[Hal.5 [Ch.2]WHO KILLED PARIS - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Paris tak pernah meninggalkan kota. Dia hidup berpindah dari satu teman ke teman lainnya. Tanpa pekerjaan tetap, tanpa tujuan yang jelas. Ia masih merasa beruntung tidak berakhir menjadi pelacur jalanan demi sebuah tempat tinggal nyaman dan makanan enak. Satu lagi, dia tak sendirian. Dia punya banyak teman yang sering membantu walaupun terkadang ia harus berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Misalnya ketika sedang lapar, sementara tak ada satu sen pun di sakunya, ia terpaksa menyambar sebuah hotdog tanpa membayar sambil lewat dari seorang pedagang kaki lima yang kemudian berteriak ‘Pencuri!’. Teriakannya itu akan memancing perhatian orang-orang sekitar sampai beberapa dari mereka akan sontak mengejar. Bayangkan, mereka rela mengejar seorang gadis kelaparan hanya karena hotdog yang akan menjadi kotoran setelah dimakan. Jika beruntung, Paris bisa lolos dan memakan hotdog itu dengan aman. Tapi, jika sial, ia harus rela mendapat pukulan sebelum mereka menyerahkannya ke polisi. Semalaman dia akan ditahan dan dilepaskan karena percuma menahan gelandangan seperti dirinya. Tidak akan ada seorang pun yang membayar uang jaminan untuknya.
Setelah keluar dari tahanan, seperti rantai setan, Paris harus kembali memikirkan apa yang bisa dia temukan untuk dimakan. Hotdog kemarin sama sekali tidak mengenyangkan perut. Saat hari tidak bersahabat, ia akan pulang ke rumah seorang teman tempatnya menumpang, Rocky.
Tapi, apabila Rocky dan kekasihnya sedang berduaan, Paris tidak bisa masuk. Dia tak ingin mengganggunya. Lalu ia kembali berkelana di jalan; menemui teman-teman di tempat pembuangan yang mungkin punya sebatang rokok untuknya. Setelah perkumpulan bubar karena mereka punya pekerjaan, ia kembali terlihat di pedestrian berjalan tanpa tujuan.
Saat lelah, ia akan berhenti di satu sudut yang teduh dan mulai menggambar sekitarnya untuk menemukan orang-orang yang lengah dengan harta benda mereka. Saat itulah ia akan menyelip untuk mencuri dompet atau telepon genggam. Setelah lama di luar, ia pulang ke tempat Rocky lalu menemukan sahabatnya itu tergeletak di lantai bersama obat-obatannya. Ya, Rocky seorang pecandu, begitu pula dengan Paris dua tahun lalu. Tak heran, tubuhnya jauh menyusut.
Besok pagi, ia meninggalkan uang dari seorang pria tua yang berhasil ia curi dompetnya di atas meja untuk Rocky. Anggap saja sebagai uang sewa karena Paris sudah menumpang begitu lama dengannya. Lagipula keadaan Rocky tak jauh berbeda dengan dirinya. Dia juga menganggur dan kadang harus mencuri untuk bisa membeli sedikit bahan makanan. Sedangkan Paris hanya mengantongi dua puluh dolar untuk membeli makan siang.
Lalu pakaian yang selalu dia kenakan. Jaket denim yang kebesaran di badan dan sedikit robek pada pangkal lengannya, kaos tipis longgar bertuliskan Mahalo dan blue jeans yang robek di lutut itu sepertinya jarang dicuci. Paris mengaku dia memang jarang mandi. Katanya, mandi tidak akan menghilangkan bau busuk yang sudah lama melekat padanya. Lagipula siapa yang akan mengendusnya dan mengeluh soal itu? Daripada membeli pakaian hanya karena ingin terlihat lebih bersih, ia lebih baik memberikan uangnya pada Rocky. Jasa sahabatnya itu sudah tak terhitung lagi selain memberinya tempat tinggal. Memberinya banyak uang pun sepertinya tak akan pernah cukup.
