[Novel Romantis] Saira Ch. 37 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

In Summer

Aku memulai pagi ini dengan membuang semua baju yang Pevi pikir sangat jelek untuk kukenakan sehari-hari. Dia sudah membelikanku pakaian yang lebih pantas ketimbang jeans robek dan jaket hoodie hitam yang lusuh itu. Tapi, tas-tas belanjaan itu nggak pernah kubuka. Aku merasa bahwa aku nggak cocok lagi dengan gaun selutut warna terang dan sepatu tumit. Aku nggak ingat kapan aku masih memakai baju-bajuku yang sempit  dan bergaya bak super model.

Tapi, ketika aku putuskan memakai baju pembelian Pevi, aku sadar, nggak banyak perubahan yang terjadi pada tubuhku. Aku tetap saja kurus dengan kaki yang panjang -sesuatu yang menjadi kebanggaanku dulu. Aku hampir menangis memandangi diriku yang dibalut dress hijau muda polos di depan cermin.

Ternyata, aku belum sepenuhnya kehilangan diriku.

Aku harap melihatku seperti ini, Mama percaya bahwa aku benar-benar akan memulai dari nol lagi. Tapi, aku belum pernah pergi menemui Mama dengan perasaan berdebar seperti ini, mungkin karena kali ini aku nggak sendirian. Adrian menemaniku untuk memastikan aku benar-benar bicara baik-baik dengan ibuku. Seburuk apa pun nanti, aku berjanji pada diriku sendiri untuk bersabar; demi Sunny. Aku nggak tahan harus kembali terpisah darinya hanya karena kesalahanku.

Sudah lama aku nggak datang ke kantor Mama. Terakhir waktu aku masih kecil sekali. Karena nggak betah di rumah aku sering merengek pada Pak Didi untuk mengantarku ke sini. Lalu lantaran terlalu sering ke sini, Mama malah merasa terganggu. Dia mulai menuntutku untuk nggak bersikap manja karena kesibukannya akan pertemuan penting dan perjalanan ke luar kota yang bisa berhari-hari. Sejak itu, aku nggak mau lagi ke sini.

“Hai, Saira, apa kabar?” tegur seorang lak-laki yang menyapaku begitu aku dan Adrian hendak menuju meja resepsionis. Dia Danny, asisten Mama di kantor.

Aku tersenyum. “Aku mau ketemu Mama,” kataku.

“Wah, kebetulan Ibu mau keluar,” jelas dia. “Kayaknya ada masalah yang bikin dia marah-marah sama Pak Didi.”

Aku terkejut. Jangan-jangan semuanya sudah ketahuan.

“Aku masih bisa ketemu ‘kan?” aku mulai nggak sabar. “Ini penting banget...,”

Danny tampak berpikir sebentar sebelum mengeluarkan smarthphone-nya. Sepertinya ia akan langsung menghubungi Mama-ku. Nggak butuh waktu lama bagi Danny untuk bisa bicara dengan Mama. “Bu Sastri, Saira ada di sini. Katanya mau ketemu,” kata Danny dan ia menunggu jawaban dari seberanga sana. Tapi, ekspresinya tiba-tiba berubah kaget. Dia menatapku bingung. “Terputus,” katanya dan itu membuat lututku lemas seketika.

Danny masih memandangi layar smartphone-nya dengan bingung. Dia tampak ragu akan menelpon lagi atau tidak.

Sementara aku mulai ketakutan. Apa Mama sudah tahu tentang Sidney?

“Kamu datang di saat yang tepat,” suara itu menyambarku tiba-tiba disertai suara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat ke arah kami.

Kutemukan Mama sudah keluar dari lift sendirian dengan wajah angkuhnya.

“Mama?” aku ingin menghampirinya segera walaupun aku nggak tahu apa yang bisa kukatakan.

Permohonan maaf yang sudah kusiapkan di kepalaku sejak dalam perjalanan kemari tiba-tiba buyar melihat Mama dan tatapannya itu.

Mama langsung menyorot Adrian yang juga memandang ke arahnya.

“Mama nggak punya waktu buat kamu karena harus pergi ke sekolah Sunny untuk memberi seseorang pelajaran berharga,” katanya, menghiraukanku dan meluncur secepat angin dari hadapanku. Sekuriti lobi sudah membukakan pintu di sambut mobil Pak Didi yang sudah siap di depan sana.

“Mama!” aku mengejarnya. “Mama! Tunggu! Jangan, Ma!”

“Apanya yang jangan?” Mama membalikan badannya dan menatapku tajam.

Aku hampir putus asa karena sinar matanya itu. Menelan ludah, aku berusaha untuk nggak menangis. “Apa yang mau Mama lakukan?” aku bertanya, menatapnya dengan sangat agar menjawabku.

“Apa saja yang bisa Mama lakukan untuk menjauhkan Sunny dari masalah yang kamu buat, Saira,” jawabnya setajam tatapannya padaku. “Karena Mama sudah terlanjur putus asa karena kamu.”

“Mama nggak bisa melakukan itu...,” kataku, terengah-engah.

“Terserah,” balas Mama ia tetap ingin masuk ke mobil. Tapi, sebelum masuk ke mobil ia kembali menoleh padaku.

Saking paniknya, aku melompat ke depan mobil yang akan melaju. “Aku ikut!” seruku di saat yang sama Pak Didi mengerem mendadak. Apa pun yang terjadi, aku nggak akan beranjak sampai Mama setuju  membawaku untuk memastikan nggak ada keributan dengan Sidney di sekolah.

Akhirnya pintu mobil terbuka seakan menyuruhku naik.

Aku bergegas untuk naik tapi sebelum kami pergi aku harus mengatakan niat kedatanganku menemuinya siang ini. Kuharap dapat meredakan kemarahan Mama yang pasti sudah tahu apa yang kulakukan bersama Sidney.

“Ma, aku pulang. Hari ini aku berjanji untuk melakukan semuanya dengan baik....,” kataku. “Aku bakal nurutin semua kemauan Mama. Aku janji.”

“Terakhir kali kamu berjanji kamu nggak benar-benar menyesal, Saira. Toh, kamu akan kabur lagi, bertemu laki-laki itu lagi dan membuat Sunny menderita lagi,” tukasnya dengan suara dingin.

Aku menggeleng satu kali. “Ma, aku sungguh-sungguh....”

“Apa ini kamu lakukan hanya karena Mama tahu apa yang kamu lakukan belakangan ini dan berusaha untuk melindungi laki-laki itu dari Mama?” Mama kedengaran belum percaya.

“Nggak, Ma... sumpah..., kali ini aku nggak akan mengacaukannya lagi. Aku mohon, Ma...,” pintaku.

Mama diam. Aku nggak bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya karena aku belum naik ke mobil. Tapi, aku bisa mendengarnya menghela nafas panjang.

“Ya, sudah. Naik,” kata Mama akhirnya dan aku menoleh ke tempat di mana Adrian berdiri dengan wajah khawatir untuk pamitan padanya. Kami terpaksa berpisah sebentar sampai masalah ini selesai. “Adrian juga ikut.”

“Tapi, Ma...,”

“Kemarin dia sudah datang ke Mama dan meminta kamu secara baik-baik. Begitulah laki-laki seharusnya dan juga sudah sepantasnya dia tahu semuanya, Saira!” kata Mama setengah berteriak. “Kalau nggak, masalah ini nggak akan pernah selesai!”

***

Nggak semudah itu bagi Adrian untuk mengerti permasalahan apa yang membuat Mama siang itu harus ke sekolah Sunny. Aku memang cerita bahwa aku melompat pagar untuk bertemu Sunny dan setahunya aku sudah  nggak melakukan hal itu karena kami sempat bertengkar hebat. Di dalam perjalanan, baik Mama atau pun aku diam seribu bahasa. Aku hanya mengintip Pak Didi yang sudah pasti ketakutan; Mama sudah memarahinya pagi ini karena mendapat laporan dia membawa Sunny bertemu denganku dan membiarkan Sidney ikut campur.

Jantungku berdebar keras duduk di samping Mama yang begitu tenang; walaupun ia dikuasai amarah. Segala sesuatu tentang Sidney selalu membuatnya marah. Rasanya seperti baru menyiram bensin ke dalam api.

Aku nggak tahu apa yang Adrian pikirkan saat ini. Dia duduk di depan dan tenang; seperti Mama. Kesamaan mereka cukup menyiksaku sampai akhirnya tiba di sekolah Sunny.

Aku sudah bersiap untuk turun bersama Mama.

“Kamu tunggu di sini, Saira!” Mama melarangku.

“Ma, aku...,”

“Tetap di sini!” tegas Mama dan langsung menutup pintu mobilnya setelah ia turun.

Perasaan gelisah itu semakin menjadi saat melihat Mama sepertinya langsung menemui kepala sekolah. Aku punya firasat bahwa Mama kemungkinan besar akan memaki dan mengusir Sidney agar jauh dari Sunny. Dengan bingung, aku menjatuhkan kepalaku pada jok di depanku.

Adrian yang duduk di sana sepertinya menyadari ketakutanku yang berlebihan. Dia memutar badannya untuk melihatku. “Jadi Sidney tahu soal Sunny?” dia bertanya padaku.

Aku menggeleng pelan. “Aku nggak bilang apa-apa soal Sunny,” jawabku, mengendalikan degup jantungku yang membuatku sesak sehingga aku memutuskan untuk keluar mobil. Aku membutuhkan udara segar.

“Kenapa?” Adrian yang ikut keluar dari mobil bertanya padaku.

“Aku nggak mau Magisa mengganggunya juga kalau dia tahu soal Sunny,” jelasku sambil menatap ke segala arah kecuali Adrian.

“Terus kenapa dia bisa ada di sini?” Adrian kedengaran meragukan penjelasanku.

Tentu saja. Pertanyaannya sangat logis. Tapi, yang terdengar kurang masuk akal di sini adalah kenapa Sidney bisa memilih sekolah yang tepat di mana ada Sunny sementara dia nggak tahu apa-apa. Bagaimana aku menjelaskan kebetulan itu? Mama bahkan juga mempercayai bahwa aku bersekongkol dengan Sidney jauh sebelum ini!

Aku menarik nafas panjang. “Aku sama sekali nggak tahu, Adrian...,” jawabku lesu sambil membalas tatapan Adrian. “Aku juga kaget saat ketemu dia lagi di sini....”

Adrian terdiam dan kemudian memutar badannya seolah menghindari menatapku.

“Adrian, sumpah aku nggak tahu...,” kataku memohon.

“Aku nggak berhak ikut campur, Saira,” katanya, tapi masih enggan untuk berhadapan denganku. Dia memilih menjauh dari mobil beberapa langkah sambil memperhatikan sekelilingnya, kecuali arah di mana aku berdiri dengan sedih. “Dia ayah dari anak kamu....”

Reaksi Adrian yang di luar dugaan malah menimbulkan rasa bersalah alih-alih membuatku berhenti gelisah. Aku diam untuk menenangkan diriku sambil memandang ke tempat di mana Mama menghilang sampai aku melihat Sidney berjalan di koridor seorang diri dan dia menuju ke arah yang sama dengan Mama.

Aku menoleh ke belakang di mana Adrian ternyata juga melihat dia dan tampak berharap aku nggak mengejar Sidney. Aku menahan langkahku karena ingat bahwa Mama sudah menyetujui hubunganku dengan Adrian dan kalau aku memutuskan lari, barangkali aku akan mengacaukan kami lagi.

Sidney sudah nggak kelihatan ketika aku kembali menoleh. Tapi, rasa gelisah tetap saja membuatku harus berlari.

Aku berlari bukan untuk mengejar Sidney, tapi mengakhiri semua ini. Aku harus membawa Mama pergi dari sini sebelum keributan besar terjadi. Yang aku takutkan adalah kehadiran Mama pasti membuat Sidney akhirnya menyadari bahwa Sunny memang putranya.

Ketika aku menerobos ruang kepala sekolah, Mama sudah lebih dulu berdebat dengan SIdney yang seketika bungkam oleh rasa terkejut  begitu melihatku.

“Kenapa Mama ke sini hanya untuk cari masalah?! Bukannya semua selesai kalau aku sudah kembali?!” teriakku.

“Mama sudah bilang seratus kali, Saira, jangan berurusan lagi dengan dia!” teriak Mama.

Aku memandangi Sidney yang tampak bingung. Mungkin karena kehadiranku yang tiba-tiba. “Ini hanya kebetulan, Ma! Kalau Mama nggak suka Sunny sekolah di sini, ya sudah, kita hanya tinggal memindahkan dia dari sini!” kataku dengan keras.

Mama sempat menatapi Sidney sebentar sebelum menatapku tanpa membalasku. Terakhir, dia menoleh pada pria tua yang sepertinya kewalahan menghadapi keributan itu.

Aku masih terpaku pada Sidney -yang entah perasaanku saja atau memang benar- yang wajahnya pucat pasi; bukan karena ketakutan tapi sakit. Sejenak, aku ingin tahu, apa yang terjadi padanya?

“Ingat, Saira, dia sudah menghancurkan seluruh kehidupan kamu,” kata-kata Mama seketika menarik rasa ingin tahuku tentang Sidney. Mama sudah tampak ingin meninggalkan ruangan itu. Tak lama, dia segera berlalu dan saat melewatiku dia sempat mengingatkanku lagi, “Mama nggak mau kamu mengulangi kesalahan yang sama....”

Sidney masih terpana padaku. Tapi, aku harus pergi.

“Maaf, Azid,...” hanya itu yang bisa kuucapkan sebelum bergegas menyusul Mama.

Hari itu adalah terakhir kalinya aku melihat Sidney. Selanjutnya nggak pernah ada lagi kebetulan-kebetulan tak disangka yang mempertemukan kami. Kurasa dia sudah menyadari bahwa Sunny adalah darah dagingnya.Tapi, Sidney nggak pernah muncul lagi; paling nggak untuk melihat Sunny yang seringkali bertanya kenapa ia harus pindah sekolah secara tiba-tiba.

Sidney menghilang di saat Sunny baru saja memiliki teman baru dan lebih dari itu, kenangan akan Pak Guru yang baik hati sulit pudar dari ingatannya meski pun dia sudah mulai memanggil Adrian dengan sebutan ‘Papa’. Sunny masih menyimpan foto yang kami ambil di photo booth waktu itu. Hatiku sedih karena belum bisa berterus terang padanya saat ini. Tapi, setelah Sunny sudah lebih besar dari sekarang, aku berjanji akan memberitahunya. Entah pada saat itu Sunny bisa menerimanya dengan senang hati atau merasa kecewa telah dipisahkan dari sosok yang baru dikenalnya beberapa hari namun begitu ia rindukan yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Tapi, mungkin saja setelah Sunny lebih besar, dia akan lupa pada saat-saat ini. Kehadiran Adrian lebih nyata sebagai seorang ayah di sisinya dan menggantikan sosok Pak Guru yang sudah mengilang dari kehidupannya.

Sedangkan Sidney, mungkin dia kembali berbahagia bersama istrinya. Mungkin. Senang semuanya berakhir dengan baik.



***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments