๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
She Were Always On My Mind
Dua tahun kemudian....
Dia tidak tahu bagaimana cara mengakhiri isi sebuah surat
tapi paragraf terakhirnya membangunkanku dari mimpi-mimpi buruk. Salah satunya
mimpi semalam yang entah bagaimana bisa terekam baik dalam memoriku. Aku
bermimpi Gigi datang lagi, kali ini dengan sebilah pisau dan aku melihat dia
mengoyak Saira dengan pisau itu. Sedangkan aku sama sekali tidak bisa
mencegahnya. Saat darah itu terciprat ke wajahku, aku terjaga dengan nafas yang
sesak.
Efek dari mimpi buruk itu adalah sakit kepala di pagi hari
yang disertai pegal di sekujur tubuh. Kemarin aku terlalu sibuk dengan beberapa
persiapan untuk sekolah di kawasan bantaran sungai. Setelah meninggalkan tempat
tidur, aku bergerak menuju dapur untuk mengambil air minum di kulkas. Rasa
sakit itu mulai sedikit berkurang saat aku duduk memandang jam dinding yang
menunjukan pukul delapan pagi, Waktu Indonesia Barat.
Aku sudah menetap di Jakarta sejak dua setengah tahun yang
lalu. Tepatnya setelah Saira mengirimiku surat hampir setebal satu buku tulis
dan aku membutuhkan waktu satu minggu untuk merenunginya; agar aku bisa
menerima kenyataan. Lalu enam kemudian aku memberanikan diri untuk menemui putraku
pada hari ulang tahunnya yang ke delapan. Hubungan kami membaik meskipun aku
harus melihatnya bahagia dengan orang lain. Kalau bukan karena kehadiran Sunny,
aku sudah pasti menjadi laki-laki patah hati yang paling menyedihkan di dunia.
Namun, di hatiku dia selalu menjadi satu-satunya. Dan akan
selalu menjadi satu-satunya.
Sunny adalah pengisi kesepianku. Aku sering mengajaknya
bepergian ketika libur sekolah dan dia senang-senang saja. Saira sudah kembali
bekerja, begitu juga dengan Adrian. Seperti dugaanku Sunny dan adik
perempuannya lebih banyak tinggal dengan pembantu. Bagiku itu kedengaran
seperti kisah lama yang terulang kembali. Aku tidak ingin situasi di rumah yang
begitu dingin, membuat Sunny kehilangan empatinya terhadap orang lain; Saira pernah
mengalaminya. Sehingga aku mengajak Sunny untuk lebih peduli pada anak-anak
seusianya yang tidak bisa hidup seperti dirinya.
Pekerjaanku saat ini berhubungan dengan lingkungan yang
kumuh, sisi lain dari perkotaan yang maju. Kebanyakan orang kaya lebih suka
memamerkan harta ketimbang mempergunakannya untuk sesuatu yang lebih mulia. Aku
tidak ingin Sunny tumbuh besar dengan mainan super canggih atau memperbesar
ruang di dunia maya untuk bersosialisasi dengan orang lain. Aku ingin dia
melihat kenyataan; wajah lain dari dunia yang tampak menjanjikan. Untungnya dia
menyukai kegiatan outbond di panti asuhan di wilayah terpencil. Bangun
pagi, berbaur dengan anak-anak kurang beruntung dan belajar di kelas seperti
mereka.
Pagiku sedikit dikejutkan oleh suara bel pintu beberapa kali
dan di saat yang bersamaan handphone-ku berbunyi. Aku lebih dulu meraih
handphone-ku karena tampaknya itu lebih penting. Benar saja, adikku.
“Good morning, Sid...,” sapa Reggina begitu
panggilannya tersambung dan bahkan aku belum mengucapkan ‘halo’.
“Ada apa?” tanyaku dengan terburu-buru.
“Hm, kamu sibuk hari ini?” dia balas bertanya.
“Ya mungkin,” jawabku singkat dan bel pintu masih berbunyi
dengan tidak sabaran.
“Aku cuma mau mengingatkan, Magisa sudah bebas dari penjara
seminggu yang lalu. Apa dia datang menemui kamu?” tanya Reggina.
Aku memang lupa dan tiba-tiba aku sedikit khawatir.
“Nggak...,” jawabku.
“Promise me that you will be aware,” dia berkata.
“I know. Thanks...,” balasku sambil menuju ke pintu.
“Ok. Take care,
Sidney...,” kata Reggina lagi untuk yang terakhir. “And, happy birthday.”
Aku juga lupa bahwa ini memang hari ulang tahunku. Semua
orang ingat kecuali aku, gerutuku dalam hati sambil membuka pintu dan seketika
terkejut melihat sekerumun orang berseru. “Happy Birthday!!”. Letusan kertas
warna-warna mengguyur di atas kue ulang tahun yang dipenuhi oleh lilin warna
warni yang menyala seperti kembang api kecil.
Kejutan ini mengingatkanku bahwa usiaku sudah 36 tahun.
“Tiup lilinnya, Sid!” Retha si pembawa kue menyodorkan kuenya
padaku didampingi oleh Anna yang meniup trompet.
Oh ya, mereka adalah orang yang membuat rencanaku sejak lama
terwujud dengan rapi. Mr. Ulrich yang merekomendasikan Anna dan kemudian Retha
juga ikut bergabung. Sejauh ini, mereka adalah tim yang solid dan banyak
membantuku.
“Make a wish,” kata Anna padaku.
Aku sudah lama tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Demi
memuaskan timku, aku meniup lilinnya dan memotong kuenya. Setelah acara
minum-minum dan makan-makan selesai semuanya bubar. Mereka meninggalkanku
sendiri karena perlu membiarkanku bersiap-siap. Kami masih punya banyak
pekerjaan dan perjalanan jauh. Ruanganku kembali kosong. Aku kembali merasakan
kehampaan itu dan ketika mencapai titiknya, aku kembali memandangi botol-botol
itu.
Setiap orang yang datang berkunjung ke rumahku pasti akan
bertanya, kenapa aku punya banyak sekali botol kaca bekas yang tergantung di ruang tengah. Aku
memungutnya dari laut karena botol-botol itu menyimpan surat-surat berharga. Dua
tahun yang lalu aku menyuruh orang untuk menyisir wilayah laut sekitar Teluk
Jakarta. Itu memang pekerjaan yang tidak masuk akal karena botol-botol itu
sudah lama dihanyutkan di sana. Tapi, aku berkeyakinan ombak akan tetap
menyapukannya ke pinggir. Butuh enam bulan untuk mengumpulkan ratusan botol
yang berisi surat dan tiga bulan untuk menyortir mana botol milik Saira. Dan di
sanalah botol-botol itu. Aku ingin sekali menunjukannya pada Saira, tapi tentu
saja itu tidak mudah.
Aku sadar bahwa aku bukan orang yang mudah jatuh cinta.
Orang banyak mengeluh akan ketidaksetiaan tapi pada dasarnya kesetiaan itu
terkadang menyakitkan; setia pada apa yang tidak akan bisa menjadi milik kita.
Diculik untuk tebusan tidak membuatku trauma, tapi memilih orang yang salah
benar-benar membuatku jera menjalin hubungan dengan seorang perempuan hanya
untuk menghargai pengorbanannya. Tidak, aku akan memilih apabila aku jatuh
cinta meski pun aku sangat yakin itu tak akan terjadi. Aku sudah memiliki
seorang putra, apa lagi yang terdengar lebih baik dari saat menghabiskan waktu
bersama dengan Sunny?
Melalui cermin aku memandang diriku. Banyak yang mengatakan
bahwa aku berubah; termasuk Saira. Tidak. Aku tidak berubah; sekarang aku hanya
merasa lebih tenang dan sibuk sampai jarang bercukur. Hari ini, aku ingin
terlihat lebih rapi sedikit dari biasanya sehingga aku membuka kabinet di
belakang kaca dan mengambil peralatanku.
Handphone-ku berbunyi lagi; sebuah SMS. Tapi, aku
mengabaikannya untuk sementara karena harus mengambil jaket dan kunci motor di
kamar tidur. Anna dan Retha sudah menungguku di basecamp karena
rencananya hari ini kami akan berangkat ke Sukabumi. Seminggu ke depan aku akan
berada di sana dan setelah itu berencana pulang ke Sydney selama beberapa hari.
Sebenarnya aku ingin mengajak Sunny, tapi kegiatan sekolahnya tidak
memungkinkan. Sebentar lagi Sunny akan meninggalkan sekolah dasar.
Pada saat aku meraih benda itu dari atas sofa, aku langsung
membaca pesan itu. Nomor tidak dikenal. Namun terasa mencurigakan hingga
akhirnya kurasakan darahku seperti berhenti mengalir sejenak.
HAI, SAYANG. KAMU SUDAH BERTEMU SUNNY HARI INI?
Yang benar saja? Seingatku tidak ada lagi wanita yang
memanggilku ‘sayang’ kecuali....
Dengan cepat aku menelpon balik nomor itu tapi yang kudengar
hanyalah... suara operator. Aku segera berlari keluar sambil menghubungi Saira.
Tapi, dia tidak mengangkatnya. Aku juga menelpon Adrian dan juga tak ada
jawaban.
Kepalaku dipenuhi ketakutan yang luar biasa. Baru saja
adikku mengingatkan tentang kembalinya si pembunuh dari neraka. Saira pernah
mengaku padaku bahwa tujuannya merahasiakan tentang Sunny adalah perempuan itu.
Aku sempat marah karena Saira seolah menyepelekanku seakan aku tidak mampu
melindungi putraku sendiri. Sedikitnya sekarang aku mengerti, inilah yang
paling ditakutkan oleh Saira.
Aku menghubungi semua orang dalam perjalanan menuju sekolah
Sunny. Aku sangat yakin Sunny masih di
sana dan menunggu Pak Didi menjemputnya.
Lima belas menit dalam perjalanan barlalu dalam ketegangan.
Setibanya di sekolah Sunny, aku menemukan keramaian biasa pada jam-jam pulang
antara murid dan orang tua yang menjemput. Sesaat kemudian aku ragu akan bisa
menemukan Sunny dengan cepat. Mataku dengan liar mencari sosok Sunny di antara anak-anak berseragam merah putih
itu tapi aku malah menemukan Adrian berdiri di depan gerbang dan tampak
menunggu.
Aku bergegas menghampirinya setelah memarkirkan motor. Dan
selagi aku menuju ke Adrian, saat itulah Sunny terlihat berlari ke arahnya.
Adrian yang mengenakan kemeja putih mengajaknya menyeberangi jalan karena mobilnya
tampak terpakir di seberang.
Aku mempercepat langkahku mengejar mereka. Tapi, kecepatan
lariku mengalahkan kecepatan sebuah mobil yang melaju kencang entah dari mana
melesat ke arah mereka. Dan hanya dua detik kemudian suara teriakan menggema.
Kejadiannya begitu cepat. Saat sekitarku mulai bergemuruh,
saat itulah aku melihat Adrian tergeletak di tengah jalan. Darah dengan cepat
menggenangi tubuhnya dan Sunny menangis ketakutan. Sedangkan mobil sedan itu
sudah lari seakan memang sengaja melakukannya.
Apa... yang akan aku katakan pada Saira?
***

Komentar
0 comments