[Novel Romantis] Saira Ch. 33 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Setelah mengobrol sambil makan siang di mall, aku sempat menemani Pevi berbelanja baju dan kebetulan yang kukenakan sangat jauh dari sosok ‘Saira’ yang pernah dia kenal. Pevi ingin mengembalikan sosokku yang dulu; paling tidak gayanya karena menurutnya masih belum terlambat menjadi seorang hot mom yang kekinian. Aku hanya perlu ke salon, memotong rambut dan melakukan sesuatu dengan kulitku yang kusam.

“Eh, by the way, lo belum nemuin Adrian sejak balik ke sini?” tanya Pevi saat kami dalam perjalanan menuju rumahnya dengan taksi.

Aku ingat, aku kembali mengacaukan situasi dengan Adrian baru-baru ini sehingga aku masih enggan untuk mendatanginya dan menjelaskan yang sebenarnya. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan ekspresi lelah.

“Gue nggak pernah lagi ketemu Adrian lagi lho belakangan ini. Kayaknya dia sengaja banget gitu, menghindari gue. Entah karena gue pingin tahu banget dan dia masih belum pegang kepastian apa-apa dari lo,” jelas dia, nyerocos lagi.

“Itu dia masalahnya...,” kataku sambil menyapukan helaian rambut poniku yang panjang ke belakang. “Gue... mungkin bikin dia kecewa berat lagi deh kali ini....”

“Lo nggak bilang supaya dia ngelupain lo karena lo udah ketemu lagi sama cinta mati lo di Australia ‘kan?”

Aku menggeleng dan kembali gelisah sambil menggigit kuku dengan tangan gemetaran.

Pevi menatapku curiga. “Adrian udah tahu kalau lo ketemu sama Sidney di sana?” dia mengulang pertanyaannya lagi.

Aku mengangguk pelan kali ini sambil memejamkan mataku untuk menenangkan perasaanku. “Gue nelpon dia pakai handphone-nya Sidney...,” jawabku.

“Apa?!” Pevi menjerit sampai supit taksi ikut kaget. Dia menatapku sambil melotot. “Lo sinting?!”

“Gue nggak bisa apa-apa. Tiket pulang dicuri. Uang juga gue nggak punya, Pev. Gue juga nggak nyangka ketemu Sidney. Saat itu gue pikir, Adrian bisa bantuin gue pulang. Paling nggak setelah itu gue niat menerima lamaran dia... tapi... gue nggak punya pilihan....”

“Terus Sidney tahu lo nelpon Adrian?” Pevi masih melotot padaku. “Lo cerita juga ke Sidney kalau ada cowok yang mencintai lo lebih dari dia?”

“Sidney nggak tahu soal Adrian... waktu gue pakai handphone Sidney gue bilang mau telepon bokap...,” jelasku, berusaha terlihat cukup khawatir agar Pevi nggak terus-terusan melotot. Aku tahu yang aku lakukan salah. “Saat Adrian nanya gue pakai telepon siapa, gue jawab dengan jujur kalau gue ketemu Sidney.....”

“Reaksinya gimana?”

“Adrian nggak komentar tapi gue tahu kalau dia... kecewa. Terus dia matiin teleponnya gitu aja....”

“Sumpah ya kenapa gue bisa punya teman cakep tapi begonya nggak ketulungan kayak lo, Sai?! Ngapain lo minta tiket pulang ke Adrian kalau udah ketemu sama miliarder yang juga jatuh cinta setengah mati sama lo?! Toh juga pulangnya dibayarin Sidney!”

“Gue... gue... cuma kepikiran untuk menghindar. Gimana pun gue udah janji bakal nemuin Adrian secepatnya... gue cuma nggak mau berubah pikiran hanya karena ketemu Sidney....”

“Dan nyatanya lo berhasil nostalgila bareng dia!” Pevi bertambah histeris. “Sekarang jawab dengan jujur ke gue, selama itu kalian ngapain aja?”

Jantungku berdebar keras saat Pevi kembali menyipitkan matanya. Aku nggak menyangka Pevi bisa setajam itu terhadapku walaupun nyaris nggak bisa menyembunyikan apa-apa. Aku merasakan kekalahanku pada kecurigaannya.

“Gue ke... Sydney Opera House aja...,” jawabku menghindari tatapannya tapi Pevi masih mengincar arah tatapanku.

“Yakin?” dia mendesakku. “Nggak ada sesuatu yang lain misalnya?”

“Nggak ada...,” jawabku cemas.

“Gue nggak percaya! Tujuh tahun, Saira. Lo nggak ketemu Sidney William Adams yang bikin lo nggak bisa mengendalikan masa puber lo!” dia semakin tajam saja mencecarku. “Nggak mungkin dia puas hanya dengan ucapan terima kasih! Setelah dia tahu lo dipenjara, nggak mungkin dia bisa nahan diri untuk nggak meluk-meluk lo... itu bullshit! Dia ‘kan setengah bule, pasti main cium-cium ‘kan?!”

“Lo apaan sih?!” teriakku panik. “Kenapa lo malah maksa-maksa gue?!”

Pevi tersenyum sinis. “Tuh ‘kan. Bener!” dia menunjukku sambil tertawa.

“Lo mau bikin gue malu di depan supir taksi?!” balasku sampai supir taksi kembali melirik lagi dari kaca spion.

“Iyeee!” celetuknya sambil menyandarkan punggungnya dan mengalihkan pandangan ke luar. “Nggak semudah itu buat lo menghindari pesona cowok magang yang bikin satu sekolah histeris karena kedatangannya....”

“Gue dan Sidney nggak akan kembali bersama, Pev...,” kataku meyakinkannya.

Pevi kembali mendesah berat. “Terus sekarang gimana? Sidney udah balik ke istrinya dan sayang-sayangan lagi sementara lo udah bikin satu-satunya cowok yang mencintai lo dengan tulus benar-benar berhenti berharap...,” gerutunya.

“Gue juga bingung...,” gumamku. “Kemarin Sunny juga bilang mau ketemu Pak Dokter-nya, tapi gue nggak berani janji.”

“Ya sih, Sunny dekat banget sama Adrian. Mungkin udah dianggap kayak bapaknya sendiri. Tahu ‘kan itu boneka kelinci yang udah lusuh selalu dibawa ke mana-mana? Boneka itu Adrian yang kasih pas dia baru lahir. Selama tinggal sama gue ‘kan juga Adrian yang ngasih kita duit buat beli semua kebutuhannya Sunny. Kurang apa lagi coba sampai lo berani nelpon dia dari handphone orang yang bikin dia cemburu?”

“Tapi, gue sama Sidney selesai. Nggak ada alasan lagi buat ketemu....”

“Ya udah deh. Gue punya ide. Lo bisa jadiin Sunny alasan untuk ketemu sama Adrian lagi,” usul Pevi yang membuatku memeluknya sangat erat di dalam taksi; lagi-lagi supir taksi yang kepo mengintip lewat spion.

“Gue cinta sama lo, Pev!” teriakku.

“Lo bullshit!” celetuknya berpura-pura cemberut sebelum ia tertawa membalas pelukanku.

***

Sebelum jam lima kami sudah sampai di rumahnya Pevi; di mana orang tuanya tinggal dan pernah mengasuh Sunny. Rasanya orang pertama yang pantas kutemui lebih dulu adalah Mama-nya Pevi. Taksi berhenti nggak jauh dari gang rumah Pevi karena jalan sempit nggak ada mobil yang bisa masuk. Kami harus jalan kaki sekitar 50 meter lagi untuk sampai ke rumahnya Pevi.

Tapi, kami nggak menyangka akan dihampiri oleh seseorang yang paling nggak ingin kulihat saat ini. Magisa, si kawat gigi.

“Senang banget ya bisa lihat kalian reunian lagi,” tegur dia dengan tatapan angkuhnya. Si cupu berkawat gigi itu sudah jauh berubah. Tampilannya ala nyonya kaya dengan barang mahal sekujur badan; mulai dari sepatu hingga rambutnya yang sekarang dicat pirang.

“Iya senang banget bisa reunian sama teman lama daripada keluyuran sendirian nggak jelas,” balas Pevi.

“Sorry, apa gue kenal lo?” dia bertanya sambil bertolak pinggang pada Pevi. “Eh, lo si Pevita gendut ‘kan?”

“Eh iya, lo si kawat gigi yang punya mading tukang fitnah ‘kan?” balas Pevi sambil ikut bertolak pinggang. “Mau apa lo ke sini?”

Wajah Magisa berubah cemberut. Kekesalan tampak memadat di sana seakan ia ingin menghampiri Pevi dan menjambak rambutnya. Tapi, ia berdiri tegap dan berusaha tidak gentar.

“Lo mau apa ke sini?” tanyaku sambil memutar mataku. Aku ingin segera pergi sebelum kesialan kembali terjadi padaku.

“Jangan pura-pura nggak tahu alasan kenapa gue ke sini, Saira!” tantangya dengan nada sinis. “Lo pikir gue bakal diam aja setelah tahu kalau lo sempat-sempatnya tidur bareng suami gue di hotel? Dasar lacur lo!”

Pevi terkekeh. “Kenapa lo malah nyari Saira? Kenapa nggak tanya langsung aja sama suami lo?” celetuknya. “Mungkin aja dia masih cinta sama Saira karena toh dia kawin sama lo kepaksa dan nggak mau lagi dikutin ke mana-mana sama lo!”

“Gue nggak ngomong sama lo! Jangan ikut campur!” teriaknya sambil menunjuk-nunjuk Pevi.

Pevi hampir saja maju untuk menjambak rambutnya saat aku menarik kembali Pevi untuk menjauh. Justru aku yang maju beberapa langkah untuk menghadapinya. Aku sudah muak dengan perempuan ini.

“Jadi setelah lo tahu, lo mau apa?” balasku, sambil ikut bertolak pinggang. “Lo mau ngerayu siapa lagi buat nyulik gue terus ngebunuh gue?”

Magisa memperlihatkan senyum sinis. “Lo ngebales gue rupanya?”

Aku tersenyum. “Apa ya namanya?” balasku. “Lo boleh pakai barang mahal atau ke salon ekslusif buat merubah penampilan lo, tapi di dalam sana hati lo tetap aja busuk. Walaupun lo udah nggak pakai kawat gigi, tetap aja lo itu adalah dia, si kawat gigi yang paling menyedihkan di sekolah. Semua orang berubah, tapi lo? Lo tetap aja seorang pembohong!”

“Lo jangan macam-macam sama gue, Sai!” dia mulai menunjukku dengan ekspresi geram. “Gue bisa menghancurkan kehidupan lo sekali lagi kalau lo berani mengganggu Sidney!”

“Dasar freak lo ya!” celetuk Pevi di belakangku lalu tertawa meledek.

Aku ikut tersenyum. “Lo jangan sok deh, Gigi!” kataku. “Lo pikir Sidney menikahi lo karena cinta? Lo itu nggak lebih dari sekedar pelarian buat dia karena kepergian gue! Lo mau nyangkal? Kalau nggak, kenapa dia masih aja tergoda sama gue? Enam tahun lalu lo pura-pura di depan gue supaya masuk jebakan lo, dia nggak bakal tahu itu nanti? Gue bisa bikin dia ninggalin lo kalau gue mau! Tapi, maaf ya, gue nggak serendah itu karena gue nggak mau disamain sama perempuan kayak lo!”

Aku nggak tahu dari mana kata-kata yang kuucapkan dengan amarah meledak-ledak itu. Tahu-tahu bibirku nggak bisa berhenti mengatakannya. Tapi, di dalam hatiku, aku tahu bahwa itu kukatakan hanya untuk memanas-manasi Magisa yang mulai terpancing emosi.

“Lo udah salah banget nyerang gue ke sini,” kataku pelan dan dalam. “Sampai kapan sih lo mau bohongin orang?”

“Diem lo!”

Aku tertawa untuk membuatnya terganggu dan menarik mundur dirinya. 

“Dulu lo bisa seenak jidat memfitnah gue! Sekarang kalau lo mengganggu kehidupan gue lagi, gantian gue yang bikin lo nyesal!” ancamku hingga akhirnya dia mundur lalu memilih pergi dengan mobil sedan mahalnya.

Aku yakin di rumah dia akan membuat skenario baru untuk Sidney agar kisahku nggak menyentuh keutuhan pernikahan mereka. Tapi, aku sudah nggak peduli.

“Gue senang lo bisa ngebalas dia juga akhirnya,” kata Pevi, “dengan kata-kata yang nggak bisa dia balas.”

“Gue bakal ngelindungin anak gue,” jawabku dengan pasti. “Walaupun ada seribu orang Magisa Sunariya di dunia ini....”


***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments