๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
In Summer
Aku memulai pagi ini dengan membuang semua baju yang Pevi
pikir sangat jelek untuk kukenakan sehari-hari. Dia sudah membelikanku pakaian
yang lebih pantas ketimbang jeans robek dan jaket hoodie hitam yang lusuh itu.
Tapi, tas-tas belanjaan itu nggak pernah kubuka. Aku merasa bahwa aku nggak
cocok lagi dengan gaun selutut warna terang dan sepatu tumit. Aku nggak ingat kapan
aku masih memakai baju-bajuku yang sempit
dan bergaya bak super model.
Tapi, ketika aku putuskan memakai baju pembelian Pevi, aku
sadar, nggak banyak perubahan yang terjadi pada tubuhku. Aku tetap saja kurus
dengan kaki yang panjang -sesuatu yang menjadi kebanggaanku dulu. Aku hampir
menangis memandangi diriku yang dibalut dress hijau muda polos di depan cermin.
Ternyata, aku belum sepenuhnya kehilangan diriku.
Aku harap melihatku seperti ini, Mama percaya bahwa aku
benar-benar akan memulai dari nol lagi. Tapi, aku belum pernah pergi menemui
Mama dengan perasaan berdebar seperti ini, mungkin karena kali ini aku nggak
sendirian. Adrian menemaniku untuk memastikan aku benar-benar bicara baik-baik
dengan ibuku. Seburuk apa pun nanti, aku berjanji pada diriku sendiri untuk
bersabar; demi Sunny. Aku nggak tahan harus kembali terpisah darinya hanya
karena kesalahanku.
Sudah lama aku nggak datang ke kantor Mama. Terakhir waktu
aku masih kecil sekali. Karena nggak betah di rumah aku sering merengek pada
Pak Didi untuk mengantarku ke sini. Lalu lantaran terlalu sering ke sini, Mama
malah merasa terganggu. Dia mulai menuntutku untuk nggak bersikap manja karena
kesibukannya akan pertemuan penting dan perjalanan ke luar kota yang bisa
berhari-hari. Sejak itu, aku nggak mau lagi ke sini.
“Hai, Saira, apa kabar?” tegur seorang lak-laki yang
menyapaku begitu aku dan Adrian hendak menuju meja resepsionis. Dia Danny,
asisten Mama di kantor.
Aku tersenyum. “Aku mau ketemu Mama,” kataku.
“Wah, kebetulan Ibu mau keluar,” jelas dia. “Kayaknya ada
masalah yang bikin dia marah-marah sama Pak Didi.”
Aku terkejut. Jangan-jangan semuanya sudah ketahuan.
“Aku masih bisa ketemu ‘kan?” aku mulai nggak sabar. “Ini
penting banget...,”
Danny tampak berpikir sebentar sebelum mengeluarkan
smarthphone-nya. Sepertinya ia akan langsung menghubungi Mama-ku. Nggak butuh
waktu lama bagi Danny untuk bisa bicara dengan Mama. “Bu Sastri, Saira ada di
sini. Katanya mau ketemu,” kata Danny dan ia menunggu jawaban dari seberanga
sana. Tapi, ekspresinya tiba-tiba berubah kaget. Dia menatapku bingung.
“Terputus,” katanya dan itu membuat lututku lemas seketika.
Danny masih memandangi layar smartphone-nya dengan bingung.
Dia tampak ragu akan menelpon lagi atau tidak.
Sementara aku mulai ketakutan. Apa Mama sudah tahu tentang
Sidney?
“Kamu datang di saat yang tepat,” suara itu menyambarku
tiba-tiba disertai suara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat ke arah kami.
Kutemukan Mama sudah keluar dari lift sendirian dengan wajah
angkuhnya.
“Mama?” aku ingin menghampirinya segera walaupun aku nggak
tahu apa yang bisa kukatakan.
Permohonan maaf yang sudah kusiapkan di kepalaku sejak dalam
perjalanan kemari tiba-tiba buyar melihat Mama dan tatapannya itu.
