๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Hari yang ditunggu semakin dekat. Kepayahan berjalan sudah
mulai kurasakan pada minggu-minggu akhir kehamilan. Aku mulai mengambil cuti
dari membantu Mama mengurus pekerjaan dan fokus pada persalinan yang
direncanakan kurang dari satu bulan lagi. Kebahagiaan masih menyelimuti kami
ditambah akan hadirnya seorang pendatang baru nanti.
Aku sudah menyiapkan sebuah kamar dengan nuansa merah muda
dan putih. Diisi dengan tempat tidur kayu yang bisa berayun sendiri agar si
kecil bisa tidur pulas dalam buaian. Di atasnya tergantung mainan yang
berputar-putar diiringi suara music box yang lucu. Di sudut kamar sudah ada
lemari pajangan penuh dengan boneka.
“Non, Saira, ada tamu,” kata Mbok Jah saat aku sedang
memandangi lemari boneka.
“Siapa?” tanyaku.
“Seorang perempuan, Non. Dia nggak mau sebutin namanya.
Katanya penting banget...,” jelas Mbok Jah.
Aku sedikit curiga dan berfirasat buruk soal itu. Sempat aku
mengira bahwa perempuan yang datang ke rumah mencariku adalah si kawat gigi.
Tapi, yang kutemui di ruang tamu adalah seorang perempuan yang sama sekali
nggak kukenal. Wajahnya sangat asing. Siapa dia?
“Apa kabar, Saira?” dia menyapaku dengan gaya bicara formal dan tenang.
Perempuan itu bertubuh tinggi dan ramping. Rambutnya pirang
terang dan dikucir ke belakang. Kaca mata bingkai tebal bertengger di
hidungnya. Dari setelan yang dia kenakan, sepertinya dia seorang wanita
kantoran.
Rekan bisnis Mama? Nggak mungkin. Harusnya urusan kantor
diselesaikan di kantor.
Aku menghampirinya dan hendak bertanya padanya.
“Aku Reggina Adams,” dia menjelaskan dan itu berhasil
membuat langkahku terhenti mendadak.
Adams?
“I’m Sidney’s sister,”
katanya lagi dan itu
mengejutkanku.
Sangat mengejutkanku.
“Kita memang belum pernah ketemu tapi aku tahu banyak
tentang kamu,” dia menjelaskan sementara aku terpana mempertanyakan kenapa dia
datang ke sini. “Sebelum aku menjelaskan kenapa aku bisa sampai ke sini, aku
pikir kamu harus mendengar ini dulu.”
“Apa?” tanyaku ragu-ragu.
Perempuan itu menarik nafas panjang. Kuperhatikan lebih
dekat, kaca mata itu tampak menyembunyikan binar di matanya.
“Benar, aku datang ke sini atas nama Sidney. Tapi, sungguh,
dia sama sekali nggak tahu soal ini,” jelasnya. Suaranya mulai terdengar
gemetaran tapi dia mempertahankan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak. “Kamu
pikir, mungkin aku terlalu ikut campur urusan pribadinya tapi percayalah, ini
harus aku lakukan untuk Sidney. Paling nggak sebagai satu-satunya teman yang
dia punya.”
“Di mana dia?” aku bertanya.
Perempuan muda itu tertunduk. “Sebelum aku jawab dia di
mana, aku kira kamu harus tahu sedikit tentang Sidney,” dia memulai kembali
penjelasan. “Dia mungkin kelihatan tenang dan ramah pada semua orang. Tapi,
sebenarnya dia hanya berusaha untuk nggak terlihat menyedihkan.”
Aku hanya mendengarkan.
“Kami diberkahi terlahir dari kelurga mapan dan nggak pernah
kekurangan. Tapi, nggak berarti semuanya berjalan dengan baik,”
“Aku mengerti soal itu, jangan khawatir,” kataku memotong.
“Aku juga besar dengan cara seperti itu.... tapi....”
“Apa kamu pernah diculik untuk uang tebusan dan setelah itu
nggak boleh berteman dengan orang lain untuk melindungi diri?” tanya Reggina.
Itu benar-benar membuatku syok. “Sidney mengalaminya waktu SMA. Dia nggak
pernah trauma walaupun hampir terbunuh dengan kejadian itu tapi Daddy membuat
dia terisolir dari pergaulan yang harusnya dia miliki waktu remaja. Itu menjadi
satu-satunya alasan Sidney nggak punya teman sampai saat ini. Hanya ada dirinya
sendiri dan keluarga di dalam hidupnya. Dan aku pernah berusaha menjadi teman,
tapi ... gimana pun juga aku tetap adiknya yang harus dia lindungi. Karena itu
Sidney selalu menolak untuk memperlihatkan sedalam apa dia terluka.”
“Ya, dia punya banyak rahasia,” komentarku.
“Memang apa yang dia punya untuk bisa diceritakan, Saira?”
balas Reggina. Dia memalingkan wajahnya karena di sana telah menetes air mata
yang berusaha ia tahan sejak tadi. “He has nothing!”
“Apa yang terjadi padanya?” aku bertanya lagi dengan
mendekat beberapa langkah.
“Dia masih hidup,” jawabnya cepat. “Hidup dalam penyesalan
yang sangat besar.”
“Dan Magisa?”
“Perempuan sialan itu berada di penjara. She killed my
sister too...”
“Apa?”
Memori kematian Ananda tiba-tiba saja terbesit di benakku.
Si kawat gigi melakukannya lagi; dengan sengaja?
“Pertama dia menelpon dan menjemput kami ke bandara dengan
alasan Sidney yang memintanya karena sibuk di sekolah. Di apartemen dia sudah
menyiapkan makanan yang ternyata dicampur obat tidur. Setelah kami nggak
sadarkan diri, dia menyekap kami di dalam kamar dan dia juga melakukan hal yang
sama saat Sidney pulang ke rumah. Tragedinya, kami nggak bisa memberikan obat
dengan cepat saat asma Beatriz kambuh dan kemudian mati,” jelasnya dengan cepat
“Sidney sudah menceraikannya saat dia dikirim ke rumah sakit jiwa untuk
diperiksa. Setelah dokter memastikan bahwa dia nggak gila, proses hukumnya
sudah berjalan.”
“Aku... sama sekali nggak tahu itu....” kataku.
“Sidney menyalahkan dirinya sendiri. Dia menyesal telah
mengambil keputusan yang salah menikahi Magisa,” jelasnya lagi, mulai terisak.
“Setelah kematian, Triz, dia menutup dirinya dari semua orang hampir setahun
ini. Dan... aku nggak tahan lagi....”
Aku nggak tahu harus berkata apa. Semua ini terlalu mendadak
bagiku. Apa yang bisa kulakukan sekarang?
“Dari awal aku tahu kalau Sidney nggak mencintai perempuan
itu. Dia mengikuti Sidney ke mana pun dan bersikap seolah dia selalu ada sampai
dia mendapatkan perhatian Sidney. Aku tahu kalau dia merencanakan semuanya
dengan rapi. Lalu Sidney memutuskan menikah karena nggak punya pilihan lain.
Kamu menghilang di saat yang sama kematian Daddy membuat Sidney sangat terpukul.
Sidney berada pada masa sulitnya yang membuat Magisa bisa masuk dengan mudah.
Itu yang sebenarnya terjadi.” kata Reggina lagi. “Dia masih mencintai kamu dan
berharap kamu akan menemuinya. Saat ini dia benar-benar menderita. Hanya kamu
yang bisa mengembalikan dia seperti dulu.”
“Dengar, Reggina, itu nggak mungkin. Aku sudah menikah dan
kamu lihat sendiri aku...”
“Please. I’ve lost my sister and I don’t want to loose my
brother too...,” dia terdengar memohon. “Please, talk to him....”
“I can’t help you,” kataku sambil tertunduk meski
nggak bisa menghindari rasa bersalah terhadapnya. “I’m sorry....”
Reggina menyeka air matanya dan kembali berusaha tenang. “I
know what you want,” katanya tegas dan seakan masih ingin memaksaku. “Kalau
kamu mau menolong Sidney, aku janji akan memberi tahu semua hal yang ingin kamu
ketahui selama ini.”
“Apa maksud kamu?”
“Your case,” jawabnya dengan nada suara datar. Dia
sepertinya yakin benar bahwa itu adalah sesuatu yang memang kuinginkan.
Tapi dia tahu apa?
“Aku tahu selain Wenchester dan Magisa ada orang lain yang
terlibat dalam kasus itu. Selama ini dia nggak pernah tersentuh dan aku
yakin kamu pasti terkejut,” jawab dia
sambil menaruh sesuatu di atas meja. Sebuah kertas kecil; kartu nama. “If
you changed your mind, don’t hesitate to let me know....”
“Aku nggak ngerti kenapa kamu bisa tahu soal itu juga,
Reggina...,”
“Aku tahu semuanya,” tegasnya. “Kamu mungkin pernah bertanya
kenapa Sidney bisa berada di sekolah itu. Apa itu hanya kebetulan? Nggak. Itu
bukan kebetulan. Aku yang merencanakannya dan Sidney sama sekali nggak tahu.
Dia sempat curiga, tapi aku membantah.”
Gadis ini benar-benar membingungkan. Aku nggak percaya
ternyata ada orang lain yang rela melakukan penyelidikan yang entah apa
maksudnya. Tapi, di saat yang sama pertanyaan itu terjawab secara nggak
langsung dari tatapan Reggina. Ia kelihatan sangat ingin membantu Sidney.
“Apa yang kita lewatkan?” Pevi menanyaiku dengan mata
melotot sebelum menoleh ke Adrian di sampingku. “Apa yang kita lewatkan dari
kemungkinan siapa lagi yang terlibat di balik kejadian itu?”
Aku hanya mengangkat bahu. Entah. Semua yang hampir
terlupakan kembali begitu saja. Membuat tubuhku seolah kehilangan
keseimbangannya. Aku mulai takut perasaan ini berpengaruh pada kelahiran
putriku nanti. Tapi, tetap saja kedatangan Reggina mampu mengguncang
kesadaranku.
“Bayangin, Adrian, butuh sebuah konspirasi besar untuk
menghancurkan seorang Saira Gayatri!” kata Pevi, mulai kesal. “Aku nggak
percaya ini! Sehebat apa sih si kawat gigi? Syukur banget akhirnya dia bisa
ngerasain gimana hidup di penjara!”
“Sebaiknya kita nggak usa cari tahu lagi supaya bisa hidup
dengan tenang,” ujar Adrian padaku.
Pevi mengangguk-angguk. “Iya sih, sebentar lagi Saira
lahiran. Bisa berabe kalau tiba-tiba dia...ugh...” katanya. “Tapi, Sidney
gimana? Lo bukannya mau ngasih tahu dia soal Sunny?”
Aku mengangguk pelan.
“Kamu nggak bisa pergi jauh, Saira...” kata Adrian.
“Aku nggak akan ke mana-mana. Ada cara yang lebih baik untuk
ngasih tahu tanpa bicara atau ketemu langsung,” jawabku. “Dan itu bukan sesuatu
yang berat buat aku....”
Pevi dan Adrian menatapku heran tapi ide ini sudah ada sejak
hari Reggina datang. Aku akan memberitahu Sidney semuanya tanpa melewatkan apa
pun; yaitu dengan menulis surat. Kupikir itu adalah cara yang tepat untuk
memberinya harapan baru sekali pun kami nggak akan kembali bersama.
Adrian menggenggam tanganku dengan erat ketika aku mulai
menulis surat yang tidak biasa itu. Aku ingin semuanya jelas sehingga jika
nanti bertemu lagi, Sidney berhenti mempertanyakan cintaku padanya.
Menceritakan kembali kisah itu bagiku sama seperti memandang sesuatu yang telah
mati. Tak ada keajaiban yang bisa menghidupkannya kembali.
Tapi, paling tidak dia berhak atas Sunny. Sidney boleh
membawanya pergi saat dia menginginkannya; Sunny bisa dibesarkan di dua rumah
berbeda; di dua benua yang berbeda sekalipun. Dia memiliki seorang ibu dan juga
seorang ayah. Aku ingin memberikan kesempatan itu pada Sidney.
Surat telah selesai ditulis seminggu kemudian. Saat akhirnya
surat itu terkirim, aku melahirkan seorang bayi perempuan yang kami beri nama
Ananda. Kehadirannya melengkapi kekurangan yang ada di dalam diriku meski pun
Adrian seringkali mengingatkan nggak ada akhir yang benar-benar bahagia.
Tapi, yang pasti saat ini aku sangat bahagia karena memiliki dirinya, Ananda
dan juga Sunny.
Lalu sebulan setelah kelahiran Ananda, Reggina menepati
janjinya untuk memberitahuku tentang siapa yang ikut menjadi dalang atas apa
yang terjadi padaku di Australia. Aku mungkin nggak pernah menduganya sama
sekali karena pernah berpikiran bahwa Robert Wenchester adalah kekasih Magisa
yang lain tapi ternyata bukan dia. Bukan dia yang Magisa manfaatkan untuk
menculikku.
Seorang lelaki asing mendatangiku. Mata biru dan rambut
pirang kecoklatan. Aku sama sekali nggak mengenalnya dan seingatku dia memang
nggak ada di antara komplotan yang menyeretku ke dalam mobil. Reggina
menyuruhnya datang untuk menemuiku dan mengatakan semuanya.
“I’m Jonathan...,” dia berkata dengan wajah cemas di
saat aku meragukan benarkah orang ini terlibat?
Tapi, dia menegaskan bahwa Magisa memang dalang dari semua
itu. Pria itu hampir menangis ketika dia mengakui bahwa dialah orang yang
ditelepon oleh Magisa saat di bandara. Tahu apa yang Magisa katakan padanya?
“She said that she won’t broke up with me if I do
something for her. She said that she needs to take a revenge on you. But she
didn’t say about what you had done to her. She pushed me but... but I can’t do
that. So... I ask Robert and his friends. I didn’t know that night Robert get
killed...,” jelas dia dengan nada tergesa-gesa; seolah takut apa yang ingin
dia sampaikan terlupa. “No one know... that... that night Robert would rape
you... it’s not what I want... Gigi and I were panic. But, Gigi asked me to
keep silent because Robert’s parent will take care of things..... We don’t want
to be in prison. ”
Orang ini bisa saja menyelamatkan hidupku kalau saja dia
muncul di persidangan. Tapi, dia terlalu pengecut dan kepengecutannya itu telah
menghancurkan hidupku. Perasaanku campur aduk mendengarkan setiap kata dalam
pengakuannya yang merobek hati. Di sisi lain aku merasa marah pun sudah nggak
berguna karena toh aku sudah bahagia dengan kehidupanku yang sekarang; semuanya
lebih dari sekedar sempurna bagiku.
Namun, bukti yang nyata bahwa Magisa memang penyebab
kejadian buruk dalam hidupku membuat hatiku tiba-tiba dipenuhi amarah yang
sangat besar. Selama mengenalnya, aku hidup dengan menghindari dirinya karena
dia adalah pembawa sial tapi untuk sekali ini aku ingin datang; untuk melihatnya
di penjara.
***

Komentar
0 comments