๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dinding tinggi sekalipun nggak bisa menghalangiku. Mengingat
semua yang telah kulalui untuk bisa sampai pada detik ini, aku merasa seperti
telah kembali dari neraka dunia. Aku telah melewati masa-masa yang sulit tapi
perjuangan masih tetap berlanjut untuk jalan terjal yang lain. Masalah memang
nggak pernah habis, ia selalu datang lagi dengan wujud yang berbeda-beda. Adrian bilang seperti itulah kehidupan
seharusnya.
Dulu, pikiran mudaku pernah mempertanyakan apakah aku ini
orang yang hidup karena semuanya datar-datar saja. Sekarang, aku memahami
mengapa kehampaan itu ada di hatiku karena hidupku yang dulu nyaris tanpa
masalah.
Dan sekarang, inilah kehidupanku yang sesungguhnya. Melompat
dan memanjat pagar lagi. Bedanya waktu SMA aku melompati pagar karena ingin
bolos dari sekolah, sekarang? Aku harus masuk ke lingkungan sekolah untuk
menemui Sunny. Untuk memberitahunya aku akan datang setiap sebelum pulang
sekolah di halaman belakang.
Aku menelusuri koridor yang masih kosong karena pelajaran
belum usai sambil sesekali memperhatikan sekitar. Menyusup diam-diam nggak
pernah semenegangkan ini. Aku ingat saat-saat aku menghindari Sidney di sekolah
karena nggak ingin dia melihatku. Itu juga menegangkan sekaligus menyedihkan di
saat yang sama aku hanya bisa menyaksikannya bicara dengan gadis lain dari
kejauhan.
Ya, sekolah selalu mengingatkanku pada masa lalu. Terkadang
aku ingin kembali untuk mengubah banyak hal. Beberapa saat kemudian aku seperti
melihat diriku yang mengenakan seragam putih abu-abu berlari menembus keramaian
mengejar seseorang.
Sidney terlihat berada di ujung sana dan dia menoleh saat
aku tiba di hadapannya. Lalu semua itu buyar oleh satu suara; bunyi bel yang
menandai berakhirnya semua pelajaran hari ini.
Dengan kasak-kusuk aku mencari titik persembunyian di mana
aku bisa mengawasi kelas Sunny.
Aku menunggu keramaian itu berlalu sembari memperhatikan
setiap wajah anak-anak yang lewat dari balik sebuah pintu ruangan kosong.
Bahkan hingga anak terakhir keluar dari kelas Sunny, aku belum juga melihatnya.
Seorang guru perempuan membimbing anak itu ke halaman depan menuju jemputan
yang pasti sudah menunggu.
Setelah memastikan koridor itu kosong, aku memberanikan diri
menengok langsung ke dalam kelas. Dan ternyata kelas itu benar-benar sudah
kosong.
Aku sangat kecewa bahwa mungkin Sunny nggak datang hari ini.
Pasti karena kemarin aku berusaha menemuinya dan Mama berpikiran aku akan
membawa Sunny kabur kalau aku punya kesempatan. Padahal sudah susah-susah
melompati dinding itu dan percobaan pertama hingga akhirnya aku berhasil juga -yang
tak terhitung lagi kalinya, ternyata kembali sia-sia.
Dengan kecewa aku memutar badanku. Aku nggak tahu apa aku
sanggup melompat lagi karena sakit dan nyeri pada semua anggota gerakku baru
terasa. Aku pikir ini akan membuatku dilempar keluar dari lingkungan sekolah
dan setelah ini pasti Mama akan memindahkan Sunny ke sekolah lain hanya agar
aku nggak bertemu dengannya lagi.
Tapi, pikiranku terlalu mudah putus asa.
Sunny sudah berada di hadapanku setelah aku memutar badan
dengan lesu dan hendak keluar dari kelas.
Anak itu melongo, menatapku seakan nggak percaya. “Mama?”
dia memanggilku dan aku segera berlari untuk memeluk dan menciumnya. Aku
memejamkan mataku rapat-rapat untuk merasakan bahwa ini bukan lamunan di siang
bolong. Aku benar-benar dapat memeluk putraku; buah cintaku. Dan kilasan aku
berada di hadapan Sidney, tiba-tiba kembali dalam ruang mataku yang terpejam.