Mama langsung menyorot Adrian yang juga memandang ke arahnya.
“Mama nggak punya waktu buat kamu karena harus pergi ke
sekolah Sunny untuk memberi seseorang pelajaran berharga,” katanya,
menghiraukanku dan meluncur secepat angin dari hadapanku. Sekuriti lobi sudah
membukakan pintu di sambut mobil Pak Didi yang sudah siap di depan sana.
“Mama!” aku mengejarnya. “Mama! Tunggu! Jangan, Ma!”
“Apanya yang jangan?” Mama membalikan badannya dan menatapku
tajam.
Aku hampir putus asa karena sinar matanya itu. Menelan
ludah, aku berusaha untuk nggak menangis. “Apa yang mau Mama lakukan?” aku
bertanya, menatapnya dengan sangat agar menjawabku.
“Apa saja yang bisa Mama lakukan untuk menjauhkan Sunny dari
masalah yang kamu buat, Saira,” jawabnya setajam tatapannya padaku. “Karena
Mama sudah terlanjur putus asa karena kamu.”
“Mama nggak bisa melakukan itu...,” kataku, terengah-engah.
“Terserah,” balas Mama ia tetap ingin masuk ke mobil. Tapi,
sebelum masuk ke mobil ia kembali menoleh padaku.
Saking paniknya, aku melompat ke depan mobil yang akan
melaju. “Aku ikut!” seruku di saat yang sama Pak Didi mengerem mendadak. Apa
pun yang terjadi, aku nggak akan beranjak sampai Mama setuju membawaku untuk memastikan nggak ada
keributan dengan Sidney di sekolah.
Akhirnya pintu mobil terbuka seakan menyuruhku naik.
Aku bergegas untuk naik tapi sebelum kami pergi aku harus
mengatakan niat kedatanganku menemuinya siang ini. Kuharap dapat meredakan
kemarahan Mama yang pasti sudah tahu apa yang kulakukan bersama Sidney.
“Ma, aku pulang. Hari ini aku berjanji untuk melakukan
semuanya dengan baik....,” kataku. “Aku bakal nurutin semua kemauan Mama. Aku
janji.”
“Terakhir kali kamu berjanji kamu nggak benar-benar
menyesal, Saira. Toh, kamu akan kabur lagi, bertemu laki-laki itu lagi dan
membuat Sunny menderita lagi,” tukasnya dengan suara dingin.
Aku menggeleng satu kali. “Ma, aku sungguh-sungguh....”
“Apa ini kamu lakukan hanya karena Mama tahu apa yang kamu
lakukan belakangan ini dan berusaha untuk melindungi laki-laki itu dari Mama?”
Mama kedengaran belum percaya.
“Nggak, Ma... sumpah..., kali ini aku nggak akan
mengacaukannya lagi. Aku mohon, Ma...,” pintaku.
Mama diam. Aku nggak bisa melihat bagaimana ekspresi
wajahnya karena aku belum naik ke mobil. Tapi, aku bisa mendengarnya menghela
nafas panjang.
“Ya, sudah. Naik,” kata Mama akhirnya dan aku menoleh ke
tempat di mana Adrian berdiri dengan wajah khawatir untuk pamitan padanya. Kami
terpaksa berpisah sebentar sampai masalah ini selesai. “Adrian juga ikut.”
“Tapi, Ma...,”
“Kemarin dia sudah datang ke Mama dan meminta kamu secara
baik-baik. Begitulah laki-laki seharusnya dan juga sudah sepantasnya dia tahu
semuanya, Saira!” kata Mama setengah berteriak. “Kalau nggak, masalah ini nggak
akan pernah selesai!”
Nggak semudah itu bagi Adrian untuk mengerti permasalahan
apa yang membuat Mama siang itu harus ke sekolah Sunny. Aku memang cerita bahwa
aku melompat pagar untuk bertemu Sunny dan setahunya aku sudah nggak melakukan hal itu karena kami sempat
bertengkar hebat. Di dalam perjalanan, baik Mama atau pun aku diam seribu
bahasa. Aku hanya mengintip Pak Didi yang sudah pasti ketakutan; Mama sudah
memarahinya pagi ini karena mendapat laporan dia membawa Sunny bertemu denganku
dan membiarkan Sidney ikut campur.
Jantungku berdebar keras duduk di samping Mama yang begitu
tenang; walaupun ia dikuasai amarah. Segala sesuatu tentang Sidney selalu
membuatnya marah. Rasanya seperti baru menyiram bensin ke dalam api.
Aku nggak tahu apa yang Adrian pikirkan saat ini. Dia duduk
di depan dan tenang; seperti Mama. Kesamaan mereka cukup menyiksaku sampai
akhirnya tiba di sekolah Sunny.
Aku sudah bersiap untuk turun bersama Mama.
“Kamu tunggu di sini, Saira!” Mama melarangku.
“Ma, aku...,”
“Tetap di sini!” tegas Mama dan langsung menutup pintu
mobilnya setelah ia turun.
Perasaan gelisah itu semakin menjadi saat melihat Mama
sepertinya langsung menemui kepala sekolah. Aku punya firasat bahwa Mama
kemungkinan besar akan memaki dan mengusir Sidney agar jauh dari Sunny. Dengan
bingung, aku menjatuhkan kepalaku pada jok di depanku.
Adrian yang duduk di sana sepertinya menyadari ketakutanku
yang berlebihan. Dia memutar badannya untuk melihatku. “Jadi Sidney tahu soal
Sunny?” dia bertanya padaku.
Aku menggeleng pelan. “Aku nggak bilang apa-apa soal Sunny,”
jawabku, mengendalikan degup jantungku yang membuatku sesak sehingga aku
memutuskan untuk keluar mobil. Aku membutuhkan udara segar.
“Kenapa?” Adrian yang ikut keluar dari mobil bertanya
padaku.
“Aku nggak mau Magisa mengganggunya juga kalau dia tahu soal
Sunny,” jelasku sambil menatap ke segala arah kecuali Adrian.
“Terus kenapa dia bisa ada di sini?” Adrian kedengaran
meragukan penjelasanku.
Tentu saja. Pertanyaannya sangat logis. Tapi, yang terdengar
kurang masuk akal di sini adalah kenapa Sidney bisa memilih sekolah yang tepat
di mana ada Sunny sementara dia nggak tahu apa-apa. Bagaimana aku menjelaskan
kebetulan itu? Mama bahkan juga mempercayai bahwa aku bersekongkol dengan
Sidney jauh sebelum ini!
Aku menarik nafas panjang. “Aku sama sekali nggak tahu,
Adrian...,” jawabku lesu sambil membalas tatapan Adrian. “Aku juga kaget saat
ketemu dia lagi di sini....”
Adrian terdiam dan kemudian memutar badannya seolah
menghindari menatapku.
“Adrian, sumpah aku nggak tahu...,” kataku memohon.
“Aku nggak berhak ikut campur, Saira,” katanya, tapi masih
enggan untuk berhadapan denganku. Dia memilih menjauh dari mobil beberapa
langkah sambil memperhatikan sekelilingnya, kecuali arah di mana aku berdiri
dengan sedih. “Dia ayah dari anak kamu....”
Reaksi Adrian yang di luar dugaan malah menimbulkan rasa
bersalah alih-alih membuatku berhenti gelisah. Aku diam untuk menenangkan
diriku sambil memandang ke tempat di mana Mama menghilang sampai aku melihat
Sidney berjalan di koridor seorang diri dan dia menuju ke arah yang sama dengan
Mama.
Aku menoleh ke belakang di mana Adrian ternyata juga melihat
dia dan tampak berharap aku nggak mengejar Sidney. Aku menahan langkahku karena
ingat bahwa Mama sudah menyetujui hubunganku dengan Adrian dan kalau aku
memutuskan lari, barangkali aku akan mengacaukan kami lagi.
Sidney sudah nggak kelihatan ketika aku kembali menoleh.
Tapi, rasa gelisah tetap saja membuatku harus berlari.
Aku berlari bukan untuk mengejar Sidney, tapi mengakhiri
semua ini. Aku harus membawa Mama pergi dari sini sebelum keributan besar
terjadi. Yang aku takutkan adalah kehadiran Mama pasti membuat Sidney akhirnya
menyadari bahwa Sunny memang putranya.
Ketika aku menerobos ruang kepala sekolah, Mama sudah lebih
dulu berdebat dengan SIdney yang seketika bungkam oleh rasa terkejut begitu melihatku.
“Kenapa Mama ke sini hanya untuk cari masalah?! Bukannya
semua selesai kalau aku sudah kembali?!” teriakku.
“Mama sudah bilang seratus kali, Saira, jangan berurusan
lagi dengan dia!” teriak Mama.
Aku memandangi Sidney yang tampak bingung. Mungkin karena
kehadiranku yang tiba-tiba. “Ini hanya kebetulan, Ma! Kalau Mama nggak suka
Sunny sekolah di sini, ya sudah, kita hanya tinggal memindahkan dia dari sini!”
kataku dengan keras.
Mama sempat menatapi Sidney sebentar sebelum menatapku tanpa
membalasku. Terakhir, dia menoleh pada pria tua yang sepertinya kewalahan
menghadapi keributan itu.
Aku masih terpaku pada Sidney -yang entah perasaanku saja
atau memang benar- yang wajahnya pucat pasi; bukan karena ketakutan tapi sakit.
Sejenak, aku ingin tahu, apa yang terjadi padanya?
“Ingat, Saira, dia sudah menghancurkan seluruh kehidupan
kamu,” kata-kata Mama seketika menarik rasa ingin tahuku tentang Sidney. Mama
sudah tampak ingin meninggalkan ruangan itu. Tak lama, dia segera berlalu dan
saat melewatiku dia sempat mengingatkanku lagi, “Mama nggak mau kamu mengulangi
kesalahan yang sama....”
Sidney masih terpana padaku. Tapi, aku harus pergi.
“Maaf, Azid,...” hanya itu yang bisa kuucapkan sebelum
bergegas menyusul Mama.
Hari itu adalah terakhir kalinya aku melihat Sidney.
Selanjutnya nggak pernah ada lagi kebetulan-kebetulan tak disangka yang
mempertemukan kami. Kurasa dia sudah menyadari bahwa Sunny adalah darah
dagingnya.Tapi, Sidney nggak pernah muncul lagi; paling nggak untuk melihat
Sunny yang seringkali bertanya kenapa ia harus pindah sekolah secara tiba-tiba.
Sidney menghilang di saat Sunny baru saja memiliki teman
baru dan lebih dari itu, kenangan akan Pak Guru yang baik hati sulit pudar dari
ingatannya meski pun dia sudah mulai memanggil Adrian dengan sebutan ‘Papa’.
Sunny masih menyimpan foto yang kami ambil di photo booth waktu itu.
Hatiku sedih karena belum bisa berterus terang padanya saat ini. Tapi, setelah
Sunny sudah lebih besar dari sekarang, aku berjanji akan memberitahunya. Entah
pada saat itu Sunny bisa menerimanya dengan senang hati atau merasa kecewa
telah dipisahkan dari sosok yang baru dikenalnya beberapa hari namun begitu ia
rindukan yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Tapi, mungkin saja setelah Sunny
lebih besar, dia akan lupa pada saat-saat ini. Kehadiran Adrian lebih nyata sebagai
seorang ayah di sisinya dan menggantikan sosok Pak Guru yang sudah mengilang
dari kehidupannya.
Sedangkan Sidney, mungkin dia kembali berbahagia bersama
istrinya. Mungkin. Senang semuanya berakhir dengan baik.
***


Komentar
0 comments