๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Penjara Jiwa
Setiap detik dalam hidupku, aku mencoba untuk melupakan
kejadian naas itu. Tapi, setiap aku terbangun dari tidurku, aku merasa kejadian
itu telah menyisakan kepedihan yang panjang karena nyatanya kemudian aku harus
terbangun di penjara. Aku nggak tahu apa saja yang terjadi di luar sana setelah
tahu-tahu aku berada di rumah sakit dan polisi membawaku ke sini. Sampai
kemudian Mama datang.
Walau Mama sering marah padaku, aku sama sekali nggak ingin
melihatnya menangis apalagi karena kesalahanku. Hari itu dia datang; tanpa
kemarahan di wajahnya.
“Apa kesalahan Mama, Saira?” dia bertanya padaku dan aku
nggak mampu menjawab. “Apa karena Mama nggak memperhatikan kamu sehingga kamu
seperti ini? Kamu menghilang... dan tahu-tahu berada di sini....”
Aku diam dan hanya menangis. Apa pun yang aku katakan hanya
akan menyakiti Mama. Aku sudah meminta maaf ratusan kali dan itu sepertinya
nggak pernah cukup walaupun Mama berkata dia memaafkanku.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu?” Mama masih
bertanya dan aku terisak.
Aku berdiri dari kursiku untuk berlutut di hadapannya dan
berharap Mama memberiku sebuah pelukan sebelum aku harus kembali ke dalam sel
dingin dan pengap itu. Aku ingin mengingat pelukan Mama yang tengah menangis
untuk bisa melalui hari-hari yang berat. Di saat yang sama aku merindukan
putraku yang nggak bisa lagi kugendong dan kuciumi saat tertidur.
Setelah itu Adrian juga datang dengan penyesalan yang begitu
besar. Dia merasa telah mengirimku ke sini dan nggak bisa memaafkan dirinya.
Tapi, aku sama sekali nggak menyalahkannya. Dia sudah banyak membantuku dan aku
hanya memberinya kekecewaan. Saat dia juga memelukku aku merasa telah begitu
bodoh pernah menyia-nyiakan dirinya. Seandainya aku punya kesempatan satu kali
lagi saja, aku ingin memperbaiki kesalahanku padanya. Tapi, membayangkan enam
tahun penjara yang harus kulewati, aku nggak sanggup. Entah aku bisa bertahan
di dalam sana atau tidak. Aku sangat ketakutan.
Dengan mempercayai semuanya akan baik-baik saja seperti yang
Adrian katakan, aku bisa bertahan. Aku masih punya seorang anak yang menunggu
kedatanganku. Aku ingin menyentuhnya lagi dan juga membesarkannya.
“Apa Sunny baik-baik aja, Ad?” tanyaku penuh harap.
Adrian mengangguk. “Ya, Pevi dan Mama-nya ngurusin Sunny
dengan baik. Kamu nggak perlu khawatir...,” ujarnya.
Aku tertunduk dan terisa karena nggak bisa menahan
kesedihanku lagi.
“Kamu sudah beritahu Mama kamu soal Sunny?” dia bertanya dan
aku menggeleng.
Pikiranku semakin kacau. “Mama sudah banyak menderita karena
masalah ini. kalau Mama tahu soal Sunny dia bisa....”
“Kamu nggak bisa menyembunyikannya terus, Saira...,” ujar
Adrian lagi.
“Tolong, Adrian... Mama-ku sudah banyak menanggung
beban...,” kataku ketakutan. “Begitu aku keluar dari sini Mama pasti akan
tahu....”
“Tapi itu akan sangat terlambat. Gimana pun dia Ibu kamu dan
dia juga berhak atas Sunny...,”
“Aku tahu, Ad... tapi sekarang bukan waktu yang tepat....”
kataku masih memohon. “Aku tahu aku udah terlalu banyak merepotkan kamu. Aku
bahkan nggak tahu apa aku bisa membalas semua jasa kamu... tapi aku punya
permintaan terakhir dan... setelah itu aku janji nggak akan minta apa-apa
lagi....”
“Kamu ngomong apa sih? Aku pasti akan selalu menolong
kamu....”
“Aku mohon... jaga Sunny selama aku di sini....”
“Tanpa kamu minta pun aku pasti melakukannya....”
Tapi, enam tahun adalah waktu yang lama dan terasa lebih
lama lagi karena aku nggak pernah beranjak dari jeruji besi di mana hanya ada
aku di dalamnya. Mama mengusahakan agar aku terpisah dengan tahanan yang lain
karena mungkin saja salah satu dari mereka mempunyai perilaku mengerikan. Aku
nggak bergaul dengan siapa pun selain sipir penjara yang datang silih berganti
untuk mengantar makanan atau sekedar memeriksa. Mereka selalu mengajakku bicara
tapi aku nggak mengerti dengan apa yang kudengar. Aku nggak berkeinginan untuk
belajar bahasa mereka karena yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara aku
melewati semua ini.
***
Tiba-tiba saja aku merindukan segala hal yang telah
kutinggalkan di Jakarta. Aku telah jauh melangkah dari kotak di mana aku tumbuh
dalam kemewahan. Ketakutan Mama-ku terasa begitu logis dan beralasan sekarang.
Setiap malam aku merenungi setiap kesalahan yang terukir dalam di benakku. Aku
nggak pernah mengira cinta terkadang membawa seseorang dalam kesengsaraan yang
panjang. Sangat mudah jatuh di dalam cinta; seperti satu kedipan mata saja
dunia ini seakan terbalik ke bawah.
Tapi, aku nggak bisa seutuhnya menyalahkan cinta. Banyak
orang yang tersenyum dalam kepedihan karenanya. Mungkin karena menggenggam
cinta yang benar-benar diperuntukan bagi mereka. Sedangkan cintaku? Entah
pantas kusebut dengan cinta karena sejak awal terasa begitu menyakitkan; karena
rasa takut tidak terbalas lebih besar ketimbang cinta itu sendiri; karena
cintaku pada seseorang yang nggak tahu pasti hatinya untuk siapa.
Pikiranku terbangun; demikian pula bawah sadarku yang mulai
terlatih untuk tidak berhalusinasi lebih banyak tentangnya. Aku adalah seorang
ibu dan bukan lagi gadis remaja yang baru tergila-gila pada seorang lelaki.
Karena itu semua hal yang kupikirkan selama di jeruji pesakitan itu adalah
putraku. Karena itulah kemudian aku mulai melupakan cinta gilaku. Adrian juga
hadir untuk melepaskanku dari bayang-bayang cinta yang kandas dengan datang
mengunjungiku; bahkan lebih sering dari Mama yang tetap sibuk.
Setiap kedatangannya dia membawa surat dari Pevi yang juga
disertai foto-foto Sunny. Berkatnya, aku tahu bagaimana perkembangan putraku
dari tahun ke tahun hingga pada ulang tahunku ke dua puluh satu, Adrian membawa
Sunny yang sudah berumur tiga setengah tahun untuk menemuiku. Tentu saja ia
juga membawa Pevi bersamanya dan alangkah terkejutnya aku; Pevi sudah
benar-benar kurus dan memiliki tubuh yang dia impikan.
“Lo kurus banget,
Sai...,” itulah yang dia katakan saat melihatku pertama kalinya lagi setelah
tiga tahun. Dengan berurai air mata, kami berpelukan sangat erat.
“Lo juga, Pev...,” balasku kemudian memandangi Pevi dari
ujung kaki ke kepala. Dia benar-benar cantik dengan pakaian yang pas dengan tubuhnya
yang langsing.
Sementara itu Sunny di samping Adrian hanya menatapiku
asing. Aku melihat Adrian membungkuk sambil mengatakan sesuatu padanya sebelum
kedua mata bulat Sunny memnadangku tanpa putus. Mungkin dia kecewa, ibunya
nggak secantik yang ada di foto yang biasa diperlihatkan Pevi. Aku memberanikan
diri untuk mendekatinya walau aku ragu dia akan menyukaiku.
Sunny mematung saat aku menyentuh pipinya yang berisi untuk
memastikan bahwa aku nggak sedang bermimpi. Kedua tanganku gemetaran. Aku nggak
mampu menahan tangisku yang pecah karena tiada kata-kata yang bisa
menggambarkan kebahagiaanku hari itu.
“Sayang...,” aku memandanginya dengan seksama. Rambut, mata,
hidung, bibir dan bentuk wajah miliknya adalah duplikatku dalam wujud seorang
balita laki-laki.
Sunny hanya menatapku sambil memeluk sebuah boneka kelinci;
pemberian Adrian saat dia datang setelah kelahiran Sunny. Sepertinya boneka itu
adalah boneka kesayangannya.
“Sunny... ini Mama, Sayang...,” kataku mulai membelai
rambutnya dengan lembut. Lalu aku mendekapnya. Aku sangat bersyukur bahwa sosok
yang kupeluk bukan bayangan seperti biasanya. Aku meresapi bau khas anak kecil
yang wangi oleh sentuhan bedak bayi yang melekat pada Sunny; aku sudah lama
merindukan wangi itu dan membawaku ke masa sebelum aku meninggalkannya dengan
terpaksa.
Sangat sulit bagi Sunny menerimaku pada awalnya. Namun
setiap hari selama di Sydney, Adrian membawanya untuk berkunjung agar kami bisa
saling mengenal. Sunny baru saja pintar bicara walau pelafalannya belum
sempurna. Dia begitu menggemaskan saat cerita bagaimana ia dan Kinci
-bonekanya, bermain di rumah. Saat Sunny mulai membiasakan dirinya denganku, ia
harus pergi. Nggak ada yang lebih menyenangkan dari saat aku mengamati caranya
bicara tanpa fokus mendengarkannya.
Adrian harus kembali karena tugasnya sebagai seorang dokter
dan Pevi juga baru saja mencoba peruntungan untuk menjadi seorang model. Pevi
mempunyai audisi penting yang nggak boleh ia lewatkan. Tapi, aku menerimanya
dengan lapang dada, mereka membawa Sunny ke sini saja itu sudah lebih dari
sebuah keajaiban yang langka. Aku yakin dalam pertemuan berikutnya Adrian akan
membawanya lagi ke sisiku.
***

Komentar
0 comments