[Novel Romantis] Sidney (hal.15)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Penjara Jiwa

Setiap detik dalam hidupku, aku mencoba untuk melupakan kejadian naas itu. Tapi, setiap aku terbangun dari tidurku, aku merasa kejadian itu telah menyisakan kepedihan yang panjang karena nyatanya kemudian aku harus terbangun di penjara. Aku nggak tahu apa saja yang terjadi di luar sana setelah tahu-tahu aku berada di rumah sakit dan polisi membawaku ke sini. Sampai kemudian Mama datang.

Walau Mama sering marah padaku, aku sama sekali nggak ingin melihatnya menangis apalagi karena kesalahanku. Hari itu dia datang; tanpa kemarahan di wajahnya.

“Apa kesalahan Mama, Saira?” dia bertanya padaku dan aku nggak mampu menjawab. “Apa karena Mama nggak memperhatikan kamu sehingga kamu seperti ini? Kamu menghilang... dan tahu-tahu berada di sini....”

Aku diam dan hanya menangis. Apa pun yang aku katakan hanya akan menyakiti Mama. Aku sudah meminta maaf ratusan kali dan itu sepertinya nggak pernah cukup walaupun Mama berkata dia memaafkanku.

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu?” Mama masih bertanya dan aku terisak.

Aku berdiri dari kursiku untuk berlutut di hadapannya dan berharap Mama memberiku sebuah pelukan sebelum aku harus kembali ke dalam sel dingin dan pengap itu. Aku ingin mengingat pelukan Mama yang tengah menangis untuk bisa melalui hari-hari yang berat. Di saat yang sama aku merindukan putraku yang nggak bisa lagi kugendong dan kuciumi saat tertidur.

Setelah itu Adrian juga datang dengan penyesalan yang begitu besar. Dia merasa telah mengirimku ke sini dan nggak bisa memaafkan dirinya. Tapi, aku sama sekali nggak menyalahkannya. Dia sudah banyak membantuku dan aku hanya memberinya kekecewaan. Saat dia juga memelukku aku merasa telah begitu bodoh pernah menyia-nyiakan dirinya. Seandainya aku punya kesempatan satu kali lagi saja, aku ingin memperbaiki kesalahanku padanya. Tapi, membayangkan enam tahun penjara yang harus kulewati, aku nggak sanggup. Entah aku bisa bertahan di dalam sana atau tidak. Aku sangat ketakutan.

Dengan mempercayai semuanya akan baik-baik saja seperti yang Adrian katakan, aku bisa bertahan. Aku masih punya seorang anak yang menunggu kedatanganku. Aku ingin menyentuhnya lagi dan juga membesarkannya.

“Apa Sunny baik-baik aja, Ad?” tanyaku penuh harap.

Adrian mengangguk. “Ya, Pevi dan Mama-nya ngurusin Sunny dengan baik. Kamu nggak perlu khawatir...,” ujarnya.

Aku tertunduk dan terisa karena nggak bisa menahan kesedihanku lagi.

“Kamu sudah beritahu Mama kamu soal Sunny?” dia bertanya dan aku menggeleng.

Pikiranku semakin kacau. “Mama sudah banyak menderita karena masalah ini. kalau Mama tahu soal Sunny dia bisa....”

“Kamu nggak bisa menyembunyikannya terus, Saira...,” ujar Adrian lagi.

“Tolong, Adrian... Mama-ku sudah banyak menanggung beban...,” kataku ketakutan. “Begitu aku keluar dari sini Mama pasti akan tahu....”

“Tapi itu akan sangat terlambat. Gimana pun dia Ibu kamu dan dia juga berhak atas Sunny...,”

“Aku tahu, Ad... tapi sekarang bukan waktu yang tepat....” kataku masih memohon. “Aku tahu aku udah terlalu banyak merepotkan kamu. Aku bahkan nggak tahu apa aku bisa membalas semua jasa kamu... tapi aku punya permintaan terakhir dan... setelah itu aku janji nggak akan minta apa-apa lagi....”

“Kamu ngomong apa sih? Aku pasti akan selalu menolong kamu....”

“Aku mohon... jaga Sunny selama aku di sini....”

“Tanpa kamu minta pun aku pasti melakukannya....”

Tapi, enam tahun adalah waktu yang lama dan terasa lebih lama lagi karena aku nggak pernah beranjak dari jeruji besi di mana hanya ada aku di dalamnya. Mama mengusahakan agar aku terpisah dengan tahanan yang lain karena mungkin saja salah satu dari mereka mempunyai perilaku mengerikan. Aku nggak bergaul dengan siapa pun selain sipir penjara yang datang silih berganti untuk mengantar makanan atau sekedar memeriksa. Mereka selalu mengajakku bicara tapi aku nggak mengerti dengan apa yang kudengar. Aku nggak berkeinginan untuk belajar bahasa mereka karena yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara aku melewati semua ini.

