[Novel Romantis] Saira Ch. 34 (1/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Membuat Keputusan


Tiba-tiba Mama memanggilku saat aku sedang bermain bersama Sunny di halaman belakang. Dari cara Pak Didi memberitahuku, sepertinya Mama begitu serius. Heran Mama bisa di rumah siang-siang begini. Dia menungguku di ruang kerjanya dan kupikir ini pertanda baik.
“Mama sudah memikirkan hal ini berulang kali, Saira,” dia berkata dengan nadanya yang biasa. Tegas dan angkuh. “Kamu sudah pulang dan bisa menjaga anak kamu. Itu halyang bagus. Tapi, ada sesuatu yang cukup mengganggu akhir-akhir ini.”
“Apa, Ma?” tanyaku ikut serius.
“Kamu tahu Mama mempunyai banyak teman dan kolega bisnis,” dia memulai. “Mereka tahu bahwa Mama hanya memiliki seorang putri yang harusnya saat ini sudah bisa mendampingi Mama bekerja. Dan sekarang mereka mulai mempertanyakannya....”
“Maksud Mama?”
“Mama nggak ingin kamu muncul di hadapan mereka dengan anak yang orang lain nggak tahu dari mana asalnya. Kamu tahu... itu sangat mempengaruhi citra Mama di hadapan mereka,” katanya lagi dan aku mulai keberatan dengan apa yang mungkin akan dikatakan Mama sebelumnya.
Aku tahu kemana pembicaraan ini berujung.
“Mama kenal seseorang dan Mama rasa dia sangat baik untuk kamu. Tentu saja dia juga pasti bersedia menerima Sunny,”
“Mama menyuruhku menikah dengan pilihan Mama?” tanyaku.
Mama nggak langsung mengiyakan. Dia bersandar dengan nayaman di kursinya sambil menggedikan bahu. “Kenapa nggak, Saira?” balasnya. “Itu baik untuk Sunny yang nggak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.”
“Ma, aku nggak pernah minta Mama menyembunyikan Sunny hanya supaya Mama nggak malu. Tapi, ini nggak adil, Ma. Sunny tetap punya ayah....”
“Berhenti di sana, Saira!” dia memerintah sambil menunjuk.
Aku telah memancing emosinya.
“Kamu memberitahu dia tentang Sunny?” tanya dia dan aku diam. “Sunny memang berhak untuk tahu siapa ayahnya. Tapi, nggak sekarang. Mungkin setelah dia sudah lebih besar dan bisa memahami apa yang terjadi sama ibunya.”
Aku nggak tahu harus berkata apa lagi. Setiap Mama bicara aku selalu kalah. Karena itu dulu aku lebih memilih menghindari Mama.
“Mama nggak mau melihat kamu menjadi perempuan yang lebih buruk dari orang yang sudah mencelakai kamu itu dengan menjadi pihak ketiga. Perempuan seperti itu jugalah yang sudah menghancurkan keluarga kita. Jadi jangan sekali-kali kamu berpikir untuk memberitahu dia karena sudah Mama pastikan kamu akan kembali padanya. Mama nggak mau, Saira.”
“Ma,...”
“Tolong Mama sekali ini saja, Saira. Apa Mama terlalu banyak meminta sama kamu?”
Aku kembali terdiam.
“Kamu tahu kemarin Mama bertemu dengan siapa?” tanya Mama.
Aku hanya menatapnya.
“Perempuan itu, Saira. Orang yang harusnya membayar atas semua yang terjadi ke kamu.”
Apa maksud Mama adalah Magisa?
“Kehadirannya sangat mengganggu Mama. Tapi, apa boleh buat. Harus diakui maketnya sangat bagus. Walaupun Mama nggak suka pribadinya, Mama tetap harus mengakui kehebatannya dan memutuskan untuk menerima dia menangani salah satu proyek Mama. Saat itulah kamu harus muncul untuk menunjukan siapa diri kamu yang sebenarnya di hadapan dia dengan ikut memimpin perusahaan bersama Mama....”  
“Fitnahnya bisa menghancurkan aku dalam keadaan apa pun, Ma,” kataku sambil terkekeh. “Aku bosan berhadapan dengan dia.”
“Dia mungkin sudah kehabisan senjatanya. Kalau dia melakukannya lagi, Mama tinggal mem-blacklist dia dan perusahaan property mana pun nggak akan mau menerimanya. Dia juga pasti nggak menginginkannya,” kata Mama. “Di luar itu, sebenarnya Mama hanya ingin kamu menata kehidupan kamu lagi.”
“Aku bahkan nggak lulus SMA, Ma...,” kataku tertunduk, masih keberatan dengan idenya.
“Sebuah ijazah nggak lebih dari sekedar legalitas, “ dia menegaskan. “Siapa yang akan mempermasalahkan sekolah kamu?”
“Tapi, Mama tahu sendiri, aku ini bodoh dan....”
“Cukup, Saira! Sebelum kamu bertele-tele lagi, Mama sudah harus memastikan bahwa kamu akan menikah dengan orang yang pantas buat kamu kalau kamu nggak ingin ikut Mama mengurus perusahaan!”
Aku berdiri dari kursiku karena nggak terima bahkan di saat dewasaku Mama masih berusaha memaksaku menjalankan keinginannya. Aku sama sekali nggak mampu. “Siapa orang yang mau menerima Saira, Ma?! Dengan satu anak yang lahir di luar nikah, pernah diperkosa dan dipenjara?! Apa dia bisa menerima begitu saja tanpa mengharapkan sesuatu yang lain?!”
“Kalau kamu takut akan hal itu, apa salahnya kamu membantu Mama di kantor?! Siapa yang akan meneruskannya kalau bukan kamu?!”
“Jadi pilihanku hanya dua? Menikah dengan yang Mama pilihkan atau melakukan sesuatu yang aku nggak bisa?”
“Asalkan itu nggak membuat kamu kehilangan Sunny, kenapa nggak?” balas Mama santai dan itu membuatku benar-benar marah. “Mama sudah tahu kamu akan menentang apa pun yang Mama rencanakan. Walaupun di satu sisi Mama mengira kamu sudah kapok membuat masalah dan kali ini akan mendengarkan Mama. Tapi, kamu selalu memaksa Mama untuk melakukan apa yang seharusnya nggak Mama lakukan!”
“Nggak gini caranya, Ma! Aku baru keluar dari penjara dan Mama sudah harus menikahkanku karena malu! Kalau Mama malu sama aku, atau karena Sunny, ya sudah, aku dan Sunny akan pergi dari sini!”
“Kamu tahu sekali itu bukan maksud Mama yang sebenarnya. Kamu hanya memperburuk keadaan. Bukannya kamu sudah dewasa?”
Aku menggeleng berkali-kali, menolak semua ucapan Mama-ku yang memaksa.
“Sekarang Mama memberi kamu pilihan yang lain. Ikut Mama atau pergi menggelandang lagi di luar sana dengan catatan Sunny harus tinggal dengan Mama. Mama nggak ingin keras kepala kamu malah mengorbankan Sunny.”
“Kenapa Mama selalu melakukan ini?” aku masih berusaha protes. “Aku nggak ngerti sama Mama. Di satu sisi Mama ingin melindungi Sunny tapi di sisi lain Mama menganggap Sunny adalah aib. Aku benar-benar nggak ngerti....”
“Justru kamu yang nggak ngerti,” balas Mama sambil berdiri dari kursi. Tampaknya dia bersiap ingin segera pergi. “Apa Mama harus mengurung kamu agar mengerti?”
“Aku bukan anak kecil, Ma!” teriakku.
“Kalau begitu dewasalah!” balas Mama sambil berlalu dan meninggalkan ruangan itu.
Saat itulah aku melihat Sunny berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas. Sepertinya dia baru saja mendengar perdebatan kami. Aku segera berlari menghampirinya untuk memeluknya.
“Kenapa Oma marah?” dia bertanya di pelukanku.
“Nggak, Sayang...,” ujarku sambil memperhatikan Mama berlalu dengan langkahnya yang arogan.
***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments