๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Setelah tiga hari menghilang, akhirnya Paris muncul. Mereka bertemu di Green Lake karena Paris yang memintanya. Dia mengaku menginap di salah satu rumah teman kuliah karena tak akan bisa berdamai dengan ayahnya lagi.
Mata gadis itu sembab. Dia banyak menangis dalam persembunyiannya. Winter bisa merasakan duka menggores hatinya begitu dalam sampai ia tak bisa menemukan sosok Paris yang ceria dan berani. Pertahanannya telah jatuh bagaikan tembok yang baru saja dihantam bola besi; hancur.
“Aku tidak mengatakannya karena kita harus mengakuinya berdua, Winter,” katanya. “Kita harus mengatakannya pada ayahku. Tapi, itu tidak mungkin.”
Apa yang bisa dikatakan Winter? Lalu dengan mengatakannya, mereka tidak akan menikah? Lalu ia harus melihat ibunya mengalami kekecewaan karena berharap pada seseorang yang dia pikir akan membahagiakan dirinya di sisa hidupnya?
“Winter!” Paris mengguncang tubuhnya karena ia tak mampu menjawab.
Hanya tatapan kosong yang menyiratkan kehampaan yang sangat yang mampu ia berikan pada gadis yang menangis itu.
“Larilah denganku,” kata Paris tiba-tiba dan Winter terkejut.
Lari?
Dengan cepat, Paris memperlihatkan apa yang dibawanya di dalam tas ransel yang ia bawa; setumpuk uang yang banyak sekali.
“Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Winter, heran.
“Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang sebaiknya kita pergi dari sini,” ajak Paris mulai mendesak.
Meski itulah yang juga ia inginkan saat ini, Winter tak begitu saja setuju untuk melarikan diri. “Katakan kau tidak mencurinya dari ayahmu,” balasnya.
Paris diam seakan membenarkan kecurigaan itu.
“Apa kau sudah gila, Paris?”
Bagaimana kalau ayahnya tahu bahwa uangnya telah dicuri? Tentu dia akan mencari mereka. Jika dibandingkan dengan kekayaan yang dimiliki Daniel, jumlah uang yang dicuri tidak seberapa, yang artinya dia bisa melakukan apa saja untuk bisa menemukan mereka. Apa yang mungkin dilakukan pria itu kepada mereka? Lebih-lebih, tindakan itu tentu akan menyakiti perasaan ibunya.
Winter kembali bimbang. Ia memandangi Paris yang tampak memohon padanya agar mereka segera pergi malam itu juga. Ia ingin, tapi terlintas di benaknya tangisan sang ibu yang kecewa bahwa keadaan ternyata tidak sesuai harapan dan justru lebih buruk daripada tak jadi menikah.
“Winter, ayolah...,” pinta Paris padanya sambil menarik-narik lengannya penuh harapan. Gadis itu tampak putus asa karena ia tak juga mau beranjak dari tempatnya.
Winter membeku. Dia memandangi Paris dengan iba.
“Tidak, Paris. Aku tidak akan ke mana-mana,” katanya dan raut wajah memohon Paris berubah dalam sekejap. “Sejauh mana kita bisa melarikan diri? Kita akan selalu kembali ke sini dan begitu kembali, semuanya tidak akan sama lagi.”
“Apa?” Paris tak percaya harus mendengar penolakan itu.
“Melarikan diri bukan jalan satu-satunya. Kita akan memikirkannya nanti setelah kau pulang,” ujar Winter padanya.
Tapi, Paris menggeleng. Pulang dan berhadapan dengan sang ayah bukan pilihan baginya.
“Kau harus mengerti, Paris. Keadaan kita sedang sulit,” Winter kembali berujar. “Aku berjanji kita akan menemukan jalan keluarnya bersama.”
“Apa kau tidak tahu ayahku begitu ingin menikahi ibumu karena dia begitu kesepian? Dia tidak akan mengalah. Apalagi padaku, Winter!” Paris bersikeras. “Jika dia mengetahuinya, dia tetap akan memisahkan kita. Dia pasti mengirimku agar jauh darimu dan memaksaku untuk melupakan semuanya! Aku tahu ayahku! Kalau dia memikirkanku, dia tidak akan menghukumku dengan mengabaikanku hanya karena aku mirip ibuku! Mengapa kau tidak mengerti, Winter?!”
“Aku tahu. Tapi, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi kalau kita lari!”
“Lalu apa? Kita akan terus bersembunyi dan berpura-pura sebagai saudara tiri yang akur di pesta pernikahan mereka? Lagipula Shelley juga sudah tahu. Aku tak yakin dia akan tutup mulut karena satu-satunya yang dia inginkan adalah membalasku! Bagaimana aku bisa tinggal dengan ayah yang tidak memikirkan perasaanku, anak angkat yang ingin menusukku dari belakang, ibu tiri yang begitu menginginkan perhatian ayahku dan kau? Kau pikir aku bisa hidup dengan cara seperti itu?”
“Aku juga tidak bisa hidup seperti itu!” balas Winter. “Tapi, sudah saatnya kita tidak cepat memutuskan!”
“Ada apa denganmu, Winter?!” Paris tiba-tiba mendorongnya. “Mengapa kau jadi begini?! Apa ibumu memintamu untuk membujukku?”
Winter tak menjawab.
“Jawab, Winter!” teriak Paris kembali mendorong tubuhnya dan juga memukul dadanya. “Apa kita berada di pihak yang berbeda sekarang?!”
“Aku mencintaimu, Paris! Tapi, aku juga mencintai ibuku!” balas Winter akhirnya. “Aku tidak bisa meninggalkannya!"
Kali ini, justru Paris yang terbungkam. Penolakan Winter terhadapnya sudah semakin jelas hingga ia terpaksa mengambil beberapa langkah mundur. Tampaknya mereka memang sudah berada di sisi yang berseberangan.
“Baik...,” Paris berusaha menguatkan dirinya untuk kembali menatap Winter yang membeku. “Aku tahu....”
“Paris, andai saja kau mau mendengarkanku...,” Winter masih berusaha untuk meyakinkannya untuk sesuatu yang dia sendiri pun tidak yakin. Ia hanya berpikir untuk menenangkan diri, begitu juga dengan Paris. Lalu setelah tenang mereka akan menemukan jalan keluar yang jauh lebih baik daripada melarikan diri seperti pembunuh.
Tapi, ini Paris. Dalam kamusnya, tidak ada kata pasrah dan menyerah. Tidak ada kata untuk menunggu apalagi tunduk.
“Aku melakukan apa saja untukmu, Winter,” Paris berkata di sela isakan tangisnya. “Tapi, pernahkah kau melakukan sesuatu untukku?”
“Aku tidak berdaya, Paris. Kau tahu itu...,” ujar Winter yang mulai menyadari bahwa dirinya adalah seorang pengecut.
Ya, ia adalah pengecut yang kemudian memutuskan untuk pergi. Dia pikir dengan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri akan membuat Paris berubah pikiran dan menurutinya. Tapi, tidak. Dalam kegelapan Green Lake yang tak biasa, suara serangga malam yang bersatu dengan isak tangis itu, tak membuat Winter membalikan badan untuk melihatnya menangis sendirian di dermaga. Itulah terakhir kali dia bertemu sosok Paris yang cantik.
***
Tak sampai dua hari, Paris ditemukan. Winter sudah menduga ayahnya akan bertindak dia dengan cepat. Kali ini seperti tanpa ampun, Daniel melaporkan putrinya atas pencurian. Dia pikir dipenjara selama satu bulan akan membuat Paris jera. Begitu masa hukuman habis, Paris tak pernah pulang. Tidak pernah lagi.
Winter tidak tahu keadaan terakhirnya karena bahkan ia tidak bersedia menjenguk di penjara. Karena sesaat sebelum dipenjarakan, Paris kembali berteriak pada ayahnya bahwa yang membuat dia ingin lari adalah pernikahan yang sudah hampir dekat. Ia tidak ingin Winter menjadi saudara tirinya. Ayahnya harus tahu bahwa keegoisannya sudah menghancurkan kehidupan putrinya sendiri. Semua orang terkejut tapi tidak dengan Shelley.
“Kau dan Paris bukan urusanku,” kata Shelley pada Winter suatu kali. “Aku pikir selain aku tidak akan ada yang tahu.”
Tapi, Winter lebih banyak diam.
“Aku memang tidak menyukai Paris karena dia membenciku tapi, kau melakukan hal yang jahat padanya, Winter.”
Winter menjadi sasaran kemarahan dalam ketegangan itu selama beberapa hari. Dia memikirkan Paris sampai tidak bisa tidur. Namun, ia tidak berbuat apa-apa. Ia tahu Paris meringkuk kedinginan di balik jeruji dan merindukan dirinya. Ia tahu Paris kesepian namun tak pernah berani menemuinya bahkan sampai ia bebas.
Ibunya pernah memberi tahu bahwa Daniel tentu memikirkan putrinya tapi Paris sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Dan sekarang saatnya bagi Winter untuk melanjutkan kehidupannya.
