๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Ngapain kamu ke sini?” Adrian menatapku datar saat dia
menemuiku setelah aku menelpon mengajaknya bertemu.
“Maafin aku...,” ucapku, kuharap cukup kelihatan manja; aku
sudah lama nggak bicara se-memelas itu pada orang.
Adrian terdengar menghembuskan nafas. “Aku pikir harus aku
terus yang menghubungi duluan,” komentarnya sambil memandangiku. Sepertinya dia
sudah luluh. “Aku kaget kamu datang sendiri setelah kamu bilang aku kedengaran
seperti bule Australia itu.”
“Kenapa kamu jadi kekanakan?” balasku.
“Aku nggak kekanakan,” balas dia, mulai sebal lagi. “Kamu
bisa bedain mana yang kekanakan dan mana yang namanya cemburu?”
“Setahuku cemburu itu kekanakan...,” kataku.
Adrian mendecak. “Aku masih ada tugas,” katanya, terdengar
mengusir. “Aku baru bisa pulang sekitar dua jam lagi....”
“Ya udah, aku tunggu di sini...,” kataku.
“Kamu? Nungguin aku?” sekarang Adrian terdengar sinis
memperjelas bahwa aku nggak pernah mau menunggunya sampai dua jam. Tampaknya
dia masih kesal padaku.
“Iya, habis itu kita ketemu sama Mama-ku ya?” ujarku. aku
pikir Adrian akan mengubah tampang dinginnya itu setelah dia memahami arti
kalimatku. Tapi, ekspresinya terlalu biasa. Nggak ada kaget-kagetnya sama
sekali. Dia terlalu datar di saat aku mengatakan bahwa aku setuju kalau kami
menikah, secepatnya.
Apa dia sudah bosan kali ini?
“Gimana?” tanyaku lagi karena dia belum memberi jawaban
‘iya’.
“Nggak perlu,” katanya dengan gaya cuek itu lagi.
Jawaban itu sontak membuat perasaanku yang dari tadi
menggebu-gebu tiba-tiba jadi ciut. Apa Adrian menolakku?
Aku mulai gelisah.
“Ke... kenapa?” aku masih belum puas dengan reaksi itu.
Adrian tenang saja; terlalu datar malah, sementara aku makin
gelisah.
“Aku masih punya pasien sekarang di ruang ICU,” katanya,
seperti menghindar. “Aku nggak bisa lama-lama.”
Aku diam di tempatku memandangi Adrian yang ingin cepat
pergi. Sepertinya dia sudah nggak peduli lagi dengan hubungan ini. Aku jadi
nggak meragukan bahwa perkataanku ternyata benar-benar menorehkan luka yang
dalam. Sejenak aku bingung, apa aku harus mengucapkan maaf untuk ke seribu
kalinya? Ya Tuhan, dia hanya akan bertambah muak!
Adrian memandangi jam tangannya. “Aku harus pergi,” dia
berkata.
Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhku. Aku baru saja
ditolak olehnya?
“Ta... tapi...,” aku mencoba membuatnya tinggal lebih lama
meski pun bingung harus mengatakan apa. Dari sikapnya sudah ketahuan bahwa dia
nggak ingin lagi berurusan denganku. “Habis ini aku mau pulang ke rumah....”
“Bagus,” komentarnya dengan santai. Dia nggak kelihatan
senang atau apalah yang menunjukan bahwa dia peduli.
“Kita harus bicara ke Mama soal...,” aku melanjutkan tapi
dia memotongnya.
“Soal apa? Aku pikir udah nggak perlu lagi,” dia kedengaran
menegaskan bahwa apa pun yang kami rencanakan sudah gagal total.
“Adrian?” aku berusaha mempercayai bahwa Adrian yang
biasanya lembut dan penuh perhatian, tiba-tiba saja menjadi cuek.
“Buat apa?” dia masih ingin menegaskan.
Aku tertunduk ingin menangis. Kenapa jadi seperti ini?
“Aku sudah menemui Mama kamu tadi, jadi buat apa lagi ke
sana?” kata Adrian lagi secara tiba-tiba dan itu membuatku sangat terkejut.
Bingung bercampur senang di saat yang sama aku mendapatinya
tertawa karena berhasil mempermainkanku barusan. Aku merasa sangat konyol.
“Kamu pikir aku laki-laki yang akan membiarkan kamu
memikirkannya sendiri?” dia bertanya padaku, tentu dengan nada yang lembut.
Ternyata dia nggak benar-benar ketus padaku.
Seketika aku terlihat bodoh. Menangis sambil tertawa
“Itu adalah
kewajibanku dan kamu nggak perlu ikut bicara,” jelasnya. “Gimana pun juga, kita
harus memulai ini dengan cara yang baik agar semuanya berjalan baik juga.”
Aku mengangguk-angguk tanpa berani menatap wajahnya. Karena
akan ketahuan bahwa pipiku memerah karena malu. Aku senang sekali.
Adrian memelukku dengan sangat erat. Nggak peduli itu di
tempat kerjanya hingga bahkan perawat yang kebetulan melintas tersipu malu
sambil geleng-geleng kepala.
“Jadi kamu serius mau nungguin sampai selesai?” dia bertanya
dan aku mengangguk-angguk dengan cepat. “Ya udah, kamu bisa nungguin di kantin
sambil minum teh....”
Aku kira malam itu aku akan langsung pulang ke rumah tapi di
perjalanan pulang aku berubah pikiran. Entah mengapa, aku ingin bersamanya
lebih lama. Aku nggak pernah merasa membutuhkan orang lain sampai seperti
ini....

Komentar
0 comments