๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kami sama sekali nggak mengucapkan selamat tinggal ketika
dia mengantarku ke bandara keesokan pagi. Kupikir itu adalah perpisahan yang
paling kuinginkan walaupun hatiku nggak sepenuhnya bisa menerima. Seandainya
bukan perempuan itu; aku mungkin akan mengatakan semua yang harusnya Sidney
tahu. Tapi, dia adalah Magisa; perempuan itu telah menghancurkan seluruh
kehidupanku. Aku juga nggak ingin dia melakukan hal yang sama pada anakku. Perempuan
itu selalu punya celah untuk masuk dan menghancurkan sesuatu secara diam-diam
dan rapi. Aku harus menjauhkan Sunny darinya meski itu artinya aku harus
menjauhkan dia dari ayahnya juga. Itu adalah alasan yang logis mengapa aku
memilih diam dan pergi.
Setelah kembali ke Indonesia, kehidupanku dimulai dari nol.
Aku pulang ke rumah hanya untuk bertemu dengan Sunny yang telah berusia enam
tahun lebih. Dia sudah jauh lebih besar dari saat terakhir melihatnya. Nggak
ada satu tempat pun yang pantas di sebut rumah selain dari sisinya walaupun aku
harus berhadapan dengan Mama yang masih belum terlalu banyak bicara denganku.
Aku merindukan kamarku di mana ada tempat tidur yang nyaman,
dinding ungu yang ditempeli gambar-gambar supermodel dunia, TV dan koleksi DVD
romantis yang belum semuanya kutonton. Semua itu masih di sana seakan
menungguku kembali. Tapi, kamar ini sudah nggak cocok lagi untuk perempuan
dewasa yang memiliki anak berusia enam tahun.
Aku menengok ke dalam lemari di mana bajuku yang menurut
Mama sempit masih tergantung di tempatnya dengan rapi. Ketika membukanya, aku
merasa melihat Ananda yang sedang asyik memilih baju dengan gembira. Aku juga
merindukannya hingga tiba-tiba air mataku menetes. Aku duduk di tempat di mana
ia pernah berada sambil memandangi sekelilingku hanya untuk mengenangnya.
Tiba-tiba Sunny sudah berdiri di pintu lemari dengan boneka
kelincinya.
“Mama...,” dia memanggilku dengan cemas; mungkin karena
melihatku menangis.
Aku berusaha tersenyum sambil merentangkan tanganku. “Ayo
sini, Sayang...,” ucapku menantinya sampai ke dekapanku.
Sunny mendekat dan aku memeluknya dengan erat sambil menyeka
air mataku. Aku bersyukur kepedihanku hampir segera berlalu.
Setelah rasanya cukup, aku pergi menemui satu-satunya
sahabatku yang tersisa. Aku belum memberitahu Pevi tentang kedatanganku dan
pasti akan sangat terkejut melihatku sudah hadir di depan matanya secara
tiba-tiba.
Aku nggak menyangka Pevi meneruskan pekerjaanku yang dulu;
seorang model. Bedanya Pevi bukan gadis sampul, dia dikontrak oleh sebuah brand
baju yang cukup terkenal untuk berpose dengan koleksi gaunnya yang indah.
Impian yang dia hanyutkan di dalam botol ternyata telah menjadi kenyataan;
bahkan lebih dari yang ia minta. Dengar-dengar Pevi sudah sering gonta ganti
pacar karena menurutnya nggak ada yang serius.
Saat kami bertemu di studio foto tempat ia sedang
pemotretan, kami sempat membicarakan masa lalu sebentar. Tentang impian-impian
yang kami hanyutkan bersama dan menyebutkan mana saja yang telah menjadi
kenyataan. Ternyata nggak semua yang dikabulkan. Badai kehidupan membawa setiap
orang ke jalan yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Gue ingat, kayaknya cuma sekali lo nulis permohonan yang
nggak ada hubungannya sama Sidney,” dia menyipitkan matanya. “Waktu lo bilang
mau ketemu sama bokap lo. Ya ‘kan?”
Aku tersenyum hampa sambil mengangguk. “Ya, gue lupa apa aja
yang pernah gue tulis. Sebagian besarnya...,” jelasku.
“Ada banyak permohonan, Sai,” dia mengingatkan sambil
menatapku hangat. Lalu memegangi bahuku. “Satu hal yang paling gue ingat adalah
lo pernah bilang ingin menikah dengan Sidney....”
Aku mengangguk lagi sambil menarik nafas. Kenangan itu
hampir membuatku menangis lagi. “Lo ‘kan tahu kalau gue tolol. Kuliah mau
dijurusan apa? Jadi model lagi juga nama gue udah tercemar ke mana-mana. Saat
itu gue merasa hanya Sidney yang bisa menyelamatkan gue dari kehidupan gue yang
ngebosenin,” jelasku sambil menyeka setetes kecil di sudut mataku. Aku menatap
Pevi lagi walau aku nggak sanggup menahan tangisku. “Cuma itu yang gue tahu.
Karena dia keren, kaya, dan Mama gue pasti nggak akan nolak kalau Sidney
ngelamar gue. Gue... naif banget ya?”
“Yaah, gue juga naif banget, Sai...,” ujar Pevi. “Gue maunya
punya pacar yang romantis dan bisa menerima gue apa adanya. Akhirnya gue memang
punya pacar, setelah kurus pastinya. Tapi, lo tahu apa? Gue ngerasa cowok itu
cuma ngelihat dari fisiknya aja. Dia belum tentu menerima gue saat gue masih
gendut, jelek, dan nggak populer. Sampai sekarang itu alasan gue nggak mau
pacaran lagi untuk sementara....”
Aku diam dan mengamati Pevi yang ikutan sedih.
“Sai, lo tahu nggak, impian itu jauh lebih indah saat kita
belum memilikinya?” dia berkata lagi sambil menatapku. “Setelah kita
mendapatkannya, ternyata semua nggak seperti yang kita bayangin. Memang sih
tanpa impian kita nggak akan berubah jadi lebih baik dan sebuah proses nggak
akan mengkhianati hasil. Tapi... terkadang impian itu kejam, Sai....”
“Kenapa?”
“Karena untuk sebuah impian, terkadang kita harus
mengorbankan banyak hal yang sebenarnya penting buat kita melebihi impian itu
sendiri...,”
“Kenapa lo berpikiran seperti itu?”
Pevi tertawa pelan. “Tapi, lo nggak usah kepikiran soal
itu,” ia berujar kemudian. “Karena di satu sisi, impian menjaga seseorang untuk
terus hidup dan bertahan....”
Aku tersenyum. Dia benar sekali.
Setelah ngobrol sebentar di tempat pemotretan kami lanjut ke
cafe mall yang ada di pusat kota. Rasanya sehari dua hari nggak akan cukup
untuk menumpahkan segala kegelisahanku atas apa yang terjadi. Hanya Pevi yang
membuatku lepas dari semua beban yang bertengger di pundakku belakangan ini.
***
“Gue terus terang...,” Pevi menatapku lekat-lekat. Tatapan
matanya yang melotot itu tampak menunjukan kalau ia nggak percaya dengan apa
yang baru saja kuberitahu. “sama sekali nggak nyangka kalau... Sidney dan si
kawat gigi... menikah... dan gue nggak mau dengar ada embel-embel happily ever after di belakangnya.”
Pevi menggeleng-geleng, masih nggak percaya. “Gue perlu tahu
kenapa Sidney bisa betah menikah sama psikopat itu!” dia mulai histeris.
“Seperti yang lo tahu, kita hidup karena impian tapi buat si kawat gigi kebohongan adalah cara dia
tetap hidup...,” balasku sambil minum sodaku. “Yang pasti dia nggak pernah
bilang sama Sidney kalau gue ketemu dia di bandara apalagi hal-hal jahat yang
dia lakuin setelah itu ke gue.”
“Bisa-bisanya dia melenggang bebas seolah nggak ada hubungan
sama kejadian yang bikin lo celaka, Sai?” Pevi masih melotot.
Aku menatapnya dengan santai. “Nggak ada yang bisa
membuktikannya. Supir taksinya nggak ngaku dan gengnya Wenchester nggak kenal
sama si kawat gigi. Mereka bilang gue mengarang cerita dengan melibatkan orang
lain yang sebenarnya sama sekali nggak ada.”
Pevi hanya menatapku prihatin. Mungkin sudah nggak ada
kata-kata baginya untuk bisa mengungkapkan perasaannya yang kesal setengah mati
selain sumpah serapah, makian dan sejenisnya. Dia tahu percuma emosi karena toh
si kawat gigi sudah bahagia seperti ungkapan yang paling dia benci itu, Happily
Ever After.
“Dia bahkan nggak dipanggil sebagai saksi,” hanya itu yang
dia katakan.
“Dia dilindungi oleh keluarga Wenchester supaya bisa terus
nyeret gue ke penjara. Gue pikir itu alasan yang paling masuk akal.”
“Kenapa keluarga bule itu mau repot-repot melindungi dia?
Kalau gitu apa hubungan apa si kawat gigi sama mereka?”
“Kalau polisi benar-benar niat ngebebasin gue, dia cuma
tinggal ngecek penumpang pesawatnya. Pasti ketemu tapi entah kenapa ada sesuatu
yang terus menghalang-halangi kebenaran dalam kasus gue. Kayaknya itu
konspirasi balas dendam seolah gue ngebunuh putra mahkota kerajaan mana
gitu....”
“Luar biasa ya si kawat gigi. Kayaknya mudah banget dia
ketemu sama orang-orang yang seide sama dia untuk ngebalas musuh
bebuyutannya....”
“Dia emang beruntung. Gue akui, Pev. Dia mendapatkan
semuanya. Gue punya firasat Wenchester yang gue bunuh itu ada hubungannya sama
dia karena di bandara dia pernah ngaku punya pacar bule yang bakal jemput dia
ke bandara. Mungkin Wenchester orangnya.”
“Itu bisa aja Sidney ‘kan? Dia manfaatin situasi untuk
ngejebak lo mumpung dia punya kesempatan! Nggak masuk akal dia minta pacarnya
untuk nyulik elo!”
“Gue juga berpikir kayak gitu. Tapi, yang bikin gue jadi
heran... kenapa Wenchester mau ngelakuin itu buat dia kalau mereka nggak punya
hubungan?”
“Dia ‘kan jago memperdaya orang, Sai. Lo lupa?”
Aku terdiam sejenak lalu menatap Pevi serius. “Tapi, apa
yang dia janjiin ke Wenchester kalau berhasil mencelakai gue?” tanyaku dan Pevi
angkat bahu. “Gue pikir... keluarga Wenchester nggak sengaja mengamankan si
kawat gigi karena kalau dia dipanggil jadi saksi otomatis semuanya bakal
terungkap dan gue bebas. Keluarganya nggak mau gue lepas dari hukuman. Itu
lebih masuk akal...”
“Hm... rumit ya? Mungkin kematian Wenchester di luar dugaan
dia. Mana ada orang yang mau disuruh iseng untuk mati sih?” celetuknya
terdengar gusar.
“Gue curiga kalau selain Sidney, si kawat gigi juga dekat
sama bule itu.”
“Harusnya waktu ketemu sama Sidney lo nanya apa si kawat
gigi masih perawan saat dia nikahin? Kalau nggak berarti bisa jadi si bule itu
yang punya kerjaan lebih dulu! Tahu ‘kan di barat sono bebasnya kayak apa. Bisa
aja tuh bule galau karena diputusin tiba-tiba karena si kawat gigi tiba-tiba
dilamar Sidney! Bisa jadi juga tuh bule mohon-mohon ke si Gigi akan ngelakuin
apa aja asalkan dia balik! Dan pas ketemu sama momen ddi bandara, si Gigi
manfaatin dia! Itu bisa aja, Sai! Bonusnya tuh bule mampus di tangan lo!”
Aku tercengang. Kali ini menatap Pevi nggak percaya. “Kenapa
gue nggak pernah kepikiran sampai ke sana ya, Pev?” tanyaku padanya.
Pevi mendecak kesal. “Gue hafal banget sama sifatnya dia
yang rapi dan terorganisir! Lagian dia arsitek ‘kan? Arsitek memang jago
merancang segala hal!” katanya. “Gue sempat dengar dari teman-teman kalau si
kawat gigi itu ngotot pingin kuliah di Australia padahal ortunya nggak mampu
untuk ngebiayain dia. Dan lo tahu, setelah lulus SMA dia berubah jadi angsa
yang ngincar orang-orang kaya! Di Australia sana dia tinggal di apartemen
bagus, lo pikir siapa yang ngebiayain dia? Pemda? Hah! Gue nggak yakin yang
ngebiayain itu Sidney setelah dengar cerita lo mereka itu nggak pacaran dan
tiba-tiba Sidney melamar. Si kawat gigi memang seduktif tapi dia nggak ngemis
karena kalau dia minta sesuatu dari Sidney pasti bikin tuh orang il-feel sama dia! Satu hal yang kita tahu
pasti, dia terobsesi banget sama sesuatu yang bikin lo hancur! Gue yakin, dia
ngejar-ngejar Sidney setengah mati cuma untuk ngebuktiin ke elo kalau dia bisa
lebih daripada lo dengan mengambil apa yang lo cintai!”
Dan Sidney termakan semua omongan itu.
“Apa lo bilang sama Sidney soal Sunny?” tanya Pevi kemudian
tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
Aku menggeleng.
Pevi kedengaran menghembuskan nafas lega. “Syukur deh. Gue
nggak kebayang gimana dia tahu kalau Sidney punya anak dari lo,” kata dia.
Ternyata pembicaraan itu masih ada hubungannya dan dia juga merasakan kecemasan
yang sama denganku.
***

Komentar
0 comments