[Novel Romantis] Saira Ch. 38 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Untuk Sidney

Tiga bulan kemudian, aku kembali diberkahi oleh kehadiran anggota baru dalam keluarga. Meski belum dalam wujud yang bisa kusentuh, aku dan Adrian begitu bahagia dan nggak sabar menantikan kehadirannya di sisi kami.

Sunny terus tumbuh menjadi anak yang periang setelah biasanya menjadi apatis terhadap teman sebayanya. Saat perutku membesar, dia mulai banyak bertanya dari mana datangnya seorang bayi dan apakah nanti setelah memiliki adik, aku dan Adrian masih tetap menyayanginya. Sunny sepertinya mulai cemburu.

“Bayi datang dari sepasang ayah dan ibu yang saling mencintai,” jawabku sambil duduk menyandar di kursi sambil memperhatikan Sunny yang asyik menggambar di lantai.

“Aku juga ‘kan, Ma?” tanya dia menatapku dengan mata yang tanpa dosa. Tampaknya dia mulai memahami kenapa ada yang bilang padanya tentang adanya ‘ayah tiri’.

Aku tersenyum. “Ya, pasti,” jawabku pelan.

Sunny mendekat untuk bersandar di sisiku; tepat di dekat adiknya yang mulai bergerak-gerak. “Aku mau adik cowok,” katanya.

“Kenapa?”

“Kalau cewek nanti suka nangis, cengeng, dan ngerepotin Mama!” jawabnya, setengah merengut.

“Kalau Sunny dapat adik cewek gimana?”

Sunny terdengar mendengus. Dia nggak menjawabnya tapi kerutan di dahinya jelas menunjukan bahwa dia nggak ingin adik perempuan. Padahal hasil USG sudah menunjukan bahwa bayiku kemungkinan adalah perempuan. Aku dan Adrian sudah menyiapkan kamar dengan ornamen khusus bayi perempuan. Kami bahkan sudah menyiapkan nama perempuan untuknya.

Aku membelai rambut Sunny yang hitam lurus selagi dia mendengarkan isi perutku. Rambut yang sama persis dengan ayahnya, pikirku.

“Ma...,” panggil dia, entah kenapa sekarang terdengar muram.

“Kalau adek bayi udah lahir, Papanya pasti Papa Adrian ‘kan?” dia bertanya dan aku cukup terkejut dengan pertanyaan itu. “Waktu aku masih jadi bayi, apa aku juga punya Papa?”

Aku tertawa. “Ya jelas, Sayang.”

“Kenapa aku nggak pernah ketemu?” tanya dia, masih berwajah muram.

“Karena dia jauh sekali,” jawabku mengelus wajahnya dengan lembut.

“Hm... kalau Papanya adek bayi Pak Dokter, Papa-ku waktu masih bayi siapa?” dia masih bertanya. “Apa dia polisi? Apa dia tentara? Apa dia pilot?”

Aku menggeleng sambil tetap membelainya. “Guru,” jawabku.

Tiba-tiba Sunny bangkit dengan penuh semangat. “Kayak Pak Guru Sidney?” tanyanya girang dan aku cukup kaget dengan reaksi itu. Rupanya dia nggak pernah bisa lupa akan sosok itu.

Aku pun mengangguk.

“Kenapa dia jauh sekali, Ma?” Sunny kembali berwajah cemberut.

“Karena nanti dia akan datang  buat ketemu Sunny,” jawabku meyakinkannya.

“Kapan?”

“Nanti. Pasti dia datang....”

Sunny hanya menatapku. Dia tampak mempercayai ucapanku dan seketika hatiku terenyuh. Rasanya ingin mengungkapkan yang sebenarnya tapi mungkin Sunny belum akan mengerti tentang apa yang terjadi. Sosok Pak Guru itu masih ada di pikirannya walaupun hampir satu tahun semuanya berlalu.

“Sekarang mandi dulu ya? Udah sore...,” ujarku.

“Ya,” Sunny segera berdiri dan berlari menuju pintu.

Aku kembali terdiam di depan jendela dan berpikir.

“Dia mulai suka nanya-nanya?” tegur seseorang; suaranya membuatku belum sempat memikirkan apa pun selain ‘Kenapa Adrian bisa ada di rumah sore-sore begini?’

Seharusnya dia masih bertugas.

Aku hanya tersenyum simpul. “Aku nggak tahu harus jawab apa,” kataku.

“Ya, wajar aja sih...,” balas Adrian sambil mendekat untuk memberiku pelukan.

“Aku punya kekhawatiran yang bisa dibilang nggak sepele,” aku menjelaskan.

“Apa?”

“Magisa.”

Adrian diam saja. Dia hanya memandangku dengan lembut sambil mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

“Itu seperti trauma yang sangat dalam, Ad...,”

“Seorang ayah pasti melindungi anaknya, Saira,” ujar Adrian. “Itu naluri alamiah. Kalau pun Magisa tahu, bukan kamu aja yang berusaha melindungi Sunny mati-matian.”

“Terus apa sudah saatnya aku bilang yang sebenarnya?”

Adrian nggak langsung menjawab. Dia menarik nafas panjang. “Terakhir kali aku minta kamu untuk memberitahu yang sebenarnya, sesuatu yang lebih buruk malah terjadi,” katanya. “Tapi, memang sudah saatnya memberitahu Sunny.”

Perasaanku menjadi nggak tenang. Entah kenapa ada satu kekhawatiran lagi.

“Apa kamu nggak apa-apa?” tanyaku.

“Maksudnya?”

“Segala sesuatu yang berhubungan dengan Sidney... selalu bikin kamu gelisah ‘kan?”

Anehnya, Adrian tertawa seakan mengejekku. Saat aku mengerutkan dahi dan heran karena sikapnya, dia kembali menatapku serius. “Aku gelisah karena kamu bikin aku menunggu bertahun-tahun, Saira!” jelasnya, tertawa lagi. “Sekarang apa yang harus aku takutkan?”

Sykurlah, aku pun ikut menghembuskan nafas lega.

Adrian mengembalikanku ke pelukannya. “Dia nggak akan punya nyali besar untuk mengambil kamu dariku,” katanya. “Dan aku tahu kamu nggak akan berpaling....”

Aku pun ikut tertawa. Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang terdengar kekanakan.

“Aku hanya takut pada takdir...,” kata Adrian tiba-tiba. Aku tercenung dalam pelukannya dan membiarkannya bicara.”Karena nggak ada yang bisa melawan takdir.”

“Takdir seperti apa?” tanyaku. “Kamu tahu, aku sudah janji nggak akan meninggalkan kamu ‘kan? Aku mencintai kamu, Adrian....”

“Aku tahu,” jawabnya. “Tapi, kamu harus janji satu hal lagi.”

“Apa?” aku melepaskan diri dari dekapan kedua tangannya untuk bisa memandang wajahnya.

“Berjanjilah kamu hanya akan mencintai aku seumur hidupku, bukan seumur hidup kamu, Saira....” katanya dan itu membuatku bingung.

Apa maksudnya?

Adrian menatapku dengan senyuman dan mengamati wajahku cukup lama. Ekspresinya seolah menunjukan bahwa dia sedang tidak memikirkan jawaban dari pertanyaanku. Dia nggak ingin mengajakku bicara lagi melainkan mencium bibirku dengan lembut untuk membuatku tenang.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments