[Novel Romantis] Saira Ch. 36 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Ngapain kamu ke sini?” Adrian menatapku datar saat dia menemuiku setelah aku menelpon mengajaknya bertemu.

“Maafin aku...,” ucapku, kuharap cukup kelihatan manja; aku sudah lama nggak bicara se-memelas itu pada orang.

Adrian terdengar menghembuskan nafas. “Aku pikir harus aku terus yang menghubungi duluan,” komentarnya sambil memandangiku. Sepertinya dia sudah luluh. “Aku kaget kamu datang sendiri setelah kamu bilang aku kedengaran seperti bule Australia itu.”

“Kenapa kamu jadi kekanakan?” balasku.

“Aku nggak kekanakan,” balas dia, mulai sebal lagi. “Kamu bisa bedain mana yang kekanakan dan mana yang namanya cemburu?”

“Setahuku cemburu itu kekanakan...,” kataku.

Adrian mendecak. “Aku masih ada tugas,” katanya, terdengar mengusir. “Aku baru bisa pulang sekitar dua jam lagi....”

“Ya udah, aku tunggu di sini...,” kataku.

“Kamu? Nungguin aku?” sekarang Adrian terdengar sinis memperjelas bahwa aku nggak pernah mau menunggunya sampai dua jam. Tampaknya dia masih kesal padaku.

“Iya, habis itu kita ketemu sama Mama-ku ya?” ujarku. aku pikir Adrian akan mengubah tampang dinginnya itu setelah dia memahami arti kalimatku. Tapi, ekspresinya terlalu biasa. Nggak ada kaget-kagetnya sama sekali. Dia terlalu datar di saat aku mengatakan bahwa aku setuju kalau kami menikah, secepatnya.

Apa dia sudah bosan kali ini?

“Gimana?” tanyaku lagi karena dia belum memberi jawaban ‘iya’.

“Nggak perlu,” katanya dengan gaya cuek itu lagi.

Jawaban itu sontak membuat perasaanku yang dari tadi menggebu-gebu tiba-tiba jadi ciut. Apa Adrian menolakku?

Aku mulai gelisah.

“Ke... kenapa?” aku masih belum puas dengan reaksi itu.

Adrian tenang saja; terlalu datar malah, sementara aku makin gelisah.

“Aku masih punya pasien sekarang di ruang ICU,” katanya, seperti menghindar. “Aku nggak bisa lama-lama.”

Aku diam di tempatku memandangi Adrian yang ingin cepat pergi. Sepertinya dia sudah nggak peduli lagi dengan hubungan ini. Aku jadi nggak meragukan bahwa perkataanku ternyata benar-benar menorehkan luka yang dalam. Sejenak aku bingung, apa aku harus mengucapkan maaf untuk ke seribu kalinya? Ya Tuhan, dia hanya akan bertambah muak!

Adrian memandangi jam tangannya. “Aku harus pergi,” dia berkata.

Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhku. Aku baru saja ditolak olehnya?

“Ta... tapi...,” aku mencoba membuatnya tinggal lebih lama meski pun bingung harus mengatakan apa. Dari sikapnya sudah ketahuan bahwa dia nggak ingin lagi berurusan denganku. “Habis ini aku mau pulang ke rumah....”

“Bagus,” komentarnya dengan santai. Dia nggak kelihatan senang atau apalah yang menunjukan bahwa dia peduli.

“Kita harus bicara ke Mama soal...,” aku melanjutkan tapi dia memotongnya.

“Soal apa? Aku pikir udah nggak perlu lagi,” dia kedengaran menegaskan bahwa apa pun yang kami rencanakan sudah gagal total.

“Adrian?” aku berusaha mempercayai bahwa Adrian yang biasanya lembut dan penuh perhatian, tiba-tiba saja menjadi cuek.

“Buat apa?” dia masih ingin menegaskan.

Aku tertunduk ingin menangis. Kenapa jadi seperti ini?

“Aku sudah menemui Mama kamu tadi, jadi buat apa lagi ke sana?” kata Adrian lagi secara tiba-tiba dan itu membuatku sangat terkejut.

Bingung bercampur senang di saat yang sama aku mendapatinya tertawa karena berhasil mempermainkanku barusan. Aku merasa sangat konyol.

“Kamu pikir aku laki-laki yang akan membiarkan kamu memikirkannya sendiri?” dia bertanya padaku, tentu dengan nada yang lembut. Ternyata dia nggak benar-benar ketus padaku.

Seketika aku terlihat bodoh. Menangis sambil tertawa

 “Itu adalah kewajibanku dan kamu nggak perlu ikut bicara,” jelasnya. “Gimana pun juga, kita harus memulai ini dengan cara yang baik agar semuanya berjalan baik juga.”

Aku mengangguk-angguk tanpa berani menatap wajahnya. Karena akan ketahuan bahwa pipiku memerah karena malu. Aku senang sekali.

Adrian memelukku dengan sangat erat. Nggak peduli itu di tempat kerjanya hingga bahkan perawat yang kebetulan melintas tersipu malu sambil geleng-geleng kepala.

“Jadi kamu serius mau nungguin sampai selesai?” dia bertanya dan aku mengangguk-angguk dengan cepat. “Ya udah, kamu bisa nungguin di kantin sambil minum teh....”

Aku kira malam itu aku akan langsung pulang ke rumah tapi di perjalanan pulang aku berubah pikiran. Entah mengapa, aku ingin bersamanya lebih lama. Aku nggak pernah merasa membutuhkan orang lain sampai seperti ini....

***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments