๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Malamnya sebuah pesta makan malam dibuat untuk menyambut Oliver walaupun dia hanya beberapa minggu di sini karena sekolahnya belum selesai. Namun, ia harus dipekernalkan kepada bisnis keluarga yang sudah pasti akan diwariskan kepadanya. Jadi, libur sekolah adalah saat yang tepat bagi Oliver untuk mulai belajar bisnis. Sehingganya malam itu, obrolan para lelaki termasuk ayahnya Mars adalah tentang bisnis yang tengah mereka keola : perkebunan anggur dan peternakan domba. Para wanita sesekali terlibat dalam obrolan itu diselingi tawa canda.
Oliver terlihat berusaha mengikuti arah pembicaraan ayahnya tapi matanya sesekali memperhatikan sisi kanannya di mana Jemima dan canggung berusaha menikmati makan malamnya. Dan di sampingnya, terlihat Mars yang bermuka masam tengah menusuk-nusuk steak-nya dengan garpu –tidak terlihat dia memakan makanannya sejak tadi.
***
Bagi Oliver, semakin Mars tumbuh, semakin ia menjelma menjadi sosok yang harus diwaspadai. Sebenarnya bukan kesalahan Mars, Oliver hanya berada pada saat yang tidak tepat saat itu dan ia harus terlibat masalah karena pengaduan Mars kepada ibunya. Memang Mars hanya anak kecil, tapi Mars benar-benar membuat sang ayah marah kepadanya dan ia harus menerima hukuman. Kalau bukan karena usaha kerasnya belajar mati-matian sebagai pembuktian kepada ayahnya mungkin sambutan tadi siang tidak akan sehangat itu terhadapnya. Oliver sudah menebus kesalahannya dengan berusaha menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh ayahnya dan dua tahun jauh dari rumah itu tak pernah mudah.
Semua sudah berlalu. Keluarga menjadi hangat kembali seolah kejadian dua tahun lalu itu tidak pernah ada. Tapi, Mars, dia kelihatan masih terganggu dengan hal itu. Di tengah-tengah makan malam saat orang dewasa bersulang dengan anggur buatan rumah yang sudah berumur puluhan tahun itu, Mars berdiri dari kursinya dan berkata ingin beristirahat di kamarnya.
Seketika semua orang menjadi tak nyaman dengan kepergian Mars. Seolah mereka masih bisa merasakan kegelisahan anak itu atas kejadian traumatis yang pernah dialaminya berkat Oliver. Tapi, hanya beberapa saat sebelum Kakek Ignatius kembali membuka obrolan yang baru. Saat itulah Jemima tersenyum kepada Oliver dan Oliver membalasnya.
Setelah makan malam selesai, mereka pun bertemu di rumah kaca untuk melepaskan rindu.
“Mereka masih membayar psikolog untuk bicara dengan Mars agar melupakannya,” kata Jemima. “Dan aku, ibuku hampir jarang berbicara denganku. Kau beruntung tidak merasakan suasana rumah yang semakin tidak bersahabat, Oliver.”
“Kau beruntung tidak perlu jauh-jauh dari rumah dan tersiksa oleh rasa bersalah,” balas Oliver dan Jemima tertawa sinis.
“Tapi, aku tidak pernah berpikir apa yang kita lakukan itu salah,” kata Jemima, sambil mendekatkan wajahnya. “Mars berpikir bahwa hubungan kita terlarang karena kita keluarga, tapi dia masih terlalu kecil untuk tahu kalau kau bukan anak kandung Kakek Ignatius. Semua orang marah karena kita bermesraan di tempat ini dan Mars melihatnya. Lebih dari itu apa yang dilihat Mars membuatnya bermimpi buruk dan kita pantas disalahkan.”
“Aku merasa bersalah padanya, Jemmy. Sebelum kejadian itu, kau tahu, aku sangat dekat dengannya. Dengan Skylar. Kami sering bermain bersama. Tapi, karena kejadian itu sepertinya Mars berubah menjadi anak yang... hampir sama dengan Vivienne, bedanya Mars lebih pendiam dan memendam.”
Jemima menghembuskan nafas lelah. “Kau tahu setelah kau pergi Mars berusaha meracuni adiknya dengan mengatakan kau tidak akan pernah pulang. Dia selalu berkata pada Skylar bahwa kau adalah paman yang jahat,” jelasnya. “Dia seperti menganggap apa yang dia lihat di sini adalah pemaksaan seorang paman terhadap keponakannya.”
“Dia hanya anak kecil, Jemmy...,” kata Oliver, tertunduk. Dia memang merasa bersalah karena hal itu. “Dia hanya tahu apa yang kita lakukan tidak pantas.”
“Sekarang dia sebelas tahun,” Jemima memperingatkan. “Cara berpikirnya sudah bukan seperti anak-anak lagi. Keadaan sudah terbalik, Oliver. Dulu, Vivienne yang jahat padanya sekarang kebalikannya. Mars cukup licik, dia meraih semua perhatian orang sehingga orang-orang yang mengganggunya mendapatkan masalah. Dari Paman Francis atau dari ayah dan ibumu. Semua orang di rumah ini terkesan begitu melindunginya setelah kita dianggap membuatnya terguncang.”
Oliver diam. Ia tidak menyangka kejadian malam itu mengubah segalanya. Dia jadi merindukan sosok Mars yang menggemaskan dulu. Mars yang pipinya memerah saat tertawa dan berlari di halaman sambil memanggil-manggil namanya. Sekarang, Mars yang dia temui tak pernah terlihat tersenyum apalagi tertawa. Tatapan mata gadis kecil itu selalu tajam, selalu penuh kehati-hatian dan ketidakpercayaan terhadap Oliver.
Beberapa saat kemudian Jemima mendekat untuk mengecup bibirnya. Mars yang mengunci diri di kamar sejak makan malam tadi tidak akan melihat ini. Mereka pastikan itu.
***
Mars melihat bayangannya sendiri saat ia menatap menembus kaca jendela kamar yang tertutup rapat. Bayangan wajahnya menyatu dengan pemandangan malam di halaman depan mansion yang luas dan begitu ikonik dalam ingatannya.
Malam tak dapat menyamarkan kilasan-kilasan yang pernah terlihat di halaman itu tentang beberapa tahun lalu tepatnya sebelum ia tahu bahwa Oliver dan Jemima mempunyai sebuah hubungan yang menurutnya ganjil. Jauh sebelum itu, di Willow Hollow yang airnya hijau seperti emerald, mereka adalah anak-anak seperti selayaknya.
Oliver menenggerkan Skylar kecil di pundaknya lalu berlari sementara Mars mengikuti di belakang, mereka menuju Willow Hollow walaupun Francis melarang anak-anak ke sana. Apalagi setelah hujan. Tapi, sungai itu memang indah ketika musim panas terlebih mereka bisa berenang dan bermain air. Padahal di mansion, mereka punya kolam renang. Tapi airnya tidak hijau seperti di Willow Hollow dan pastinya tidak ada pohon Willow di pinggirnya yang bisa digantungi oleh sebuah ayunan kayu –Oliver membuatkannya untuk Mars.
Setelah puas berenang, mereka akan tiduran sebentar di bawah pohon Willow untuk mengeringkan badan. Mars begitu ingat dengan momen itu; terpatri selamanya di dalam kenangan.
“Oliver, lihat!” Skylar berseru sambil menunjuk langit yang terlihat di antara pohon-pohon. “Awan itu seperti kelinci!”
Mars memperhatikan segumpalan awan yang tampak bertanduk itu, “Tidak. Itu bentuknya seperti unicorn,” katanya.
“Tidak, tidak,” bantah Oliver. “Bagiku itu terlihat seperti topi nenek sihir.”
Mars dan Skylar mengerutkan dahinya sambil memelototi paman mereka yang kemudian tertawa. Bentuk selucu itu seperti topi nenek sihir?
“Aku hanya bercanda,” ujar Oliver sambil bangkit. “Sebaiknya kita pulang sekarang. Kalau tidak, kita akan terlambat dan tidak bisa melewati hutan saat gelap.”
“Mengapa begitu?” tanya Skylar; ikut bangkit dari posisi tidurnya.
“Banyak hewan buas,” jawabnya singkat.
“Apa kau pernah tersesat di hutan, Oliver?” tanya Skylar saat mereka mulai berjalan menuju pulang.
“Pernah. Satu kali,” jawab Oliver.
“Bagaimana caramu pulang?” Mars ikut-ikutan bertanya karena kedengarannya itu menarik.
“Ikuti saja aliran sungainya,” jawab Oliver.
“Kenapa sungai?” tanya Skylar.
“Air sungai mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Orang-orang membangun desa di hilir sungai dan membuat saluran irigasi untuk ladang-ladang mereka. Air adalah sumber kehidupan. Jadi di mana ada sungai di sana akan ada sebuah kehidupan,” jelasnya. “Orang-orang di desa akan dengan senang hati menolong orang yang tersesat.”
“Apa kau bertemu hewan buas, Oliver?” tanya Skylar lagi.
“Aku mendengar suara serigala melolong. Aku pikir mereka memburuku dan aku berlari sekencang-kencangnya. Waktu itu, aku keluar dari hutan mengikuti suara aliran sungai,” lanjut Oliver. “Pokoknya, saat tersesat kalian tidak perlu takut. Aliran sungai akan menunjukan jalan pulang.”
Mars benar-benar mempercayai hal itu. Tapi, sebenarnya mereka tak pernah takut tersesat. Karena ke mana pun pergi, mereka selalu bersama Oliver dan tentu mereka tak akan pernah tersesat di hutan. Tapi, siapa sangka itu terakhir kalinya mereka bermain ke Willow Hollow bersama.
Hari itu sepulang dari sana mereka disambut oleh kedatangan Bibi Marietta dan kedua putrinya secara mendadak. Mereka datang membawa duka cita karena Dunham, suami Bibi Marietta mengalami kecelakaan sampai akhirnya meninggal dunia di London. Mereka akan tinggal di mansion entah untuk sampai kapan. Hari itu jugalah Oliver mengenal Jemima dan saling jatuh cinta.
Awalnya hubungan Oliver dan Jemima adalah sebuah rahasia. Tapi, semuanya menjadi kacau saat tanpa sengaja Mars melihat mereka bermesraan di rumah kaca. Pikiran lugu Mars yang masih berusia sembilan tahun menganggap hanya karena melihat Oliver menindih Jemima di atas meja adalah sebuah pemaksaan yang menyakiti Jemima. Meski ia sulit mempercayai bahwa pamannya adalah orang yang jahat, Mars kecewa sang Paman tega melakukan hal yang menjijikan itu kepada keponakannya sendiri. Kesal, Mars mengadukan apa yang ia lihat kepada ibunya malam itu juga.
Petir seakan menyambar-nyambar di tengah rumah ketika Kakek memanggil Oliver dan Jemima. Entah apa yang dikatakannya kepada dua orang itu di ruang kerjanya namun yang pasti setelah kejadian itu keluarga harus mendatangkan psikiater untuk Mars yang mulai dilanda mimpi buruk. Di dalam mimpi buruk itu, Mars seakan melihat kembali hal mengerikan yang dilakukan Oliver terhadap Jemima di rumah kaca dan bahkan Mars bermimpi bahwa Oliver juga melakukan hal itu terhadapnya.
Tak lama kemudian, Oliver dikirim ke kota untuk melanjutkan sekolahnya. Sedangkan Mars, sampai detik ini tak pernah lepas dari mimpi buruk itu karena ia tak kunjung mengerti mengapa Oliver dan Jemima melakukan itu.
***
Blm dilanjut y mba?