[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 19 (2/2)

🌜 Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia 🌛 Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari🥳

Info Gambar
Baca Novel Online Romantis di sini dan jangan lupa LIKE Facebook Fanpage kita ya untuk mendapatkan update terbaru. Beritahukan Admin apabila ada link yang tidak bisa ditemukan. Admin tunggu komentar kalian ya....



“Aku nggak suruh kamu jemput kalau tiba-tiba kamu minta imbalan,” kata Talisa dan Pai tertawa.


“Kamu pikir aku orang yang suka minta imbalan?” timpal Pai masih cekikikan.


“Aku nggak mau menyusahkan orang. Aku juga nggak mau dianggap memanfaatkan orang,” kata Talisa lagi dengan tegas. Sebenarnya ia juga lelah karena merasa dibuntuti oleh Pai dan meragukan ide membiarkan Pai mendekat untuk membuat Chakka terganggu.


Memang Talisa sempat melihat ketidaksukaan Chakka saat melihat Pai menjemputnya tapi itu belum berarti apa-apa. Talisa harus mendapatkan reaksi yang lebih dari itu.Namun, ia khawatir terlalu dekat dengan Pai dia akan sulit melepaskan diri dari orang seperti ini. Pai kurang lebih seperti ancaman. Kegigihannya itu kadang menakutkan lebih-lebih ia seorang berandal.


Terpikir oleh Talisa untuk menjauhinya; atau barangkali menghindar dengan cara yang  kejam agar ia berhenti mengejar-ngejar dirinya. Sedikitnya ia sudah tahu bahwa Chakka memang sangat terganggu dengan kehadiran Pai di sekitar Talisa; itu cukup. Tapi, agaknya Pai bukan orang yang mudah menyerah. Dia rela melakukan apa saja demi Talisa mulai dari membelikan makanan, menemaninya di saat sendirian dan memang Talisa tidak punya teman di kampus, dan tentu saja rela bolos mata kuliah demi menjemput Talisa ke kantornya dan mengantar ke kampus siang-siang.


“Aku pikir kamu nggak perlu ke kampus hari ini,” kata Chakka dari mejanya.


“Cuma menyerahkan tugas,” jawab Talisa. “Nggak lama.”


“Kamu pergi sama siapa?” tanya CHakka dengan suaranya yang dingin.


“Pai.” Jawab Talisa singkat. “Kamu nggak mungkin ‘kan mengantar aku karena nanti malah jadi ribut.”


Chakka berdiri dari kursinya dan mengeluarkan dompet. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dari sana dan memberikannya pada Talisa. “Kamu bisa naik taksi ‘kan?” tanya dia lagi.


Talisa tertawa sinis saat memandangi uang itu tanpa mengambilnya. “Aku nggak butuh uang,” tandasnya sambil berlalu.


“Talisa!” Chakka berubah kesal. Ia menarik lenga gadis itu saat Talisa akan menarik gagang pintunya. Sudah lama ia tidak terlihat begitu marah. “Kenapa kamu pergi dengan berandalan itu?! Aku sudah bilang jangan dekat dengan orang-orang seperti itu!”


Memangnya kamu siapaku?” balas Talisa tidak kalah marah. “Kamu nggak punya hak, Chakka!”


“Aku memang nggak punya hak tapi setidaknya aku tahu kalau orang itu nggak baik untuk kamu!”


“Nggak baik? Lalu apa kamu sendiri baik?”


“Iya! Aku juga nggak baik, aku tahu itu! Tapi, kamu juga nggak pantas untuk orang seperti itu! kenapa kamu nggak ngerti juga?!”


“Apa yang nggak aku mengerti sekarang? Apa?! Jangan seenaknya terhadap hidupku, Chakka! Kalau pun aku mendapatkan orang yang salah, apa peduli kamu?! Toh kamu juga akan menikah dan aku dapat apa?! Undangan pernikahan?!”


“Aku akan pulang ke Jakarta dan perusahaan ini akan dijual, Talisa!” kata Chakka akhirnya di sela-sela nafasnya yang sesak. “Aku nggak bisa pergi dengan tenang kalau kamu bersama dengan orang seperti itu!”


“Kamu bilang apa? Ja… Jakarta?”


Chakka mengangguk dengan cukup menyesal. “Dara sudah menemukan orang yang akan membeli perusahaan ini dan kami akan kembali ke Jakarta …,” jelas dia dengan suara pelan. “Semua ini harus berakhir, Talisa ….”


Talisa kembali terbungkam. Sudah sering Chakka mengatakan hal yang menyakitkan hati namun tak pernah membuat semangat perjuangan cintanya pudar. Tapi kali ini, untuk yang pertama, jalan yang awalnya masih terlihat di pelupuk mata, tiba-tiba menggelap.  Ia menatap Chakka yang sedih –entah mengapa pula ia harus sedih. Sementara Talisa membeku. Terbayang sudah ia akan berjalan dalam gelap, tanpa tujuan. Terbayang sudah penderitaan yang tak berujung.


“Kenapa …,” hanya itu yang mampu terucap di bibirnya gemetar. “Kenapa … kamu lakukan ini ….”


“Kita nggak mungkin bisa bersama, Talisa …. Kamu harus mengerti ….” Ujar Chakka.


Talisa menggeleng satu kali. Dia masih menolak kenyataan itu mentah-mentah dengan menendang keluar semua kalimat Chakka yang langsung terpatri di pikirannya.


“Kamu harus melepaskan aku …,” ujar Chakka sekali lagi. “Jalan kamu masih panjang. Kamu masih punya masa depan dan pastinya lebih baik dari ini ….”


