[Baca Novel Roman Horor] Enigmatic - Ch. 19 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Baca Novel Online Romantis di sini dan jangan lupa LIKE Facebook Fanpage kita ya untuk mendapatkan update terbaru. Beritahukan Admin apabila ada link yang tidak bisa ditemukan. Admin tunggu komentar kalian ya....

Kehancuran Menjelang


“Aku nggak ngerti. Coba lihat sekeliling kamu …,” Talisa berkata dengan nada skeptic dan Pai hanya menatapnya saja dengan senyum yang mengisyaratkan kelucuan dari setiap kata yang diucapkan Talisa padanya. “Di kampus ini banyak sekali cewek yang menurut versi kamu itu lebih baik. Maksudku, bukan cewek simpanan seperti aku. Dan … aku heran, kenapa kamu duduk di sini sama aku, ketimbang menggoda salah satu dari mereka.”

Pai tertawa. “Ini pertama kalinya aku dengar kamu ngomong panjang-panjang,” kata Pai.

“Habisnya, kalau aku ngomong satu kalimat kamu selalu muncul di mana-mana seolah itu nggak cukup. Dan sekarang sudah jelas ‘kan aku nggak suka diganggu,” balas Talisa. “Jadi, pergi sana!”

“Talisa, jangan begitu. Aku sudah minta maaf soal itu ‘kan?”

“Aku maafkan, tapi aku nggak tertarik meladeni kamu,” tegas Talisa.

“Tapi, kamu nggak kelihatan sudah memaafkan.”

“Maaf ya,... siapa nama kamu tadi? Aku sibuk!” cetus Talisa sambil memberes buku-bukunya dari atas meja dan tiba-tiba terkejut saat Pai tiba-tiba menyambar handphone-nya. “Hei!” jerit Talisa sambil menggapai tapi anak itu malah berlari membawa handphone-nya.

Pai tampak memencet nomor sembari berlari dan tertawa.

Talisa sempat kalang kabut. Iseng sekali dia.

Kemudian dia berhenti untuk merogoh saku celananya. Pai mengeluarkan handphone miliknya yang berbunyi. Ternyata dia menelpon dari handphone Talisa dan Talisa hanya bisa melongo saat menyadari berandalan itu sudah mendapatkan handphone-nya.

“Nih! Aku balikin!” seru Pai sambil melemparkan benda itu kembali pada Talisa. “Namaku Pai! Jangan lupa disimpan!”

Terkesiap, Talisa menangkap handphone-nya yang nyaris jatuh.

Dasar, berandal! Gerutu Talisa sebal sambil menyaksikan orang itu berlalu darinya dengan gembira. Orang yang benar-benar aneh.

***

Sebuah bunyi pendek terdengar dari dalam tas saat Talisa sedang serius menatapi layar komputer. Memang sejak pagi handphone-nya sudah berbunyi dan ia tahu siapa yang mengiriminya pesan bertubi-tubi. Pai.

Chakka juga masih sibuk di depan computer ketika akhirnya Talisa melirik jam dinding dan waktu pulang telah tiba. Talisa mengambil handphone-nya untuk membaca semua pesan itu dan tiba-tiba terkekeh sendiri. Pai berusaha memperhatikannya dengan pesan-pesan yang kedengarannya amat peduli dan terakhir dia mengatakan lewat SMS ‘AKU SUDAH DI DEPAN KANTOR. MAU PULANG?’.  Talisa cukup kelabakan dan segera ia melihat ke arah Chakka.

Tapi, pucuk dicinta ulam pun tiba.

Lelaki itu juga sudah mulai bersiap untuk pulang. Talisa pun mulai buru-buru mengemasi barangnya.

“Kamu ada janji sama siapa?” tegur Chakka, yang ingat betul kalau Talisa tidak punya jadwal kuliah diawal Minggu dan hari ini masih hari Selasa.

Talisa terkekeh. “Tumben kamu mau tahu,” balasnya sembari meraih handbag-nya di atas meja.

“Aku punya firasat yang nggak enak akhir-akhir ini,” jelas Chakka, tampaknya serius dengan ‘firasat tidak enak’ itu.

Talisa pun menghampirinya. “Aku punya keluarga tapi aku nggak peduli soal mereka lebih dari aku peduli sama kamu,” katanya. “Artinya kamu adalah penyebab kesedihan atau pun kebahagianku. Tapi, yang paling nggak aku mengerti adalah … kamu begitu peduli sama aku seakan … kamu mencintaiku. Hanya saja semua yang kamu lakukan adalah kebalikannya, yaitu menyakiti….”

Chakka terdiam. Wajahnya masih terlihat khawatir.

“Kita bisa mengakhiri kegilaan ini ‘kan?” tanya Talisa padanya. “Kamu butuh aku dan aku bisa menarik kamu keluar dari penderitaan kamu ….”

“Kamu sudah tahu alasan aku nggak bisa memilih kamu ‘kan?” Chakka mulai tampak memohon agar Talisa tidak melanjutkan kalimatnya.

“Kalau seandainya kamu berani mengakui kalau sedikitnya di hati kamu memiliki rasa cinta untukku, walaupun hanya sedikit, aku bisa menyingkirkan segala hal yang nggak mungkin ini. Yang aku inginkan hanya sedikit, Chakka, bukan semuanya. Itu saja …,” Talisa juga mulai tampak memohon. “Seseorang yang mencintai dengan tulus akan menunggu. Seperti yang kamu lakukan selama ini. Jadi … sebenarnya semua ini bisa berakhiri kalau kamu … sadar siapa yang sebenarnya lebih kamu butuhkan ….”

“Kamu dekat dengan seseorang?” tanya Chakka tiba-tiba.

Talisa tersenyum. “Bukannya itu mau kamu?” balasnya.

“Aku cuma khawatir …,”

“Kalau begitu, tetaplah bersamaku …,”

Chakka menarik nafas. “Seandainya aku bisa ….”

Talisa pun terdiam. Ia tahu, Chakka akan memberikan jawaban yang sama. Namun, ia belum mau menyerah. Ketakutan Chakka menyiratkan sesuatu yang berbeda saat ini seolah ia tidak ingin Talisa menjalin hubungan dengan orang lain. Memang Chakka mempunyai insting yang kuat akan apa yang terjadi, namun kali ini berbeda. Dia seolah tidak rela. Ya, dia tidak rela Talisa dekat dengan orang lain selain dirinya. Bisa jadi cemburu. Bisa jadi dia khawatir apabila Talisa dekat dengan orang lain, Talisa tidak akan ada lagi untuknya di saat ia membutuhkannya.

Saat Talisa akhirnya berlalu tanpa kata-kata lagi, Chakka kembali merenung. Ia tetap gelisah. Namun saat Dara muncul di balik pintu tak lama setelah Talisa keluar, ia berusaha mengenyampingkan pikiran buruk itu. Wanita yang ia cintai adalah Dara dan ia seharusnya tidak terlalu memikirkan Talisa yang notabene sudah bukan anak-anak lagi. Gadis itu pasti bisa membedakan mana yang pantas dan tidak pantas untuknya.

Hanya saja ketika ia sampai di parkiran hendak naik ke mobilnya, Chakka menemukan alasan mengapa ia gelisah terhadap Talisa akhir-akhir ini; Talisa didekati oleh berandal tempo hari. Dia benar-benar tidak menyukai anak itu. kalau saja Dara tidak sedang bersamanya, sudah pasti ia menyeret Talisa pergi.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments