๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Baca Novel Online Romantis di sini dan jangan lupa LIKE Facebook Fanpage kita ya untuk mendapatkan update terbaru. Beritahukan Admin apabila ada link yang tidak bisa ditemukan. Admin tunggu komentar kalian ya....
Kehancuran Menjelang
“Aku nggak ngerti. Coba lihat sekeliling
kamu …,” Talisa berkata dengan nada skeptic dan Pai hanya menatapnya saja
dengan senyum yang mengisyaratkan kelucuan dari setiap kata yang diucapkan
Talisa padanya. “Di kampus ini banyak sekali cewek yang menurut versi kamu itu
lebih baik. Maksudku, bukan cewek simpanan seperti aku. Dan … aku heran, kenapa
kamu duduk di sini sama aku, ketimbang menggoda salah satu dari mereka.”
Pai tertawa. “Ini pertama kalinya aku
dengar kamu ngomong panjang-panjang,” kata Pai.
“Habisnya, kalau aku ngomong satu kalimat
kamu selalu muncul di mana-mana seolah itu nggak cukup. Dan sekarang sudah
jelas ‘kan aku nggak suka diganggu,” balas Talisa. “Jadi, pergi sana!”
“Talisa, jangan begitu. Aku sudah minta
maaf soal itu ‘kan?”
“Aku maafkan, tapi aku nggak tertarik
meladeni kamu,” tegas Talisa.
“Tapi, kamu nggak kelihatan sudah
memaafkan.”
“Maaf ya,... siapa nama kamu tadi? Aku sibuk!” cetus Talisa
sambil memberes buku-bukunya dari atas meja dan tiba-tiba terkejut saat Pai
tiba-tiba menyambar handphone-nya. “Hei!” jerit Talisa sambil menggapai tapi
anak itu malah berlari membawa handphone-nya.
Pai tampak memencet nomor sembari berlari
dan tertawa.
Talisa sempat kalang kabut. Iseng sekali
dia.
Kemudian dia berhenti untuk merogoh saku
celananya. Pai mengeluarkan handphone miliknya yang berbunyi. Ternyata dia
menelpon dari handphone Talisa dan Talisa hanya bisa melongo saat menyadari
berandalan itu sudah mendapatkan handphone-nya.
“Nih! Aku balikin!” seru Pai sambil
melemparkan benda itu kembali pada Talisa. “Namaku Pai! Jangan lupa disimpan!”
Terkesiap, Talisa menangkap handphone-nya
yang nyaris jatuh.
Dasar, berandal! Gerutu Talisa sebal sambil
menyaksikan orang itu berlalu darinya dengan gembira. Orang yang benar-benar
aneh.
***
Sebuah bunyi pendek terdengar dari dalam
tas saat Talisa sedang serius menatapi layar komputer. Memang sejak pagi
handphone-nya sudah berbunyi dan ia tahu siapa yang mengiriminya pesan
bertubi-tubi. Pai.
Chakka juga masih sibuk di depan computer
ketika akhirnya Talisa melirik jam dinding dan waktu pulang telah tiba. Talisa
mengambil handphone-nya untuk membaca semua pesan itu dan tiba-tiba terkekeh
sendiri. Pai berusaha memperhatikannya dengan pesan-pesan yang kedengarannya amat peduli
dan terakhir dia mengatakan lewat SMS ‘AKU SUDAH DI DEPAN KANTOR. MAU
PULANG?’. Talisa cukup kelabakan dan
segera ia melihat ke arah Chakka.
Tapi, pucuk dicinta ulam pun tiba.
Lelaki itu juga sudah mulai bersiap untuk
pulang. Talisa pun mulai buru-buru mengemasi barangnya.
“Kamu ada janji sama siapa?” tegur Chakka,
yang ingat betul kalau Talisa tidak punya jadwal kuliah diawal Minggu dan hari
ini masih hari Selasa.
Talisa terkekeh. “Tumben kamu mau tahu,” balasnya
sembari meraih handbag-nya di atas meja.
“Aku punya firasat yang nggak enak
akhir-akhir ini,” jelas Chakka, tampaknya serius dengan ‘firasat tidak enak’ itu.
Talisa pun menghampirinya. “Aku punya
keluarga tapi aku nggak peduli soal mereka lebih dari aku peduli sama kamu,”
katanya. “Artinya kamu adalah penyebab kesedihan atau pun kebahagianku. Tapi,
yang paling nggak aku mengerti adalah … kamu begitu peduli sama aku seakan …
kamu mencintaiku. Hanya saja semua yang kamu lakukan adalah kebalikannya, yaitu
menyakiti….”
Chakka terdiam. Wajahnya masih terlihat
khawatir.
“Kita bisa mengakhiri kegilaan ini ‘kan?”
tanya Talisa padanya. “Kamu butuh aku dan aku bisa menarik kamu keluar dari
penderitaan kamu ….”
“Kamu sudah tahu alasan aku nggak bisa
memilih kamu ‘kan?” Chakka mulai tampak memohon agar Talisa tidak melanjutkan
kalimatnya.
“Kalau seandainya kamu berani mengakui
kalau sedikitnya di hati kamu memiliki rasa cinta untukku, walaupun hanya sedikit, aku bisa
menyingkirkan segala hal yang nggak mungkin ini. Yang aku inginkan hanya
sedikit, Chakka, bukan semuanya. Itu saja …,” Talisa juga mulai tampak memohon.
“Seseorang yang mencintai dengan tulus akan menunggu. Seperti yang kamu lakukan selama
ini. Jadi … sebenarnya semua ini bisa berakhiri kalau kamu … sadar siapa yang
sebenarnya lebih kamu butuhkan ….”
“Kamu dekat dengan seseorang?” tanya Chakka
tiba-tiba.
Talisa tersenyum. “Bukannya itu mau kamu?”
balasnya.
“Aku cuma khawatir …,”
“Kalau begitu,
tetaplah bersamaku …,”
Chakka menarik
nafas. “Seandainya aku bisa ….”
Talisa pun
terdiam. Ia tahu, Chakka akan memberikan jawaban yang sama. Namun, ia belum mau
menyerah. Ketakutan Chakka menyiratkan sesuatu yang berbeda saat ini seolah ia
tidak ingin Talisa menjalin hubungan dengan orang lain. Memang Chakka mempunyai
insting yang kuat akan apa yang terjadi, namun kali ini berbeda. Dia seolah
tidak rela. Ya, dia tidak rela Talisa dekat dengan orang lain selain dirinya.
Bisa jadi cemburu. Bisa jadi dia khawatir apabila Talisa dekat dengan orang
lain, Talisa tidak akan ada lagi untuknya di saat ia membutuhkannya.
Saat Talisa
akhirnya berlalu tanpa kata-kata lagi, Chakka kembali merenung. Ia tetap
gelisah. Namun saat Dara muncul di balik pintu tak lama setelah Talisa keluar,
ia berusaha mengenyampingkan pikiran buruk itu. Wanita yang ia cintai adalah
Dara dan ia seharusnya tidak terlalu memikirkan Talisa yang notabene sudah
bukan anak-anak lagi. Gadis itu pasti bisa membedakan mana yang pantas dan
tidak pantas untuknya.
Hanya saja
ketika ia sampai di parkiran hendak naik ke mobilnya, Chakka menemukan alasan
mengapa ia gelisah terhadap Talisa akhir-akhir ini; Talisa didekati oleh
berandal tempo hari. Dia benar-benar tidak menyukai anak itu. kalau saja Dara
tidak sedang bersamanya, sudah pasti ia menyeret Talisa pergi.
***

Komentar
0 comments