“Nggak …,” Talisa menggeleng berkali-kali. “Aku akan melakukan apa pun tapi jangan pergi ….”


“Cukup, Talisa …,” kata Chakka. “Sudahlah, hentikan semua ini. Kamu hanya akan menyakiti diri kamu sendiri ….”


Tertunduk, Talisa berusaha merasakan air matanya. Tapi aneh. Tak ada tetesan yang mengalir dari matanya. Apakah air matanya sudah kering? Yang pasti dadanya sakit sekali seperti ditusuk berkali-kali dan ia tak mampu berdiri lebih lama di hadapan Chakka. Sudah terpapar sebuah perpisahan di depan wajahnya.


“Jadi … ini akhirnya?” ia bertanya pada Chakka masih dengan kepala tertunduk.


Chakka tidak menjawab.


Kemudian Talisa berusaha menatapnya dan berdiri tegak. “Baik …,” ia menjawab dan langsung mengambil langkah untuk segera pergi.


***


Pai terlihat di parkiran bersama motornya. Ia tampak sabar menunggu sembari memperhatikan sekitarnya sampai matanya menemukan sosok Talisa yang keluar dari gedung kantornya dengan langkah tergesa-gesa. Ia sudah bisa memastikan bahwa Talisa benar-benar menghampirinya karena gadis itu menatap ke arahnya. Pai sedikit khawatir, memperhatikan raut wajah Talisa yang kesal sepertinya ia akan diusir supaya tidak mengganggunya lagi. Gadis itu sulit ditaklukan.


“Pai!” suara Talisa yang memanggil seakan menyambarnya sehingga Pai terkesiap dan seketika membeku beberapa saat.


Sebelum Pai menjawab panggilan itu, Talisa sudah kelihatan ingin menyampaikan sesuatu. Pai menjadi semakin khawatir.


“Ayo kita pacaran!” kata Talisa tiba-tiba; cepat dan jelas. Tidak ada keraguan dalam nada suaranya.


Pai membelalak. Apa ia tidak salah dengar?


“Kamu melakukan semua ini untuk itu ‘kan?” Talisa kedengaran mendesak sampai ia tidak tahu harus menjawab apa.


Namun, Pai yang menyukai Talisa sedikitnya senang. Ia terlalu senang sampai tak perlu rasanya menanyakan mengapa Talisa tiba-tiba mengajaknya pacaran. Padahal baru kemarin Talisa mengusirnya terang-terangan supaya tidak mengganggunya.


Talisa masih menunggu dengan raut wajah tak sabaran. Ia tahu Pai takkan menolak. Ia tahu bahwa dengan melakukan apa yang paling tak disukai Chakka adalah cara untuk mendapatkan perhatiannya lagi.


“Maksud kamu … kita pacaran?” Pai menatapnya dengan senyum sumringah ibarat baru mendapat durian runtuh.


Talisa menggangguk dengan cepat. “Ayo pergi!” ajaknya.


Tanpa bertanya, Pai menurut saja. Dan Talisa menganggap itu sebagai bentuk kepatuhan yang bisa ia manfaatkan demi tujuannya. Meski pun ini akan berakhir tidak baik nanti; ia akan menyakiti orang tak bersalah dan tak ada hubungan dengan kepedihannya saat ini.


Awalnya Talisa melihat Pai sebagai anak lelaki yang akan mematuhi semua ucapannya. Tapi, dia lupa, Pai adalah seorang berandal.


***


“Ini membosankan!” Talisa tiba-tiba berteriak dan menghempaskan bukunya sehingga Pai yang duduk di depannya terkejut. Wajahnya begitu masam sejak Pai menjemputnya dari kantor dan mereka singgah di sebuah café untuk sekedar duduk dan makan malam.


Sejak mereka sampai di café, Talisa tidak berbicara sepatah kata pun. Air mukanya selalu marah. Tampak seseorang telah membuatnya kesal di kantor dan ia tidak bisa menyingkirkan amarah itu saat mereka harusnya bisa sedikit santai. Anehnya, Talisa juga tak mau menceritakannya. Sudah sering Pai bertanya masalahnya, tapi gadis itu selalu menjawab Pai tidak akan mengerti sehingga ia tidak perlu menceritakannya.


“Ada apa?” tanya Pai dan Talisa menggeleng-geleng. Tapi, setelahnya gadis itu tetap saja murung.


Ya, memang Pai tidak mengerti. Gadis-gadis yang berada di sekelilingnya, biasanya hanyalah sesama mahasiswa. Masalah umum yang para gadis itu miliki adalah pacar dan uang kos. Mereka sering merajuk gara-gara masalah sepele. Sedangkan Talisa, dia seperti seorang ratu. Berkecukupan dan tak bisa mentolerir kekurangan. Lingkungannya berbeda karena dia perempuan kantoran. Penampilannya pun tidak sepele. Kepribadiannya solid seperti besi. Di kampus ia tidak ramah dan cenderung menjauh dari kumpulan gadis-gadis entah karena dia memang tak bisa bergaul atau merasa dirinya adalah sesuatu yang ‘mahal’.


Pai memperhatikan ekspresi wajahnya yang selalu  tampak berpikir. Di matanya Talisa adalah seorang pemikir. Tampaknya ada sesuatu yang tidak bisa ia tuntaskan sampai-sampai ia terus memikirkannya. Pai mencoba memberikan bahunya agar gadis itu bisa bersandar. Tapi, gadis itu sepertinya tidak peduli padanya.


Lantas mengapa Talisa mengajaknya pacaran? Pai pun mulai bertanya-tanya. Apa ada sesuatu di balik semua ini?





Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

2 comments