di hatinya.
“Aku sudah bertemu dengan
orang yang akan membeli perusahaan ini. Kami sudah berdiskusi banyak sebelum
menandatangani dokumen pengalihan,” jelasnya. “Aku merekomendasikan kamu untuk bisa
memimpin setelah aku dan Dara tidak ada. Kamu akan bertanggung jawab penuh pada
pemilik perusahaan yang baru.”
Talisa tertawa satu kali.
“Oh, beruntungnya aku,” balasnya, sinis.
“Ini bukan karena aku,
Talisa. Mengertilah, bahwa kamu sudah berusaha keras dan kamu pantas
mendapatkannya,” ujar Chakka berpindah ke depan meja Talisa. “Aku tahu kamu mampu.”
“Ini ajaib. Di bawah sana
ada banyak karyawan senior tapi kamu memilih anak kemarin sore,” komentar Talisa.
“Untuk apa aku bertahan di sini setelah kamu tidak ada?”
“Aku mohon, jangan
berpikir seperti itu. Ini kesempatan yang bagus untukmu,” katanya berusaha
meyakinkan.
“Ini tebusan rasa
bersalah karena kamu meninggalkanku?” Talisa kemudian menatapnya tajam. Lalu
menggelengkan kepalanya. “Semua yang sudah kamu ambil dariku, tidak akan pernah
setimpal, Chakka. Ingatlah itu!”
“Kenapa kamu selalu
membuatku tidak punya pilihan?!” Chakka mulai gusar, ia menjauh dari meja dan
mulai mondar-mandiri. “Aku berusaha untuk tidak menelantarkanmu setelah apa
yang terjadi!”
“Dan pada akhirnya kamu memang
menelantarkanku. Tamat!” celetuk Talisa, ia mencermati barisan angka di layar
komputernya lagi. “Pergilah. Aku merasa baik-baik saja selama kamu tidak muncul
beberapa waktu lalu. Aku berkencan dan mengalami hal-hal yang menyenangkan!”
“Apa?” Chakka memelototinya.
“Jangan bilang kamu pergi dengan berandalan itu!”
“Apa pedulimu?!” teriak
Talisa. Ia tak menyangka kebohongan yang konyol itu membuat Chakka terpancing. “Aku
bosan, Chakka! Aku bosan kita berdebat seolah-olah sedang mempertahankan
sesuatu di sini! Kita tidak punya apa-apa! Berhentilah memberiku perhatian yang
ganjil!”
“Kamu boleh pergi dengan
siapa pun tapi jangan dia!” Chakka mulai berteriak.
Talisa yang muak, berdiri
dari kursinya dan memukul meja dengan marah. “Itu urusanku!” balas Talisa yang
bersiap untuk meninggalkan ruangan itu sebelum Chakka membuat semua sarafnya
meledak.
Tapi, entah mengapa
Chakka menarik lengannya dan kemudian tubuhnya. Tiba-tiba saja Talisa sudah
berada di dalam dekapannya.
“Aku datang ke sini untuk
bicara baik-baik denganmu,” kata Chakka kemudian, dengan nada yang lebih
tenang. Tak hanya itu, ia juga mengelus puncak kepala Talisa dengan lembut.
Ada apa dengannya?
“Aku takut, Talisa,” katanya
kemudian. “Aku tak pernah setakut ini dalam hidupku.”
Dan aku tak pernah
sehancur ini dalam hidupku, balas Talisa dalam hati dan seketika air mata panas
menetes di pipinya.
“Seharusnya kamu tidak
melepaskanku,” kata Talisa dan Chakka mempererat dekapannya.
“Tapi semua ini harus
berakhir,” balasnya. “Kamu tidak akan bahagia dengan lelaki sepertiku.”
“Bagaimana kamu tahu itu?
Intuisikah?”
Talisa merasakan Chakka
mengangguk.
“Aku membawa sebuah
kutukan. Perempuan yang pernah bersamaku tidak pernah bahagia, Talisa. Dan aku
tidak ingin kamu seperti mereka. kamu terlalu berharga bagiku.”
“Apa yang terjadi pada
mereka?” Talisa bertanya.
Chakka menggeleng. “Aku bisa melihat bahwa kamu akan bertemu
dengan seseorang yang jauh lebih baik dariku,” jawabnya sambil melepaskan
Talisa untuk memandang wajahnya. “Kamu akan
mencintainya lebih daripada kamu pernah mencintaiku. Percayalah, itu akan
terjadi.”
Talisa tertunduk.
“Ini terakhir kalinya aku
memohon agar kamu melepaskanku,” pintanya lagi dan kemudian Talisa mengangguk.
“Kamu harus berjanji satu
hal padaku...,” kata Talisa kemudian, setelah ia menyeka habis semua air
matanya. “Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Maukah kamu mengajariku?”
Chakka tersenyum dan
mengangguk. “Tentu saja...,” jawabnya.
Talisa tertunduk.
Kemudian menarik dirinya. Rasanya itu sudah cukup.
“Apa kamu sudah makan
siang?” tanya Chakka kemudian, setelah Talisa mulai tenang.
“Belum,” jawabnya sambil
menggeleng. “Apa kamu punya rencana?”
“Ya, tiga hari lagi aku
akan menikah,” jelasnya. “Aku akan kehilangan kesempatan untuk makan siang
denganmu setelah ini.”
“Untuk yang terakhir?”
Siang itu menjadi hari
terakhir Talisa dan Chakka pernah terlihat bersama. Talisa membantu Chakka
menghitung mundur hari-hari terakhirnya sebagai seorang pria lepas untuk
kemudian terikat dalam sebuah pernikahan yang membuka gerbang baru bagi
kehidupan keduanya. Siang itu juga, Chakka memberikan Talisa sebuah undangan
dan memintanya untuk hadir dan membuktikan bahwa ia seorang perempuan yang
tegar dan kuat sekaligus menghindari cemooh orang-orang apabila ia tak datang.
Lalu Talisa setuju untuk
datang pada resepsinya. Tentu dengan penampilan terbaik. Ia harus membeli gaun
yang bagus dan mahal juga ke salon untuk merias wajah dan menata rambut. Ia
harus berhasil menjadi pusat perhatian setelah pada pesta sebelumnya adalah
sebuah bencana.
Dan itulah yang Talisa
ingat sebagai hal terakhir tentang Chakka seakan waktu dapat melompati beberapa
hari hingga ia tiba di satu pagi dan terjaga oleh suara ibunya yang memanggil-manggil
dari balik pintu kamar. Ia tak ingin membicarakan tentang resepsi pernikahan
yang ia hadiri itu berikut hari-hari yang ia jalani setelahnya. Hal itu sangat buruk.
***
Maaf, harus dipotong lagi. Soalnya kalau kebanyakan isi, loadingnya jadi berat.. Heheheheh
Komentar
0 comments