[Novel Romantis] Saira Ch. 39

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

The End

Penjara bisa mengubah seseorang. Aku telah melewati hal itu dan sulit sekali untuk kembali pada apa yang ku tinggalkan sebelum mendekam di balik jeruji besi. Tapi, tidak dengan Magisa yang tetap bersih dan rapi. Dia merias dirinya dengan cantik tanpa peduli dengan baju oranye yang tampak kebesaran ditubuhnya dan membuat dandanan itu menjadi nggak pantas.
Saat melihatku, dia sangat tenang. Seakan sudah memprediksi bahwa aku akan muncul untuk menertawai betapa menyedihkan dirinya sekarang. Dan herannya, dia tersenyum, menyapaku dengan ramah.
“Kita impas, ‘kan?” dia berkata sambil duduk dan melipat kakinya dengan angkuh.
Aku menggeleng. “Apa yang lo perbuat nggak akan pernah setimpal dengan apa yang gue terima,” balasku.
Magisa tertawa sinis. “Terus lo mau apa?” dia bertanya, menantangku.
“Nggak ada,” jawabku, dengan nada yang sama. “Gue cuma berkunjung sebagai rasa simpati terhadap teman SMA gue....”
“Kita nggak pernah temenan, Saira,” dia mengingatkan.
“Ah, gue lupa,” kataku, tertawa kecil lalu memandangi wajahnya yang masih menunjukan keangkuhan seorang ratu; ratu drama. “Lo pingin jadi teman gue, tapi gue nggak mau.”
“Lo mau pamer apa sama gue?” dia bertanya lagi dengan sinis. “Pamer setelan kantoran lo itu?”
Aku tertawa lagi. “Gue nggak perlu pamer apa-apa ke elo, Gigi,” kataku. “Dari dulu juga lo udah tahu gue siapa ‘kan?”
“Terus apa mau lo datang ke sini?” Magisa mulai menatapku tajam. Dia mulai kesal padaku.
“Gue cuma ngasih tahu kalau bekas pacar lo yang namanya Jonathan udah menemui gue dan cerita semua dosa-dosa lo soal kejadian delapan tahun yang lalu,” aku menjelaskan dan Magisa terlihat kaget. “Sebenarnya kita bisa buka kasus itu lagi tapi gue pikir gue nggak butuh balas dendam. Gue punya suami dan dua anak yang jauh lebih berarti dari balas dendam.”
“Cih!” Magisa semakin sinis. “Lo mau nunjukin kelemahan lo di depan gue?”
“Terserah apa lo bilang. Seumur hidup gue nggak pernah ngerasa sepuas ini!”
“This is not the end,” Magisa terdengar bergumam. “It’s not over yet....”
Aku memperhatikan gerak bibirnya dengan seksama. Dan Magisa tertawa meledekku secara tiba-tiba karena aku nggak menjawab.
I forgot that you are stupid,” gumamnya lagi.
Ucapannya membuatku ingin tertawa lagi. Apa dia mengira bahwa aku sama sekali nggak mengerti dengan apa yang dia katakan barusan?
I was,” kataku dan tiba-tiba saja ekspresi wajah Magisa yang melecehkan berubah terkejut. Matanya sampai melotot padaku. Tentu saja dia nggak pernah tahu bagaimana mati-matiannya aku belajar Bahasa Inggris karena pernah celaka. “I was so stupid untill you tricked me. Paid the taxi driver and put me in the middle of nowhere and friends of your boyfriend found me.”
Magisa masih terdiam menatapku.
“What? Are you surprised?” tantangku lagi. “Things changed.”
Senyum sinis kembali terukir di wajahnya. Balasanku mulai seperti tak berarti baginya. “Good to know...,” balasnya, dengan suara tenang. “Ini belum berakhir, Saira...”
“Apa lagi yang lo rencanakan?” aku medekatkan wajahku padanya tanpa rasa gentar.
“Gue bilang, ini belum selesai,” katanya, tegas.
“Buat lo semuanya memang nggak pernah selesai, Magisa...,” balasku. “Lo sakit jiwa.”
Magisa tertawa. “Ya, lo benar. Gue sakit jiwa. Dan karena sakit jiwa, gue nggak punya kelemahan sama sekali,” kata dia, berapi-api. “Lo pikir penjara ini bisa menghentikan gue? Nggak akan pernah ada satu hal pun yang bisa menghalangi gue!”
“Gue nggak takut!” kataku sambil berdiri untuk menyudahi pertemuan itu.
Sipir yang berjaga mulai mengawasi Magisa yang sepertinya kehilangan kontrol. Aku benar-benar membangunkan emosinya sehingga dia mulai berteriak.
“Gue belum berhenti sama lo, Saira. Ingat itu! Ini belum berakhir! Ini belum berakhir!” teriaknya sepanjang jalan saat dua sipir wanita akhirnya menarik dia kembali ke dalam tahanan.
Aku mendengar itu seperti ancaman yang pasti. Tapi, berbeda dengan yang dulu di mana aku selalu khawatir berurusan dengannya, kali ini aku akan menghadapi apa pun yang terburuk darinya. Magisa Sunariya adalah musuhku yang paling abadi setelah aku membunuh rasa kagumnya padaku hanya dalam waktu lima menit saat di sekolah.Seperti musisi John Lennon yang ditembak mati oleh fans-nya sendiri; kurang lebih seperti itu.
Darinya juga, aku mengambil sebuah hikmah yang pasti, berhati-hatilah memperlakukan seseorang yang meski pun dia tampak lemah, belum tentu dia lemah. Aku diajarkan dengan baik bagaimana kebencian bisa menghancurkan seseorang berikut kehidupannya yang sempurna. Dan dari semua kejadian yang telah kulewati, pelajaran yang paling berharga bagiku adalah kita nggak pernah tahu apa yang kita miliki dan betapa berharganya itu sampai kita kehilangannya.
***
Meskipun aku sudah melihat bahwa Magisa sudah benar-benar kalah, aku bukanlah pemenangnya. Pemicu dari kedengkian berkepanjangan ini, yaitu Sidney, tidak jatuh ke tangan siapa pun. Dia bukan benda yang bisa diperebutkan. Dia bukan alasan untuk semua kejahatan Magisa. Dan dia juga nggak pantas untuk sebuah penolakan. Aku mempercayai bahwa saat aku menderita, dia pun juga merasakannya. Tapi, Adrian telah mengakhiri penderitaanku. Sedangkan penderitaannya? Entahlah.
Ketika bertemu lagi dengannya tepat saat ulang tahun Sunny yang ke delapan, dia sudah menjadi orang yang berbeda. Dia bukan Sidney yang berpakaian rapi dan mengendarai mobil SUV mewah lagi. Aku cukup terkejut dia muncul dengan rambut gondrong dan sepertinya belum sempat bercukur akhir-akhir ini. Aku nyaris nggak mengenali dirinya lagi kalau saja dia nggak menghampiriku dan menyapa; aku masih bisa mengenali suaranya.
“Aku pikir kamu akan langsung datang setelah membaca surat itu,” kataku padanya.
Sidney memandangi Ananda di dalam gendonganku sambil tersenyum.
“Apa yang kamu pikirkan saat tahu aku sudah menikah?” dia bertanya dengan tenang, tapi cukup menohok. “Itu bukan sesuatu yang bisa diterima dengan mudah.”
Ya, aku masih ingat saat Sidney mengakui pernikahannya dengan Magisa. Aku syok tapi berpura-pura tenang. Aku memahami bahwa Sidney berusaha untuk menerima kenyataan itu dengan menghilang lebih lama. Dan sekarang, apakah aku harus minta maaf padanya?
Beberapa saat aku bingung karena merasa nggak enak. Adrian masih berada di dalam rumah untuk mengambilkan soda kalengan untuk anak-anak yang sedang bermain menunggu acara puncak.
“Aku nggak serius, Saira...,” tiba-tiba Sidney terkekeh. “Aku punya kegiatan yang menyita banyak waktu dan perhatian.”
“Apa?”
“Aku sedang mengurus sekolah gratis untuk anak-anak yang nggak mampu.”
“Wow! Hebat! Dari mana kamu punya ide seperti itu?”
“Kamu.”
Jawabannya membuatku tercengang.
“Bukannya kamu pernah bilang kita perlu melihat keluar kotak tempat kita hidup itu untuk menyadarkan kita agar banyak bersyukur.”
Aku tertawa satu kali. “Aku nggak benar-benar serius waktu itu,” kataku. “Aku mengatakan itu supaya terlihat keren di depan kamu, Sidney. Aku rasa kamu sudah tahu kalau aku sebenarnya penakut dan rapuh. Aku selalu bersembunyi agar nggak dilukai oleh siapa pun.”
“Oh ya? Ternyata kamu juga berbohong.”
“Aku hanya gadis 17 tahun yang ingin merasa pantas untuk seorang Sidney Adams, Sidney...,” jawabku. “Pasti semua orang juga ngelakuin hal yang kekanakan saat mereka jatuh cinta.”
“Ya, aku tahu. Aku keliling dunia hanya untuk mencari seorang Saira Gayatri tanpa petunjuk satu pun...,” kenang dia. “Dan ternyata dia nggak pernah pergi jauh. Dia hanya sembunyi.”
Benar. Semua yang kami bicarakan selalu tentang masa lalu dan Sidney selalu memandangku dengan tatapan itu. Tapi, aku sudah bisa mengatasinya.
“Apa kabar, Sidney?” suara Adrian terdengar menyapa hingga aku menoleh ke belakang. Dia sedang membawa satu krat minuman kaleng rasa stroberi dan hendak menaruhnya di meja. Tapi, untuk berjabat tangan dengan Sidney, dia menaruhnya di bawah sementara.
“Baik,” jawab Sidney mengangguk dengan santai.
“Kamu nggak nyamperin Sunny. Sepertinya dia nggak tahu kalau Pak Guru sudah datang,” kataku sambil menengok ke arah di mana Sunny asyik bermain balon bersama teman-temannya.
Sidney mengangguk. “Ok,” katanya. “Aku harap dia nggak lupa.”
Aku dan Adrian hanya tersenyum dan kemudian memperhatikan langkah Sidney. Dia mendekati Sidney yang awalnya menatap dengan asing. Entah apa yang Sidney katakan tapi tiba-tiba saja anak itu memeluknya; pasti dia mengenali SIdney dari suaranya. Beberapa saat kemudian mereka mulai saling bicara. Sunny tampak mengangguk-angguk dengan patuh; sepertinya Sidney mengatakan sesuatu yang membuatnya senang,  mungkin mengajaknya ke suatu tempat dan Sunny setuju.
Sebenarnya kami belum mengatakan apa-apa pada Sunny. Cara terbaik untuk memberitahunya adalah memberikan Sidney waktu sebanyak mungkin untuk mengisi hari-harinya dan dengan begitu Sunny akan menyadari dengan sendirinya. Itulah permintaan Sidney padaku di telepon sebelum kedatangannya. Mungkin itu ide yang bagus.
Adrian merangkul bahuku. “Semuanya akan baik-baik saja,” dia berujar seakan takut pikiran tentang Magisa yang masih ingin membalaskan dendam terbesit.
Aku menggeleng dan melempar senyuman yang paling bahagia. “Aku nggak pernah takut lagi, Adrian,” ucapku padanya. Lalu dia membawaku dan Ananda bergabung ke kerumunan anak-anak karena acara puncak akan dimulai.
Semuanya akan baik-baik saja.
***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments