🌜 Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia 🌛 Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari🥳
Baca Novel Online Romantis di sini dan jangan lupa LIKE Facebook Fanpage kita ya untuk mendapatkan update terbaru. Beritahukan Admin apabila ada link yang tidak bisa ditemukan. Admin tunggu komentar kalian ya....

“Aku nggak suruh
kamu jemput kalau tiba-tiba kamu minta imbalan,” kata Talisa dan Pai tertawa.
“Kamu pikir aku
orang yang suka minta imbalan?” timpal Pai masih cekikikan.
“Aku nggak mau
menyusahkan orang. Aku juga nggak mau dianggap memanfaatkan orang,” kata Talisa
lagi dengan tegas. Sebenarnya ia juga lelah karena merasa dibuntuti oleh Pai
dan meragukan ide membiarkan Pai mendekat untuk membuat Chakka terganggu.
Memang Talisa
sempat melihat ketidaksukaan Chakka saat melihat Pai menjemputnya tapi itu
belum berarti apa-apa. Talisa harus mendapatkan reaksi yang lebih dari
itu.Namun, ia khawatir terlalu dekat dengan Pai dia akan sulit melepaskan diri
dari orang seperti ini. Pai kurang lebih seperti ancaman. Kegigihannya itu
kadang menakutkan lebih-lebih ia seorang berandal.
Terpikir oleh
Talisa untuk menjauhinya; atau barangkali menghindar dengan cara yang kejam agar ia berhenti mengejar-ngejar
dirinya. Sedikitnya ia sudah tahu bahwa Chakka memang sangat terganggu dengan
kehadiran Pai di sekitar Talisa; itu cukup. Tapi, agaknya Pai bukan orang yang
mudah menyerah. Dia rela melakukan apa saja demi Talisa mulai dari membelikan
makanan, menemaninya di saat sendirian dan memang Talisa tidak punya teman di
kampus, dan tentu saja rela bolos mata kuliah demi menjemput Talisa ke
kantornya dan mengantar ke kampus siang-siang.
“Aku pikir kamu
nggak perlu ke kampus hari ini,” kata Chakka dari mejanya.
“Cuma
menyerahkan tugas,” jawab Talisa. “Nggak lama.”
“Kamu pergi sama
siapa?” tanya CHakka dengan suaranya yang dingin.
“Pai.” Jawab
Talisa singkat. “Kamu nggak mungkin ‘kan mengantar aku karena nanti malah jadi
ribut.”
Chakka berdiri
dari kursinya dan mengeluarkan dompet. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang
seratus ribu dari sana dan memberikannya pada Talisa. “Kamu bisa naik taksi
‘kan?” tanya dia lagi.
Talisa tertawa
sinis saat memandangi uang itu tanpa mengambilnya. “Aku nggak butuh uang,”
tandasnya sambil berlalu.
“Talisa!” Chakka
berubah kesal. Ia menarik lenga gadis itu saat Talisa akan menarik gagang
pintunya. Sudah lama ia tidak terlihat begitu marah. “Kenapa kamu pergi dengan
berandalan itu?! Aku sudah bilang jangan dekat dengan orang-orang seperti itu!”
“Memangnya kamu siapaku?”
balas Talisa tidak kalah marah. “Kamu nggak punya hak, Chakka!”
“Aku memang
nggak punya hak tapi setidaknya aku tahu kalau orang itu nggak baik untuk
kamu!”
“Nggak baik?
Lalu apa kamu sendiri baik?”
“Iya! Aku juga
nggak baik, aku tahu itu! Tapi, kamu juga nggak pantas untuk orang seperti itu!
kenapa kamu nggak ngerti juga?!”
“Apa yang nggak aku
mengerti sekarang? Apa?! Jangan seenaknya terhadap hidupku, Chakka! Kalau pun
aku mendapatkan orang yang salah, apa peduli kamu?! Toh kamu juga akan menikah
dan aku dapat apa?! Undangan pernikahan?!”