***

Tiba-tiba saja aku merindukan segala hal yang telah kutinggalkan di Jakarta. Aku telah jauh melangkah dari kotak di mana aku tumbuh dalam kemewahan. Ketakutan Mama-ku terasa begitu logis dan beralasan sekarang. Setiap malam aku merenungi setiap kesalahan yang terukir dalam di benakku. Aku nggak pernah mengira cinta terkadang membawa seseorang dalam kesengsaraan yang panjang. Sangat mudah jatuh di dalam cinta; seperti satu kedipan mata saja dunia ini seakan terbalik ke bawah.

Tapi, aku nggak bisa seutuhnya menyalahkan cinta. Banyak orang yang tersenyum dalam kepedihan karenanya. Mungkin karena menggenggam cinta yang benar-benar diperuntukan bagi mereka. Sedangkan cintaku? Entah pantas kusebut dengan cinta karena sejak awal terasa begitu menyakitkan; karena rasa takut tidak terbalas lebih besar ketimbang cinta itu sendiri; karena cintaku pada seseorang yang nggak tahu pasti hatinya untuk siapa.

Pikiranku terbangun; demikian pula bawah sadarku yang mulai terlatih untuk tidak berhalusinasi lebih banyak tentangnya. Aku adalah seorang ibu dan bukan lagi gadis remaja yang baru tergila-gila pada seorang lelaki. Karena itu semua hal yang kupikirkan selama di jeruji pesakitan itu adalah putraku. Karena itulah kemudian aku mulai melupakan cinta gilaku. Adrian juga hadir untuk melepaskanku dari bayang-bayang cinta yang kandas dengan datang mengunjungiku; bahkan lebih sering dari Mama yang tetap sibuk.

Setiap kedatangannya dia membawa surat dari Pevi yang juga disertai foto-foto Sunny. Berkatnya, aku tahu bagaimana perkembangan putraku dari tahun ke tahun hingga pada ulang tahunku ke dua puluh satu, Adrian membawa Sunny yang sudah berumur tiga setengah tahun untuk menemuiku. Tentu saja ia juga membawa Pevi bersamanya dan alangkah terkejutnya aku; Pevi sudah benar-benar kurus dan memiliki tubuh yang dia impikan.

 “Lo kurus banget, Sai...,” itulah yang dia katakan saat melihatku pertama kalinya lagi setelah tiga tahun. Dengan berurai air mata, kami berpelukan sangat erat.

“Lo juga, Pev...,” balasku kemudian memandangi Pevi dari ujung kaki ke kepala. Dia benar-benar cantik dengan pakaian yang pas dengan tubuhnya yang langsing.

Sementara itu Sunny di samping Adrian hanya menatapiku asing. Aku melihat Adrian membungkuk sambil mengatakan sesuatu padanya sebelum kedua mata bulat Sunny memnadangku tanpa putus. Mungkin dia kecewa, ibunya nggak secantik yang ada di foto yang biasa diperlihatkan Pevi. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya walau aku ragu dia akan menyukaiku.

Sunny mematung saat aku menyentuh pipinya yang berisi untuk memastikan bahwa aku nggak sedang bermimpi. Kedua tanganku gemetaran. Aku nggak mampu menahan tangisku yang pecah karena tiada kata-kata yang bisa menggambarkan kebahagiaanku hari itu.

“Sayang...,” aku memandanginya dengan seksama. Rambut, mata, hidung, bibir dan bentuk wajah miliknya adalah duplikatku dalam wujud seorang balita laki-laki.

Sunny hanya menatapku sambil memeluk sebuah boneka kelinci; pemberian Adrian saat dia datang setelah kelahiran Sunny. Sepertinya boneka itu adalah boneka kesayangannya.

“Sunny... ini Mama, Sayang...,” kataku mulai membelai rambutnya dengan lembut. Lalu aku mendekapnya. Aku sangat bersyukur bahwa sosok yang kupeluk bukan bayangan seperti biasanya. Aku meresapi bau khas anak kecil yang wangi oleh sentuhan bedak bayi yang melekat pada Sunny; aku sudah lama merindukan wangi itu dan membawaku ke masa sebelum aku meninggalkannya dengan terpaksa.

Sangat sulit bagi Sunny menerimaku pada awalnya. Namun setiap hari selama di Sydney, Adrian membawanya untuk berkunjung agar kami bisa saling mengenal. Sunny baru saja pintar bicara walau pelafalannya belum sempurna. Dia begitu menggemaskan saat cerita bagaimana ia dan Kinci -bonekanya, bermain di rumah. Saat Sunny mulai membiasakan dirinya denganku, ia harus pergi. Nggak ada yang lebih menyenangkan dari saat aku mengamati caranya bicara tanpa fokus mendengarkannya.

Adrian harus kembali karena tugasnya sebagai seorang dokter dan Pevi juga baru saja mencoba peruntungan untuk menjadi seorang model. Pevi mempunyai audisi penting yang nggak boleh ia lewatkan. Tapi, aku menerimanya dengan lapang dada, mereka membawa Sunny ke sini saja itu sudah lebih dari sebuah keajaiban yang langka. Aku yakin dalam pertemuan berikutnya Adrian akan membawanya lagi ke sisiku.

***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments