[Novel Romantis] Saira Ch. 35 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Another Coincident

“Aku yakin masalah kali ini nggak sepele,” kata Adrian tenang sementara aku tertunduk berusaha untuk nggak menangis lagi.

Aku belum menyentuh makanan yang Adrian pesankan untukku karena kehilangan selera makan padahal perutku sedang lapar. Setelah dari sekolah Sunny, Pevi mengantarku ke rumah sakit. Nggak ada tempat yang bisa kutuju selain Adrian walaupun dia belum mengetahui alasan pasti mengapa Mama mengusirku ditambah melarangku bertemu Sunny.Pevi juga sudah pergi lagi karena ada jadwal pemotretan. Aku gelisah sampai rasanya ingin memanjat pagar agar bisa masuk.

“Apa yang bikin Mama kamu sampai ngelarang kamu segala ketemu Sunny?” Adrian mulai curiga dan aku nggak siap mengatakan yang sebenarnya. “Pasti alasannya serius.”

Aku hanya menghela nafas lelah tanpa berani menatap Adrian.

Tapi, dia menggenggam tanganku yang basah oleh keringat dingin.

“Saira?” tegur dia lembut sampai akhirnya aku menatapnya juga.

Bagaimana aku bisa menyembunyikannya lebih lama?

“Mama ngusir aku karena aku nggak mau ikut dia ke kantor atau... menikah sama pilihannya...,” jawabku dengan pelan, berharap Adrian nggak keburu berpikiran kalau aku memanfaatkannya.

Memang Adrian terlihat terkejut. Matanya sampai melotot; tapi hanya sesaat. Dia menimpalinya dengan tawa pelan seakan pengakuanku itu terdengar konyol.

“Apa?” komentarnya dia, dengan tawa yang makin keras juga.

Aku melongo. Bisa-bisanya dia menertawaiku saat harusnya dia mengerutkan dahi setelah tahu alasan mengapa aku datang padanya.

“Kenapa kamu ketawa?” tanyaku, merengut. Aku pikir sama sekali nggak ada yang lucu diusir dari rumah karena nggak ingin dinikahkan. Terdengar seperti cerita lama : Siti Nurbaya.

“Kamu percaya Mama kamu bakal ngelakuin itu?” balas dia.

“Kenapa nggak? Mama-ku bakat banget mengendalikan semua hal di sekitarnya,”

“Kenapa kamu nggak mau?” Adrian bertanya setelah berhenti tertawa. Sepertinya dia mulai serius.

“Ya nggak mau lah!” kataku, sedikit sewot. “Palingan juga yang mau sama aku pasti mata duitan!”

“Termasuk aku?” tanya Adrian, dia menatapku serius hingga jantungku berdetak keras.

Aku sudah kelepasan bicara dan mungkin dia tersinggung.

“Bukan kamu! Tapi, sama yang dijodohin Mama-ku!” teriakku secepat mungkin. Emosiku kembali terkuras sampai nafasku sesak. “Jelas aku nggak mau!”

“Aku pikir kamu nggak mau karena ada yang kamu cintai,” kata Adrian; itu membiusku untuk diam dan terpana padanya sebelum akhirnya tertunduk dengan rasa bersalah. Kata-kata itu terdengar menohok jika yang dia maksud itu Sidney.

Apakah kata-kataku kemarin nggak cukup meyakinkannya; bahwa aku akan berusaha dan belajar untuk mencintai dirinya?

Aku kembali bingung.

“Kamu sudah ketemu sama orangnya?” tanya Adrian lagi. Sepertinya dia ngotot untuk tahu lebih jauh.

Aku menggeleng pelan. “Itu baru rencana karena Mama-ku pikir dia udah menemukan orang yang tepat,” jawabku sedih.

“Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sudah punya pacar?” tanya dia dengan nada yang sederhana dan tenang.

Aku menatapnya sekali lagi dan Adrian tampak biasa saja. Bahkan sekilas dia tampak sedang mempermainkanku.

“Mama nggak bakal percaya aku punya pacar,” jawabku murung dan nggak sanggup melanjutkan bahwa laki-laki yang pernah ada di dalam hidupku selain dari ayahku hanyalah Sidney. “Dia bakal bilang aku bohong supaya aku bisa mengelak....”

“Aku bolak balik Jakarta-Sydney untuk kamu, masa dia masih nggak tahu soal aku?” tanya Adrian.

Aku menghela nafas. “Tahu sendiri Mama lebih suka sama yang bisa bantuin dia ngurus perusahaan, bukannya dokter,” jawabku dan juga nggak ingin meneruskan bahwa Mama sama sekali nggak melirik Adrian walaupun dia seorang dokter ; karena bukan dari keluarga kaya.

“Hm...,” hanya itu yang terdengar dari Adrian yang kemudian menyesap kopinya dengan pelan.

Aku menatapnya lagi dengan hati-hati untuk mengatakan sesuatu. “Kamu nggak ngerasa aku manfaatin kamu ‘kan?”

“Manfaatin kenapa?” balas dia santai, tapi penuh perhatian. Itulah lebihnya Adrian. Dia selalu kelihatan berpikir positif terhadap segala hal.

“Ya, tahu-tahu aku nyari kamu setelah diusir...,” jawabku ragu-ragu.

Dia tertawa kecil sambil kembali mengusap punggung tanganku dengan lembut. “Saat ini aku nggak bisa merasakan apa-apa selain bahagia seolah hari ini seperti mimpi,” kata dia. “Aku nggak curiga apalagi berpikiran jelek soal kamu karena perasaan itu sama sekali nggak ada di hatiku dan nggak akan pernah ada....”

Dia membuatku kembali melongo sementara Adrian mendekat padaku sambil menaruh kedua sikunya di meja agar dia bisa memperhatikanku lebih dekat. Sikapnya terlalu manis dan jujur aku sama sekali nggak pernah dipandangi selembut itu; bahkan oleh Sidney.

“Aku pernah melihat kamu pergi dariku ratusan kali, Saira. Ada yang lebih buruk dari itu?” dia berkata. “Hatiku sakit dan itu lebih dari sekedar menyiksa diri dengan berpikiran negatif, curiga apalagi cemburu. Karena aku pernah tahu siapa yang kamu pikirkan di saat aku tersiksa sendirian. Aku pernah lihat gimana kamu mengejar orang lain di depan mata kepalaku sendiri. Aku juga pernah merelakan kamu sepenuh hati hanya agar kamu bisa bersama dengan dia. Aku pernah berpikir bahwa aku sudah nggak punya harapan. Aku pernah berhenti berharap bahwa kamu akan kembali.”

Kata-katanya membuat air mataku menetes. Aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu sering pergi darinya karena akhirnya aku kembali.

“Rasa cemburu atau curiga sekali pun nggak ada apa-apanya dengan semua kepedihan itu,” dia melanjutkan sambil mengusap air mata di wajahku dengan pelan. “Aku percaya kalau kali ini kamu nggak akan pergi lagi dariku karena kamu yang datang padaku. Terus kenapa aku harus berpikiran jelek soal kamu?”

“Terima kasih...,” ucapku mulai terisak.

“Aku juga pernah melakukan kekeliruan yang besar terhadap kamu,” dia berkata sambil mengelus pipiku dan menatapku sedih. “Kalau saja aku nggak menyuruh kamu ke Sydney, semua ini nggak akan terjadi....”

“Ad, kita udah pernah bahas itu sebelumnya. Itu nggak benar...”

“Karena itu kita akhiri saja semua itu....,” katanya. “Kalau aku bisa melepaskan kamu dari keharusan yang dibuat oleh Mama-mu, kenapa nggak, Saira?”

Aku mengangguk-angguk. Adrian benar sekali.

Tapi, aku tertawa di sela tangisku. “Mama pasti histeris kalau tiba-tiba aku bawa kamu ke rumah,” jawabnya. “Mama nggak semudah itu langsung percaya....”

“Maksud kamu?”

“Hubungan aku sama Mama cukup rumit. Aku belum mau pulang karena kalau kita datang secepat ini, artinya Mama menang.”

“Tapi, kamu jadi nggak bisa ketemu Sunny ‘kan?”

Aku mengangguk mengerti. “Aku selalu punya cara kok,” jawabku meyakinkannya.

“Jadi, kamu belum mau pulang?”

“Adrian, bukannya aku nggak mau dengerin saran kamu sih. Tapi... aku yakin nanti akan ada syarat tambahan lagi dari Mama. Aku capek dengan semua itu....”

“Aku sih nggak masalah,” jawab dia, menatapku lekat-lekat sambil tetap memegang tanganku. “Karena aku senang kamu bisa tinggal lebih lama.”

Setelah selesai makan siang, kami pun segera meninggalkan restoran dan menuju halte busway terdekat. Adrian memang seorang dokter yang sukses, tapi dia lebih suka hidup sederhana. Itulah yang menarik darinya. Dia mengajarkanku arti kesederhanaan yang sesungguhnya; seperti yang Ananda pernah tunjukan padaku.

Aku telah melangkah keluar dari kotak yang dibuat oleh Mama sejak lama tapi baru kali ini aku merasa begitu bebas. Kami berjalan kaki dengan gembira di sepanjang pedestrian sambil membicarakan restoran tradisional yang enak khususnya warung nasi Padang. Hal seperti ini nggak pernah kumiliki saat bersama Sidney yang benci jalan kaki; dia mengikutiku dengan terpaksa karena nggak ingin aku melarikan diri.

Sedikit demi sedikit, aku mulai berhenti membandingkan. Mungkin karena aku mulai menyadari bahwa Sidney nggak pernah memberiku apa yang Adrian sekarang berikan dan itulah yang sebenarnya aku kubutuhkan; sebuah kepercayaan dan keteguhan hati yang kuat.

Hujan mengguyur dalam perjalanan pulang di atas busway. Meski pun gelap di luar sana, semangat  nggak luntur oleh air hujan. Perjalanan singkat itu terasa menyegarkan oleh tetesan air yang membasahi kami setelah turun dari busway dan masih harus berjalan kaki menuju rumah. Aku tahu salah satu dari kami atau dua-duanya akan terserang masuk angin dan flu tapi membayangkan mie instan legendaris tanah air dan secangkir teh di rumah membuat kami berlarian di sepanjang gang karena tidak sabar. Dan begitulah aku membiarkan dia menyentuhku untuk merasakan ada cinta yang lebih manis....

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments