๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Untuk Sidney
Tiga bulan kemudian, aku kembali diberkahi oleh kehadiran
anggota baru dalam keluarga. Meski belum dalam wujud yang bisa kusentuh, aku
dan Adrian begitu bahagia dan nggak sabar menantikan kehadirannya di sisi kami.
Sunny terus tumbuh menjadi anak yang periang setelah
biasanya menjadi apatis terhadap teman sebayanya. Saat perutku membesar, dia
mulai banyak bertanya dari mana datangnya seorang bayi dan apakah nanti setelah
memiliki adik, aku dan Adrian masih tetap menyayanginya. Sunny sepertinya mulai
cemburu.
“Bayi datang dari sepasang ayah dan ibu yang saling mencintai,”
jawabku sambil duduk menyandar di kursi sambil memperhatikan Sunny yang asyik
menggambar di lantai.
“Aku juga ‘kan, Ma?” tanya dia menatapku dengan mata yang
tanpa dosa. Tampaknya dia mulai memahami kenapa ada yang bilang padanya tentang
adanya ‘ayah tiri’.
Aku tersenyum. “Ya, pasti,” jawabku pelan.
Sunny mendekat untuk bersandar di sisiku; tepat di dekat
adiknya yang mulai bergerak-gerak. “Aku mau adik cowok,” katanya.
“Kenapa?”
“Kalau cewek nanti suka nangis, cengeng, dan ngerepotin
Mama!” jawabnya, setengah merengut.
“Kalau Sunny dapat adik cewek gimana?”
Sunny terdengar mendengus. Dia nggak menjawabnya tapi
kerutan di dahinya jelas menunjukan bahwa dia nggak ingin adik perempuan.
Padahal hasil USG sudah menunjukan bahwa bayiku kemungkinan adalah perempuan.
Aku dan Adrian sudah menyiapkan kamar dengan ornamen khusus bayi perempuan.
Kami bahkan sudah menyiapkan nama perempuan untuknya.
Aku membelai rambut Sunny yang hitam lurus selagi dia
mendengarkan isi perutku. Rambut yang sama persis dengan ayahnya, pikirku.
“Ma...,” panggil dia, entah kenapa sekarang terdengar muram.
“Kalau adek bayi udah lahir, Papanya pasti Papa Adrian
‘kan?” dia bertanya dan aku cukup terkejut dengan pertanyaan itu. “Waktu aku
masih jadi bayi, apa aku juga punya Papa?”
Aku tertawa. “Ya jelas, Sayang.”
“Kenapa aku nggak pernah ketemu?” tanya dia, masih berwajah
muram.
“Karena dia jauh sekali,” jawabku mengelus wajahnya dengan
lembut.
“Hm... kalau Papanya adek bayi Pak Dokter, Papa-ku waktu
masih bayi siapa?” dia masih bertanya. “Apa dia polisi? Apa dia tentara? Apa
dia pilot?”
Aku menggeleng sambil tetap membelainya. “Guru,” jawabku.
Tiba-tiba Sunny bangkit dengan penuh semangat. “Kayak Pak
Guru Sidney?” tanyanya girang dan aku cukup kaget dengan reaksi itu. Rupanya
dia nggak pernah bisa lupa akan sosok itu.
Aku pun mengangguk.
“Kenapa dia jauh sekali, Ma?” Sunny kembali berwajah
cemberut.
“Karena nanti dia akan datang buat ketemu Sunny,” jawabku meyakinkannya.
“Kapan?”
“Nanti. Pasti dia datang....”
Sunny hanya menatapku. Dia tampak mempercayai ucapanku dan
seketika hatiku terenyuh. Rasanya ingin mengungkapkan yang sebenarnya tapi
mungkin Sunny belum akan mengerti tentang apa yang terjadi. Sosok Pak Guru itu
masih ada di pikirannya walaupun hampir satu tahun semuanya berlalu.
“Sekarang mandi dulu ya? Udah sore...,” ujarku.
“Ya,” Sunny segera berdiri dan berlari menuju pintu.
Aku kembali terdiam di depan jendela dan berpikir.
“Dia mulai suka nanya-nanya?” tegur seseorang; suaranya
membuatku belum sempat memikirkan apa pun selain ‘Kenapa Adrian bisa ada di
rumah sore-sore begini?’
Seharusnya dia masih bertugas.
Aku hanya tersenyum simpul. “Aku nggak tahu harus jawab
apa,” kataku.
“Ya, wajar aja sih...,” balas Adrian sambil mendekat untuk
memberiku pelukan.
“Aku punya kekhawatiran yang bisa dibilang nggak sepele,”
aku menjelaskan.
“Apa?”
“Magisa.”
Adrian diam saja. Dia hanya memandangku dengan lembut sambil
mengusap puncak kepalaku dengan lembut.
“Itu seperti trauma yang sangat dalam, Ad...,”
“Seorang ayah pasti melindungi anaknya, Saira,” ujar Adrian.
“Itu naluri alamiah. Kalau pun Magisa tahu, bukan kamu aja yang berusaha
melindungi Sunny mati-matian.”
“Terus apa sudah saatnya aku bilang yang sebenarnya?”
Adrian nggak langsung menjawab. Dia menarik nafas panjang.
“Terakhir kali aku minta kamu untuk memberitahu yang sebenarnya, sesuatu yang
lebih buruk malah terjadi,” katanya. “Tapi, memang sudah saatnya memberitahu
Sunny.”
Perasaanku menjadi nggak tenang. Entah kenapa ada satu
kekhawatiran lagi.
“Apa kamu nggak apa-apa?” tanyaku.
“Maksudnya?”
“Segala sesuatu yang berhubungan dengan Sidney... selalu
bikin kamu gelisah ‘kan?”
Anehnya, Adrian tertawa seakan mengejekku. Saat aku
mengerutkan dahi dan heran karena sikapnya, dia kembali menatapku serius. “Aku
gelisah karena kamu bikin aku menunggu bertahun-tahun, Saira!” jelasnya,
tertawa lagi. “Sekarang apa yang harus aku takutkan?”
Sykurlah, aku pun ikut menghembuskan nafas lega.
Adrian mengembalikanku ke pelukannya. “Dia nggak akan punya
nyali besar untuk mengambil kamu dariku,” katanya. “Dan aku tahu kamu nggak
akan berpaling....”
Aku pun ikut tertawa. Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang
terdengar kekanakan.
“Aku hanya takut pada takdir...,” kata Adrian tiba-tiba. Aku
tercenung dalam pelukannya dan membiarkannya bicara.”Karena nggak ada yang bisa
melawan takdir.”
“Takdir seperti apa?” tanyaku. “Kamu tahu, aku sudah janji
nggak akan meninggalkan kamu ‘kan? Aku mencintai kamu, Adrian....”
“Aku tahu,” jawabnya. “Tapi, kamu harus janji satu hal
lagi.”
“Apa?” aku melepaskan diri dari dekapan kedua tangannya
untuk bisa memandang wajahnya.
“Berjanjilah kamu hanya akan mencintai aku seumur hidupku,
bukan seumur hidup kamu, Saira....” katanya dan itu membuatku bingung.
Apa maksudnya?
Adrian menatapku dengan senyuman dan mengamati wajahku cukup
lama. Ekspresinya seolah menunjukan bahwa dia sedang tidak memikirkan jawaban
dari pertanyaanku. Dia nggak ingin mengajakku bicara lagi melainkan mencium
bibirku dengan lembut untuk membuatku tenang.


Komentar
0 comments