Harriet juga terpukul saat tahu hubungannya dengan Paris. Dia bersedia mengalah agar putranya bahagia. Tapi, di sisi lain Daniel tidak menyetujui hubungan mereka lantaran sifat putrinya sendiri. Dia menyayangi Winter dan putrinya bukan orang yang tepat untuk anak baik seperti dirinya. Pernikahan mereka pun dibatalkan. Kebahagiaan semua orang terenggut.
Tapi hanya satu tahun. Setelah itu pernikahan mereka benar-benar terjadi; digelar dengan meriah serta tanpa kehadiran Paris yang sudah tercoret dari keluarga. Ya, melihat kebahagiaan sang ibu entah mengapa membuatnya jengah, sehingga ia meninggalkan pesta lebih awal.
Pindah dari rumah kecil di ujung blok ke rumah besar yang tidak terlalu asing baginya, tidak semenyenangkan kedengarannya. Derajatnya boleh terangkat dari seorang pekerja bengkel kemudian menjadi mahasiswa sekolah bisnis yang mengendarai mobil mewah ke kampus. Namun, dirinya tetap sama. Terus memikirkan Paris yang entah berada di mana dan sesekali terpikir untuk mencarinya. Tapi, ia terlalu pengecut. Sesekali ia masuk ke kamar Paris yang sudah lama ditinggalkan setiap merindukannya.
Tahun-tahun berlalu dengan penuh penyesalan. Paris telah menghilang seolah mati. Sedangkan Winter sudah menjadi pekerja kantoran –tepatnya di perusahaan properti ayah tirinya. Apa lagi tujuan Daniel membiayai kuliahnya di sekolah bisnis kalau bukan untuk membantunya kelak? Begitu pula Shelley yang lulus dengan gelar cum laude. Mereka bagaikan perpanjangan tangan Daniel yang mulai menua dan ingin menikmati masa-masa emasnya dengan banyak beristirahat, kalau perlu berlibur bersama istrinya.
Kedengarannya hebat, menjadi direktur pemasaran di usia muda tanpa perlu bekerja terlalu keras. Hanya saja bisnis bukan keahlian Winter. Ia memahami potensi dirinya yang lebih mengerti mesin ketimbang strategi pemasaran. Tapi, berkat Shelley di sampingnya, ia bisa menyeimbangkan ketidakmampuan itu. Shelley sering membantunya menyelesaikan laporan dan menjelaskan banyak hal yang tidak dipahaminya dan bahkan menutupi kesalahan Winter dari ayahnya.
Harus diakui Winter, Shelley sering menjadi penyelamat. Winter sudah lama tahu bahwa Shelley tidak pantas untuk dibenci oleh Paris. Dia berhati lembut dan hangat serta penuh perhatian. Inilah yang membuat Daniel jatuh hati padanya sampai mengadopsinya dari panti asuhan. Shelley juga pintar dan pandai bergaul. Tak ada yang tak bisa dilakukan Shelley. Sedikitnya, Winter mengagumi Shelley dan berharap ada yang bisa ia lakukan untuk membalas kebaikan gadis itu. Tapi, Winter memang tidak bisa berbuat banyak saat ia tahu bahwa satu-satunya hal yang diinginkan Shelley darinya adalah membalas perasaannya.
Daniel pasti tidak akan menyetujui itu dan perasaan Shelley terhadapnya hanya akan menimbulkan masalah lama dalam versi terbaru. Winter sudah memperingatkan Shelley soal itu. Namun ajaibnya, Daniel sama sekali tidak mempermasalahkannya. Winter cukup heran; Shelley bisa dengan mudah membujuk ayah angkatnya itu?
Betapa tidak adilnya ini bagi Paris jika dia mengetahui ini.
Bagi Winter, hubungannya dengan Shelley tetap saja tak mungkin lebih-lebih akhirnya ia kembali menemukan Paris di salah satu sudut kota. Gadis itu terlihat berjalan di pedestrian di antara pejalan kaki yang melangkah terburu-buru menghindari titik-titik air. Memang, kecantikan Paris sudah pudar oleh sebab tubuhnya terlalu kurus dan pakaiannya pun lusuh. Namun, Winter tetap bisa mengenalinya. Meski pun ia bisa lebih terkejut lagi saat akhirnya berhadapan dengan Paris setelah empat tahun berlalu. Paris menindik hidung dan pelipisnya. Tampilannya begitu kelam dengan rambut hitam yang acak-acakan.
Sebaik dan seanggun apa pun Shelley yang sebelum itu menciumnya di kantor, Paris tak akan pernah tergantikan di hatinya.
***
:)