๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Apa yang kau lakukan sampai mereka berani memukulmu di rumahku?” tanya Paris sambil mengompres lukanya dengan es di kamar.
Winter tidak menjawab. Kenapa Paris terdengar marah padanya di saat ia sadar dengan ‘bahaya’ yang tengah mengancam Paris di lantai dansa?
Paris menarik nafas panjang. “Apa kau tidak pernah marah mereka menyebutmu anjing penjaga Paris?” tanya Paris sekali lagi, menatapinya lekat-lekat. “Bagiku itu terdengar seperti penghinaan. Kau tidak seperti itu!”
“Kalau aku tidak keberatan, apa salahnya?” balas Winter. Menatap Paris datar. “Aku bisa melihat bagaimana cara dia menatapmu sambil membayangkan bagaimana menjijikan teman-temanmu yang lain saat mereka berurusan dengan anak lelaki.”
Paris tercengang. Kedua mata bulatnya membelalak.
“A... apa kau bilang?” dia hampir tak percaya kata-kata seperti itu keluar dari mulut seorang Winter yang satu tingkat berada di atasnya.
Winter tertunduk. Tampak tak ingin berdebat dengan Paris lagi seperti saat ia berusaha meyakinkan Paris untuk tidak membuat sebuah pesta bodoh. Dia menghindari tatapan tidak suka Paris yang tampak ingin bersumpah serapah karena Winter baru saja mengatai teman-temannya ‘menjijikan’. Lagipula dia mulai merasa, kehadirannya di pesta ini adalah sebuah kesalahan. Seharusnya dia tidak datang. Seharusnya dia tidur di rumah atau bermain video game semalam suntuk. Tapi, apa yang mungkin terjadi pada Paris jika dia tidak di sini?
Ah, mengingat bagaimana Andrew mendekatinya dan ia sendiri tidak berbuat apa-apa membuat Winter muak. Ia berdiri, bergegas untuk pergi.
“Aku ingin pulang,” kata Winter dengan murung.
“Tunggu!” panggil Paris yang terus mengamati sikapnya sejak tadi.
“Apa?” sahut Winter malas-malasan sambil menoleh di mana Paris berdiri menatapinya heran. Hidungnya masih terasa sakit. Dia sedang memikirkan alasan untuk ibunya apabila melihat luka ini atau mungkin cara menyembunyikannya.
“Kau... tidak menyukaiku bukan?” tanya Paris tiba-tiba padanya.
Winter diam. Seketika mulai bingung. Mengapa Paris bertanya seperti itu padanya? Tatapannya begitu mencurigai Winter yang berusaha mengalihkan perhatiannya walau hampir tak mungkin menghindari Paris yang butuh jawaban saat itu juga.
“Apa kau cemburu padaku?” tanya Paris lagi. Cara bicaranya yang lugas dan terus terang tak pernah Winter ragukan. Paris memang tipe yang frontal dan tidak suka memendam apa pun. Dia mudah sekali meluap bahkan hanya dalam masalah kecil. “Apa kau pikir aku dan Andrew akan berpacaran?”
“Siapa yang bisa menolaknya?” balas Winter sarkas sambil menarik gagang pintu. Walaupun terkesan seperti pengecut, ia tak ingin Paris tahu bahwa saat ini perasaannya sedikit kacau; gara-gara pukulan itu juga pada kata-kata Paris yang seakan ingin mengulitinya sampai habis. “Dia seksi.”
Entah mengapa pula ia ingin menyembunyikannya. Mengapa ia harus merasa malu pada sahabatnya sendiri? Tentu saja dia tidak menyukai Paris. Tentu saja dia tidak sedang cemburu. Tapi...
Paris tertawa. “Aku bisa!” jawabnya dengan cepat. “Karena aku tidak menyukainya.”
Lagi-lagi, gerak gerik Winter terhenti. Sedikitnya ia lega. Itu artinya ia tidak akan melihat anak laki-laki itu ‘bergentayangan’ di sekitar Paris lagi. Baguslah, Paris tidak menyukai penyebar penyakit kelamin itu.
“Kau bertingkah aneh, Winter,” kata Paris, sembari mendekat dan tiba-tiba menutup pintu yang baru saja terbuka sedikit.
Saat itu, jantung Winter seketika berdetak keras. Dia sudah sering bersama Paris di kamar itu; untuk sekedar bermain game atau menonton film. Tapi, malam itu suasana begitu berbeda. Paris menatapnya lekat-lekat, seakan tidak mengizinkannya keluar dari sana. Dan Winter membeku mendengarkan semua yang diucapkan gadis itu dengan cara yang tak lazim.
“Aku pikir orang-orang menyukaiku hanya karena aku kaya. Mengapa aku harus menganggapnya serius?” dia berkata dengan pelan. Walaupun suara musik terdengar jelas sampai ke lantai dua, Winter dapat mengengarnya dengan jelas karena jaraknya sangat dekat. “Mereka hanya suka pestanya, bukan aku, Winter.”
Winter tak menjawab.
“Aku adalah gadis paling menyebalkan di sekolah, mana mungkin ada yang benar-benar menyukaiku? Kau pikir aku tidak merasakannya?” tanya Paris lagi.
“Lalu kenapa kau masih berteman dengan orang-orang itu?”
“Hidupku sudah menyedihkan. Aku tidak ingin membuatnya menjadi lebih menyedihkan lagi dengan menjadi penyendiri dan penakut. Ibuku juga pasti tidak ingin melihatku seperti itu.”
“Dia pasti juga tidak ingin melihatmu menjadi seperti ini....”
Paris tersenyum. “Tapi, aku tahu, kau menyukai aku yang seperti ini....”
“Tidak...,” Winter ingin menghindar karena Paris ssemakin mendekat dan ia tak bisa mengendalikan perasaannya. Tapi, mustahil untuk menjauh dari Paris yang kini bersandar pada tubuhnya.
“Aku tidak pernah membayangkan orang-orang seperti Andrew akan menyentuhku tapi aku juga tidak menyangka akan melakukannya denganmu, Winter...,” bisiknya, seakan merayu.
Lalu semuanya terjadi begitu saja. Malam itulah Winter akhirnya menyadari bahwa dia memang menyukai sahabatnya dan begitu pula dengan Paris yang tak bisa berpisah darinya. Andai semuanya sesederhana itu; jatuh cinta, tumbuh bersama dan akhirnya bersatu.
Seandainya mereka tidak menyembunyikan hubungan mereka, mungkin saja mereka tidak akan berpisah dengan cara yang begitu menyakitkan.
***
“Shelley sepertinya mulai curiga,” kata Winter.
Paris mendengus. “Si kutu buku itu memang selalu ingin tahu,” celetuknya kesal.
“Apa dia akan memberitahui ayahmu?” tanya Winter khawatir.
“Coba saja kalau dia berani. Aku akan membuat dia kehilangan semua yang diberikan cuma-cuma oleh ayahku,” balas Paris acuh, sambil turun dari tempat tidurnya. “Dia harus tetap sadar diri tentang siapa dirinya. Tidak lantas karena ayahku mengadopsinya dia bisa menggantikan posisiku....”
Kebencian Paris pada Shelley memang tak bisa dihindarkan, walaupun Winter tahu bahwa sebenarnya Shelley gadis yang baik. Ya, Winter tidak bisa memungkiri itu karena sekali pun Paris berusaha untuk memotong langkahnya, Shelley tak pernah membalas. Shelley lebih memilih menghindari Paris dan bahkan hampir tak pernah terlihat di tempat yang sama dengannya. Terbukti setelah kelulusan SMA, Shelley mengambil kuliah di universitas yang jaraknya puluhan mil untuk mengamankan dirinya dari semua umpatan Paris.
Sedangkan Paris? Dia tidak benar-benar serius belajar di universitas setempat. Sementara Winter harus menunda keinginan itu karena kondisi keuangan ibunya yang memburuk dengan bekerja di sebuah bengkel sampai ia punya cukup uang untuk melanjutkan kuliah. Berkali-kali, Paris membayarinya untuk sekedar makan di restoran cepat saji atau sekedar membeli pakaian. Ia tahu betapa tidak terpujinya itu namun ia selalu tidak bisa menolak keinginan Paris terhadapnya.
Rekan di bengkel selalu menyebutnya beruntung. Paris memang cantik dan kaya raya serta mencintainya setengah mati. Sementara dirinya hanya lelaki dingin yang setiap hari harus berlumur oli dan minyak untuk bertahan hidup. Gadis itu sering datang menjemputnya ke bengkel bahkan saat jam kerjanya belum habis. Mereka akan berkendara ke tempat yang menyenangkan untuk berdua; bisa jadi ke taman hiburan atau ke rumah Paris di mana mereka bisa bercinta.
Semakin lama, semakin hubungan itu tak terkendali. Winter mulai gila seakan dimabuk asmara sejak SMA belum akan usai. Dia selalu menginginkan Paris. Setiap menit berlalu dengan memikirkan gadis itu dan begitu bertemu dia begitu ingin memeluk dan menciumnya.
Namun, kegilaan itu harus diakhiri.
Satu hari di musim semi, Shelley pulang karena permintaan Daniel secara mendadak sebelum ujian semesternya dimulai. Di saat bersamaan, ibunya memberi Winter sejumlah uang untuk membeli setelan yang bagus karena ada yang mengundang mereka ke sebuah acara yang penting di salah satu restoran mahal.
“Paris juga akan datang,” ia mengingatkan.
Tentu saja, hal itu membuat Winter bersemangat. Tapi, Paris yang diharapkannya datang dengan dandanan yang mempesona tidak terlihat di acara makan malam privat di mana ibunya tampil dengan begitu anggun; Winter sudah lama tak melihat ibunya secantik itu dan bahkan dia mengenakan kalung mutiara yang kelihatan mahal di lehernya.
Siapa yang memberi ibunya hadiah yang begitu indah?
Dia tidak menyangka acara tersebut adalah ajang bagi ibunya dan ayah Paris mengumumkan bahwa mereka dalam hubungan yang serius dan berencana untuk menikah. Karena itulah Paris tidak datang. Dia sudah mengetahui hal itu lebih dulu dari Shelley.
Berhari-hari setelah itu, Paris seakan menghilang. Semua tahu dia keberatan dengan rencana itu tanpa mengerti mengapa ia begitu menentangnya. Bukankah bagus? Harriet adalah sosok yang bisa menggantikan ibunya yang sudah lama meninggal.
Winter mendengar kabar bahwa Paris sempat bertengkar dengan sang ayah tanpa alasan. Dia bersikeras tidak setuju tapi di sisi lain, Winter tahu berat untuk mengakui hubungan mereka karena itu akan menimbulkan masalah lain. Di saat ia memikirkan Paris yang terguncang, ia harus menenangkan ibunya yang syok karena penolakan Paris. Sampai detik itu, ia belum mengungkapkan rasa keberatannya pada sang ibu. Dia tak setega itu merusak kebahagiaan yang terpancar di wajahnya akhir-akhir ini. Winter menyadari bahwa ayahnya tidak memperlakukan ibunya dengan baik sampai akhirnya mereka bercerai.
“Daniel dan aku berpikir bahwa itu ide yang bagus...,” ungkapnya dengan wajah sedih. “Tapi, aku benar-benar tidak mengerti Paris....”
Winter diam. Memang tak ada yang mengerti Paris. Winter berusaha untuk memposisikan dirinya dengan benar.
“Apa kau tidak bisa membujuknya, Winter?” tanya sang ibu.
Keinginan yang sangat egois. Dia berada di antara dua pilihan : mengaku atau mendukung sang ibu. Keduanya sama-sama akan menghancurkan cintanya dengan Paris. Pada akhirnya pasti ia harus melihat satu dari dua hal ini, kehancurannya dengan Paris atau kebahagiaan ibu yang selama ini tidak pernah mendapatkan cinta yang pantas untuknya.
***
Komentar
0 comments