[Novel Romantis] Saira Ch. 37 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Menjelang pernikahan, aku mulai sibuk belajar informal, terutama Bahasa Inggris. Aku sudah melihat bahwa ibuku mulai berumur, terserang penyakit di usianya yang makin menua. Dan dia hanya punya aku untuk meneruskannya pada anak-anakku. Ya, aku mulai kepikiran untuk punya lebih banyak anak. Anak tunggal kebanyakan nggak bisa memilih jalan yang mereka inginkan; seperti aku. Tapi, jika ada tiga atau bahkan lebih, banyak impian yang berbeda akan terbentuk. Salah seorang dari mereka pasti akan berminat terhadap dunia bisnis. Ya, itulah yang kupikirkan sampai tanpa kusadari aku tersenyum membayangkan anak-anak kecil akan memadati rumah dengan tawa, tangis dan kenakalan mereka. Memiliki ayah seorang dokter pasti akan membuatnya terasa sempurna.

Ya, sangat sempurna. Sesempurna upacara pernikahan yang disiapkan oleh Mama untukku. Meski pun dari dulu sudah bergelimang harta, aku sama sekali nggak pernah membayangkan bahwa pernikahanku akan menjadi sebuah pernikahan impian bagi orang lain. Aku pikir kehidupanku sudah hancur sama sekali karena dinginnya dinding penjara. Aku nggak percaya kesempatan keduaku memberiku kebahagiaan seindah ini sampai aku lupa caranya menangis.

Dan di sinilah aku hari ini, duduk dengan cantik; memakai gaun putih bertabur manik berkilauan dengan selendang sutra. Aku menunggu pengiring pengantin mengantarkanku pada ritual pernikahan yang sesungguhnya di balik dinding ruangan yang megah ini. Jantungku masih berdegup kencang hingga sesekali aku mengipas wajahku dengan tangan.

“Lo kepanasan, Sai?” tegur Pevi yang ternyata memperhatikanku. Dari cermin, aku bisa melihatnya tertawa meledek. Dia lantas menghampiriku dengan tubuh rampingnya yang dibalut dress merah muda yang membuatnya tampak anggun. Sepertinya bridesmaid yang satu ini justru lebih cantik dari pengantinnya.

Bagaimana pun, dia seorang supermodel yang tampangnya sudah warawiri di majalah fashion nasional ‘Pevita Prameswari’. Nggak ada yang menyangka kalau dulu dia hampir segendut Pretty Asmara yang hobi nasi Padang. Sayangnya, sampai sekarang Pevi belum berpacaran lagi.

“Gue deg-degan,” kataku, meliriknya di cermin.

Pevi tersenyum sembari mendekat dan ikut duduk di sampingku. Kami bertatapan melalui cermin dengan senyum hampa.

“Coba Nanda ada di sini,” kataku, aku tahu itulah yang juga dipikirkan Pevi saat ini. “Dia pasti pakai baju yang  sama dengan yang lo pakai dan ngantarin gue ke abangnya....”

“Dia bisa melihat kita, kok,” ujar Pevi sambil menoleh padaku dengan mata berbinar. “Dia selalu ada....”

Aku tertunduk, berusaha menahan tangis. Karena setetes air mata saja akan melunturkan riasan mataku. “Setelah ini kita bakal tepatin janji kita ke Nanda,” kataku kemudian.

“Itu pasti....” balas Pevi dan kemudian Tania, sekretaris Mama yang juga berpakaian bridesmaid muncul dari balik pintu.

Dia memintaku berdiri karena ijab qabu-lnya akan segera dimulai. Selangkah keluar dari ruangan ini, aku adalah Saira Gayatri yang baru. Ketika Pevi membukakan pintu aku melihat cahaya yang terang sekali. Aku seakan melangkah ke dalam cahaya itu dan mengarunginya demi sampai pada uluran tangan seorang lelaki mulia bernama Adrian Maris yang juga mengenakan setelan jas putih.

Di hadapan semua orang dia mengucapkan janjinya untuk menerimaku di hadapan Mama dan Papa yang begitu bahagia. Setelah itu, kami disambut oleh resepsi yang digelar tertutup di sebuah rooftop hotel mewah  di Jakarta. Walaupun nggak banyak yang hadir, tapi kami semua sangat bergembira dengan pestanya.

***

Satu bulan setelah pernikahan, akhirnya aku dan Pevi menepati janji kami;. Kami pun terbang ke Hokkaido Jepang demi memenuhi keinginan Ananda di catatan bunuh dirinya. Ananda ingin berada di Himawari no Sato pada musim panas dan Festival Bunga Matahari akan dimulai di kota Hokuryuu.

Di antara bunga-bunga matahari yang bermerkaran yang tingginya hampir sekepala, aku dan Pevi membuka kembali catatan yang ditulis Ananda pada sehelai kertas yang telah lusuh itu; kami membacanya untuk yang terakhir kali.

Kata orang mati adalah perpisahan antara jiwa dan raga. Jiwa akan pergi ke alam lain sedangkan raga akan membusuk di tanah di mana orang-orang berpikiran kotor tinggal di atasnya. Aku nggak mau mati pun, ragaku berada di bawah kaki mereka.

Aku ingin berada di antara bunga-bunga matahari musim panas di bawah langit yang paling biru. Karena surga nggak akan menerima jiwa orang yang mengakhiri hidupnya sendiri.

Aku sayang kalian. Selamat tinggal. Nanda

Kami sama-sama meneteskan air mata sambil berpelukan. Angin bertiup dan tiba-tiba menerbangkan surat Ananda. Kami menyaksikan catatan itu terombang-ambing di atas angin  dibingkai oleh langit biru musim panas Negeri Sakura. Angin itu membawanya sangat jauh hingga menghilang pada hamparan kuning hijau sejauh mata memandang.

Pevi sudah bersiap untuk membuka guci kecil yang selalu kami bawa dalam pelukan itu. Dengan perlahan, kami menyaksikan debu yang terberai keluar dari dalam guci disambut oleh angin yang meniupkannya entah ke mana. Mungkin menyebar ke seluruh penjuru ladang ini. Aku tengah membayangkan Ananda tampak berlari di antara bunga-bunga itu dengan riang. Ya, itulah keinginannya. Berbaring dengan semua yang ia cintai di dunia.

Akhirnya kami telah menepati janji. Kami telah melepas Ananda di musim panas.

“Mama!” suara Sunny terdengar memanggil sesaat setelah guci kevil telah kosong. Dia membawa setangkai bunga matahari besar di tangannya yang entah dia petik dari mana.

Adrian tampak menyusul di belakangnya dengan senyum bahagia.

“Festivalnya udah dimulai!” seru bocah kecil itu selagi Adrian mengusap puncak kepalanya. “Kita ke sana sekarang ya?!”

Aku mengangguk lalu kami segera meninggalkan tempat itu untuk melihat Festival Bunga Matahari.

Sunny berlari lebih dulu dengan bunga matahari di atas kepala; mengingatkanku pada ritual saat kami menghanyutkan bunga matahari di Teluk Jakarta sebagai penghomatan terakhir untuk pencetus Saira’s Squad. Sunny memimpin kami menelusuri ratusan batang bunga matahari; menerangi jalan layaknya matahari, seperti Ananda.
Jika nanti aku memiliki anak perempuan, aku akan memberinya nama yang sama.

***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments