๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Another Coincident
“Aku yakin masalah kali ini nggak sepele,” kata Adrian
tenang sementara aku tertunduk berusaha untuk nggak menangis lagi.
Aku belum menyentuh makanan yang Adrian pesankan untukku
karena kehilangan selera makan padahal perutku sedang lapar. Setelah dari
sekolah Sunny, Pevi mengantarku ke rumah sakit. Nggak ada tempat yang bisa
kutuju selain Adrian walaupun dia belum mengetahui alasan pasti mengapa Mama
mengusirku ditambah melarangku bertemu Sunny.Pevi juga sudah pergi lagi karena
ada jadwal pemotretan. Aku gelisah sampai rasanya ingin memanjat pagar agar
bisa masuk.
“Apa yang bikin Mama kamu sampai ngelarang kamu segala
ketemu Sunny?” Adrian mulai curiga dan aku nggak siap mengatakan yang
sebenarnya. “Pasti alasannya serius.”
Aku hanya menghela nafas lelah tanpa berani menatap Adrian.
Tapi, dia menggenggam tanganku yang basah oleh keringat
dingin.
“Saira?” tegur dia lembut sampai akhirnya aku menatapnya
juga.
Bagaimana aku bisa menyembunyikannya lebih lama?
“Mama ngusir aku karena aku nggak mau ikut dia ke kantor
atau... menikah sama pilihannya...,” jawabku dengan pelan, berharap Adrian
nggak keburu berpikiran kalau aku memanfaatkannya.
Memang Adrian terlihat terkejut. Matanya sampai melotot;
tapi hanya sesaat. Dia menimpalinya dengan tawa pelan seakan pengakuanku itu terdengar
konyol.
“Apa?” komentarnya dia, dengan tawa yang makin keras juga.
Aku melongo. Bisa-bisanya dia menertawaiku saat harusnya dia
mengerutkan dahi setelah tahu alasan mengapa aku datang padanya.
“Kenapa kamu ketawa?” tanyaku, merengut. Aku pikir sama
sekali nggak ada yang lucu diusir dari rumah karena nggak ingin dinikahkan.
Terdengar seperti cerita lama : Siti Nurbaya.
“Kamu percaya Mama kamu bakal ngelakuin itu?” balas dia.
“Kenapa nggak? Mama-ku bakat banget mengendalikan semua hal
di sekitarnya,”
“Kenapa kamu nggak mau?” Adrian bertanya setelah berhenti
tertawa. Sepertinya dia mulai serius.
“Ya nggak mau lah!” kataku, sedikit sewot. “Palingan juga
yang mau sama aku pasti mata duitan!”
“Termasuk aku?” tanya Adrian, dia menatapku serius hingga
jantungku berdetak keras.
Aku sudah kelepasan bicara dan mungkin dia tersinggung.
“Bukan kamu! Tapi, sama yang dijodohin Mama-ku!” teriakku
secepat mungkin. Emosiku kembali terkuras sampai nafasku sesak. “Jelas aku
nggak mau!”
“Aku pikir kamu nggak mau karena ada yang kamu cintai,” kata
Adrian; itu membiusku untuk diam dan terpana padanya sebelum akhirnya tertunduk
dengan rasa bersalah. Kata-kata itu terdengar menohok jika yang dia maksud itu
Sidney.
Apakah kata-kataku kemarin nggak cukup meyakinkannya; bahwa
aku akan berusaha dan belajar untuk mencintai dirinya?
Aku kembali bingung.
“Kamu sudah ketemu sama orangnya?” tanya Adrian lagi.
Sepertinya dia ngotot untuk tahu lebih jauh.
Aku menggeleng pelan. “Itu baru rencana karena Mama-ku pikir
dia udah menemukan orang yang tepat,” jawabku sedih.
“Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sudah punya pacar?”
tanya dia dengan nada yang sederhana dan tenang.
Aku menatapnya sekali lagi dan Adrian tampak biasa saja.
Bahkan sekilas dia tampak sedang mempermainkanku.
“Mama nggak bakal percaya aku punya pacar,” jawabku murung
dan nggak sanggup melanjutkan bahwa laki-laki yang pernah ada di dalam hidupku
selain dari ayahku hanyalah Sidney. “Dia bakal bilang aku bohong supaya aku
bisa mengelak....”
“Aku bolak balik Jakarta-Sydney untuk kamu, masa dia masih
nggak tahu soal aku?” tanya Adrian.
Aku menghela nafas. “Tahu sendiri Mama lebih suka sama yang
bisa bantuin dia ngurus perusahaan, bukannya dokter,” jawabku dan juga nggak
ingin meneruskan bahwa Mama sama sekali nggak melirik Adrian walaupun dia
seorang dokter ; karena bukan dari keluarga kaya.
“Hm...,” hanya itu yang terdengar dari Adrian yang kemudian
menyesap kopinya dengan pelan.
Aku menatapnya lagi dengan hati-hati untuk mengatakan
sesuatu. “Kamu nggak ngerasa aku manfaatin kamu ‘kan?”
“Manfaatin kenapa?” balas dia santai, tapi penuh perhatian.
Itulah lebihnya Adrian. Dia selalu kelihatan berpikir positif terhadap segala
hal.
“Ya, tahu-tahu aku nyari kamu setelah diusir...,” jawabku
ragu-ragu.
Dia tertawa kecil sambil kembali mengusap punggung tanganku
dengan lembut. “Saat ini aku nggak bisa merasakan apa-apa selain bahagia seolah
hari ini seperti mimpi,” kata dia. “Aku nggak curiga apalagi berpikiran jelek
soal kamu karena perasaan itu sama sekali nggak ada di hatiku dan nggak akan
pernah ada....”
Dia membuatku kembali melongo sementara Adrian mendekat
padaku sambil menaruh kedua sikunya di meja agar dia bisa memperhatikanku lebih
dekat. Sikapnya terlalu manis dan jujur aku sama sekali nggak pernah dipandangi
selembut itu; bahkan oleh Sidney.
“Aku pernah melihat kamu pergi dariku ratusan kali, Saira.
Ada yang lebih buruk dari itu?” dia berkata. “Hatiku sakit dan itu lebih dari
sekedar menyiksa diri dengan berpikiran negatif, curiga apalagi cemburu. Karena
aku pernah tahu siapa yang kamu pikirkan di saat aku tersiksa sendirian. Aku
pernah lihat gimana kamu mengejar orang lain di depan mata kepalaku sendiri.
Aku juga pernah merelakan kamu sepenuh hati hanya agar kamu bisa bersama dengan
dia. Aku pernah berpikir bahwa aku sudah nggak punya harapan. Aku pernah
berhenti berharap bahwa kamu akan kembali.”
Kata-katanya membuat air mataku menetes. Aku mengutuk diriku
sendiri karena terlalu sering pergi darinya karena akhirnya aku kembali.
“Rasa cemburu atau curiga sekali pun nggak ada apa-apanya
dengan semua kepedihan itu,” dia melanjutkan sambil mengusap air mata di
wajahku dengan pelan. “Aku percaya kalau kali ini kamu nggak akan pergi lagi
dariku karena kamu yang datang padaku. Terus kenapa aku harus berpikiran jelek
soal kamu?”
“Terima kasih...,” ucapku mulai terisak.
“Aku juga pernah melakukan kekeliruan yang besar terhadap
kamu,” dia berkata sambil mengelus pipiku dan menatapku sedih. “Kalau saja aku
nggak menyuruh kamu ke Sydney, semua ini nggak akan terjadi....”
“Ad, kita udah pernah bahas itu sebelumnya. Itu nggak
benar...”
“Karena itu kita akhiri saja semua itu....,” katanya. “Kalau
aku bisa melepaskan kamu dari keharusan yang dibuat oleh Mama-mu, kenapa nggak,
Saira?”
Aku mengangguk-angguk. Adrian benar sekali.
Tapi, aku tertawa di sela tangisku. “Mama pasti histeris
kalau tiba-tiba aku bawa kamu ke rumah,” jawabnya. “Mama nggak semudah itu
langsung percaya....”
“Maksud kamu?”
“Hubungan aku sama Mama cukup rumit. Aku belum mau pulang
karena kalau kita datang secepat ini, artinya Mama menang.”
“Tapi, kamu jadi nggak bisa ketemu Sunny ‘kan?”
Aku mengangguk mengerti. “Aku selalu punya cara kok,”
jawabku meyakinkannya.
“Jadi, kamu belum mau pulang?”
“Adrian, bukannya aku nggak mau dengerin saran kamu sih.
Tapi... aku yakin nanti akan ada syarat tambahan lagi dari Mama. Aku capek
dengan semua itu....”
“Aku sih nggak masalah,” jawab dia, menatapku lekat-lekat
sambil tetap memegang tanganku. “Karena aku senang kamu bisa tinggal lebih
lama.”
Setelah selesai makan siang, kami pun segera meninggalkan
restoran dan menuju halte busway terdekat. Adrian memang seorang dokter yang
sukses, tapi dia lebih suka hidup sederhana. Itulah yang menarik darinya. Dia
mengajarkanku arti kesederhanaan yang sesungguhnya; seperti yang Ananda pernah
tunjukan padaku.
Aku telah melangkah keluar dari kotak yang dibuat oleh Mama
sejak lama tapi baru kali ini aku merasa begitu bebas. Kami berjalan kaki
dengan gembira di sepanjang pedestrian sambil membicarakan restoran tradisional
yang enak khususnya warung nasi Padang. Hal seperti ini nggak pernah kumiliki
saat bersama Sidney yang benci jalan kaki; dia mengikutiku dengan terpaksa
karena nggak ingin aku melarikan diri.
Sedikit demi sedikit, aku mulai berhenti membandingkan.
Mungkin karena aku mulai menyadari bahwa Sidney nggak pernah memberiku apa yang
Adrian sekarang berikan dan itulah yang sebenarnya aku kubutuhkan; sebuah
kepercayaan dan keteguhan hati yang kuat.
Hujan mengguyur dalam perjalanan pulang di atas busway.
Meski pun gelap di luar sana, semangat
nggak luntur oleh air hujan. Perjalanan singkat itu terasa menyegarkan
oleh tetesan air yang membasahi kami setelah turun dari busway dan masih harus
berjalan kaki menuju rumah. Aku tahu salah satu dari kami atau dua-duanya akan
terserang masuk angin dan flu tapi membayangkan mie instan legendaris tanah air
dan secangkir teh di rumah membuat kami berlarian di sepanjang gang karena
tidak sabar. Dan begitulah aku membiarkan dia menyentuhku untuk merasakan ada
cinta yang lebih manis....


Komentar
0 comments