๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Setelah mengobrol sambil makan siang di mall, aku sempat
menemani Pevi berbelanja baju dan kebetulan yang kukenakan sangat jauh dari
sosok ‘Saira’ yang pernah dia kenal. Pevi ingin mengembalikan sosokku yang
dulu; paling tidak gayanya karena menurutnya masih belum terlambat menjadi
seorang hot mom yang kekinian. Aku hanya perlu ke salon, memotong rambut
dan melakukan sesuatu dengan kulitku yang kusam.
“Eh, by the way,
lo belum nemuin Adrian sejak balik ke sini?” tanya Pevi saat kami dalam
perjalanan menuju rumahnya dengan taksi.
Aku ingat, aku kembali mengacaukan situasi dengan Adrian
baru-baru ini sehingga aku masih enggan untuk mendatanginya dan menjelaskan
yang sebenarnya. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan ekspresi
lelah.
“Gue nggak pernah lagi ketemu Adrian lagi lho belakangan
ini. Kayaknya dia sengaja banget gitu, menghindari gue. Entah karena gue pingin
tahu banget dan dia masih belum pegang kepastian apa-apa dari lo,” jelas dia,
nyerocos lagi.
“Itu dia masalahnya...,” kataku sambil menyapukan helaian
rambut poniku yang panjang ke belakang. “Gue... mungkin bikin dia kecewa berat
lagi deh kali ini....”
“Lo nggak bilang supaya dia ngelupain lo karena lo udah
ketemu lagi sama cinta mati lo di Australia ‘kan?”
Aku menggeleng dan kembali gelisah sambil menggigit kuku
dengan tangan gemetaran.
Pevi menatapku curiga. “Adrian udah tahu kalau lo ketemu
sama Sidney di sana?” dia mengulang pertanyaannya lagi.
Aku mengangguk pelan kali ini sambil memejamkan mataku untuk
menenangkan perasaanku. “Gue nelpon dia pakai handphone-nya Sidney...,”
jawabku.
“Apa?!” Pevi menjerit sampai supit taksi ikut kaget. Dia
menatapku sambil melotot. “Lo sinting?!”
“Gue nggak bisa apa-apa. Tiket pulang dicuri. Uang juga gue
nggak punya, Pev. Gue juga nggak nyangka ketemu Sidney. Saat itu gue pikir,
Adrian bisa bantuin gue pulang. Paling nggak setelah itu gue niat menerima
lamaran dia... tapi... gue nggak punya pilihan....”
“Terus Sidney tahu lo nelpon Adrian?” Pevi masih melotot
padaku. “Lo cerita juga ke Sidney kalau ada cowok yang mencintai lo lebih dari
dia?”
“Sidney nggak tahu soal Adrian... waktu gue pakai handphone
Sidney gue bilang mau telepon bokap...,” jelasku, berusaha terlihat cukup
khawatir agar Pevi nggak terus-terusan melotot. Aku tahu yang aku lakukan
salah. “Saat Adrian nanya gue pakai telepon siapa, gue jawab dengan jujur kalau
gue ketemu Sidney.....”
“Reaksinya gimana?”
“Adrian nggak komentar tapi gue tahu kalau dia... kecewa.
Terus dia matiin teleponnya gitu aja....”
“Sumpah ya kenapa gue bisa punya teman cakep tapi begonya
nggak ketulungan kayak lo, Sai?! Ngapain lo minta tiket pulang ke Adrian kalau
udah ketemu sama miliarder yang juga jatuh cinta setengah mati sama lo?! Toh
juga pulangnya dibayarin Sidney!”
“Gue... gue... cuma kepikiran untuk menghindar. Gimana pun
gue udah janji bakal nemuin Adrian secepatnya... gue cuma nggak mau berubah
pikiran hanya karena ketemu Sidney....”
“Dan nyatanya lo berhasil nostalgila bareng dia!” Pevi
bertambah histeris. “Sekarang jawab dengan jujur ke gue, selama itu kalian
ngapain aja?”
Jantungku berdebar keras saat Pevi kembali menyipitkan
matanya. Aku nggak menyangka Pevi bisa setajam itu terhadapku walaupun nyaris
nggak bisa menyembunyikan apa-apa. Aku merasakan kekalahanku pada
kecurigaannya.
“Gue ke... Sydney Opera House aja...,” jawabku menghindari
tatapannya tapi Pevi masih mengincar arah tatapanku.
“Yakin?” dia mendesakku. “Nggak ada sesuatu yang lain
misalnya?”
“Nggak ada...,” jawabku cemas.
“Gue nggak percaya! Tujuh tahun, Saira. Lo nggak ketemu
Sidney William Adams yang bikin lo nggak bisa mengendalikan masa puber lo!” dia
semakin tajam saja mencecarku. “Nggak mungkin dia puas hanya dengan ucapan
terima kasih! Setelah dia tahu lo dipenjara, nggak mungkin dia bisa nahan diri
untuk nggak meluk-meluk lo... itu bullshit!
Dia ‘kan setengah bule, pasti main cium-cium ‘kan?!”
“Lo apaan sih?!” teriakku panik. “Kenapa lo malah
maksa-maksa gue?!”
Pevi tersenyum sinis. “Tuh ‘kan. Bener!” dia menunjukku
sambil tertawa.
“Lo mau bikin gue malu di depan supir taksi?!” balasku
sampai supir taksi kembali melirik lagi dari kaca spion.
“Iyeee!” celetuknya sambil menyandarkan punggungnya dan
mengalihkan pandangan ke luar. “Nggak semudah itu buat lo menghindari pesona
cowok magang yang bikin satu sekolah histeris karena kedatangannya....”
“Gue dan Sidney nggak akan kembali bersama, Pev...,” kataku
meyakinkannya.
Pevi kembali mendesah berat. “Terus sekarang gimana? Sidney
udah balik ke istrinya dan sayang-sayangan lagi sementara lo udah bikin
satu-satunya cowok yang mencintai lo dengan tulus benar-benar berhenti
berharap...,” gerutunya.
“Gue juga bingung...,” gumamku. “Kemarin Sunny juga bilang
mau ketemu Pak Dokter-nya, tapi gue nggak berani janji.”
“Ya sih, Sunny dekat banget sama Adrian. Mungkin udah
dianggap kayak bapaknya sendiri. Tahu ‘kan itu boneka kelinci yang udah lusuh
selalu dibawa ke mana-mana? Boneka itu Adrian yang kasih pas dia baru lahir.
Selama tinggal sama gue ‘kan juga Adrian yang ngasih kita duit buat beli semua
kebutuhannya Sunny. Kurang apa lagi coba sampai lo berani nelpon dia dari
handphone orang yang bikin dia cemburu?”
“Tapi, gue sama Sidney selesai. Nggak ada alasan lagi buat
ketemu....”
“Ya udah deh. Gue punya ide. Lo bisa jadiin Sunny alasan
untuk ketemu sama Adrian lagi,” usul Pevi yang membuatku memeluknya sangat erat
di dalam taksi; lagi-lagi supir taksi yang kepo mengintip lewat spion.
“Gue cinta sama lo, Pev!” teriakku.
“Lo bullshit!”
celetuknya berpura-pura cemberut sebelum ia tertawa membalas pelukanku.
***

Sebelum jam lima kami sudah sampai di rumahnya Pevi; di mana
orang tuanya tinggal dan pernah mengasuh Sunny. Rasanya orang pertama yang
pantas kutemui lebih dulu adalah Mama-nya Pevi. Taksi berhenti nggak jauh dari
gang rumah Pevi karena jalan sempit nggak ada mobil yang bisa masuk. Kami harus
jalan kaki sekitar 50 meter lagi untuk sampai ke rumahnya Pevi.
Tapi, kami nggak menyangka akan dihampiri oleh seseorang
yang paling nggak ingin kulihat saat ini. Magisa, si kawat gigi.
“Senang banget ya bisa lihat kalian reunian lagi,” tegur dia
dengan tatapan angkuhnya. Si cupu berkawat gigi itu sudah jauh berubah.
Tampilannya ala nyonya kaya dengan barang mahal sekujur badan; mulai dari
sepatu hingga rambutnya yang sekarang dicat pirang.
“Iya senang banget bisa reunian sama teman lama daripada
keluyuran sendirian nggak jelas,” balas Pevi.
“Sorry, apa gue kenal lo?” dia bertanya sambil bertolak
pinggang pada Pevi. “Eh, lo si Pevita gendut ‘kan?”
“Eh iya, lo si kawat gigi yang punya mading tukang fitnah
‘kan?” balas Pevi sambil ikut bertolak pinggang. “Mau apa lo ke sini?”
Wajah Magisa berubah cemberut. Kekesalan tampak memadat di
sana seakan ia ingin menghampiri Pevi dan menjambak rambutnya. Tapi, ia berdiri
tegap dan berusaha tidak gentar.
“Lo mau apa ke sini?” tanyaku sambil memutar mataku. Aku
ingin segera pergi sebelum kesialan kembali terjadi padaku.
“Jangan pura-pura nggak tahu alasan kenapa gue ke sini,
Saira!” tantangya dengan nada sinis. “Lo pikir gue bakal diam aja setelah tahu
kalau lo sempat-sempatnya tidur bareng suami gue di hotel? Dasar lacur lo!”
Pevi terkekeh. “Kenapa lo malah nyari Saira? Kenapa nggak
tanya langsung aja sama suami lo?” celetuknya. “Mungkin aja dia masih cinta
sama Saira karena toh dia kawin sama lo kepaksa dan nggak mau lagi dikutin ke
mana-mana sama lo!”
“Gue nggak ngomong sama lo! Jangan ikut campur!” teriaknya
sambil menunjuk-nunjuk Pevi.
Pevi hampir saja maju untuk menjambak rambutnya saat aku
menarik kembali Pevi untuk menjauh. Justru aku yang maju beberapa langkah untuk
menghadapinya. Aku sudah muak dengan perempuan ini.
“Jadi setelah lo tahu, lo mau apa?” balasku, sambil ikut
bertolak pinggang. “Lo mau ngerayu siapa lagi buat nyulik gue terus ngebunuh
gue?”
Magisa memperlihatkan senyum sinis. “Lo ngebales gue
rupanya?”
Aku tersenyum. “Apa ya namanya?” balasku. “Lo boleh pakai
barang mahal atau ke salon ekslusif buat merubah penampilan lo, tapi di dalam
sana hati lo tetap aja busuk. Walaupun lo udah nggak pakai kawat gigi, tetap
aja lo itu adalah dia, si kawat gigi yang paling menyedihkan di sekolah. Semua
orang berubah, tapi lo? Lo tetap aja seorang pembohong!”
“Lo jangan macam-macam sama gue, Sai!” dia mulai menunjukku
dengan ekspresi geram. “Gue bisa menghancurkan kehidupan lo sekali lagi kalau
lo berani mengganggu Sidney!”
“Dasar freak lo
ya!” celetuk Pevi di belakangku lalu tertawa meledek.
Aku ikut tersenyum. “Lo jangan sok deh, Gigi!” kataku. “Lo
pikir Sidney menikahi lo karena cinta? Lo itu nggak lebih dari sekedar pelarian
buat dia karena kepergian gue! Lo mau nyangkal? Kalau nggak, kenapa dia masih
aja tergoda sama gue? Enam tahun lalu lo pura-pura di depan gue supaya masuk
jebakan lo, dia nggak bakal tahu itu nanti? Gue bisa bikin dia ninggalin lo
kalau gue mau! Tapi, maaf ya, gue nggak serendah itu karena gue nggak mau
disamain sama perempuan kayak lo!”
Aku nggak tahu dari mana kata-kata yang kuucapkan dengan
amarah meledak-ledak itu. Tahu-tahu bibirku nggak bisa berhenti mengatakannya.
Tapi, di dalam hatiku, aku tahu bahwa itu kukatakan hanya untuk memanas-manasi
Magisa yang mulai terpancing emosi.
“Lo udah salah banget nyerang gue ke sini,” kataku pelan dan
dalam. “Sampai kapan sih lo mau bohongin orang?”
“Diem lo!”
Aku tertawa untuk membuatnya terganggu dan menarik mundur
dirinya.
“Dulu lo bisa seenak jidat memfitnah gue! Sekarang kalau lo
mengganggu kehidupan gue lagi, gantian gue yang bikin lo nyesal!” ancamku
hingga akhirnya dia mundur lalu memilih pergi dengan mobil sedan mahalnya.
Aku yakin di rumah dia akan membuat skenario baru untuk
Sidney agar kisahku nggak menyentuh keutuhan pernikahan mereka. Tapi, aku sudah
nggak peduli.
“Gue senang lo bisa ngebalas dia juga akhirnya,” kata Pevi,
“dengan kata-kata yang nggak bisa dia balas.”
“Gue bakal ngelindungin anak gue,” jawabku dengan pasti.
“Walaupun ada seribu orang Magisa Sunariya di dunia ini....”
***
Komentar
0 comments