๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Tiga bulan kemudian, Mama-ku datang setelah hampir setahun
dia belum mengunjungiku. Nggak seperti biasanya Mama yang datang dengan raut
yang tenang, sekarang terlihat marah dan kesal padaku. Rupanya Mama mengetahui
soal Sunny. Benar seperti dugaanku, ibuku telah menanggung banyak beban karena
diriku dan dia sudah nggak tahan lagi. Apa yang dia rasakan ketika tahu bahwa
aku lebih memilih menitipkan anakku pada orang lain daripada berterus terang
kepadanya, jauh lebih berat dari saat mengetahui bahwa aku telah membunuh
orang. Begitu banyak penderitaan yang dia terima berkat diriku.
Saat itu aku hanya tertunduk, menangis terisak-isak di
hadapannya. Tapi, hati Mama tiba-tiba saja membeku.
“Mama sudah melakukan apa saja demi kamu, Saira,” dia
berkata; dengan nada suara angkuh saat aku sama sekali nggak berani untuk
mengangkat kepalaku di hadapannya. “Tapi, kamu selalu merasa kamu bisa
melakukan semuanya sendirian. Benar, kamu bisa melakukannya seorang diri tapi
semuanya harus berujung pada masalah yang menyeret Mama juga....”
Tanpa bantahan sedikitpun akan ucapannya, aku mencoba
menatap Mama.
“Mulai sekarang, lakukan apa saja yang kamu inginkan,”
katanya. “Bahkan setelah kamu keluar penjara -pun, teruslah melakukan apa yang
kamu anggap benar. Tapi, jangan harap, kamu bisa melihat anak kamu lagi.”
“Mama?” aku terkejut. Aku hampir nggak percaya Mama
mengambil Sunny dengan paksa dari rumah Pevi dan bersikeras akan merawatnya.
“Kamu pikir Mama nggak tahu alasan kamu datang ke tempat
sejauh ini? Sekarang semuanya jelas, Saira. Gara-gara seorang lelaki yang sudah
mencampakan kamu dalam keadaan hamil, kamu berusaha mencarinya lagi sehingga
semua ini terjadi,” sambung Mama, masih menatapku dengan tajam. “Bisa kamu
bayangkan gimana sulitnya Mama mencoba mengeluarkan kamu dari sini walaupun
semua orang tahu kamu nggak bersalah? Kamu membunuh anak seorang pengusaha kaya
yang sampai detik ini nggak bisa terima dengan kematian putranya! Dia tetap
menginginkan kamu membusuk di penjara! Kamu nggak bisa membuktikan bahwa
kejadian ini direncanakan oleh teman SMA kamu itu karena berandalan itu nggak
mengenalnya! Mereka memberikan keterangan yang sama yaitu berada secara
kebetulan di tempat kejadian dan supir taksi yang mengantar kamu ke sana sama
sekali nggak tahu apa-apa tentang kejadian itu! Mama kewalahan, Saira! Apa kamu
nggak ngerti?”
Aku kembali tertunduk.
“Sekarang Mama dikejutkan dengan seorang anak yang kamu
lahirkan tiga setengah tahun yang lalu dan mempercayakan orang lain untuk
membesarkannya! Apa itu, Saira?” Mama tampak belum puas. “Mama baru tahu bahwa
kamu berhubungan dengan seorang lelaki yang bahkan kamu nggak tahu persis dia siapa!
Dia juga berasal dari luar! Ya Tuhan, Saira, kegilaan macam apa lagi itu?!”
“Maafin aku, Ma...,” ucapku meringis menahan sedih.
“Kenapa kamu jadi seperti itu?” Mama menanyaiku lagi. “Apa
karena Mama nggak memperhatikan kamu seperti Ibu kebanyakan kamu merasa aman
bersama orang lain? Apa begitu?”
Aku hanya menggeleng.
“Mama akui, Mama memang sibuk sampai-sampai Mama mengabaikan
kamu...,” kata Mama lagi, kali ini
meneteskan air mata. “Tapi, apa yang Mama terima saat ini nggak setimpal lagi,
Saira....”
“A... aku cuma... kehilangan arah...,” kataku.
“Karena itu Mama berusaha untuk terus mengingatkan kamu!
Tapi, kamu anggap Mama ini apa?! Bos yang perintahnya selalu dipatuhi?!
Sekarang kamu merasakan gimana sulitnya menjaga anak remaja perempuan dari
hal-hal di sekitarnya yang membuat hidupnya hancur dan penuh penyesalan?!”
“Ma, aku mohon jangan bilang begitu....”
“Itu kenyataannya, Saira! Semuanya sudah Mama katakan ke
kamu jelas-jelas dan saat ini Mama sudah habis kesabaran!” tegas Mama.”Mama
mungkin nggak peduli lagi, kamu ingin kembali atau nggak ke rumah, kamu tetap
saja sudah mempermalukan Mama....” kata dia untuk yang terakhir kali.
Hubunganku dengan Mama kembali memburuk.
Aku memang pantas menerimanya. Tapi, pertengkaran ini adalah
yang terburuk. Saat Mama meninggalkanku dalam keadaan marah, aku nggak
menyangka itulah terakhir kalinya ia mengunjungiku di penjara walaupun enam
bulan kemudian aku masih bisa melihat Sunny. Mama masih sempat membawa Sunny
untuk bisa menjumpaiku namun menjelang masa hukuman tinggal setahun lagi, aku
harus bersabar karena Sunny mulai sekolah. Hatiku bahagia mendengarnya
bersamaan dengan hampir berlalunya kegelapan dalam hidupku. Aku akan segera
bebas.
***
Suatu hari aku pernah bertanya apakah seorang lelaki akan
tetap setia walaupun ia berulang kali disakiti? Aku nggak pernah melihat lelaki
yang seperti itu di dalam hidupku sebelumnya. Semua lelaki yang pernah kukenal
bukanlah lelaki yang tabah, seperti Papa dan Sidney, mereka menghilang begitu
saja dari hidupku. Tapi, itu sebelum mengenal Adrian, sebelum aku tahu bahwa
dia mempunyai perasaan yang tulus untukku.
Seringkali aku bertanya kepada diriku, kenapa aku nggak bisa
menerimanya. Selama ini aku merasa Adrian berhak untuk mendapatkan seorang
gadis yang baik. Aku hanya memberinya luka di tempat yang sama dan kejadian
demi kejadian yang kualami semakin menjadikanku pengecut dalam menerima
cintanya yang tulus. Tapi, dia terlalu tabah lebih dari yang kukira. Terkadang
aku menginginkan Adrian menjauh agar dia bisa jatuh cinta lagi. Namun
sepertinya semakin aku menyakitinya semakin ia mendekat dan aku nggak berdaya
karenanya. Aku nggak tahu apa yang kumiliki dan bisa kuberikan padanya.
Aku hanya mempunyai seorang anak di luar nikah dan hati yang
tertutup; Adrian sama sekali nggak pantas untuk berurusan dengan hal-hal
seperti itu. Karena dia baik dan orang baik nggak seharusnya mendapatkan
kesulitan. Adrian berhak untuk bahagia tapi bukan dengan perempuan sepertiku.
“Sunny baik-baik aja...,” dia memberiku kabar pada
kedatangan yang entah untuk ke berapa kalinya sejak bui menahan ragaku dalam
pengap yang paling kubenci. “Dia udah mulai sekolah...”
Aku mengangguk-angguk.“Ya, memang sebaiknya Sunny nggak
perlu sering-sering ke sini. Ini penjara. Aku nggak ingin tempat buruk seperti
ini tertinggal selamanya di benaknya...,” kataku, berusaha untuk menahan sedih.
“Kamu nggak perlu lagi mencemaskan Sunny. Dia lebih aman
bersama neneknya...,” kata Adrian lagi.
“Ya...,” jawabku pelan, sambil tertunduk.
Aku tahu Adrian tengah memandangiku; tapi bukan itu yang
membuatku jengah. Sampai detik ini pun kurasakan Adrian nggak ingin menyerah
juga. Sungguh, bukan aku bermaksud untuk mengusirnya dan menjadi tidak tahu
diri setelah selama ini aku mengandalkannya tanpa balasan apa pun. Aku semakin
takut perasaan yang tulus itu menyelimuti hatiku karena aku harus ingat
ketidakpantasanku ini.
“Nggak lama lagi... kamu akan bebas...,” Adrian kembali
berkata. “Itu artinya aku nggak perlu lagi mencemaskan kamu setiap saat....”
Tanpa balasan, aku diam dan mendengarkannya.
“Lagian... aku juga makin sibuk di rumah sakit...,”
lanjutnya. “Tapi, sebenarnya itu bukan alasan buat aku untuk nggak datang ke
sini lagi....”
“Aku ngerepotin kamu banget ya?” tanyaku, menatapinya dengan
segan karena aku sudah kehabisan kata-kata.
“Aku nggak pernah sedikitpun merasa direpotkan oleh kamu.”
jawab dia, tenang dan tegas. “Sudah kodrat laki-laki untuk selalu menjaga
perempuan yang dia cintai.”
Aku mulai ketakutan dengan perkataan itu.
“Tapi...,” Adrian mencoba melanjutkan, “adakalanya lelaki
perlu beristirahat paling nggak untuk memikirkan kembali semuanya. Seperti
belajar dan ujian. Belajar membuat kita bebas dari ketidaktahuan hingga ada
tahap kita harus diuji tentang apa saja yang telah kita ketahui. Aku nggak tahu
apa aku bisa lulus dari ujian itu setelah aku berusaha keras....”
“Maaf, Adrian....”
“Kamu sudah mengucapkannya ratusan kali, Saira... dan aku
nggak membutuhkannya...,” tegas Adrian lagi. “Aku juga sudah ratusan kali
mengucapkan bahwa aku mencintai kamu....”
Perkataannya kemudian membuatku menangis; tanpa kata-kata
lagi.
“Saira, kedatanganku kali ini bukan untuk memaksa kamu
menerima lamaranku,” Adrian masih tenang di saat aku akhirnya berani mengangkat
kepalaku di hadapannya. “Aku tahu kamu merencanakan akan menerimaku karena
menurut kamu aku laki-laki yang baik dan ingin membalas budi. Tapi, aku nggak
membutuhkan jawaban seperti itu. Yang aku inginkan adalah menerimaku karena
mencintaku... tapi itu sulit, bukan?”
“Adrian, aku....”
“Saira, aku kehabisan waktu”
Aku mengerutkan dahi. Apa maksudnya kehabisan waktu?
Adrian menatapku sungguh-sungguh. “Setelah ini aku nggak
akan datang menemui kamu lagi,” ia berkata dengan nada keras. “Aku memberi kamu
waktu untuk memikirkannya....”
Dia berhasil membungkamku untuk mendengar setiap
kata-katanya yang penuh ironi dengan baik.
“Aku selalu datang entah kamu membutuhkannya atau tidak.
Terkadang aku merasa kamu berpikiran bahwa kebaikanku adalah hal yang
menyakitkan karena kamu nggak mampu membalasnya. Kalau seperti itu,
baiklah....” jelas dia. “Aku akan berhenti mendatangi kamu dan berhenti
mempertanyakan ke mana kita akan pergi setelah ini...”
“Maksud kamu apa?”
“Aku hanya memahami dua hal saat ini,” tegasnya lagi. “Setelah
kamu keluar dari penjara, kamu akan datang padaku dan itu artinya kamu setuju
untuk hidup denganku. Tapi, kalau kamu nggak pernah muncul lagi di hadapanku,
aku tahu apa artinya. Sekarang... aku memberi kamu jarak agar kamu bisa
memahami perasaanmu sendiri tanpa paksaan dari keadaan atau siapa pun yang ada
di hati kamu saat ini....”
Aku terkejut. Dan Adrian sudah berdiri tegap dan bersiap
untuk pergi. Tapi, dia lebih dulu menghampiriku.
“Aku sangat berharap kamu merindukanku, Saira...,” dia
berkata sambil membelai puncak kepalaku, “dan begitu kamu bebas... kamu tahu
aku berada di mana....”
Dan setelah itu, Adrian pun pergi. Kepergiannya
memberanikanku untuk membuat sebuah keputusan besar. Setelah keluar dari
penjara, aku akan menemuinya dan mengakhiri semua penderitaannya.
Aku berusaha mengumpulkan kepingan hidupku yang terberai
oleh tragedi masa lalu. Aku punya alasan untuk jatuh cinta lagi. Tapi, ada
sesuatu yang rasanya masih merantaiku. Semakin aku melupakannya semakin itu
menghantuiku.
Komentar
0 comments