๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Membuat Keputusan
Tiba-tiba Mama memanggilku saat aku sedang bermain bersama
Sunny di halaman belakang. Dari cara Pak Didi memberitahuku, sepertinya Mama
begitu serius. Heran Mama bisa di rumah siang-siang begini. Dia menungguku di
ruang kerjanya dan kupikir ini pertanda baik.
“Mama sudah memikirkan hal ini berulang kali, Saira,” dia
berkata dengan nadanya yang biasa. Tegas dan angkuh. “Kamu sudah pulang dan
bisa menjaga anak kamu. Itu halyang bagus. Tapi, ada sesuatu yang cukup
mengganggu akhir-akhir ini.”
“Apa, Ma?” tanyaku ikut serius.
“Kamu tahu Mama mempunyai banyak teman dan kolega bisnis,” dia
memulai. “Mereka tahu bahwa Mama hanya memiliki seorang putri yang harusnya
saat ini sudah bisa mendampingi Mama bekerja. Dan sekarang mereka mulai
mempertanyakannya....”
“Maksud Mama?”
“Mama nggak ingin kamu muncul di hadapan mereka dengan anak
yang orang lain nggak tahu dari mana asalnya. Kamu tahu... itu sangat
mempengaruhi citra Mama di hadapan mereka,” katanya lagi dan aku mulai
keberatan dengan apa yang mungkin akan dikatakan Mama sebelumnya.
Aku tahu kemana pembicaraan ini berujung.
“Mama kenal seseorang dan Mama rasa dia sangat baik untuk
kamu. Tentu saja dia juga pasti bersedia menerima Sunny,”
“Mama menyuruhku menikah dengan pilihan Mama?” tanyaku.
Mama nggak langsung mengiyakan. Dia bersandar dengan nayaman
di kursinya sambil menggedikan bahu. “Kenapa nggak, Saira?” balasnya. “Itu baik
untuk Sunny yang nggak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.”
“Ma, aku nggak pernah minta Mama menyembunyikan Sunny hanya
supaya Mama nggak malu. Tapi, ini nggak adil, Ma. Sunny tetap punya ayah....”
“Berhenti di sana, Saira!” dia memerintah sambil menunjuk.
Aku telah memancing emosinya.
“Kamu memberitahu dia tentang Sunny?” tanya dia dan aku
diam. “Sunny memang berhak untuk tahu siapa ayahnya. Tapi, nggak sekarang.
Mungkin setelah dia sudah lebih besar dan bisa memahami apa yang terjadi sama
ibunya.”
Aku nggak tahu harus berkata apa lagi. Setiap Mama bicara
aku selalu kalah. Karena itu dulu aku lebih memilih menghindari Mama.
“Mama nggak mau melihat kamu menjadi perempuan yang lebih
buruk dari orang yang sudah mencelakai kamu itu dengan menjadi pihak ketiga.
Perempuan seperti itu jugalah yang sudah menghancurkan keluarga kita. Jadi
jangan sekali-kali kamu berpikir untuk memberitahu dia karena sudah Mama
pastikan kamu akan kembali padanya. Mama nggak mau, Saira.”
“Ma,...”
“Tolong Mama sekali ini saja, Saira. Apa Mama terlalu banyak
meminta sama kamu?”
Aku kembali terdiam.
“Kamu tahu kemarin Mama bertemu dengan siapa?” tanya Mama.
Aku hanya menatapnya.
“Perempuan itu, Saira. Orang yang harusnya membayar atas semua
yang terjadi ke kamu.”
Apa maksud Mama adalah Magisa?
“Kehadirannya sangat mengganggu Mama. Tapi, apa boleh buat.
Harus diakui maketnya sangat bagus. Walaupun Mama nggak suka pribadinya, Mama
tetap harus mengakui kehebatannya dan memutuskan untuk menerima dia menangani
salah satu proyek Mama. Saat itulah kamu harus muncul untuk menunjukan siapa
diri kamu yang sebenarnya di hadapan dia dengan ikut memimpin perusahaan
bersama Mama....”
“Fitnahnya bisa menghancurkan aku dalam keadaan apa pun,
Ma,” kataku sambil terkekeh. “Aku bosan berhadapan dengan dia.”
“Dia mungkin sudah kehabisan senjatanya. Kalau dia
melakukannya lagi, Mama tinggal mem-blacklist dia dan perusahaan property mana
pun nggak akan mau menerimanya. Dia juga pasti nggak menginginkannya,” kata
Mama. “Di luar itu, sebenarnya Mama hanya ingin kamu menata kehidupan kamu
lagi.”
“Aku bahkan nggak lulus SMA, Ma...,” kataku tertunduk, masih
keberatan dengan idenya.
“Sebuah ijazah nggak lebih dari sekedar legalitas, “ dia
menegaskan. “Siapa yang akan mempermasalahkan sekolah kamu?”
“Tapi, Mama tahu sendiri, aku ini bodoh dan....”
“Cukup, Saira! Sebelum kamu bertele-tele lagi, Mama sudah
harus memastikan bahwa kamu akan menikah dengan orang yang pantas buat kamu
kalau kamu nggak ingin ikut Mama mengurus perusahaan!”
Aku berdiri dari kursiku karena nggak terima bahkan di saat
dewasaku Mama masih berusaha memaksaku menjalankan keinginannya. Aku sama
sekali nggak mampu. “Siapa orang yang mau menerima Saira, Ma?! Dengan satu anak
yang lahir di luar nikah, pernah diperkosa dan dipenjara?! Apa dia bisa
menerima begitu saja tanpa mengharapkan sesuatu yang lain?!”
“Kalau kamu takut akan hal itu, apa salahnya kamu membantu
Mama di kantor?! Siapa yang akan meneruskannya kalau bukan kamu?!”
“Jadi pilihanku hanya dua? Menikah dengan yang Mama pilihkan
atau melakukan sesuatu yang aku nggak bisa?”
“Asalkan itu nggak membuat kamu kehilangan Sunny, kenapa
nggak?” balas Mama santai dan itu membuatku benar-benar marah. “Mama sudah tahu
kamu akan menentang apa pun yang Mama rencanakan. Walaupun di satu sisi Mama
mengira kamu sudah kapok membuat masalah dan kali ini akan mendengarkan Mama.
Tapi, kamu selalu memaksa Mama untuk melakukan apa yang seharusnya nggak Mama
lakukan!”
“Nggak gini caranya, Ma! Aku baru keluar dari penjara dan
Mama sudah harus menikahkanku karena malu! Kalau Mama malu sama aku, atau
karena Sunny, ya sudah, aku dan Sunny akan pergi dari sini!”
“Kamu tahu sekali itu bukan maksud Mama yang sebenarnya.
Kamu hanya memperburuk keadaan. Bukannya kamu sudah dewasa?”
Aku menggeleng berkali-kali, menolak semua ucapan Mama-ku
yang memaksa.
“Sekarang Mama memberi kamu pilihan yang lain. Ikut Mama
atau pergi menggelandang lagi di luar sana dengan catatan Sunny harus tinggal
dengan Mama. Mama nggak ingin keras kepala kamu malah mengorbankan Sunny.”
“Kenapa Mama selalu melakukan ini?” aku masih berusaha
protes. “Aku nggak ngerti sama Mama. Di satu sisi Mama ingin melindungi Sunny
tapi di sisi lain Mama menganggap Sunny adalah aib. Aku benar-benar nggak
ngerti....”
“Justru kamu yang nggak ngerti,” balas Mama sambil berdiri
dari kursi. Tampaknya dia bersiap ingin segera pergi. “Apa Mama harus mengurung
kamu agar mengerti?”
“Aku bukan anak kecil, Ma!” teriakku.
“Kalau begitu dewasalah!” balas Mama sambil berlalu dan meninggalkan
ruangan itu.
Saat itulah aku melihat Sunny berdiri di ambang pintu dengan
wajah cemas. Sepertinya dia baru saja mendengar perdebatan kami. Aku segera
berlari menghampirinya untuk memeluknya.
“Kenapa Oma marah?” dia bertanya di pelukanku.
“Nggak, Sayang...,” ujarku sambil memperhatikan Mama berlalu
dengan langkahnya yang arogan.
***


Komentar
0 comments