Sepatu kets yang dia pakai ke mana pun dan dalam keadaan apa pun juga sudah robek. Tapi, dia tampak nyaman-nyaman saja bepergian dengan sepatu itu. Barangkali, kakinya telah mati rasa terhadap barang-barang bagus dan bermerek jadi asalkan memakai alas kaki, langkahnya tak akan pernah terhenti.
Winter pernah miskin. Memakai pakaian yang itu-itu saja karena ibunya tidak punya cukup uang. Tapi, pastinya tak sejelek apa pun yang dikenakan Paris di tubuhnya saat ini. Semuanya begitu tidak layak untuk dilihat dari seorang Paris. Apa lagi dulu, si Paris inilah yang tak ingin melihat dirinya memakai baju yang sama dalam satu minggu. Paris tak pernah ingin melihat Winter memakai baju kualitas murahan dengan membelikan yang jauh lebih mahal.
Karena itu kemudian, Winter mengajaknya untuk berbelanja. Tapi, reaksi Paris tidak sesenang yang diharapkan Winter seperti dirinya menerima pemberian Paris dulu.
“Untuk apa?” dia malah bertanya. “Pakaian yang bagus tidak akan merubah siapa diriku, Winter. Aku tetaplah aku.”
“Aku tidak tahan melihatmu,” tegas Winter.
“Kalau begitu jangan berurusan denganku lagi,” Paris memperingatkan dengan santai; membungkam Winter yang hanya bisa menatap tak berdaya. “Kau mengira aku menyesali keputusanku?”
“Kau hanya marah padaku,” balas Winter. “Kau marah padaku karena kita tidak sependapat.”
Paris tertawa kecil. “Tidak, Winter,” katanya, tenang, dengan senyum sumringah. “Ketika kita mengambil keputusan yang berbeda, artinya semua selesai. Aku sudah melakukan segala cara agar tetap bersama, tapi kita tetap saja berakhir. Malam itu, aku ingin berjalan menuju rumah, terpikir untuk mengalah saja. Kau benar, semuanya tidak akan pernah sama lagi kalau kita melarikan diri. Aku tidak ingin hidup miskin kalau aku meninggalkan ayahku. Tapi, sejak aku mengakui soal kita, situasinya sudah berbeda. Aku tetap tinggal di rumah itu, melihatmu dan harus pura-pura menerima kenyataan, itu berat. Lebih berat lagi daripada apa yang sudah kulalui untuk bisa berada di hari ini.”
Nasib mereka telah tertukar. Tapi, justru dirinyalah yang hidup dalam penyesalan. Sedangkan Paris? Senyum di wajah tirusnya begitu lapang. Sejak ibunya meninggal dunia, tidak pernah ia melihat Paris seteguh itu. Paris selalu percaya diri tapi tidak pernah sesombong ini. Lihat tubuh yang sama sekali tak mereprentasikan kehidupan yang layak, seolah yang dikatakannya pada Winter adalah dusta.
Winter tidak mempercayainya. Ia tahu, Paris mengatakan hal-hal seperti itu agar ia berhenti menemuinya. Paris sebenarnya tidak bisa menerima kehadirannya kembali.
“Aku memang membenci hidupku karena kehilangan semua orang, tapi sebagai gantinya, aku menemukan diriku sendiri. Itu lebih berarti. Lebih berarti daripada memakai pakaian yang bagus dan kelihatan cantik, Winter,” ujar Paris; bijaksana yang terkesan terlalu terlambat untuk saat ini bagi Winter. “Jangan memandangiku seolah aku makhluk paling menyedihkan di dunia. Itu benar-benar membuatku sedih, kau mengerti? Aku baik-baik saja.”
Dan harusnya, saat itu Paris mengasihani Winter yang sedetik pun tak bisa lepas dari kenangan. Namun, gadis itu tidak peka. Seolah sengaja membiarkan Winter berdiri di luar dalam badai salju dan menunggunya membukakan pintu untuk masuk. Tapi, di dalam rumah yang ditunggui Winter, Paris sudah tak ada. Siapa yang akan membuka pintu?
Begitulah ia melihat jarak yang ada di antara dirinya dengan Paris saat ini walaupun sering bertemu. Paris tampaknya hanya bersyukur karena makanan dan uang yang diberikan Winter; tak akan lebih dari itu. Gadis itu bahkan tidak memberitahunya tempat tinggalnya sampai suatu hari tanpa sengaja mereka bertemu dengan Rocky.