“Aku akan pulang
ke Jakarta dan perusahaan ini akan dijual, Talisa!” kata Chakka akhirnya di
sela-sela nafasnya yang sesak. “Aku nggak bisa pergi dengan tenang kalau kamu
bersama dengan orang seperti itu!”
“Kamu bilang
apa? Ja… Jakarta?”
Chakka
mengangguk dengan cukup menyesal. “Dara sudah menemukan orang yang akan membeli
perusahaan ini dan kami akan kembali ke Jakarta …,” jelas dia dengan suara
pelan. “Semua ini harus berakhir, Talisa ….”
Talisa kembali
terbungkam. Sudah sering Chakka mengatakan hal yang menyakitkan hati namun tak
pernah membuat semangat perjuangan cintanya pudar. Tapi kali ini, untuk yang
pertama, jalan yang awalnya masih terlihat di pelupuk mata, tiba-tiba
menggelap. Ia menatap Chakka yang sedih
–entah mengapa pula ia harus sedih. Sementara Talisa membeku. Terbayang sudah
ia akan berjalan dalam gelap, tanpa tujuan. Terbayang sudah penderitaan yang
tak berujung.
“Kenapa …,”
hanya itu yang mampu terucap di bibirnya gemetar. “Kenapa … kamu lakukan ini
….”
“Kita nggak
mungkin bisa bersama, Talisa …. Kamu harus mengerti ….” Ujar Chakka.
Talisa
menggeleng satu kali. Dia masih menolak kenyataan itu mentah-mentah dengan
menendang keluar semua kalimat Chakka yang langsung terpatri di pikirannya.
“Kamu harus
melepaskan aku …,” ujar Chakka sekali lagi. “Jalan kamu masih panjang. Kamu
masih punya masa depan dan pastinya lebih baik dari ini ….”
“Nggak …,”
Talisa menggeleng berkali-kali. “Aku akan melakukan apa pun tapi jangan pergi
….”
“Cukup, Talisa
…,” kata Chakka. “Sudahlah, hentikan semua ini. Kamu hanya akan menyakiti diri
kamu sendiri ….”
Tertunduk,
Talisa berusaha merasakan air matanya. Tapi aneh. Tak ada tetesan yang mengalir
dari matanya. Apakah air matanya sudah kering? Yang pasti dadanya sakit sekali
seperti ditusuk berkali-kali dan ia tak mampu berdiri lebih lama di hadapan
Chakka. Sudah terpapar sebuah perpisahan di depan wajahnya.
“Jadi … ini
akhirnya?” ia bertanya pada Chakka masih dengan kepala tertunduk.
Chakka tidak
menjawab.
Kemudian Talisa
berusaha menatapnya dan berdiri tegak. “Baik …,” ia menjawab dan langsung
mengambil langkah untuk segera pergi.
***
Pai terlihat di
parkiran bersama motornya. Ia tampak sabar menunggu sembari memperhatikan
sekitarnya sampai matanya menemukan sosok Talisa yang keluar dari gedung
kantornya dengan langkah tergesa-gesa. Ia sudah bisa memastikan bahwa Talisa
benar-benar menghampirinya karena gadis itu menatap ke arahnya. Pai sedikit
khawatir, memperhatikan raut wajah Talisa yang kesal sepertinya ia akan diusir
supaya tidak mengganggunya lagi. Gadis itu sulit ditaklukan.
“Pai!” suara
Talisa yang memanggil seakan menyambarnya sehingga Pai terkesiap dan seketika
membeku beberapa saat.
Sebelum Pai
menjawab panggilan itu, Talisa sudah kelihatan ingin menyampaikan sesuatu. Pai
menjadi semakin khawatir.
“Ayo kita
pacaran!” kata Talisa tiba-tiba; cepat dan jelas. Tidak ada keraguan dalam nada
suaranya.
Pai membelalak.
Apa ia tidak salah dengar?
“Kamu melakukan
semua ini untuk itu ‘kan?” Talisa kedengaran mendesak sampai ia tidak tahu
harus menjawab apa.
Namun, Pai yang
menyukai Talisa sedikitnya senang. Ia terlalu senang sampai tak perlu rasanya
menanyakan mengapa Talisa tiba-tiba mengajaknya pacaran. Padahal baru kemarin
Talisa mengusirnya terang-terangan supaya tidak mengganggunya.
Talisa masih
menunggu dengan raut wajah tak sabaran. Ia tahu Pai takkan menolak. Ia tahu
bahwa dengan melakukan apa yang paling tak disukai Chakka adalah cara untuk
mendapatkan perhatiannya lagi.
“Maksud kamu … kita pacaran?” Pai
menatapnya dengan senyum sumringah ibarat baru mendapat durian runtuh.
Talisa menggangguk dengan cepat. “Ayo
pergi!” ajaknya.
Tanpa bertanya, Pai menurut saja. Dan
Talisa menganggap itu sebagai bentuk kepatuhan yang bisa ia manfaatkan demi
tujuannya. Meski pun ini akan berakhir tidak baik nanti; ia akan menyakiti
orang tak bersalah dan tak ada hubungan dengan kepedihannya saat ini.
Awalnya Talisa melihat Pai sebagai anak
lelaki yang akan mematuhi semua ucapannya. Tapi, dia lupa, Pai adalah seorang
berandal.
***
“Ini membosankan!” Talisa tiba-tiba
berteriak dan menghempaskan bukunya sehingga Pai yang duduk di depannya
terkejut. Wajahnya begitu masam sejak Pai menjemputnya dari kantor dan mereka
singgah di sebuah café untuk sekedar duduk dan makan malam.
Sejak mereka sampai di café, Talisa tidak
berbicara sepatah kata pun. Air mukanya selalu marah. Tampak seseorang telah
membuatnya kesal di kantor dan ia tidak bisa menyingkirkan amarah itu saat
mereka harusnya bisa sedikit santai. Anehnya, Talisa juga tak mau
menceritakannya. Sudah sering Pai bertanya masalahnya, tapi gadis itu selalu
menjawab Pai tidak akan mengerti sehingga ia tidak perlu menceritakannya.
“Ada apa?” tanya Pai dan Talisa
menggeleng-geleng. Tapi, setelahnya gadis itu tetap saja murung.
Ya, memang Pai tidak mengerti. Gadis-gadis
yang berada di sekelilingnya, biasanya hanyalah sesama mahasiswa. Masalah umum
yang para gadis itu miliki adalah pacar dan uang kos. Mereka sering merajuk
gara-gara masalah sepele. Sedangkan Talisa, dia seperti seorang ratu.
Berkecukupan dan tak bisa mentolerir kekurangan. Lingkungannya berbeda karena
dia perempuan kantoran. Penampilannya pun tidak sepele. Kepribadiannya solid
seperti besi. Di kampus ia tidak ramah dan cenderung menjauh dari kumpulan
gadis-gadis entah karena dia memang tak bisa bergaul atau merasa dirinya adalah
sesuatu yang ‘mahal’.
Pai memperhatikan ekspresi wajahnya yang
selalu tampak berpikir. Di matanya
Talisa adalah seorang pemikir. Tampaknya ada sesuatu yang tidak bisa ia
tuntaskan sampai-sampai ia terus memikirkannya. Pai mencoba memberikan bahunya
agar gadis itu bisa bersandar. Tapi, gadis itu sepertinya tidak peduli padanya.
Lantas mengapa Talisa mengajaknya pacaran?
Pai pun mulai bertanya-tanya. Apa ada sesuatu di balik semua ini?
Gak sabar nunggu updateannya,hehe
Hai, aku sudah update lagi loh!!