๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Menjelang pernikahan, aku mulai sibuk belajar informal,
terutama Bahasa Inggris. Aku sudah melihat bahwa ibuku mulai berumur, terserang
penyakit di usianya yang makin menua. Dan dia hanya punya aku untuk
meneruskannya pada anak-anakku. Ya, aku mulai kepikiran untuk punya lebih
banyak anak. Anak tunggal kebanyakan nggak bisa memilih jalan yang mereka
inginkan; seperti aku. Tapi, jika ada tiga atau bahkan lebih, banyak impian
yang berbeda akan terbentuk. Salah seorang dari mereka pasti akan berminat
terhadap dunia bisnis. Ya, itulah yang kupikirkan sampai tanpa kusadari aku
tersenyum membayangkan anak-anak kecil akan memadati rumah dengan tawa, tangis
dan kenakalan mereka. Memiliki ayah seorang dokter pasti akan membuatnya terasa
sempurna.
Ya, sangat sempurna. Sesempurna upacara pernikahan yang disiapkan
oleh Mama untukku. Meski pun dari dulu sudah bergelimang harta, aku sama sekali
nggak pernah membayangkan bahwa pernikahanku akan menjadi sebuah pernikahan
impian bagi orang lain. Aku pikir kehidupanku sudah hancur sama sekali karena
dinginnya dinding penjara. Aku nggak percaya kesempatan keduaku memberiku
kebahagiaan seindah ini sampai aku lupa caranya menangis.
Dan di sinilah aku hari ini, duduk dengan cantik; memakai
gaun putih bertabur manik berkilauan dengan selendang sutra. Aku menunggu
pengiring pengantin mengantarkanku pada ritual pernikahan yang sesungguhnya di
balik dinding ruangan yang megah ini. Jantungku masih berdegup kencang hingga
sesekali aku mengipas wajahku dengan tangan.
“Lo kepanasan, Sai?” tegur Pevi yang ternyata
memperhatikanku. Dari cermin, aku bisa melihatnya tertawa meledek. Dia lantas
menghampiriku dengan tubuh rampingnya yang dibalut dress merah muda yang
membuatnya tampak anggun. Sepertinya bridesmaid yang satu ini justru lebih
cantik dari pengantinnya.
Bagaimana pun, dia seorang supermodel yang tampangnya sudah
warawiri di majalah fashion nasional ‘Pevita Prameswari’. Nggak ada yang
menyangka kalau dulu dia hampir segendut Pretty Asmara yang hobi nasi Padang.
Sayangnya, sampai sekarang Pevi belum berpacaran lagi.
“Gue deg-degan,” kataku, meliriknya di cermin.
Pevi tersenyum sembari mendekat dan ikut duduk di sampingku.
Kami bertatapan melalui cermin dengan senyum hampa.
“Coba Nanda ada di sini,” kataku, aku tahu itulah yang juga
dipikirkan Pevi saat ini. “Dia pasti pakai baju yang sama dengan yang lo pakai dan ngantarin gue
ke abangnya....”
“Dia bisa melihat kita, kok,” ujar Pevi sambil menoleh
padaku dengan mata berbinar. “Dia selalu ada....”
Aku tertunduk, berusaha menahan tangis. Karena setetes air
mata saja akan melunturkan riasan mataku. “Setelah ini kita bakal tepatin janji
kita ke Nanda,” kataku kemudian.
“Itu pasti....” balas Pevi dan kemudian Tania, sekretaris
Mama yang juga berpakaian bridesmaid muncul dari balik pintu.
Dia memintaku berdiri karena ijab qabu-lnya akan segera
dimulai. Selangkah keluar dari ruangan ini, aku adalah Saira Gayatri yang baru.
Ketika Pevi membukakan pintu aku melihat cahaya yang terang sekali. Aku seakan
melangkah ke dalam cahaya itu dan mengarunginya demi sampai pada uluran tangan
seorang lelaki mulia bernama Adrian Maris yang juga mengenakan setelan jas
putih.
Di hadapan semua orang dia mengucapkan janjinya untuk
menerimaku di hadapan Mama dan Papa yang begitu bahagia. Setelah itu, kami
disambut oleh resepsi yang digelar tertutup di sebuah rooftop hotel
mewah di Jakarta. Walaupun nggak banyak
yang hadir, tapi kami semua sangat bergembira dengan pestanya.
Satu bulan setelah pernikahan, akhirnya aku dan Pevi
menepati janji kami;. Kami pun terbang ke Hokkaido Jepang demi memenuhi keinginan
Ananda di catatan bunuh dirinya. Ananda ingin berada di Himawari no Sato pada
musim panas dan Festival Bunga Matahari akan dimulai di kota Hokuryuu.
Di antara bunga-bunga matahari yang bermerkaran yang
tingginya hampir sekepala, aku dan Pevi membuka kembali catatan yang ditulis
Ananda pada sehelai kertas yang telah lusuh itu; kami membacanya untuk yang
terakhir kali.
Kata orang mati adalah perpisahan antara jiwa dan raga.
Jiwa akan pergi ke alam lain sedangkan raga akan membusuk di tanah di mana
orang-orang berpikiran kotor tinggal di atasnya. Aku nggak mau mati pun, ragaku
berada di bawah kaki mereka.
Aku ingin berada di antara bunga-bunga matahari musim
panas di bawah langit yang paling biru. Karena surga nggak akan menerima jiwa
orang yang mengakhiri hidupnya sendiri.
Aku sayang kalian. Selamat tinggal. Nanda
Kami sama-sama meneteskan air mata sambil berpelukan. Angin
bertiup dan tiba-tiba menerbangkan surat Ananda. Kami menyaksikan catatan itu
terombang-ambing di atas angin dibingkai
oleh langit biru musim panas Negeri Sakura. Angin itu membawanya sangat jauh
hingga menghilang pada hamparan kuning hijau sejauh mata memandang.
Pevi sudah bersiap untuk membuka guci kecil yang selalu kami
bawa dalam pelukan itu. Dengan perlahan, kami menyaksikan debu yang terberai
keluar dari dalam guci disambut oleh angin yang meniupkannya entah ke mana.
Mungkin menyebar ke seluruh penjuru ladang ini. Aku tengah membayangkan Ananda
tampak berlari di antara bunga-bunga itu dengan riang. Ya, itulah keinginannya.
Berbaring dengan semua yang ia cintai di dunia.
Akhirnya kami telah menepati janji. Kami telah melepas
Ananda di musim panas.
“Mama!” suara Sunny terdengar memanggil sesaat setelah guci
kevil telah kosong. Dia membawa setangkai bunga matahari besar di tangannya yang
entah dia petik dari mana.
Adrian tampak menyusul di belakangnya dengan senyum bahagia.
“Festivalnya udah dimulai!” seru bocah kecil itu selagi
Adrian mengusap puncak kepalanya. “Kita ke sana sekarang ya?!”
Aku mengangguk lalu kami segera meninggalkan tempat itu
untuk melihat Festival Bunga Matahari.
Sunny berlari lebih dulu dengan bunga matahari di atas
kepala; mengingatkanku pada ritual saat kami menghanyutkan bunga matahari di
Teluk Jakarta sebagai penghomatan terakhir untuk pencetus Saira’s Squad. Sunny
memimpin kami menelusuri ratusan batang bunga matahari; menerangi jalan
layaknya matahari, seperti Ananda.
Jika
nanti aku memiliki anak perempuan, aku akan memberinya nama yang sama.***

Komentar
0 comments