๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“So, jadi udah ketemu sama Adrian nih ceritanya?”
Pevi masih menatapku dengan tatapan khasnya yang skeptis itu bahkan setelah aku
melakukan apa yang menurutnya benar.
Aku hanya mengerutkan dahiku. Entah apa lagi yang salah
baginya.
“Bagus. Terus?” komentarnya dan menimpalinya dengan
pertanyaan yang sedang kusiapkan jawabannya sambil berharap itu adalah sesuatu
yang ingin Pevi dengar saat ini. Memang ini adalah hidupku tapi aku nggak ingin
keras kepalaku mengacaukan semuanya lagi. Aku perlu mendengarkan orang lain
yang sepenuhnya bisa melihat ke mana langkahku sesungguhnya.
Aku pernah pergi dengan keyakinan yang salah dan itu
mengirimku ke penjara. Sulit untuk lepas dari bayang masa lalu yang kelam tapi
setidaknya aku masih punya orang-orang yang mencintaiku sekalipun Sidney yang
sangat kuharapkan tidak termasuk. Kejamnya kenyataan telah menghancurkan
mimpiku. Aku harus tetap terjaga agar bisa tetap hidup demi Sunny.
“Gue nggak bilang soal rencana Mama,” kataku.
“Kenapa?”
“Gue... nggak ingin kesannya itu gue memanfaatkan dia untuk
lepas dari rencana Nyokap,” jelasku lagi. “Ada banyak hal yang Adrian nggak
boleh tahu. Itu hanya bikin dia sakit hati lagi. Gue udah capek, Pev, nyakitin
dia terus. Paling nggak menemui dia lagi, bikin Adrian yakin kalau gue bisanya
bukan cuma bikin dia kecewa. Gue juga bisa bikin dia bahagia....”
“Tumben otak lo bener,” komentar Pevi, akhirnya senyum itu
terwujud di bibirnya. “Ada gunanya juga Nyokap ngusir lo dari rumah.”
“Sialan lo...,” celetukku sedikit jengkel tapi aku masih
bisa tertawa.
“Terus semalam lo tidur di mana?” pertanyaan Pevi mulai mengerucut. “Setahu gue
sekarang Adrian udah tinggal sendiri lho.”
“Kenapa ekspresi lo kayaknya curiga gitu sama gue?”
timpalku.
Pevi tertawa seakan pertanyaanku lucu. “Ya biasa aja kali,
Sai! Gue nggak nuduh lo yang aneh-aneh juga!”
“Tapi, tampang lo udah mesum gitu. Gimana gue nggak keki?”
“Mesum lo bilang? Elo tuh yang mesum!” tunjuknya lalu
cekikikan.
Aku mendecak kesal. “Iya, gue tidur di tempatnya Adrian!”
kataku, “Tapi gue nggak ngelakuin hal yang udah ngeracunin pikiran lo sekarang,
Pev!”
“Gue juga nggak nanya!” timpalnya, tapi tatapannya masih
menggelikanku. Pevi sama sekali nggak percaya kalau semalam aku tidur sendirian
di kamar lain. Untuk apa meyakinkannya? Dia sudah terlanjur mengira kalau
‘sesuatu’ telah terjadi semalam. Dasar Pevita!
“Gue sih percaya Adrian nggak bakal ngapa-ngapain lo,”
sambung Pevi, terdengar memancing. Dia melirikku sejenak dengan senyum skeptis
lagi. “Soalnya dia nggak sama kayak Sidney. Gue sih kebayang sama Adrian yang
belum terkontaminasi sama cewek. Dia nggak bakat nyosor sembarangan!”
“Lo emang sialan ya, Pev?” celetukku.
“Eh, gue bicara fakta!” teriak dia bersikeras. “Ya jelas lah
gue suka ngebandingin! Apa sih kelebihan Sidney yang lain selain tampang dan
ketajirannya itu? Nggak ada ‘kan?! Tanpa itu semua dia bukan apa-apa! Lagian
dari cerita lo kayaknya tuh orang nggak bergaul alias nggak punya teman. Pernah
nggak sih dia ceritain orang lain selain dari keluarganya? Di Aussie sana pasti
dia itu sombong dan belagu makanya nggak punya teman!”
“Pev, udahlah. Kenapa lo jadi ngatain dia sih?”
Pevita tersentak. “Eh, iya juga ya? Ngapain juga gue
nyebut-nyebut tuh orang? Nggak penting!”
“Mending sekarang kita ke sekolahnya Sunny. Gue kangen dia,”
kataku dan kami pun menyudahi obrolan itu lalu menuju ke sekolah Sunny -Sydney
International School.
Aku heran saja dari sekian banyak sekolah internasional yang
ada kenapa Mama memilih sekolah ini. Kebetulan yang aneh.
“Bisa banget Nyokap lo nyari sekolah buat Sunny. Sama persis
kayak nama ayahnya,” komentar Pevi yang juga berpikiran sama denganku.
Tanpa berbalas kata, aku turun dari taksi dan sementara Pevi
menunggu sampai aku bisa menemukan Sunny. Biasanya Sunny akan didampingi
gurunya sampai yang menjemput tiba. Rencana aku ingin mengajak makan siang di
satu tempat yang ada perosotannya lalu mengantarnya pulang ke rumah.
Tapi, ternyata nggak hanya satpam rumah yang berani
menghalangiku masuk, satpam sekolah itu juga nggak mau membukakan pintu gerbang
untukku.
“Maaf, Bu, kami menerima perintah dari Ibu Sastri bahwa
Sunny nggak boleh dijemput oleh orang selain Pak Didi,” jelas satpam itu.
Sekarang aku mengerti kenapa Mama menyekolahkannya di sini;
yaitu pengamanannya yang snagat ketat. Aku jadi nggak heran lagi. Selain
anak-anak super kaya, juga banyak anak pejabat dalam dan luar negeri yang
sekolah di sini. Tapi, tetap saja itu membuatku kesal. Aku diperlakukan seperti
teroris yang hendak mengebom sekolah.
“Kalau gitu izinkan saya masuk cuma untuk ketemu anak saya,”
“Maaf, Bu, hal itu juga tidak diperbolehkan oleh Ibu Sastri.
Kita nggak bisa melanggar aturan sekolah tentang standar penjemputan anak dan
pelarangan orang asing masuk ke
lingkungan sekolah,” ucapnya. “Maaf, sekali. Kita harus menjalankan perintah
dari wali murid.”
“Tapi, saya ini ibunya! Saya ibunya Sunny!” teriakku.
“Kalian keterlaluan kalau ikut-ikutan menjauhkan saya dari anak saya sendiri.”
“Kami benar-benar minta maaf, Bu,” kata satpam itu sambil
kembali masuk ke pos jaganya. Dia tidak sedikit pun mau membuka gerbangnya.
Pevi turun dari taksi dan segera menghampiriku.
“Kenapa, Sai?” tanya dia.
“Gue nggak diizinin masuk katanya dilarang sama Nyokap
gue...,” jawabku dengan sedih sambil tertunduk. Rasanya ingin menangis, tapi
percuma.
Aku harus mencari cara untuk bisa melewati dinding sekolah
yang sudah seperti tembok cina itu. Aku mulai merasa bahwa Mama juga mulai
berusaha mengendalikanku seperti ia mengendalikan semua orang di sekitarnya dengan
kekuasaannya. Aku memang pernah menyesali saat di mana aku nggak mendengarkan
kata-katanya, hidupku menjadi sumber petaka. Tapi, aku ingin Mama mengerti
bahwa penyesalanku bukanlah senjata baginya untuk membuatku melakukan apa yang
nggak bisa kupenuhi.
Mama menantangku karena dia pikir aku telah menentang
perintahnya dengan mengusirku dan memisahkanku dari Sunny. Aku tahu Mama
menyayangiku dan sering terluka karenaku, tapi yang Mama lakukan ini sangat
egois. Aku nggak bisa menerimanya.
Tapi, nggak ada satu hal pun yang bisa menghalangi
keinginanku.
Saat pintu gerbang membuka, mobil Pak Didi melaju keluar.
Aku segera melompat hingga mobil sedan hitam itu langsung mengerem mendadak.
Aku yakin Sunny berada di dalam.
“Pak Didi!” seruku sambil memukul-mukul kaca depan selagi
mobil itu melaju. “Pak Didi?!”
Tapi Pak Didi nggak mau membukakan kacanya dan bahkan sama
sekali nggak menghentikan laju mobil.
Kenapa malah jadi seperti ini?
“Jadi nyokap lo mau ngawinin lo sama pilihannya gitu?” Pevi melotot lagi padaku.
Selain dia kepada siapa lagi aku bisa cerita? Aku langsung menemuinya di tempat pemotretan karena memikirkannya di rumah sendiri membuatku pusing.
“Kenapa lo nggak bilang, kalau pun lo harus nikah ya pilihan yang masuk akal ya Adrian Maris? Dia seorang dokter, masih muda dan udah pasti sayang sama Sunny,” komentarnya lagi. “Plus dia selalu ada di saat terburuk lo, Saira.”
“Lo mau gue muncul tiba-tiba di depan dia dan bilang kalau gue nggak mau dijodohin Nyokap gue? Yang ada Adrian malah berpikir kalau gue menjadikan dia itu opsi terakhir. Gue nggak sejahat itu!”
“Lo udah ngelakuin hal yang lebih jahat dari itu ke dia, asal lo tahu!” Pevi mulai lagi dengan gaya nunjuk-nunjuk itu. “Ya kali lo bilang soal rencana Nyokap lo. Itu bego banget!”
“Gue harus gimana juga?”
“Mama lo nggak bisa dihadapi dengan sikap keras kepala. Lo harus ngalah. Hitung-hitung nebus kesalahan....”
“Tapi, Nyokap gue maksa banget, Pev. Yang ada di pikiran gue, laki-laki yang mau sama gue pasti cuma mengincar kekayaan Nyokap gue! Apa lagi coba?!”
“Jadi karena itulah gue bilang, kalau lo mau mengajukan pilihan ke Nyokap lo supaya nggak dikawinin sama pilihannya, ya lo harus bilang lo udah punya seseorang. Ya, Adrian. Siapa lagi? Gue yakin Nyokap lo nggak bakal nolak Adrian. Walaupun dari keluarga sederhana tapi mereka keluarga baik-baik.”
Kali ini Pevi benar-benar membuatku memikirkannya sekali lagi. Aku terdiam sangat lama. Menemui Adrian? Di saat seperti ini? Aku bahkan masih merasa nggak pantas untuknya. Seperti apa aku akan menjadikan dirinya nanti?
“Sekarang ini gue cuma punya satu pertanyaan buat lo, Sai,” kata Pevi serius. “Lo harus jawab dengan jujur. Karena gue sahabat lo dan nggak ada gunanya lo mendustai gue apalagi perasaan lo sendiri. Jangan plin plan. Kemarin lo niat mau terima lamaran dia, setelah ketemu Sidney lo malah makin nggak jelas lagi.”
“Apa?” aku terkesiap.
“Sebenarnya apa lo masih cinta sama Sidney?” dia bertanya dan aku tercengang. “Itu penting dan bakal menentukan keputusan yang mau lo ambil.”
“Kenapa tiba-tiba lo nanya itu?”
“Yang bikin lo berat untuk membiarkan Adrian masuk adalah... karena mungkin lo masih cinta sama orang itu. Gue nggak bakal bilang kalau itu udah nggak wajar. Kalian selalu dipisahkan sama keadaan dan ketemu lagi di saat semuanya udah terlambat. Setelah tahu biang keladi dari kejadian yang menimpa kalian, gue yakin, cinta yang hampir lo lupakan tiba-tiba jadi kuat lagi. Tapi, kenyataannya Sidney udah menikah dan lo mau dia membagi hatinya? Setengah untuk si Gigi setengah lagi buat lo? Kita perempuan, Sai. Gue cuma nggak kebayang lo tiba-tiba jadi perempuan perusak rumah tangga orang.”
“Menurut lo apa yang harus gue lakuin?”
“Adrian baik. Dia kakak dari sahabat kita sendiri. Pastinya kita nggak mau ngelukain dia. Gue ngerti lo merasa nggak pantas dan berharap dia bisa ketemu sama perempuan yang bisa ngebahagiain dia. Tapi, di matanya, cuma lo yang bisa bikin dia bahagia mungkin karena kisah lo yang mirip film India atau dia berharap Saira yang pernah dia kenal dulu bisa kembali lagi,” lanjut Pevi tanpa putus menatapku. “Kalau seandainya, Sai, ada laki-laki seperti Adrian yang mencintai gue apa adanya pasti gue langsung nikahin dia. Tapi, gue nggak bisa paksain elo untuk nerima dia.”
“Kenapa nggak lo aja yang dekatin Adrian?”
Pevi tersenyum. “Gue nggak suka Adrian, maksudnya untuk dijadiin pacar,” katanya. “Lo jangan ngomong enteng gitu.”
“Gue nggak mau jadiin Adrian pelarian, Pev....”
“Kalau gitu ya jangan,” tegasnya. “Yang harus lo lakuin itu bukan lari ke Adrian. Tapi, membuka hati untuk orang lain. Selama ini lo membentengi diri dengan alasan merasa nggak pantas. Sebenarnya lo itu perempuan yang kuat. Gue yakin itu yang bikin Adrian suka sama lo. Nggak ada salahnya mencoba untuk mecintai orang lain. Lo pantas, Sai. Apa lo mau terus menderita karena masa lalu?”
Dalam perjalanan pulang, ucapan Pevi terus berputar dalam pikiranku. Pevi sudah mengatakannya berulang kali; harusnya aku memilihnya dan nggak membiarkannya menunggu lebih lama lagi. Tapi, masih berat untuk beralih, aku khawatir aku nggak bisa mencintainya. Adrian pasti akan lebih tersakiti kalau aku memaksakan diri. Benar kata Pevi, pertemuan dengan Sidney membuat pikiranku kembali mendua.
Saat bertemu Sidney, pernah terbesit untuk memberitahu semuanya. Aku bisa memberikan pembalasan yang setimpal untuk Magisa. Tapi, itu hanya menjadikanku orang yang lebih buruk lagi. Hidupku selalu dirundung masalah bahkan di saat aku mencoba melakukan hal yang benar. Apa yang mungkin terjadi kalau aku merampas sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain? Karena itulah, ketika Sidney memintaku tetap di sisinya walaupun semua sudah berubah, aku menolak. Aku berkata nggak ingin kembali padanya.
Aku ingat dalam perjalanan pulang di pesawat, aku menangis. Aku telah kehilangan cintanya. Apa yang dia berikan malam itu hanya sisa-sisa yang masih tertinggal; sebagian besar sudah dia berikan untuk Magisa. Hatiku hancur tapi aku harus bertahan untuk anakku. Dengan berpikir bahwa Sunny adalah bagian dari Sidney yang bisa kumiliki seutuhnya, aku mantap untuk merelakannya saja. Tapi selalu saja aku meragukannya kemudian. Aku masih berharap untuk sebuah keajaiban yang mengembalikan semua yang harusnya menjadi milikku.
Tapi, keadaan selalu berubah-ubah seperti musim yang silih berganti.
Sore ketika aku pulang, satpam rumah mencegatku di depan pagar. Dia nggak mengizinkanku masuk.
“Maaf, Non Saira. Saya diperintahkan sama Nyonya untuk melarang Non Saira masuk...,” katanya.
“Apa?”
Kekesalanku hampir membuatku mengumpat pada satpam itu. Tapi apa gunanya? Dia hanya menjalankan tugas! Justru Mama yang keterlaluan dengan membuktikan ucapannya yang mengancam tempo hari. Kapan masalah berhenti bermain-main denganku?
Sore itu harusnya aku pergi ke rumah Pevi karena nggak bisa pulang, tapi kakiku seolah memiliki pikirannya sendiri dan membawaku ke sebuah rumah sakit; tempat di mana Adrian berada.
Aku menemuinya untuk meminta maaf. Aku pasrah akan apapun yang akan dia katakan atau lakukan padaku. Walau sedikit ketakutan saat melihatnya, namun aku harus meyakini dia akan menyelamatkan hidupku sekali lagi. Aku masih nggak mengerti kenapa dia masih bersedia memelukku setelah aku membuang jauh-jauh semua yang pernah dia berikan?
***


Komentar
0 comments