[Novel Romantis] Saira Ch. 38 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Hari yang ditunggu semakin dekat. Kepayahan berjalan sudah mulai kurasakan pada minggu-minggu akhir kehamilan. Aku mulai mengambil cuti dari membantu Mama mengurus pekerjaan dan fokus pada persalinan yang direncanakan kurang dari satu bulan lagi. Kebahagiaan masih menyelimuti kami ditambah akan hadirnya seorang pendatang baru nanti.

Aku sudah menyiapkan sebuah kamar dengan nuansa merah muda dan putih. Diisi dengan tempat tidur kayu yang bisa berayun sendiri agar si kecil bisa tidur pulas dalam buaian. Di atasnya tergantung mainan yang berputar-putar diiringi suara music box yang lucu. Di sudut kamar sudah ada lemari pajangan penuh dengan boneka.

“Non, Saira, ada tamu,” kata Mbok Jah saat aku sedang memandangi lemari boneka.

“Siapa?” tanyaku.

“Seorang perempuan, Non. Dia nggak mau sebutin namanya. Katanya penting banget...,” jelas Mbok Jah.

Aku sedikit curiga dan berfirasat buruk soal itu. Sempat aku mengira bahwa perempuan yang datang ke rumah mencariku adalah si kawat gigi. Tapi, yang kutemui di ruang tamu adalah seorang perempuan yang sama sekali nggak kukenal. Wajahnya sangat asing. Siapa dia?

“Apa kabar, Saira?” dia menyapaku dengan gaya bicara formal dan tenang.

Perempuan itu bertubuh tinggi dan ramping. Rambutnya pirang terang dan dikucir ke belakang. Kaca mata bingkai tebal bertengger di hidungnya. Dari setelan yang dia kenakan, sepertinya dia seorang wanita kantoran.

Rekan bisnis Mama? Nggak mungkin. Harusnya urusan kantor diselesaikan di kantor.

Aku menghampirinya dan hendak bertanya padanya.

“Aku Reggina Adams,” dia menjelaskan dan itu berhasil membuat langkahku terhenti mendadak.

Adams?

“I’m Sidney’s sister,”   katanya lagi dan itu mengejutkanku.

Sangat mengejutkanku.

“Kita memang belum pernah ketemu tapi aku tahu banyak tentang kamu,” dia menjelaskan sementara aku terpana mempertanyakan kenapa dia datang ke sini. “Sebelum aku menjelaskan kenapa aku bisa sampai ke sini, aku pikir kamu harus mendengar ini dulu.”

“Apa?” tanyaku ragu-ragu.

Perempuan itu menarik nafas panjang. Kuperhatikan lebih dekat, kaca mata itu tampak menyembunyikan binar di matanya.

“Benar, aku datang ke sini atas nama Sidney. Tapi, sungguh, dia sama sekali nggak tahu soal ini,” jelasnya. Suaranya mulai terdengar gemetaran tapi dia mempertahankan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak. “Kamu pikir, mungkin aku terlalu ikut campur urusan pribadinya tapi percayalah, ini harus aku lakukan untuk Sidney. Paling nggak sebagai satu-satunya teman yang dia punya.”

“Di mana dia?” aku bertanya.

Perempuan muda itu tertunduk. “Sebelum aku jawab dia di mana, aku kira kamu harus tahu sedikit tentang Sidney,” dia memulai kembali penjelasan. “Dia mungkin kelihatan tenang dan ramah pada semua orang. Tapi, sebenarnya dia hanya berusaha untuk nggak terlihat menyedihkan.”

Aku hanya mendengarkan.

“Kami diberkahi terlahir dari kelurga mapan dan nggak pernah kekurangan. Tapi, nggak berarti semuanya berjalan dengan baik,”

“Aku mengerti soal itu, jangan khawatir,” kataku memotong. “Aku juga besar dengan cara seperti itu.... tapi....”

“Apa kamu pernah diculik untuk uang tebusan dan setelah itu nggak boleh berteman dengan orang lain untuk melindungi diri?” tanya Reggina. Itu benar-benar membuatku syok. “Sidney mengalaminya waktu SMA. Dia nggak pernah trauma walaupun hampir terbunuh dengan kejadian itu tapi Daddy membuat dia terisolir dari pergaulan yang harusnya dia miliki waktu remaja. Itu menjadi satu-satunya alasan Sidney nggak punya teman sampai saat ini. Hanya ada dirinya sendiri dan keluarga di dalam hidupnya. Dan aku pernah berusaha menjadi teman, tapi ... gimana pun juga aku tetap adiknya yang harus dia lindungi. Karena itu Sidney selalu menolak untuk memperlihatkan sedalam apa dia terluka.”

“Ya, dia punya banyak rahasia,” komentarku.

“Memang apa yang dia punya untuk bisa diceritakan, Saira?” balas Reggina. Dia memalingkan wajahnya karena di sana telah menetes air mata yang berusaha ia tahan sejak tadi. “He has nothing!”

“Apa yang terjadi padanya?” aku bertanya lagi dengan mendekat beberapa langkah.

“Dia masih hidup,” jawabnya cepat. “Hidup dalam penyesalan yang sangat besar.”

“Dan Magisa?”

“Perempuan sialan itu berada di penjara. She killed my sister too...”

“Apa?”

Memori kematian Ananda tiba-tiba saja terbesit di benakku. Si kawat gigi melakukannya lagi; dengan sengaja?

“Pertama dia menelpon dan menjemput kami ke bandara dengan alasan Sidney yang memintanya karena sibuk di sekolah. Di apartemen dia sudah menyiapkan makanan yang ternyata dicampur obat tidur. Setelah kami nggak sadarkan diri, dia menyekap kami di dalam kamar dan dia juga melakukan hal yang sama saat Sidney pulang ke rumah. Tragedinya, kami nggak bisa memberikan obat dengan cepat saat asma Beatriz kambuh dan kemudian mati,” jelasnya dengan cepat “Sidney sudah menceraikannya saat dia dikirim ke rumah sakit jiwa untuk diperiksa. Setelah dokter memastikan bahwa dia nggak gila, proses hukumnya sudah berjalan.”

“Aku... sama sekali nggak tahu itu....” kataku.

“Sidney menyalahkan dirinya sendiri. Dia menyesal telah mengambil keputusan yang salah menikahi Magisa,” jelasnya lagi, mulai terisak. “Setelah kematian, Triz, dia menutup dirinya dari semua orang hampir setahun ini. Dan... aku nggak tahan lagi....”

Aku nggak tahu harus berkata apa. Semua ini terlalu mendadak bagiku. Apa yang bisa kulakukan sekarang?

“Dari awal aku tahu kalau Sidney nggak mencintai perempuan itu. Dia mengikuti Sidney ke mana pun dan bersikap seolah dia selalu ada sampai dia mendapatkan perhatian Sidney. Aku tahu kalau dia merencanakan semuanya dengan rapi. Lalu Sidney memutuskan menikah karena nggak punya pilihan lain. Kamu menghilang di saat yang sama kematian Daddy membuat Sidney sangat terpukul. Sidney berada pada masa sulitnya yang membuat Magisa bisa masuk dengan mudah. Itu yang sebenarnya terjadi.” kata Reggina lagi. “Dia masih mencintai kamu dan berharap kamu akan menemuinya. Saat ini dia benar-benar menderita. Hanya kamu yang bisa mengembalikan dia seperti dulu.”

“Dengar, Reggina, itu nggak mungkin. Aku sudah menikah dan kamu lihat sendiri aku...”

Please. I’ve lost my sister and I don’t want to loose my brother too...,” dia terdengar memohon. “Please, talk to him....”

“I can’t help you,” kataku sambil tertunduk meski nggak bisa menghindari rasa bersalah terhadapnya. “I’m sorry....”

Reggina menyeka air matanya dan kembali berusaha tenang. “I know what you want,” katanya tegas dan seakan masih ingin memaksaku. “Kalau kamu mau menolong Sidney, aku janji akan memberi tahu semua hal yang ingin kamu ketahui selama ini.”

“Apa maksud kamu?”

Your case,” jawabnya dengan nada suara datar. Dia sepertinya yakin benar bahwa itu adalah sesuatu yang memang kuinginkan.

Tapi dia tahu apa?

“Aku tahu selain Wenchester dan Magisa ada orang lain yang terlibat dalam kasus itu. Selama ini dia nggak pernah tersentuh dan aku yakin  kamu pasti terkejut,” jawab dia sambil menaruh sesuatu di atas meja. Sebuah kertas kecil; kartu nama. “If you changed your mind, don’t hesitate to let me know....”

“Aku nggak ngerti kenapa kamu bisa tahu soal itu juga, Reggina...,”

“Aku tahu semuanya,” tegasnya. “Kamu mungkin pernah bertanya kenapa Sidney bisa berada di sekolah itu. Apa itu hanya kebetulan? Nggak. Itu bukan kebetulan. Aku yang merencanakannya dan Sidney sama sekali nggak tahu. Dia sempat curiga, tapi aku membantah.”

Gadis ini benar-benar membingungkan. Aku nggak percaya ternyata ada orang lain yang rela melakukan penyelidikan yang entah apa maksudnya. Tapi, di saat yang sama pertanyaan itu terjawab secara nggak langsung dari tatapan Reggina. Ia kelihatan sangat ingin membantu Sidney.

***

“Apa yang kita lewatkan?” Pevi menanyaiku dengan mata melotot sebelum menoleh ke Adrian di sampingku. “Apa yang kita lewatkan dari kemungkinan siapa lagi yang terlibat di balik kejadian itu?”

Aku hanya mengangkat bahu. Entah. Semua yang hampir terlupakan kembali begitu saja. Membuat tubuhku seolah kehilangan keseimbangannya. Aku mulai takut perasaan ini berpengaruh pada kelahiran putriku nanti. Tapi, tetap saja kedatangan Reggina mampu mengguncang kesadaranku.

“Bayangin, Adrian, butuh sebuah konspirasi besar untuk menghancurkan seorang Saira Gayatri!” kata Pevi, mulai kesal. “Aku nggak percaya ini! Sehebat apa sih si kawat gigi? Syukur banget akhirnya dia bisa ngerasain gimana hidup di penjara!”

“Sebaiknya kita nggak usa cari tahu lagi supaya bisa hidup dengan tenang,” ujar Adrian padaku.

Pevi mengangguk-angguk. “Iya sih, sebentar lagi Saira lahiran. Bisa berabe kalau tiba-tiba dia...ugh...” katanya. “Tapi, Sidney gimana? Lo bukannya mau ngasih tahu dia soal Sunny?”

Aku mengangguk pelan.

“Kamu nggak bisa pergi jauh, Saira...” kata Adrian.

“Aku nggak akan ke mana-mana. Ada cara yang lebih baik untuk ngasih tahu tanpa bicara atau ketemu langsung,” jawabku. “Dan itu bukan sesuatu yang berat buat aku....”

Pevi dan Adrian menatapku heran tapi ide ini sudah ada sejak hari Reggina datang. Aku akan memberitahu Sidney semuanya tanpa melewatkan apa pun; yaitu dengan menulis surat. Kupikir itu adalah cara yang tepat untuk memberinya harapan baru sekali pun kami nggak akan kembali bersama.

Adrian menggenggam tanganku dengan erat ketika aku mulai menulis surat yang tidak biasa itu. Aku ingin semuanya jelas sehingga jika nanti bertemu lagi, Sidney berhenti mempertanyakan cintaku padanya. Menceritakan kembali kisah itu bagiku sama seperti memandang sesuatu yang telah mati. Tak ada keajaiban yang bisa menghidupkannya kembali.

Tapi, paling tidak dia berhak atas Sunny. Sidney boleh membawanya pergi saat dia menginginkannya; Sunny bisa dibesarkan di dua rumah berbeda; di dua benua yang berbeda sekalipun. Dia memiliki seorang ibu dan juga seorang ayah. Aku ingin memberikan kesempatan itu pada Sidney.

Surat telah selesai ditulis seminggu kemudian. Saat akhirnya surat itu terkirim, aku melahirkan seorang bayi perempuan yang kami beri nama Ananda. Kehadirannya melengkapi kekurangan yang ada di dalam diriku meski pun Adrian seringkali mengingatkan nggak ada akhir yang benar-benar bahagia. Tapi, yang pasti saat ini aku sangat bahagia karena memiliki dirinya, Ananda dan juga Sunny.

Lalu sebulan setelah kelahiran Ananda, Reggina menepati janjinya untuk memberitahuku tentang siapa yang ikut menjadi dalang atas apa yang terjadi padaku di Australia. Aku mungkin nggak pernah menduganya sama sekali karena pernah berpikiran bahwa Robert Wenchester adalah kekasih Magisa yang lain tapi ternyata bukan dia. Bukan dia yang Magisa manfaatkan untuk menculikku.

Seorang lelaki asing mendatangiku. Mata biru dan rambut pirang kecoklatan. Aku sama sekali nggak mengenalnya dan seingatku dia memang nggak ada di antara komplotan yang menyeretku ke dalam mobil. Reggina menyuruhnya datang untuk menemuiku dan mengatakan semuanya.

“I’m Jonathan...,” dia berkata dengan wajah cemas di saat aku meragukan benarkah orang ini terlibat?

Tapi, dia menegaskan bahwa Magisa memang dalang dari semua itu. Pria itu hampir menangis ketika dia mengakui bahwa dialah orang yang ditelepon oleh Magisa saat di bandara. Tahu apa yang Magisa katakan padanya?

“She said that she won’t broke up with me if I do something for her. She said that she needs to take a revenge on you. But she didn’t say about what you had done to her. She pushed me but... but I can’t do that. So... I ask Robert and his friends. I didn’t know that night Robert get killed...,” jelas dia dengan nada tergesa-gesa; seolah takut apa yang ingin dia sampaikan terlupa. “No one know... that... that night Robert would rape you... it’s not what I want... Gigi and I were panic. But, Gigi asked me to keep silent because Robert’s parent will take care of things..... We don’t want to be in prison. ”

Orang ini bisa saja menyelamatkan hidupku kalau saja dia muncul di persidangan. Tapi, dia terlalu pengecut dan kepengecutannya itu telah menghancurkan hidupku. Perasaanku campur aduk mendengarkan setiap kata dalam pengakuannya yang merobek hati. Di sisi lain aku merasa marah pun sudah nggak berguna karena toh aku sudah bahagia dengan kehidupanku yang sekarang; semuanya lebih dari sekedar sempurna bagiku.

Namun, bukti yang nyata bahwa Magisa memang penyebab kejadian buruk dalam hidupku membuat hatiku tiba-tiba dipenuhi amarah yang sangat besar. Selama mengenalnya, aku hidup dengan menghindari dirinya karena dia adalah pembawa sial tapi untuk sekali ini aku ingin datang; untuk melihatnya di penjara.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments