๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku segera bangkit karena teringat satu hal lagi. “Ah ya!
Aku ingat Bu Tetty minta aku ngejauhin kamu!” kataku dengan bersemangat.
Sidney mengerutkan dahinya. “Bu Tetty? Melakukan hal seperti
itu?” kedengarannya dia nggak yakin kalau Bu Tetty itu bersikap seperti ibunya
saja.
“Aku nggak tahu siapa yang ngadu. Tapi, dia bilang kalau
yang aku lakukan itu nggak pantas,” jelasku sambil kembali berguling di sofa.
“Bu Tetty tahu aku sering main ke tempat kamu.”
“Oh ya?” Sidney masih nggak percaya.
“Aku sih nggak mau nuduh ya, tapi ini pengalaman yang sering
kualami berkali-kali. Ada orang yang menguntit dengan rapinya sehingga dia bisa
tahu segalanya dan bersikap seperti korban di depan orang lain,” jawabku,
bernada serius. “Dan... aku nggak ingin obrolan ini berlanjut karena aku nggak
ingin cerita kita sampai ke Ananda....”
Sidney diam beberapa saat. “Aku minta maaf atas apa yang dia
lakukan,” katanya.
Aku terhenyak dan hanya menatapi Sidney heran. Aku sendiri
mulai nggak suka dengan arah pembicaraan kami. Aku sudah menghindarinya sedari
tadi karena nggak ingin membongkar kegilaan Magisa; semua yang kulemparkan
padanya akan kembali memantul padaku seperti yang sudah-sudah. Aku berusaha
menerima kenyataan bahwa dia mendapatkan lelaki yang pernah kucintai secara sah
jadi aku nggak akan menceritakan pertemuan kami di bandara. Itu akan
menghancurkan Sidney juga; sekali lagi karena mereka memang menikah atas nama
cinta.
Ya, aku nggak bisa mengatakan bahwa istrinya benar-benar
psikopat.
“Aku sering mendengarnya...,” balasku pelan dan
menyambungnya di dalam hati. Tapi aku
nggak pernah mempercayainya. Nggak akan.... “Tapi, kamu nggak pantas minta
maaf untuknya.”
Sidney diam lagi; sikap itu membuatku sedikitnya merasa
bahwa dia sama sekali nggak tenang. Aku memandangi Sidney yang berusaha
menyembunyikan gelisahnya. Dia memandangi handphone-nya yang sudah kehabisan
baterai itu sesekali; dia berusaha menyembunyikan perasaan itu dariku.
“Kamu boleh pergi,” kataku. “Bukannya aku sudah aman di
sini?”
Dia hanya menatapku.
“Orang-orang bisa berubah, Azid...,” kataku lagi.
“Tapi, tidak dengan cara kamu memanggilku,” balas dia.
Kali ini Sidney yang membungkamku.
“Aku gelisah karena rasa bersalahku sendiri, Saira,” dia
menjelaskan.
“Itu sudah berlalu,” tegasku. “dan aku masih hidup.”
“Kamu nggak kelihatan hidup di mataku,” celetuknya.
“Dari mananya?”
Sidney lagi-lagi nggak menjawabku. Aku sibuk memandangi
langit-langit yang dirancang dengan sempurna di atas wajahku. Sudah lama aku
nggak berada di tempat senyaman ini. Tapi, pikiranku terhalang oleh sesuatu;
wajah Sidney sudah berada di depan wajahku.
“Kamu juga berubah,” kata dia menatapku lekat-lekat.
Aku tertawa, sembari menangkup pipinya dengan tanganku.
“Lebih kurus? Lebih jelek?” candaku.
Dia menggeleng pelan. “Buat aku kamu tetap cantik...,”
Aku tertawa sambil mendorong tubuhnya dariku. Lalu bangkit
dengan tawa yang sama.
Sidney tampak mengeluh karena dia terjatuh menghempas lantai
yang untung saja dilapisi karpet bulu yang tebal.
“Itu rayuan basi!” kataku sambil melemparnya dengan bantal
sofa. “Apa sih yang kamu harapkan?”
Wajahnya masih merengut saat memandangiku. Aku
mengabaikannya dengan kembali terlentang memandangi langit-langit sambil
menarik kembali suara tawaku.

“Obrolan kita belum selesai dan aku nggak mau kamu main cium
sembarangan,” kataku.
Sidney terkekeh pelan. “Bukannya dulu kamu suka sekali
dicium?” balasnya dengan menyebalkan.
“Aura kamu itu udah nggak bisa lagi membuatku tergoda,”
kataku menegaskan. “Kamu udah tua, Azid! Aku nggak tertarik karena kamu mulai
berumur dan gendut.”
Kata-kata itu tampaknya berhasil membuat Sidney berkecil
hati karena dia memutuskan untuk naik ke sofa yang satunya lagi dan tiduran di
sana.
“Kamu belum menjawab semua pertanyaanku,” kataku lagi.
“Pertanyaan apa lagi? Kamu pikir ini wawancara kerja?”
“Aku nggak bisa tidur, Azid. Selama enam tahun aku nggak
bisa tidur nyenyak. Kalau aku tertidur aku sering mimpi buruk. Aspa lagi yang
bisa aku lakukan?”
Sidney mendecak. “Katakan apa lagi yang ingin kamu tahu!”
Aku mencoba mengingatnya lagi. Padahal tadi aku punya
pertanyaan iseng lain yang ingin kuajukan, tapi tiba-tiba lupa; mungkin karena
sedikit membahas tentang istrinya yang sakit jiwa.
“Ya, satu hal yang aku selalu penasaran dari dulu,” kataku,
pertanyaan itu kembali tiba-tiba seperti aku sempat kehilangannya tadi.
“Apa?” Sidney kedengaran sudah siap.
“Siapa yang dulu pernah menelpon kamu di mobil dan kamu
ngomongnya Bahasa Inggris terus juga saat kita lagi tiduran sama-sama, kamu
sampai pergi keluar kamar untuk bicara?” tanyaku dan aku yakin Sidney bertambah
gusar lagi. “Aku heran banget, apa salahnya kamu menelpon di dekatku toh juga
aku nggak ngerti.”
Aku mendengarnya menghela nafas lelah. Tapi, aku nggak
memperhatikan bagaimana raut wajahnya.
“Jawaban yang ada di pikiran kamu sekarang itu benar,” jawab
dia dengan suara pelan. “Tapi, kamu nggak tahu kalau aku memikirkan kamu
terlalu sering daripada siapa pun. Aku memang punya tunangan tapi aku sama
sekali nggak cinta. Kamu harus tahu kalau itu ide ayahku, demi perusahaannya
dan begitu semuanya kacau aku disalahkan. Perjanjian bisnis gagal dan ayahku
jatuh sakit.”
Aku cukup syok dengan penjelasan itu.
“Aku kehilangan kamu sementara ayahku sama sekali nggak bisa
terima dengan kesalahanku. Saat dia meninggal pun dia nggak merasa aku sudah
berusaha keras untuk menjadi seperti yang dia inginkan,” sambung Sidney lagi;
terdapat emosi dingin di dalam nada suaranya yang pelan itu. “Aku berada dalam
situasi terburukku setelah dia meninggal aku nggak menjalankan perusahaan hasil
jerih payahnya selama ini dengan baik. Aku hampir membuat semuanya hancur
berantakan dan semuanya karena satu hal, Saira... kehilangan kamu....”
Sidney tampak terkejut saat aku tiba-tiba sudah berlutut di
sisi sofa tempat ia berbaring menghadap langit-langit.
“Jangan dilanjutkan...,” kataku berbisik sambil memandangi
wajah Sidney yang memerah karena menahan emosi. “Aku tahu apa yang akan kamu
katakan selanjutnya....”
Yaitu, mengapa kemudian akhirnya dia menikahi Magisa;
faktanya dia selalu ada di mana pun karena dia penguntit dan menunggu saat
seperti itu untuk bisa masuk dan menyingkirkanku selamanya. Tapi, harusnya dia
juga tahu bahwa dia nggak bisa menyingkirkanku dengan mudah. Aku tahu itu saat
Sidney akhirnya bangkit untuk mendekapku. Sidney memelukku sangat erat hingga
aku dapat merasakan detak jantungnya yang keras seakan ingin keluar dari rongga
dadanya. Aku bisa merasakan nafasnya yang memburu saat kemudian dia memagutku
lewat ciuman yang dulu selalu kuinginkan. Rasanya sama sekali berbeda sekali pun
ini bibir yang sama yang pernah disentuh oleh perempuan sial itu; dulunya bibir
ini milikku. Demikian pula dekapan hangat kedua tangannya yang kuatvini.
Tapi, malam itu adalah milik Sidney dan Saira yang selama
ini hanya saling mengingat dalam kegelapan hingga cahaya mempertemukan mereka
di Walmart. Aku ingat itu dengan baik. Aku nggak bisa menahan lembutnya buaian
di dalam pelukan Sidney sebelum aku memastikan bahwa Sidney bukan lelaki
berumur dan gendut. Dia sama sekali nggak berubah sehingga aku membiarkan kami
kembali pada masa lalu.
***
Komentar
0 comments