[Novel Romantis] Saira Epilog (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

She Were Always On My Mind

Dua tahun kemudian....
Dia tidak tahu bagaimana cara mengakhiri isi sebuah surat tapi paragraf terakhirnya membangunkanku dari mimpi-mimpi buruk. Salah satunya mimpi semalam yang entah bagaimana bisa terekam baik dalam memoriku. Aku bermimpi Gigi datang lagi, kali ini dengan sebilah pisau dan aku melihat dia mengoyak Saira dengan pisau itu. Sedangkan aku sama sekali tidak bisa mencegahnya. Saat darah itu terciprat ke wajahku, aku terjaga dengan nafas yang sesak.

Efek dari mimpi buruk itu adalah sakit kepala di pagi hari yang disertai pegal di sekujur tubuh. Kemarin aku terlalu sibuk dengan beberapa persiapan untuk sekolah di kawasan bantaran sungai. Setelah meninggalkan tempat tidur, aku bergerak menuju dapur untuk mengambil air minum di kulkas. Rasa sakit itu mulai sedikit berkurang saat aku duduk memandang jam dinding yang menunjukan pukul delapan pagi, Waktu Indonesia Barat.

Aku sudah menetap di Jakarta sejak dua setengah tahun yang lalu. Tepatnya setelah Saira mengirimiku surat hampir setebal satu buku tulis dan aku membutuhkan waktu satu minggu untuk merenunginya; agar aku bisa menerima kenyataan. Lalu enam kemudian aku memberanikan diri untuk menemui putraku pada hari ulang tahunnya yang ke delapan. Hubungan kami membaik meskipun aku harus melihatnya bahagia dengan orang lain. Kalau bukan karena kehadiran Sunny, aku sudah pasti menjadi laki-laki patah hati yang paling menyedihkan di dunia.

Namun, di hatiku dia selalu menjadi satu-satunya. Dan akan selalu menjadi satu-satunya.

Sunny adalah pengisi kesepianku. Aku sering mengajaknya bepergian ketika libur sekolah dan dia senang-senang saja. Saira sudah kembali bekerja, begitu juga dengan Adrian. Seperti dugaanku Sunny dan adik perempuannya lebih banyak tinggal dengan pembantu. Bagiku itu kedengaran seperti kisah lama yang terulang kembali. Aku tidak ingin situasi di rumah yang begitu dingin, membuat Sunny kehilangan empatinya terhadap orang lain; Saira pernah mengalaminya. Sehingga aku mengajak Sunny untuk lebih peduli pada anak-anak seusianya yang tidak bisa hidup seperti dirinya.

Pekerjaanku saat ini berhubungan dengan lingkungan yang kumuh, sisi lain dari perkotaan yang maju. Kebanyakan orang kaya lebih suka memamerkan harta ketimbang mempergunakannya untuk sesuatu yang lebih mulia. Aku tidak ingin Sunny tumbuh besar dengan mainan super canggih atau memperbesar ruang di dunia maya untuk bersosialisasi dengan orang lain. Aku ingin dia melihat kenyataan; wajah lain dari dunia yang tampak menjanjikan. Untungnya dia menyukai kegiatan outbond di panti asuhan di wilayah terpencil. Bangun pagi, berbaur dengan anak-anak kurang beruntung dan belajar di kelas seperti mereka.

Pagiku sedikit dikejutkan oleh suara bel pintu beberapa kali dan di saat yang bersamaan handphone-ku berbunyi. Aku lebih dulu meraih handphone-ku karena tampaknya itu lebih penting. Benar saja, adikku.

Good morning, Sid...,” sapa Reggina begitu panggilannya tersambung dan bahkan aku belum mengucapkan ‘halo’.

“Ada apa?” tanyaku dengan terburu-buru.

“Hm, kamu sibuk hari ini?” dia balas bertanya.

“Ya mungkin,” jawabku singkat dan bel pintu masih berbunyi dengan tidak sabaran.

“Aku cuma mau mengingatkan, Magisa sudah bebas dari penjara seminggu yang lalu. Apa dia datang menemui kamu?” tanya Reggina.

Aku memang lupa dan tiba-tiba aku sedikit khawatir. “Nggak...,” jawabku.

Promise me that you will be aware,” dia berkata.

I know. Thanks...,” balasku sambil menuju ke pintu.

Ok.  Take care, Sidney...,” kata Reggina lagi untuk yang terakhir. “And, happy birthday.

Aku juga lupa bahwa ini memang hari ulang tahunku. Semua orang ingat kecuali aku, gerutuku dalam hati sambil membuka pintu dan seketika terkejut melihat sekerumun orang berseru. “Happy Birthday!!”. Letusan kertas warna-warna mengguyur di atas kue ulang tahun yang dipenuhi oleh lilin warna warni yang menyala seperti kembang api kecil.

Kejutan ini mengingatkanku bahwa usiaku sudah 36 tahun.

“Tiup lilinnya, Sid!” Retha si pembawa kue menyodorkan kuenya padaku didampingi oleh Anna yang meniup trompet.

Oh ya, mereka adalah orang yang membuat rencanaku sejak lama terwujud dengan rapi. Mr. Ulrich yang merekomendasikan Anna dan kemudian Retha juga ikut bergabung. Sejauh ini, mereka adalah tim yang solid dan banyak membantuku.

Make a wish,” kata Anna padaku.

Aku sudah lama tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Demi memuaskan timku, aku meniup lilinnya dan memotong kuenya. Setelah acara minum-minum dan makan-makan selesai semuanya bubar. Mereka meninggalkanku sendiri karena perlu membiarkanku bersiap-siap. Kami masih punya banyak pekerjaan dan perjalanan jauh. Ruanganku kembali kosong. Aku kembali merasakan kehampaan itu dan ketika mencapai titiknya, aku kembali memandangi botol-botol itu.

Setiap orang yang datang berkunjung ke rumahku pasti akan bertanya, kenapa aku punya banyak sekali botol kaca  bekas yang tergantung di ruang tengah. Aku memungutnya dari laut karena botol-botol itu menyimpan surat-surat berharga. Dua tahun yang lalu aku menyuruh orang untuk menyisir wilayah laut sekitar Teluk Jakarta. Itu memang pekerjaan yang tidak masuk akal karena botol-botol itu sudah lama dihanyutkan di sana. Tapi, aku berkeyakinan ombak akan tetap menyapukannya ke pinggir. Butuh enam bulan untuk mengumpulkan ratusan botol yang berisi surat dan tiga bulan untuk menyortir mana botol milik Saira. Dan di sanalah botol-botol itu. Aku ingin sekali menunjukannya pada Saira, tapi tentu saja itu tidak mudah.

Aku sadar bahwa aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Orang banyak mengeluh akan ketidaksetiaan tapi pada dasarnya kesetiaan itu terkadang menyakitkan; setia pada apa yang tidak akan bisa menjadi milik kita. Diculik untuk tebusan tidak membuatku trauma, tapi memilih orang yang salah benar-benar membuatku jera menjalin hubungan dengan seorang perempuan hanya untuk menghargai pengorbanannya. Tidak, aku akan memilih apabila aku jatuh cinta meski pun aku sangat yakin itu tak akan terjadi. Aku sudah memiliki seorang putra, apa lagi yang terdengar lebih baik dari saat menghabiskan waktu bersama dengan Sunny?

Melalui cermin aku memandang diriku. Banyak yang mengatakan bahwa aku berubah; termasuk Saira. Tidak. Aku tidak berubah; sekarang aku hanya merasa lebih tenang dan sibuk sampai jarang bercukur. Hari ini, aku ingin terlihat lebih rapi sedikit dari biasanya sehingga aku membuka kabinet di belakang kaca dan mengambil peralatanku.

***

Handphone-ku berbunyi lagi; sebuah SMS. Tapi, aku mengabaikannya untuk sementara karena harus mengambil jaket dan kunci motor di kamar tidur. Anna dan Retha sudah menungguku di basecamp karena rencananya hari ini kami akan berangkat ke Sukabumi. Seminggu ke depan aku akan berada di sana dan setelah itu berencana pulang ke Sydney selama beberapa hari. Sebenarnya aku ingin mengajak Sunny, tapi kegiatan sekolahnya tidak memungkinkan. Sebentar lagi Sunny akan meninggalkan sekolah dasar.

Pada saat aku meraih benda itu dari atas sofa, aku langsung membaca pesan itu. Nomor tidak dikenal. Namun terasa mencurigakan hingga akhirnya kurasakan darahku seperti berhenti mengalir sejenak.

HAI, SAYANG. KAMU SUDAH BERTEMU SUNNY HARI INI?

Yang benar saja? Seingatku tidak ada lagi wanita yang memanggilku ‘sayang’ kecuali....

Dengan cepat aku menelpon balik nomor itu tapi yang kudengar hanyalah... suara operator. Aku segera berlari keluar sambil menghubungi Saira. Tapi, dia tidak mengangkatnya. Aku juga menelpon Adrian dan juga tak ada jawaban.

Kepalaku dipenuhi ketakutan yang luar biasa. Baru saja adikku mengingatkan tentang kembalinya si pembunuh dari neraka. Saira pernah mengaku padaku bahwa tujuannya merahasiakan tentang Sunny adalah perempuan itu. Aku sempat marah karena Saira seolah menyepelekanku seakan aku tidak mampu melindungi putraku sendiri. Sedikitnya sekarang aku mengerti, inilah yang paling ditakutkan oleh Saira.

Aku menghubungi semua orang dalam perjalanan menuju sekolah Sunny.  Aku sangat yakin Sunny masih di sana dan menunggu Pak Didi menjemputnya.

Lima belas menit dalam perjalanan barlalu dalam ketegangan. Setibanya di sekolah Sunny, aku menemukan keramaian biasa pada jam-jam pulang antara murid dan orang tua yang menjemput. Sesaat kemudian aku ragu akan bisa menemukan Sunny dengan cepat. Mataku dengan liar mencari sosok Sunny  di antara anak-anak berseragam merah putih itu tapi aku malah menemukan Adrian berdiri di depan gerbang dan tampak menunggu.

Aku bergegas menghampirinya setelah memarkirkan motor. Dan selagi aku menuju ke Adrian, saat itulah Sunny terlihat berlari ke arahnya. Adrian yang mengenakan kemeja putih mengajaknya menyeberangi jalan karena mobilnya tampak terpakir di seberang.

Aku mempercepat langkahku mengejar mereka. Tapi, kecepatan lariku mengalahkan kecepatan sebuah mobil yang melaju kencang entah dari mana melesat ke arah mereka. Dan hanya dua detik kemudian suara teriakan menggema.

Kejadiannya begitu cepat. Saat sekitarku mulai bergemuruh, saat itulah aku melihat Adrian tergeletak di tengah jalan. Darah dengan cepat menggenangi tubuhnya dan Sunny menangis ketakutan. Sedangkan mobil sedan itu sudah lari seakan memang sengaja melakukannya.

Apa... yang akan aku katakan pada Saira?

***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments