[Novel Romantis] Saira Ch. 32 (2/2)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Aku segera bangkit karena teringat satu hal lagi. “Ah ya! Aku ingat Bu Tetty minta aku ngejauhin kamu!” kataku dengan bersemangat.

Sidney mengerutkan dahinya. “Bu Tetty? Melakukan hal seperti itu?” kedengarannya dia nggak yakin kalau Bu Tetty itu bersikap seperti ibunya saja.

“Aku nggak tahu siapa yang ngadu. Tapi, dia bilang kalau yang aku lakukan itu nggak pantas,” jelasku sambil kembali berguling di sofa. “Bu Tetty tahu aku sering main ke tempat kamu.”

“Oh ya?” Sidney masih nggak percaya.

“Aku sih nggak mau nuduh ya, tapi ini pengalaman yang sering kualami berkali-kali. Ada orang yang menguntit dengan rapinya sehingga dia bisa tahu segalanya dan bersikap seperti korban di depan orang lain,” jawabku, bernada serius. “Dan... aku nggak ingin obrolan ini berlanjut karena aku nggak ingin cerita kita sampai ke Ananda....”

Sidney diam beberapa saat. “Aku minta maaf atas apa yang dia lakukan,” katanya.

Aku terhenyak dan hanya menatapi Sidney heran. Aku sendiri mulai nggak suka dengan arah pembicaraan kami. Aku sudah menghindarinya sedari tadi karena nggak ingin membongkar kegilaan Magisa; semua yang kulemparkan padanya akan kembali memantul padaku seperti yang sudah-sudah. Aku berusaha menerima kenyataan bahwa dia mendapatkan lelaki yang pernah kucintai secara sah jadi aku nggak akan menceritakan pertemuan kami di bandara. Itu akan menghancurkan Sidney juga; sekali lagi karena mereka memang menikah atas nama cinta.

Ya, aku nggak bisa mengatakan bahwa istrinya benar-benar psikopat.

“Aku sering mendengarnya...,” balasku pelan dan menyambungnya di dalam hati. Tapi aku nggak pernah mempercayainya. Nggak akan.... “Tapi, kamu nggak pantas minta maaf untuknya.”

Sidney diam lagi; sikap itu membuatku sedikitnya merasa bahwa dia sama sekali nggak tenang. Aku memandangi Sidney yang berusaha menyembunyikan gelisahnya. Dia memandangi handphone-nya yang sudah kehabisan baterai itu sesekali; dia berusaha menyembunyikan perasaan itu dariku.

“Kamu boleh pergi,” kataku. “Bukannya aku sudah aman di sini?”

Dia hanya menatapku.

“Orang-orang bisa berubah, Azid...,” kataku lagi.

“Tapi, tidak dengan cara kamu memanggilku,” balas dia.

Kali ini Sidney yang membungkamku.

“Aku gelisah karena rasa bersalahku sendiri, Saira,” dia menjelaskan.

“Itu sudah berlalu,” tegasku. “dan aku masih hidup.”

“Kamu nggak kelihatan hidup di mataku,” celetuknya.

“Dari mananya?”

Sidney lagi-lagi nggak menjawabku. Aku sibuk memandangi langit-langit yang dirancang dengan sempurna di atas wajahku. Sudah lama aku nggak berada di tempat senyaman ini. Tapi, pikiranku terhalang oleh sesuatu; wajah Sidney sudah berada di depan wajahku.

“Kamu juga berubah,” kata dia menatapku lekat-lekat.

Aku tertawa, sembari menangkup pipinya dengan tanganku. “Lebih kurus? Lebih jelek?” candaku.

Dia menggeleng pelan. “Buat aku kamu tetap cantik...,”

Aku tertawa sambil mendorong tubuhnya dariku. Lalu bangkit dengan tawa yang sama.

Sidney tampak mengeluh karena dia terjatuh menghempas lantai yang untung saja dilapisi karpet bulu yang tebal.

“Itu rayuan basi!” kataku sambil melemparnya dengan bantal sofa. “Apa sih yang kamu harapkan?”

Wajahnya masih merengut saat memandangiku. Aku mengabaikannya dengan kembali terlentang memandangi langit-langit sambil menarik kembali suara tawaku.

“Obrolan kita belum selesai dan aku nggak mau kamu main cium sembarangan,” kataku.

Sidney terkekeh pelan. “Bukannya dulu kamu suka sekali dicium?” balasnya dengan menyebalkan.

“Aura kamu itu udah nggak bisa lagi membuatku tergoda,” kataku menegaskan. “Kamu udah tua, Azid! Aku nggak tertarik karena kamu mulai berumur dan gendut.”

Kata-kata itu tampaknya berhasil membuat Sidney berkecil hati karena dia memutuskan untuk naik ke sofa yang satunya lagi dan tiduran di sana.

“Kamu belum menjawab semua pertanyaanku,” kataku lagi.

“Pertanyaan apa lagi? Kamu pikir ini wawancara kerja?”

“Aku nggak bisa tidur, Azid. Selama enam tahun aku nggak bisa tidur nyenyak. Kalau aku tertidur aku sering mimpi buruk. Aspa lagi yang bisa aku lakukan?”

Sidney mendecak. “Katakan apa lagi yang ingin kamu tahu!”

Aku mencoba mengingatnya lagi. Padahal tadi aku punya pertanyaan iseng lain yang ingin kuajukan, tapi tiba-tiba lupa; mungkin karena sedikit membahas tentang istrinya yang sakit jiwa.

“Ya, satu hal yang aku selalu penasaran dari dulu,” kataku, pertanyaan itu kembali tiba-tiba seperti aku sempat kehilangannya tadi.

“Apa?” Sidney kedengaran sudah siap.

“Siapa yang dulu pernah menelpon kamu di mobil dan kamu ngomongnya Bahasa Inggris terus juga saat kita lagi tiduran sama-sama, kamu sampai pergi keluar kamar untuk bicara?” tanyaku dan aku yakin Sidney bertambah gusar lagi. “Aku heran banget, apa salahnya kamu menelpon di dekatku toh juga aku nggak ngerti.”

Aku mendengarnya menghela nafas lelah. Tapi, aku nggak memperhatikan bagaimana raut wajahnya.

“Jawaban yang ada di pikiran kamu sekarang itu benar,” jawab dia dengan suara pelan. “Tapi, kamu nggak tahu kalau aku memikirkan kamu terlalu sering daripada siapa pun. Aku memang punya tunangan tapi aku sama sekali nggak cinta. Kamu harus tahu kalau itu ide ayahku, demi perusahaannya dan begitu semuanya kacau aku disalahkan. Perjanjian bisnis gagal dan ayahku jatuh sakit.”

Aku cukup syok dengan penjelasan itu.

“Aku kehilangan kamu sementara ayahku sama sekali nggak bisa terima dengan kesalahanku. Saat dia meninggal pun dia nggak merasa aku sudah berusaha keras untuk menjadi seperti yang dia inginkan,” sambung Sidney lagi; terdapat emosi dingin di dalam nada suaranya yang pelan itu. “Aku berada dalam situasi terburukku setelah dia meninggal aku nggak menjalankan perusahaan hasil jerih payahnya selama ini dengan baik. Aku hampir membuat semuanya hancur berantakan dan semuanya karena satu hal, Saira... kehilangan kamu....”

Sidney tampak terkejut saat aku tiba-tiba sudah berlutut di sisi sofa tempat ia berbaring menghadap langit-langit.

“Jangan dilanjutkan...,” kataku berbisik sambil memandangi wajah Sidney yang memerah karena menahan emosi. “Aku tahu apa yang akan kamu katakan selanjutnya....”

Yaitu, mengapa kemudian akhirnya dia menikahi Magisa; faktanya dia selalu ada di mana pun karena dia penguntit dan menunggu saat seperti itu untuk bisa masuk dan menyingkirkanku selamanya. Tapi, harusnya dia juga tahu bahwa dia nggak bisa menyingkirkanku dengan mudah. Aku tahu itu saat Sidney akhirnya bangkit untuk mendekapku. Sidney memelukku sangat erat hingga aku dapat merasakan detak jantungnya yang keras seakan ingin keluar dari rongga dadanya. Aku bisa merasakan nafasnya yang memburu saat kemudian dia memagutku lewat ciuman yang dulu selalu kuinginkan. Rasanya sama sekali berbeda sekali pun ini bibir yang sama yang pernah disentuh oleh perempuan sial itu; dulunya bibir ini milikku. Demikian pula dekapan hangat kedua tangannya yang kuatvini.

Tapi, malam itu adalah milik Sidney dan Saira yang selama ini hanya saling mengingat dalam kegelapan hingga cahaya mempertemukan mereka di Walmart. Aku ingat itu dengan baik. Aku nggak bisa menahan lembutnya buaian di dalam pelukan Sidney sebelum aku memastikan bahwa Sidney bukan lelaki berumur dan gendut. Dia sama sekali nggak berubah sehingga aku membiarkan kami kembali pada masa lalu.


***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments