๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
The End
Penjara bisa mengubah seseorang. Aku telah melewati hal itu
dan sulit sekali untuk kembali pada apa yang ku tinggalkan sebelum mendekam di
balik jeruji besi. Tapi, tidak dengan Magisa yang tetap bersih dan rapi. Dia
merias dirinya dengan cantik tanpa peduli dengan baju oranye yang tampak
kebesaran ditubuhnya dan membuat dandanan itu menjadi nggak pantas.
Saat melihatku, dia sangat tenang. Seakan sudah memprediksi
bahwa aku akan muncul untuk menertawai betapa menyedihkan dirinya sekarang. Dan
herannya, dia tersenyum, menyapaku dengan ramah.
“Kita impas, ‘kan?” dia berkata sambil duduk dan melipat
kakinya dengan angkuh.
Aku menggeleng. “Apa yang lo perbuat nggak akan pernah
setimpal dengan apa yang gue terima,” balasku.
Magisa tertawa sinis. “Terus lo mau apa?” dia bertanya,
menantangku.
“Nggak ada,” jawabku, dengan nada yang sama. “Gue cuma
berkunjung sebagai rasa simpati terhadap teman SMA gue....”
“Kita nggak pernah temenan, Saira,” dia mengingatkan.
“Ah, gue lupa,” kataku, tertawa kecil lalu memandangi
wajahnya yang masih menunjukan keangkuhan seorang ratu; ratu drama. “Lo pingin
jadi teman gue, tapi gue nggak mau.”
“Lo mau pamer apa sama gue?” dia bertanya lagi dengan sinis.
“Pamer setelan kantoran lo itu?”
Aku tertawa lagi. “Gue nggak perlu pamer apa-apa ke elo,
Gigi,” kataku. “Dari dulu juga lo udah tahu gue siapa ‘kan?”
“Terus apa mau lo datang ke sini?” Magisa mulai menatapku
tajam. Dia mulai kesal padaku.
“Gue cuma ngasih tahu kalau bekas pacar lo yang namanya
Jonathan udah menemui gue dan cerita semua dosa-dosa lo soal kejadian delapan
tahun yang lalu,” aku menjelaskan dan Magisa terlihat kaget. “Sebenarnya kita
bisa buka kasus itu lagi tapi gue pikir gue nggak butuh balas dendam. Gue punya
suami dan dua anak yang jauh lebih berarti dari balas dendam.”
“Cih!” Magisa semakin sinis. “Lo mau nunjukin kelemahan lo
di depan gue?”
“Terserah apa lo bilang. Seumur hidup gue nggak pernah
ngerasa sepuas ini!”
“This is not the end,” Magisa terdengar bergumam. “It’s
not over yet....”
Aku memperhatikan gerak bibirnya dengan seksama. Dan Magisa
tertawa meledekku secara tiba-tiba karena aku nggak menjawab.
“I forgot that you are stupid,” gumamnya lagi.
Ucapannya membuatku ingin tertawa lagi. Apa dia mengira
bahwa aku sama sekali nggak mengerti dengan apa yang dia katakan barusan?
“I was,” kataku dan tiba-tiba saja ekspresi wajah
Magisa yang melecehkan berubah terkejut. Matanya sampai melotot padaku. Tentu
saja dia nggak pernah tahu bagaimana mati-matiannya aku belajar Bahasa Inggris
karena pernah celaka. “I was so stupid untill you tricked me. Paid the taxi
driver and put me in the middle of nowhere and friends of your boyfriend found
me.”
Magisa masih terdiam menatapku.
“What? Are you surprised?” tantangku lagi. “Things
changed.”
Senyum sinis kembali terukir di wajahnya. Balasanku mulai
seperti tak berarti baginya. “Good to know...,” balasnya, dengan suara
tenang. “Ini belum berakhir, Saira...”
“Apa lagi yang lo rencanakan?” aku medekatkan wajahku
padanya tanpa rasa gentar.
“Gue bilang, ini belum selesai,” katanya, tegas.
“Buat lo semuanya memang nggak pernah selesai, Magisa...,”
balasku. “Lo sakit jiwa.”
Magisa tertawa. “Ya, lo benar. Gue sakit jiwa. Dan karena
sakit jiwa, gue nggak punya kelemahan sama sekali,” kata dia, berapi-api. “Lo
pikir penjara ini bisa menghentikan gue? Nggak akan pernah ada satu hal pun
yang bisa menghalangi gue!”
“Gue nggak takut!” kataku sambil berdiri untuk menyudahi
pertemuan itu.
Sipir yang berjaga mulai mengawasi Magisa yang sepertinya
kehilangan kontrol. Aku benar-benar membangunkan emosinya sehingga dia mulai
berteriak.
“Gue belum berhenti sama lo, Saira. Ingat itu! Ini belum
berakhir! Ini belum berakhir!” teriaknya sepanjang jalan saat dua sipir wanita
akhirnya menarik dia kembali ke dalam tahanan.
Aku mendengar itu seperti ancaman yang pasti. Tapi, berbeda
dengan yang dulu di mana aku selalu khawatir berurusan dengannya, kali ini aku
akan menghadapi apa pun yang terburuk darinya. Magisa Sunariya adalah musuhku
yang paling abadi setelah aku membunuh rasa kagumnya padaku hanya dalam waktu
lima menit saat di sekolah.Seperti musisi John Lennon yang ditembak mati oleh
fans-nya sendiri; kurang lebih seperti itu.
Darinya juga, aku mengambil sebuah hikmah yang pasti,
berhati-hatilah memperlakukan seseorang yang meski pun dia tampak lemah, belum
tentu dia lemah. Aku diajarkan dengan baik bagaimana kebencian bisa
menghancurkan seseorang berikut kehidupannya yang sempurna. Dan dari semua
kejadian yang telah kulewati, pelajaran yang paling berharga bagiku adalah kita
nggak pernah tahu apa yang kita miliki dan betapa berharganya itu sampai kita
kehilangannya.
Meskipun aku sudah melihat bahwa Magisa sudah benar-benar
kalah, aku bukanlah pemenangnya. Pemicu dari kedengkian berkepanjangan ini,
yaitu Sidney, tidak jatuh ke tangan siapa pun. Dia bukan benda yang bisa
diperebutkan. Dia bukan alasan untuk semua kejahatan Magisa. Dan dia juga nggak
pantas untuk sebuah penolakan. Aku mempercayai bahwa saat aku menderita, dia
pun juga merasakannya. Tapi, Adrian telah mengakhiri penderitaanku. Sedangkan
penderitaannya? Entahlah.
Ketika bertemu lagi dengannya tepat saat ulang tahun Sunny
yang ke delapan, dia sudah menjadi orang yang berbeda. Dia bukan Sidney yang
berpakaian rapi dan mengendarai mobil SUV mewah lagi. Aku cukup terkejut dia
muncul dengan rambut gondrong dan sepertinya belum sempat bercukur akhir-akhir
ini. Aku nyaris nggak mengenali dirinya lagi kalau saja dia nggak menghampiriku
dan menyapa; aku masih bisa mengenali suaranya.
“Aku pikir kamu akan langsung datang setelah membaca surat
itu,” kataku padanya.
Sidney memandangi Ananda di dalam gendonganku sambil
tersenyum.
“Apa yang kamu pikirkan saat tahu aku sudah menikah?” dia
bertanya dengan tenang, tapi cukup menohok. “Itu bukan sesuatu yang bisa
diterima dengan mudah.”
Ya, aku masih ingat saat Sidney mengakui pernikahannya
dengan Magisa. Aku syok tapi berpura-pura tenang. Aku memahami bahwa Sidney
berusaha untuk menerima kenyataan itu dengan menghilang lebih lama. Dan
sekarang, apakah aku harus minta maaf padanya?
Beberapa saat aku bingung karena merasa nggak enak. Adrian
masih berada di dalam rumah untuk mengambilkan soda kalengan untuk anak-anak
yang sedang bermain menunggu acara puncak.
“Aku nggak serius, Saira...,” tiba-tiba Sidney terkekeh.
“Aku punya kegiatan yang menyita banyak waktu dan perhatian.”
“Apa?”
“Aku sedang mengurus sekolah gratis untuk anak-anak yang
nggak mampu.”
“Wow! Hebat! Dari mana kamu punya ide seperti itu?”
“Kamu.”
Jawabannya membuatku tercengang.
“Bukannya kamu pernah bilang kita perlu melihat keluar kotak
tempat kita hidup itu untuk menyadarkan kita agar banyak bersyukur.”
Aku tertawa satu kali. “Aku nggak benar-benar serius waktu
itu,” kataku. “Aku mengatakan itu supaya terlihat keren di depan kamu, Sidney.
Aku rasa kamu sudah tahu kalau aku sebenarnya penakut dan rapuh. Aku selalu
bersembunyi agar nggak dilukai oleh siapa pun.”
“Oh ya? Ternyata kamu juga berbohong.”
“Aku hanya gadis 17 tahun yang ingin merasa pantas untuk
seorang Sidney Adams, Sidney...,” jawabku. “Pasti semua orang juga ngelakuin
hal yang kekanakan saat mereka jatuh cinta.”
“Ya, aku tahu. Aku keliling dunia hanya untuk mencari
seorang Saira Gayatri tanpa petunjuk satu pun...,” kenang dia. “Dan ternyata
dia nggak pernah pergi jauh. Dia hanya sembunyi.”
Benar. Semua yang kami bicarakan selalu tentang masa lalu
dan Sidney selalu memandangku dengan tatapan itu. Tapi, aku sudah bisa
mengatasinya.
“Apa kabar, Sidney?” suara Adrian terdengar menyapa hingga
aku menoleh ke belakang. Dia sedang membawa satu krat minuman kaleng rasa
stroberi dan hendak menaruhnya di meja. Tapi, untuk berjabat tangan dengan
Sidney, dia menaruhnya di bawah sementara.
“Baik,” jawab Sidney mengangguk dengan santai.
“Kamu nggak nyamperin Sunny. Sepertinya dia nggak tahu kalau
Pak Guru sudah datang,” kataku sambil menengok ke arah di mana Sunny asyik
bermain balon bersama teman-temannya.
Sidney mengangguk. “Ok,” katanya. “Aku harap dia nggak
lupa.”
Aku dan Adrian hanya tersenyum dan kemudian memperhatikan
langkah Sidney. Dia mendekati Sidney yang awalnya menatap dengan asing. Entah
apa yang Sidney katakan tapi tiba-tiba saja anak itu memeluknya; pasti dia
mengenali SIdney dari suaranya. Beberapa saat kemudian mereka mulai saling
bicara. Sunny tampak mengangguk-angguk dengan patuh; sepertinya Sidney mengatakan
sesuatu yang membuatnya senang, mungkin
mengajaknya ke suatu tempat dan Sunny setuju.
Sebenarnya kami belum mengatakan apa-apa pada Sunny. Cara
terbaik untuk memberitahunya adalah memberikan Sidney waktu sebanyak mungkin
untuk mengisi hari-harinya dan dengan begitu Sunny akan menyadari dengan
sendirinya. Itulah permintaan Sidney padaku di telepon sebelum kedatangannya.
Mungkin itu ide yang bagus.
Adrian merangkul bahuku. “Semuanya akan baik-baik saja,” dia
berujar seakan takut pikiran tentang Magisa yang masih ingin membalaskan dendam
terbesit.
Aku menggeleng dan melempar senyuman yang paling bahagia.
“Aku nggak pernah takut lagi, Adrian,” ucapku padanya. Lalu dia membawaku dan
Ananda bergabung ke kerumunan anak-anak karena acara puncak akan dimulai.
Semuanya akan baik-baik saja.
***


Komentar
0 comments