Aku ingin mengatakan ‘Ayo kita pergi!’
Lalu aku membuka mataku, di hadapanku adalah seorang anak
lelaki; dia hadir di sini karena Sidney. Darah dan daging yang berasal dari
Sidney. Meskipun dia lebih mirip denganku, nggak akan pernah bisa diingkari
bahwa Sidney juga berhak atas dirinya. Tapi, aku terlalu takut Magisa akan
menghancurkannya seperti dia pernah menghancurkanku. Aku akan menjaganya walau
aku terpaksa harus menyembunyikannya dari Sidney selama yang diperlukan.
Tapi, aku lupa ada yang pernah mengatakan : DARAH TIDAK BISA
DILAWAN.
Setelah melompati pagar menjadi rutinitas beberapa kali
dalam seminggu terus berlanjut tanpa sepengetahuan Adrian, aku tidak menyangka
siang itu aku menemukan Sunny bersama laki-laki itu di halaman belakang. Aku
pikir itu mimpi. Aku melihat mereka berdua dari ketinggian. Aku sempat berpikir
bahwa aku mungkin keliru; bisa saja itu orang lain yang postur dan wajahnya
mirip. setelah aku mendarat di tanah,
rasa nyeri di kaki akibat lompatan jauh itu terasa nyata hingga
benar-benar meyakinkanku bahwa dia adalah Sidney.
Ajaib bukan? Sidney
seperti paku yang ditarik oleh magnet. Dia hadir di sisi Sunny disaat aku nggak
ada. Anehnya aku merasa lega di saat yang sama tubuhku tumbang oleh rasa sakit
yang membuatku nggak bisa melihat Sunny atau pun Sidney.
“Apa ini?” Adrian menanyaiku dengan dahi berkerut sambil
mengangkat siku tanganku yang nyeri.
Aku yang tengah melamunkan pertemuan kembali itu tiba-tiba
sadar dan menemukan Adrian sudah datang. Perasaanku masih campur aduk karena
tiga hari aku nggak bisa menemui Sunny. Adrian melarangku ke rumah karena
fisikku begitu lemah karena anemia. Katanya, aku bisa mati karena kekurangan
darah kalau nggak segera ditangani.
Seharusnya aku beristirahat seminggu penuh untuk
mengembalikan kondisi fisikku seperti semula. Tapi,membayangkan nggak bisa
melihat Sunny saja, aku nggak yakin bisa sembuh. Aku ingin sekali bertemu dengannya
walaupun sebentar.
Adrian masih mengamati siku tanganku dan aku baru sadar
bahwa ada guratan merah di sana. Aku selalu mendapatkan memar itu setiap aku
gagal melompati pagar. Aku sedikit takut karena Adrian curiga dan mulai
memandangiku dari ujung kaki ke ujung kepala.
“Kenapa bisa begini?” dia bertanya lagi.
“Aku... nggak sengaja kebentur sendi pintu...,” jawabku,
berusaha menghindari tatapannya.
“Kebentur berkali-kali?” Adrian mengerutkan dahinya. Tentu
saja dia nggak akan mudah percaya. Dia juga sudah menemukan memar itu di
lututku saat aku terbaring lemah di rumah sakit selama dua hari. “Aku nggak mau
menuduh kamu berbohong lagi tapi kamu sudah tahu kalau aku nggak bisa percaya
jawaban kamu.”
Aku diam. Apa yang harus aku katakan? Jika aku berterus terang,
apa mungkin menghindari mengungkapkan kenyataan bahwa aku bertemu Sidney lagi?
Aku nggak ingin Adrian tahu itu karena dia pasti akan kecewa lagi walaupun aku
sudah memantapkan hati untuk memilih dirinya. Adrian selalu cemburu akan Sidney
dan dia sudah berdamai dengan masa laluku dengan menerima diriku yang sekarang.
“Dari mana memar-memar itu, Saira?” Adrian mendesakku lagi.
Aku menghembuskan nafas. Kalau sudah begini apa yang bisa
kukatakan selain mengakuinya saja?
“Aku.. cuma berusaha untuk ketemu Sunny...,” jawabku
tertunduk cemas.
“Dan?” Adrian tampak meunggu tidak sabaran tanpa mengalihkan
tatapannya dariku.
“Aku... aku memanjat pagar belakang sekolah...,” jawabku dan
seketika kudengar Adrian mendecak kesal.
Dia pasti marah.
“Aku nggak punya jalan lain, Ad...,” kataku berusaha membela
diri saat Adrian mulai mondar-mandir menahan kesal.
“Kamu punya, Saira!” dia menegaskan sambil menghampiriku
dengan mata setengah melotot. Emosinya begitu mudah tersulut?
Aku nggak percaya aku bisa membuatnya marah setelah dia
begitu sabar selama ini. Adrian belum pernah marah padaku. Kalau pun ada hal
yang nggak dia sukai, dia lebih memilih diam dan kemudian mengajakku bicara
lagi seolah nggak ada kejadian.
“Semua ini berakhir kalau kamu nggak keras kepala!” katanya,
terdengar menyalahkan.
Aku menatapnya heran. Kenapa dia bicara seperti itu padaku?
Bukankah aku sudah mengatakan alasan kenapa aku pergi dari rumah dan pertama
kali aku datang ke sini dia tampak memahaminya?
“Ada jalan lain yang nggak perlu harus berliku-liku seperti
ini!” kata dia.
“Kamu nggak kenal Mama-ku!” kataku.
“Aku kenal dengan baik ibu kamu setelah kamu dipenjara!”
balas dia. “Aku nggak pernah melihat seorang ibu yang begitu sabar terhadap
anaknya sampai seperti itu! Aku pikir setelah kamu keluar kamu bisa berubah!
Tapi, kamu tetap saja keras kepala!”
Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Aku memang takut pada
Adrian, tapi saat dia marah padaku seperti itu rasanya nggak adil. Dia belum
sepenuhnya mengerti bagaimana hubunganku dengan Mama. Aku nggak mungkin bilang
padanya bahwa alasan lain Mama nggak suka Adrian karena dia membantuku
menyembunyikan Sunny selama bertahun-tahun.
“Semuanya masih bisa dibicarakan, tapi kamu selalu memilih
melawan! Sama seperti yang kamu lakukan sekarang! Kamu memanjat pagar untuk
bertemu Sunny, padahal kalau sebenarnya kamu bicara baik-baik sama Mama-mu,
kamu nggak harus melakukan hal yang konyol itu! Lihat sekujur tubuh kamu!
Semuanya memar seperti dipukuli
habis-habisan!” kata dia. “Aku bersabar karena aku yakin aku bisa membuat kamu
berubah dengan caraku! Tapi, aku salah! Ada satu hal di dalam diri kamu yang
nggak pernah bisa kupahami!”
Aku hanya tertunduk diam. Ini bukan pertama kalinya aku
diceramahi oleh orang lain yang kuharap bisa mengerti keadaanku tapi malah
memaksaku melakukan apa yang nggak bisa kulakukan.
“Kamu seorang ibu, jangan menyiksa diri kamu sendiri seperti
ini...,” kata Adrian lagi.
“Adrian,” panggilku untuk menghentikannya bicara dan dia
tampak menyimak dengan diam sambil menatapiku. “Kamu sama sekali nggak
kedengaran berusaha membuat aku berubah jadi lebih baik.”
“Apa?” dia kembali mengerutkan dahinya, tampak nggak terima
dengan perkataanku.
“Di telingaku, kamu lebih kedengaran seperti Sidney,” kataku
akhirnya sambil turun dari tempat tidur dan bersiap-siap meninggalkan rumah
sakit itu.
“Siapa pun akan mengatakan hal seperti itu sama kamu...,”
Adrian memelankan suaranya. “Jika semua orang yang kamu kenal berpikiran yang
sama tentang kamu, kamu tahu itu artinya apa? Berarti ada yang salah dengan
cara berpikir kamu!”
“Aku hanya ingin semua mengerti!” kataku, mengeraskan
suaraku untuk membuatnya diam agar aku bisa bicara. “Aku berada di posisi yang
sulit! Semua orang di dunia ini seolah memaksaku melompat ke jurang! Dan kalau
aku nggak melompat ke jurang, ada lagi yang akan membunuhku!”
“Bagaimana orang lain mengerti kalau kamu sendiri nggak mau
mengerti?!” balas Adrian lagi.
“Aku pikir kamu ngerti aku, Adrian!” kataku, semakin keras.
“Aku tahu kalau aku bersalah pada Mama-ku! Aku tahu itu! Tapi, aku ini manusia
yang gagal! Aku sudah bilang ratusan kali kalau aku nggak sanggup menjadi
seperti yang Mama harapkan! Semakin Mama memaksaku semakin aku aku ingin
melarikan diri! Kamu tahu itu?!”
“Melarikan diri?” Adrian terdengar sinis dan terlihat senyum
merendahkan di bibinya. “Apa kamu nggak pernah sadar setiap kamu melarikan diri
saat itulah masalah selalu muncul? Harusnya kamu menghadapinya, bukan malah
lari! Aku ngerti inilah yang bikin kamu kehilangan banyak hal dalam hidup
kamu!”
“Apa kamu bosan menghadapi aku, Adrian? Apa kamu muak sama
aku sampai kamu bilang begitu sama aku?!” tantangku.
“Demi Tuhan, Saira! Kalau aku bosan atau muak sama kamu,
kamu nggak akan berada di sini!” katanya. “Apa yang tersisa dari kamu untuk
aku?! Apa?! Apa lagi selain sifat keras kepala kamu yang bikin aku habis
kesabaran! Hitung berapa tahun yang aku habiskan cuma untuk bisa sedekat ini
sama kamu kalau kamu pikir aku semudah itu merasa muak! Aku terlalu sabar,
Saira! Terlalu sabar sampai kamu terus saja memaksaku untuk melihat kamu
seperti ini!”
Kata-kata Adrian membuatku terbungkam. Lebih-lebih dia
kelihatan sangat marah yang mana belum pernah kulihat selama mengenalnya.
Pada akhirnya, aku nggak memenangkan perdebatan dengan
Adrian akan sifat dan sikapku. Karena Adrian memang benar; dia selalu benar.
Aku hanya... hanya terlalu emosi dan bingung sampai ingin menangis. Aku sudah
berjanji akan bersamanya tapi setelah bertemu Sidney beberapa hari lalu, aku
kembali kehilangan arah. Terlebih melihat dia dan Sunny, berdiri berdampingan yang
mana sebelumnya nggak pernah terbayang olehku. Dia pasti begitu mempedulikan
Sunny bahkan dia nggak tahu Sunny adalah anaknya sendiri. Sidney juga pasti
akan bertanya padaku siapa ayahnya dan curiga bahwa itu mungkin dirinya.
Sidney nggak bisa mempunyai anak dari Magisa. Aku merasa
bersalah karena harus merahasiakannya. Tapi, justru karena itulah aku semakin
takut untuk memberitahu kebenarannya. Magisa pasti nggak akan membiarkannya.
Bisa saja... dia...
Aku mulai mempertanyakan kenapa Tuhan mengirimnya berulang
kali ke hadapanku untuk membolak-balikan hatiku. Aku bahkan nggak
menginginkannya lagi walaupun belum sepenuhnya lupa pada kenangan itu. Apa
maksud semua ini?
Ketika kerinduan pada Sunny memuncak, aku meninggalkan rumah
sakit tanpa seizin Adrian. Aku nggak peduli pada hujan yang mengguyur sejak
tengah hari. Aku sangat yakin aku akan sembuh apabila bertemu Sunny dan
satu-satunya yang bisa menolongku adalah Sidney.
***

Komentar
0 comments