๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ

Adrian menghubungi salah satu yuniornya di kampus dulu yang pindah ke Sydney untuk bisa menjemputku di bandara. Berbekal alamat yang entah darimana Adrian dapatkan, aku yakin menemui Sydney nggak akan sesulit kelihatannya. Kata Adrian mencari nama Adams nggak serumit yang aku bayangkan karena dia salah satu pengusaha besar di bidang E-Commerce yang cukup terkenal di Australia. Dia meyakinkan yuniornya yang bernama Elby akan mengantarku langsung ke Sidney begitu turun dari pesawat.
Tapi, cukup mengecewakan saat aku nggak menemukan seseorang
yang memegang papan namaku di area kedatangan.
“Lo di jemput siapa?” tanya Magisa padaku dan tiba-tiba
sudah ada di sampingku setelah tadi sempat kuperhatikan ia tengah menelepon
seseorang
“Lo nggak bakal kenal,” celetukku sambil tetap memperhatikan
sekitarku. Tapi, aku belum menemukan orang yang bernama Elby itu. Aku pikir aku
akan menunggunya sampai datang.
“Terus selama di sini lo nginap di mana, Sai?” Magisa
bertanya dengan penuh perhatian.
“Kenapa sih lo mau tahu urusan orang?!” cetusku mulai kesal.
“Gue cuma mau bantuin...,” katanya dengan pelan dan kembali terlihat
memelas.
“Gue nggak butuh bantuan lo,” tegasku sambil menatapnya
tajam.
“Sai, please, gue Cuma mau bantuin. Gue ingin menebus
kesalahan gue....”
“Kalau lo mau menebus kesalahan lo kenapa nggak dari dulu?
Kenapa baru sekarang di saat gue ketemu lo cuma gara-gara kebetulan?!”
“Karena... gue nggak pernah berani nemuin lo langsung,
Sai... karena gue salah....”
“Mendingan lo pergi deh. Gue udah kapok tiap berurusan sama
lo, gue selalu sial!”
Wajah Magisa merengut seperti anak kecil. Sedikitnya aku
mulai sadar kata-kataku membuatnya sedih. Tapi, aku berusaha untuk nggak
mempercayai setiap ekspresi memelasnya yang bermacam ragam dengan tatapan mata
yang sama; tampak memohon. Sayangnya, si kawat gigi memang nggak pernah
berubah; dia terlalu gigih untuk meyakinkan orang lain.
“Sidney berusaha untuk nyari lo saat lo menghilang. Dia
bahkan pergi ke semua negara yang punya ladang bunga matahari buat nyariin lo,
Sai...,” kata dia lagi. “Gue yang bilang ke dia kalau lo pergi ke sana.....”
“Lo pasti bohong lagi...,” gumamku sambil menyeret koperku
dan meninggalkannya di sana.
“Sumpah, Sai! Gue nggak bohong!” dia berseru dari kejauhan.
“Gue yang bilang ke Sidney setelah gue ketemu Pevita di pengumuman kelulusan.
Jadi gue pikir kalian pasti ke sana....”
Langkahku tiba-tiba terhenti.
“Lo tahu alasan dia ninggalin Glenda? Itu karena lo, Saira!
Sidney sempat depresi karena dia nggak bisa nyari lo sampai ketemu!” penjelasan
Magisa terdengar semakin panjang. “Gue emang dekat sama Sidney tapi cuma
sebagai teman. Dia pernah benci banget sama gue atas apa yang gue lakuin ke
lo!”
Aku memutar langkahku untuk kembali menghampirinya. “Dan
seperti biasanya lo bohong lagi ke dia supaya dia nggak benci dan dekat sama
lo!” teriakku. “Lo lebih pinter dari gue ‘kan?! Apa lo nggak bisa mikir pake
otak kenapa gue nggak pernah percaya sama lo yang pasti bakal menghalalkan
segala cara demi tujuan lo?! Karena gue, juga Azid sama-sama tahu kalau lo suka
dia, ya ‘kan?!”
Magisa terdiam. Aku membuatnya kalah telak dalam perdebatan
itu.
“Ngapain lo di sini kalau bukan buat ketemu Sydney?” cercaku
lagi, “dan lo masih coba-coba untuk ngebohongin gue lagi....”
“Nggak, Sai...,” Magisa terdengar memohon. “Gue ke sini
bukan buat ketemu Sidney. Gue juga punya pacar dan itu bukan Sidney.”
“Oh ya? Orang aneh mana yang bisa lo perdaya sekarang?!”
celetukku lagi sambil tertawa pelan.
“Dia bakal jemput gue hari ini ke bandara. Sebentar lagi dia
juga datang,” kata Magisa dengan yakin.
“Bagus,” jawabku sebelum aku benar-benar pergi
meninggalkannya di sana.
“Saira!” dia kembali memanggilku seakan belum puas
menggangguku dan membuatku mulai merasa seharusnya aku nggak datang ke sini.
“Tunggu!”
“Apa lagi sih?!” bentakku.
“Lo harus tahu keadaannya sekarang!” dia berkata dengan
cempat sembari berlari mengejarku. Kemudian dia berdiri di depanku dengan wajah
itu lagi; memelas. “Dia akan menikah dalam waktu dekat, Sai...”
Aku nggak langsung percaya dan hanya terkekeh. “Bukan sama
lo ‘kan?” balasku, sambil tetap menyeret koperku pergi sebelum dia benar-benar
berhasil mempengaruhi pikiranku.
“Bu...bukan...,” jawab dia, suaranya lebih pelan. “Bukan
gue. Lo sendiri yang pernah bilang kalau Sidney nggak akan suka sama gue...
karena gue jelek, dan itu benar....”
Aku membalikan
badanku. Entah perasaanku saja atau aku memang melihat dia tersenyum
sebelum dia mengubah rautnya kembali memelas. Dia memang mengalihkan
perhatianku begitu saja dan sedikitnya mulai yakin kalau aku sudah mengambil
keputusan yang salah. Namun, terlalu bodoh jika aku mempercayai dia begitu saja
tanpa membuktikannya lebih dulu.
“Kalau lo nggak percaya gue, oke, gue bakal bawa lo ketemu
langsung sama dia buat ngebuktiin kalau gue nggak bohong,” katanya lagi. “Tapi
setelah itu apa?”
Aku terdiam.
“Lo harus percaya sama gue...,” pintanya. “Karena gue juga
ngerasain apa yang lo rasain sekarang, Sai....”
“Gue bisa dengerin semua ucapan lo tapi nggak berarti ya gue
langsung percaya gitu aja sama lo,” aku memperingatkan agar dia nggak mulai
memaksaku. Kepalaku tiba-tiba sakit. Rasanya dia sudah menjejaliku dengan fakta
yang meragukan sehingga aku mulai bingung.
Aku juga nggak kunjung melihat ada orang yang mencariku dan
mulai ragu akan ada yang datang. Aku nggak ngerti kenapa aku sial lagi;
pokoknya setiap bertemu dengan gadis ini nasibku selalu sial.
“Selama di sini lo bakal tinggal di mana?” tanya Magisa
tiba-tiba.
“Itu bukan urusan lo,” tandasku.
“Sai, ini udah malam, lo mau ke mana?” dia bertanya lagi.
“Kalau lo punya seseorang yang bisa dihubungi harusnya lo telepon dia
sekarang!”
“Gue nggak punya handphone, sialan!” teriakku kesal. Aku
pikir aku nggak membutuhkannya karena Adrian sudah memastikan Elby pasti datang
dan sudah menunggu bahkan sejak pesawatku belum tiba. Dia tahu aku nggak bisa
Bahasa Inggris dan pasti kesulitan untuk bertanya pada orang lain. Adrian bisa
saja begitu rapi menyusun rencana tapi mungkin temannya menganggap penjemputan
ini sepele.
“Lo bisa pakai handphone gue buat menelpon seseorang kalau
lo memang punya nomornya,” kata Magisa; dia menyodoriku hanpdhone miliknya.
Aku nggak punya pilihan lain. Terpaksa aku mengambil benda
itu dan mulai mencari selembar kertas catatan yang dibuat Adrian untukku; di
sana ada nomor handphone Adrian. Untunglah nggak butuh waktu lama bagi Adrian
untuk mengangkatnya.
“Halo? Saira?” Adrian langsung mengetehauinya; mungkin
karena kode area nya berbeda dan dia tahu satu-satunya telepon yang Adrian
tunggu dari Sydney hanyalah dariku. Dia berpesan padaku agar segera menelponnya
begitu aku tiba.
Aku mengamankan pembicaraanku dengan Adrian dengan mengambil
jarak yang cukup jauh dari Magisa; hanya agar dia nggak menguping. “Ya, Adrian.
Aku sudah sampai di Sydney. Tapi... Elby kayaknya belum datang....”
“Terus kamu pakai telepon siapa?” tanya Adrian
Aku melirik Magisa yang masih berdiri; menungguku selesai.
“Cuma... orang Indonesia yang kebetulan satu pesawat. Aku
nggak tahu bisa minta tolong siapa lagi....”
“Aku khawatir banget, Sai,” katanya, “Barusan Elby telepon
kalau dia nggak bisa jemput kamu karena ada pasien di rumah sakit yang nggak
bisa ditinggal....”
Aku menghembuskan nafas lelah. “Tapi, gini aja, sekarang,
kamu harus ke hotel dulu. Elby sudah menyiapkannya sejak kemarin. Kamu tinggal
pergi ke sana dan istirahat untuk malam ini.”
“Gimana caranya aku bisa ke sana?”
“Kamu bisa minta tolong ke orang Indonesia yang ketemu di
pesawat itu untuk nyariin taksi dan ngantar kamu ke hotel.”
Hari ini benar-benar membuatku lelah. Minta tolong pada si
kawat gigi? Benarkah aku harus melakukannya?
“Aku SMS-in nama hotel dan alamatnya ke nomor ini ya. Dia
pasti bisa Bahasa Inggris. Jangan lupa setelah kamu sampai di hotel, telepon
aku....”
“Ya udah....” kataku dengan lesu.
Aku benci melakukan ini, tapi aku memang nggak bisa apa-apa
selain harus mengatakan pada orang ini agar dia memberiku sedikit bantuan.
Sepertinya si kawat gigi bersedia membantu tanpa banyak bertanya. Dia
mengambilkan taksi untukku lalu berbicara pada supirnya; nggak tahu apa yang
mereka bicarakan, jelas semuanya dalam bahasa Inggris yang cas cis cus. Magisa
bahkan membayar supir taksi itu dimuka.
“Hati-hati ya, Sai...,” dia berkata sebelum aku naik ke
taksi itu.
Supir taksi bule berambut coklat itu telah memasukan koperku
ke dalam bagasi. Dia siap berangkat.
Aku mengangguk. “Makasih...,” ucapku datar; aku nggak tahu
kenapa aku nggak pernah bisa bersikap ramah terhadapnya walau dia sudah
menyelamatkan hariku.
Taksi mulai melaju. Aku sempat menengok ke belakang di mana
si kawat gigi masih berdiri dan melambaikan tangan. Walau dari kejauhan aku
masih bisa melihat bahwa ekspresinya berubah datar. Dia memang aneh.
***
Supir taksi sama sekali nggak bicara padaku; kalaupun dia
bicara aku bisa apa? Aku menyesal nggak belajar bahasa Inggris di sekolah.
Siapa sangka sekarang aku berada di Australia? Aku memandangi jalan-jalan yang
begitu asing bagiku. Sydney jauh berbeda dengan Jakarta. Di sini semuanya lebih
teratur dan yang pasti nggak banyak sepeda motor bersliweran di jalanan. Lalu
lintas yang lancar dan barisan mobil yang rapi saat memasuki jalan tol; semua
itu terlihat menakjubkan.
Tiba-tiba aku teringat dengan gedung yang atapnya seperti
keong; berdiri kokoh di pinggir laut; aku nggak tahu namanya tapi yang jelas
gedung itu berada di Sydney dan terkenal sekali. Pokoknya gedung itu
menggambarkan Australia secara keseluruhan walaupun benua ini kabarnya punya
banyak negara bagian. Dan akhirnya aku tahu, ibu kota Australia bukanlah Sydney
melainkan Canberra.
Perjalanan jauh itu membuatku lelah. Di dalam taksi aku
membayangkan bak mandi air hangat dan tempat tidur yang nyaman. Aku sedikit
mengantuk ketika malam sudah menjelma. Lampu-lampu sudah dinyalakan dan suasana
kota bahkan terasa lebih hidup. Aku membayangkan seandainya aku berjalan
bersama Sidney di antara lampu-lampu itu, menikmati malam yang berbeda setelah
meninggalkan saat-saat yang kelam di masa lalu. Aku berharap bahwa pertemuanku
dengannya akan seindah khayalanku yang tiba-tiba terhenti oleh suara supir
taksi.
Aku nggak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Aku melongo
lalu melihat sekitarku. Aku nggak melihat hotel. Sial! Aku bahkan nggak tahu
apa nama hotel tempatku menginap! Adrian mengirimkan lewat SMS dan aku nggak
membacanya karena setelah menelpon aku langsung memberikan benda itu pada
pemiliknya. Memang, aku lihat SMS itu masuk dan si kawat gigi langsung
membukanya sebelum ia memanggil taksi.
Bagaimana bisa aku tertipu lagi olehnya? Sial!
Supir taksi menyuruhku turun. Dia mungkin mencoba mengatakan
bahwa si kawat gigi memintanya menurunkanku di tempat itu dan dia mengikutinya
begitu saja karena sudah dibayar dimuka. Aku nggak percaya, aku tersesat di
kota asing itu seorang diri.
Penyesalan sempat terbesit di hatiku saat itu juga. Setelah
mendengar kabar bahwa Sidney akan menikah; entah benar atau tidak tapi tetap
membuatku gelisah, lalu si kawat gigi berhasil mempecundangiku lagi, aku
semakin merasa keputusanku datang sudah salah sama sekali.
Tidak ada apa-apa di sekelilingku. Hanya gedung-gedung yang
redup karena nggak banyak lampu yang menerangi jalan itu. Orang-orang jarang
terlihat melintas. Aku bahkan hanya melihat gelandangan dengan botol minuman di
dekatnya. Karena takut aku memutar balik langkahku. Aku nggak tahu siapa yang
bisa kusapa untuk meminta tolong. Mereka yang lewat terlihat begitu angkuh
dengan berlalu saja.
Sampai aku melihat seorang pemuda berjaket tengah melihat ke
arahku; ada beberapa orang lagi yang berjalan bersamanya. Aku merinding karena
mereka memandangiku sambil tertawa dan bercakap-cakap satu sama lain. Aku
mengambil inisiatif untuk menghindar dengan berlari menyeret koperku.
Ketakutanku semakin menjadi-jadi karena mereka ternyata mengejarku.
Belum pernah aku setakut ini dalam hidupku. Bak dikejar
serigala kelaparan, aku terus berlari; ke arah mana pun yang kupikir akan
menuntunku pada keramaian. Tapi, yang kutemukan adalah jalan buntu dan mereka
berhasil membuatku terpojok.
Aku masih ingat seringai dan suara mereka juga bagaimana
mereka berbicara. Tampaknya mereka puas melihatku begitu ketakutan. Perlahan
tapi pasti mereka mendekat dan mendapatkanku. Mereka menyeretku masuk ke mobil
dan membawaku entah ke mana. Yang aku ingat tempat itu gelap dan kotor.
Dari semua kejahatan yang pernah Magisa lakukan kepadaku itu
adalah kejahatan yang terburuk. Saat orang menjijikan itu menyentuhku, aku
pikir aku akan mati. Tapi, hanya dengan mengingat Sunny, entah dari mana aku
mendapatkan kekuatan untuk melawan.
Aku menyaksikan orang-orang itu tertawa atas apa yang mereka
lakukan padaku. Tapi, mereka tampaknya terlalu mabuk untuk menyadari bahwa aku
berusaha meraih botol kaca yang berada tidak jauh dariku. Dengan cepat aku
mengayunkan tanganku dan memukul kepala lelaki yang menindih tubuhku dengan
kasar.
“AAH!” dia menjerit kesakitan tapi aku belum melepaskan
genggamanku dari kepala botol yang telah pecah di atas kepalanya.
Dengan sisa tenagaku, aku bangkit dan menusukan benda itu ke
wajahnya. Dalam hitungan detik aku menghabisi nyawanya.
Ketiga temannya tampak terkejut, lalu ketakutan karena aku
masih memegang botol yang sama yang telah membunuh rekan mereka. Seperti
pengecut mereka kabur meninggalkan diriku yang telah hancur lebur di dalam kegelapan
itu.
***
Komentar
0 comments