“Hai, Patsy,” begitulah Rocky menyapa Paris dan membuat Winter bertanya-tanya.
“Patsy?” ia menatap Paris bingung.
Paris tersenyum jenaka. “Nama Paris terlalu mahal untuk gelandangan,” jelas dia mengapa semua teman-teman di lingkungannya menyebutnya dengan nama ‘Patsy’. “Ini Rocky, temanku. Aku tinggal di tempatnya.”
Rocky adalah laki-laki berusia sekitar 27 tahun dengan badan ceking dan tato di sepanjang lengan. Rambutnya juga hitam dan acak-acakan. Dia menggandeng seorang perempuan berambut pirang yang juga kurus dan bertindik.
Winter tak percaya Paris-nya tinggal bersama orang-orang semacam ini –yang langsung saja ia tuduh pecandu. Tanda-tanda itu jelas terlihat pada sosok Rocky dan Cammy, pacarnya. Winter juga mulai menebak-nebak, apakah Paris juga pecandu seperti mereka?
Rocky dengan gaya bersahabat mengulurkan tangannya pada Winter yang sepertinya enggan untuk bersalaman dan saat itu Paris mengatakan sesuatu yang cukup mengguncang jiwa.
“Rocky, dia Winter. Saudara tiriku,” begitu Paris mengenalkan dirinya.
Kata-kata ‘saudara tiri’ itu seakan menggema di kepala. Benarkah sekarang Paris hanya menganggapnya sebagai seorang saudara tiri? Kenyataan yang selama ini mereka coba untuk ingkari?
Rocky langsung mengenali Winter karena sebelumnya Paris sudah bercerita banyak tentang dirinya saat menanyakan dari mana makanan dan uang yang ia bawa pulang. Tapi, tidak dengan satu bagian yang sepertinya sengaja disembunyikan Paris dari sahabatnya. Tampaknya, dia memang ingin mengubur masa lalu itu dalam-dalam.
Berkali-kali, Winter memintanya untuk pindah dari apartemen Rocky ke sebuah tempat yang sudah dia siapkan. Tapi, Paris menolak. Berurusan dengan Winter, sama dengan berurusan dengan ayahnya. Itu terbukti saat keras kepalanya Paris, membuat Winter harus memberinya hukuman dengan tidak adanya uang lagi –hal yang sama yang pernah dilakukan ayahnya dulu ketika membangkang. Jelas, itu membuat Paris semakin jauh lagi darinya.
Paris tidak membutuhkan cintanya lagi; hanya uang. Kalau sudah tak ada lagi, dia bisa kembali ke jalan untuk mencuri.
Dengan egonya, Winter berpikir bahwa Paris tengah melawannya; berusaha untuk menunjukan siapa yang tidak bisa memaksa siapa. Dia membiarkan Paris seolah yakin tidak lama lagi, gadis itu akan menemuinya untuk memohon bantuan. Tapi, ternyata bukan Paris yang datang ke kantor untuk memohon bantuan, melainkan Rocky.
“Kau harus ikut denganku, Bung,” kata Rocky dengan logat urban-nya.
Sepanjang perjalanan pria kurus itu tidak mau memberitahu apa yang terjadi pada Paris. Winter juga tidak bodoh. Paris dan sahabatnya ini adalah kriminal. Bisa saja mereka merencanakan sesuatu yang busuk terhadap dirinya mengikuti Rocky ke apartemennya adalah jebakan. Untuk itu, Winter menyelipkan sepucuk senjata api di pinggangnya untuk kemungkinan terburuk.
Namun, hanya pikirannya sajalah yang terlalu picik pada dunia yang dicintai Paris.
“Dia memburuk,” Rocky berkata saat membukakan sebuah pintu kamar di mana Paris berada.
Sebelum pintu itu terbuka, Winter sudah dapat mendengar suara batuk yang keras. Paris duduk di atas tempat tidur dengan sweater rajutan putih lusuh yang berlumur darah. Dia menutup mulutnya; menahan tetesan darah yang terus menyembur dari sana. Wajahnya pucat dan tubuhnya berkeringat dingin.
“Dia terserang tuberkolosis,” Rocky kembali menjelaskan. “Seharusnya dia diisolasi dari semua orang.”
Paris tidak lagi menolak kehadiran Winter yang secara tiba-tiba. Sakit di dadanya terlalu menyiksa daripada sakit karena akhirnya Winter melihat dirinya yang seperti itu. Tak ada gunanya lagi bersembunyi. Tubuhnya terlalu lemas untuk mengusir. Suaranya bahkan tersangkut di tenggorokannya yang perih. Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan hidupnya dalam kemirisan yang sudah terlanjur kejam ini hanyalah Winter.
***
“Aku menelponmu sejak tadi, mengapa kau tidak mengangkatnya?” Shelley terdengar berteriak.
Winter pikir dia sudah masuk dengan aman tanpa suara. Tapi, pendengaran Shelley tak bisa dikecoh. Dia bisa mendengar suara sekecil apa pun di rumah ini; mungkin karena terlalu sunyi. Dan jika sudah seperti itu, akan lebih baik pura-pura tuli. Winter yang tertangkap basah mengendap-endap di tangga menuju kamar lantai dua, terus berlalu.
“Apa ini tidak mengganggumu sama sekali?” tuntut Shelley dari bawah. “Ayah menuduh kita membunuh Paris! Bisakah kau bayangkan itu?!”
“Aku tidak mau membicarakannya denganmu,” tukas Winter. Dia sudah membicarakan banyak hal dengan polisi dan tak ingin mengulangnya kembali di rumah; terlebih dengan Shelley yang masih saja merasa cemburu sekali pun Paris sudah tiada. Seakan hantu Paris masih bergentayangan di sini dan selalu mengikuti Winter ke mana pun.
Shelley menarik nafas panjang. Entah kapan dia bisa bicara baik-baik dengan orang ini. Daniel menuduh mereka, itu masalah besar. Memang, polisi tak akan menemukan bukti keterlibatan mereka dalam kematian itu. Namun, mengetahui bahwa sepertinya sang ayah kehilangan kepercayaan hanya karena berasumsi yang membunuh Paris adalah keluarga yang tahu tentang sejarah Green Lake, benar-benar membuat Shelley cukup frustasi.
Tidak bisakah ayahnya berasumsi, Paris bisa saja memberitahu orang lain seperti teman atau seseorang yang pernah dekat dengannya tentang danau itu?
Hanya Shelley yang terus resah sementara Winter justru ingin berdebat dengan Daniel. Dengan berbekal kejadian-kejadian di masa lalu yang berhubungan dengan Paris, bisa saja Winter atau Shelley ingin balas dendam. Winter ingin menegaskan bahwa semua kejadian buruk di masa lalu, bukan kesalahannya atau Shelley, melainkan Daniel. Di kantor polisi tadi, di depan penyidik, Winter memaksa Daniel untuk menceritakan masa lalu itu sedetil-detilnya; seakan menantang bahwa tak ada alasan baginya atau Shelley untuk membunuh Paris.
Winter sendiri juga mencurigai ayah Paris sebagai pelakunya. Dia ingin melenyapkan Paris karena tidak ingin rekan bisnisnya yang lain tahu bahwa putrinya terlibat kasus penculikan anak salah satu koleganya. Itu akan menghancurkan reputasi yang telah dibangunnya selama ini. Lagipula, Paris memang tak akan pernah patuh dan pulang. Daripada terus menjadi duri di dalam daging, Daniel menyuruh orang untuk membunuhnya. Winter ingin polisi mempercayai hal itu.
Tapi, mereka masih berada di posisi netral. Besok, mereka harus mendengarkan keterangan dari Shelley.
Mungkin, inilah yang membuat Shelley panik. Dia tidak siap dengan pemeriksaan itu. Dia takut rasa gugup saat interogasi menjadi umpan bagi polisi untuk memancingnya.
Dia tidak membunuh Paris. Dia tidak membunuhnya meski pun seringkali dia berharap alangkah baiknya dunia ini tanpa perempuan jalang seperti Paris....
***end of Part II
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

1 comments: