[Novel Romantis] Sidney (hal.14)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar


Adrian menghubungi salah satu yuniornya di kampus dulu yang pindah ke Sydney untuk bisa menjemputku di bandara. Berbekal alamat yang entah darimana Adrian dapatkan, aku yakin menemui Sydney nggak akan sesulit kelihatannya. Kata Adrian mencari nama Adams nggak serumit yang aku bayangkan karena dia salah satu pengusaha besar di bidang E-Commerce yang cukup terkenal di Australia. Dia meyakinkan yuniornya yang bernama Elby akan mengantarku langsung ke Sidney begitu turun dari pesawat.

Tapi, cukup mengecewakan saat aku nggak menemukan seseorang yang memegang papan namaku di area kedatangan.

“Lo di jemput siapa?” tanya Magisa padaku dan tiba-tiba sudah ada di sampingku setelah tadi sempat kuperhatikan ia tengah menelepon seseorang

“Lo nggak bakal kenal,” celetukku sambil tetap memperhatikan sekitarku. Tapi, aku belum menemukan orang yang bernama Elby itu. Aku pikir aku akan menunggunya sampai datang.

“Terus selama di sini lo nginap di mana, Sai?” Magisa bertanya dengan penuh perhatian.

“Kenapa sih lo mau tahu urusan orang?!” cetusku mulai kesal.

“Gue cuma mau bantuin...,” katanya dengan pelan dan kembali terlihat memelas.

“Gue nggak butuh bantuan lo,” tegasku sambil menatapnya tajam.

“Sai, please, gue Cuma mau bantuin. Gue ingin menebus kesalahan gue....”

“Kalau lo mau menebus kesalahan lo kenapa nggak dari dulu? Kenapa baru sekarang di saat gue ketemu lo cuma gara-gara kebetulan?!”

“Karena... gue nggak pernah berani nemuin lo langsung, Sai... karena gue salah....”

“Mendingan lo pergi deh. Gue udah kapok tiap berurusan sama lo, gue selalu sial!”

Wajah Magisa merengut seperti anak kecil. Sedikitnya aku mulai sadar kata-kataku membuatnya sedih. Tapi, aku berusaha untuk nggak mempercayai setiap ekspresi memelasnya yang bermacam ragam dengan tatapan mata yang sama; tampak memohon. Sayangnya, si kawat gigi memang nggak pernah berubah; dia terlalu gigih untuk meyakinkan orang lain.

“Sidney berusaha untuk nyari lo saat lo menghilang. Dia bahkan pergi ke semua negara yang punya ladang bunga matahari buat nyariin lo, Sai...,” kata dia lagi. “Gue yang bilang ke dia kalau lo pergi ke sana.....”

“Lo pasti bohong lagi...,” gumamku sambil menyeret koperku dan meninggalkannya di sana.

“Sumpah, Sai! Gue nggak bohong!” dia berseru dari kejauhan. “Gue yang bilang ke Sidney setelah gue ketemu Pevita di pengumuman kelulusan. Jadi gue pikir kalian pasti ke sana....”

Langkahku tiba-tiba terhenti.

“Lo tahu alasan dia ninggalin Glenda? Itu karena lo, Saira! Sidney sempat depresi karena dia nggak bisa nyari lo sampai ketemu!” penjelasan Magisa terdengar semakin panjang. “Gue emang dekat sama Sidney tapi cuma sebagai teman. Dia pernah benci banget sama gue atas apa yang gue lakuin ke lo!”

Aku memutar langkahku untuk kembali menghampirinya. “Dan seperti biasanya lo bohong lagi ke dia supaya dia nggak benci dan dekat sama lo!” teriakku. “Lo lebih pinter dari gue ‘kan?! Apa lo nggak bisa mikir pake otak kenapa gue nggak pernah percaya sama lo yang pasti bakal menghalalkan segala cara demi tujuan lo?! Karena gue, juga Azid sama-sama tahu kalau lo suka dia, ya ‘kan?!”

Magisa terdiam. Aku membuatnya kalah telak dalam perdebatan itu.

“Ngapain lo di sini kalau bukan buat ketemu Sydney?” cercaku lagi, “dan lo masih coba-coba untuk ngebohongin gue lagi....”

“Nggak, Sai...,” Magisa terdengar memohon. “Gue ke sini bukan buat ketemu Sidney. Gue juga punya pacar dan itu bukan Sidney.”

“Oh ya? Orang aneh mana yang bisa lo perdaya sekarang?!” celetukku lagi sambil tertawa pelan.

“Dia bakal jemput gue hari ini ke bandara. Sebentar lagi dia juga datang,” kata Magisa dengan yakin.

“Bagus,” jawabku sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya di sana.

“Saira!” dia kembali memanggilku seakan belum puas menggangguku dan membuatku mulai merasa seharusnya aku nggak datang ke sini. “Tunggu!”

“Apa lagi sih?!” bentakku.

“Lo harus tahu keadaannya sekarang!” dia berkata dengan cempat sembari berlari mengejarku. Kemudian dia berdiri di depanku dengan wajah itu lagi; memelas. “Dia akan menikah dalam waktu dekat, Sai...”

Aku nggak langsung percaya dan hanya terkekeh. “Bukan sama lo ‘kan?” balasku, sambil tetap menyeret koperku pergi sebelum dia benar-benar berhasil mempengaruhi pikiranku.

“Bu...bukan...,” jawab dia, suaranya lebih pelan. “Bukan gue. Lo sendiri yang pernah bilang kalau Sidney nggak akan suka sama gue... karena gue jelek, dan itu benar....”

Aku membalikan  badanku. Entah perasaanku saja atau aku memang melihat dia tersenyum sebelum dia mengubah rautnya kembali memelas. Dia memang mengalihkan perhatianku begitu saja dan sedikitnya mulai yakin kalau aku sudah mengambil keputusan yang salah. Namun, terlalu bodoh jika aku mempercayai dia begitu saja tanpa membuktikannya lebih dulu.

“Kalau lo nggak percaya gue, oke, gue bakal bawa lo ketemu langsung sama dia buat ngebuktiin kalau gue nggak bohong,” katanya lagi. “Tapi setelah itu apa?”

Aku terdiam.

“Lo harus percaya sama gue...,” pintanya. “Karena gue juga ngerasain apa yang lo rasain sekarang, Sai....”

“Gue bisa dengerin semua ucapan lo tapi nggak berarti ya gue langsung percaya gitu aja sama lo,” aku memperingatkan agar dia nggak mulai memaksaku. Kepalaku tiba-tiba sakit. Rasanya dia sudah menjejaliku dengan fakta yang meragukan sehingga aku mulai bingung.

Aku juga nggak kunjung melihat ada orang yang mencariku dan mulai ragu akan ada yang datang. Aku nggak ngerti kenapa aku sial lagi; pokoknya setiap bertemu dengan gadis ini nasibku selalu sial.

“Selama di sini lo bakal tinggal di mana?” tanya Magisa tiba-tiba.

“Itu bukan urusan lo,” tandasku.

“Sai, ini udah malam, lo mau ke mana?” dia bertanya lagi. “Kalau lo punya seseorang yang bisa dihubungi harusnya lo telepon dia sekarang!”

“Gue nggak punya handphone, sialan!” teriakku kesal. Aku pikir aku nggak membutuhkannya karena Adrian sudah memastikan Elby pasti datang dan sudah menunggu bahkan sejak pesawatku belum tiba. Dia tahu aku nggak bisa Bahasa Inggris dan pasti kesulitan untuk bertanya pada orang lain. Adrian bisa saja begitu rapi menyusun rencana tapi mungkin temannya menganggap penjemputan ini sepele.

“Lo bisa pakai handphone gue buat menelpon seseorang kalau lo memang punya nomornya,” kata Magisa; dia menyodoriku hanpdhone miliknya.

Aku nggak punya pilihan lain. Terpaksa aku mengambil benda itu dan mulai mencari selembar kertas catatan yang dibuat Adrian untukku; di sana ada nomor handphone Adrian. Untunglah nggak butuh waktu lama bagi Adrian untuk mengangkatnya.

“Halo? Saira?” Adrian langsung mengetehauinya; mungkin karena kode area nya berbeda dan dia tahu satu-satunya telepon yang Adrian tunggu dari Sydney hanyalah dariku. Dia berpesan padaku agar segera menelponnya begitu aku tiba.

Aku mengamankan pembicaraanku dengan Adrian dengan mengambil jarak yang cukup jauh dari Magisa; hanya agar dia nggak menguping. “Ya, Adrian. Aku sudah sampai di Sydney. Tapi... Elby kayaknya belum datang....”

“Terus kamu pakai telepon siapa?” tanya Adrian

Aku melirik Magisa yang masih berdiri; menungguku selesai.

“Cuma... orang Indonesia yang kebetulan satu pesawat. Aku nggak tahu bisa minta tolong siapa lagi....”

“Aku khawatir banget, Sai,” katanya, “Barusan Elby telepon kalau dia nggak bisa jemput kamu karena ada pasien di rumah sakit yang nggak bisa ditinggal....”

Aku menghembuskan nafas lelah. “Tapi, gini aja, sekarang, kamu harus ke hotel dulu. Elby sudah menyiapkannya sejak kemarin. Kamu tinggal pergi ke sana dan istirahat untuk malam ini.”

“Gimana caranya aku bisa ke sana?”

“Kamu bisa minta tolong ke orang Indonesia yang ketemu di pesawat itu untuk nyariin taksi dan ngantar kamu ke hotel.”

Hari ini benar-benar membuatku lelah. Minta tolong pada si kawat gigi? Benarkah aku harus melakukannya?

“Aku SMS-in nama hotel dan alamatnya ke nomor ini ya. Dia pasti bisa Bahasa Inggris. Jangan lupa setelah kamu sampai di hotel, telepon aku....”

“Ya udah....” kataku dengan lesu.

Aku benci melakukan ini, tapi aku memang nggak bisa apa-apa selain harus mengatakan pada orang ini agar dia memberiku sedikit bantuan. Sepertinya si kawat gigi bersedia membantu tanpa banyak bertanya. Dia mengambilkan taksi untukku lalu berbicara pada supirnya; nggak tahu apa yang mereka bicarakan, jelas semuanya dalam bahasa Inggris yang cas cis cus. Magisa bahkan membayar supir taksi itu dimuka.

“Hati-hati ya, Sai...,” dia berkata sebelum aku naik ke taksi itu.

Supir taksi bule berambut coklat itu telah memasukan koperku ke dalam bagasi. Dia siap berangkat.

Aku mengangguk. “Makasih...,” ucapku datar; aku nggak tahu kenapa aku nggak pernah bisa bersikap ramah terhadapnya walau dia sudah menyelamatkan hariku.

Taksi mulai melaju. Aku sempat menengok ke belakang di mana si kawat gigi masih berdiri dan melambaikan tangan. Walau dari kejauhan aku masih bisa melihat bahwa ekspresinya berubah datar. Dia memang aneh.

***

Supir taksi sama sekali nggak bicara padaku; kalaupun dia bicara aku bisa apa? Aku menyesal nggak belajar bahasa Inggris di sekolah. Siapa sangka sekarang aku berada di Australia? Aku memandangi jalan-jalan yang begitu asing bagiku. Sydney jauh berbeda dengan Jakarta. Di sini semuanya lebih teratur dan yang pasti nggak banyak sepeda motor bersliweran di jalanan. Lalu lintas yang lancar dan barisan mobil yang rapi saat memasuki jalan tol; semua itu terlihat menakjubkan.

Tiba-tiba aku teringat dengan gedung yang atapnya seperti keong; berdiri kokoh di pinggir laut; aku nggak tahu namanya tapi yang jelas gedung itu berada di Sydney dan terkenal sekali. Pokoknya gedung itu menggambarkan Australia secara keseluruhan walaupun benua ini kabarnya punya banyak negara bagian. Dan akhirnya aku tahu, ibu kota Australia bukanlah Sydney melainkan Canberra.

Perjalanan jauh itu membuatku lelah. Di dalam taksi aku membayangkan bak mandi air hangat dan tempat tidur yang nyaman. Aku sedikit mengantuk ketika malam sudah menjelma. Lampu-lampu sudah dinyalakan dan suasana kota bahkan terasa lebih hidup. Aku membayangkan seandainya aku berjalan bersama Sidney di antara lampu-lampu itu, menikmati malam yang berbeda setelah meninggalkan saat-saat yang kelam di masa lalu. Aku berharap bahwa pertemuanku dengannya akan seindah khayalanku yang tiba-tiba terhenti oleh suara supir taksi.

Aku nggak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Aku melongo lalu melihat sekitarku. Aku nggak melihat hotel. Sial! Aku bahkan nggak tahu apa nama hotel tempatku menginap! Adrian mengirimkan lewat SMS dan aku nggak membacanya karena setelah menelpon aku langsung memberikan benda itu pada pemiliknya. Memang, aku lihat SMS itu masuk dan si kawat gigi langsung membukanya sebelum ia memanggil taksi.

Bagaimana bisa aku tertipu lagi olehnya? Sial!

Supir taksi menyuruhku turun. Dia mungkin mencoba mengatakan bahwa si kawat gigi memintanya menurunkanku di tempat itu dan dia mengikutinya begitu saja karena sudah dibayar dimuka. Aku nggak percaya, aku tersesat di kota asing itu seorang diri.

Penyesalan sempat terbesit di hatiku saat itu juga. Setelah mendengar kabar bahwa Sidney akan menikah; entah benar atau tidak tapi tetap membuatku gelisah, lalu si kawat gigi berhasil mempecundangiku lagi, aku semakin merasa keputusanku datang sudah salah sama sekali.

Tidak ada apa-apa di sekelilingku. Hanya gedung-gedung yang redup karena nggak banyak lampu yang menerangi jalan itu. Orang-orang jarang terlihat melintas. Aku bahkan hanya melihat gelandangan dengan botol minuman di dekatnya. Karena takut aku memutar balik langkahku. Aku nggak tahu siapa yang bisa kusapa untuk meminta tolong. Mereka yang lewat terlihat begitu angkuh dengan berlalu saja.

Sampai aku melihat seorang pemuda berjaket tengah melihat ke arahku; ada beberapa orang lagi yang berjalan bersamanya. Aku merinding karena mereka memandangiku sambil tertawa dan bercakap-cakap satu sama lain. Aku mengambil inisiatif untuk menghindar dengan berlari menyeret koperku. Ketakutanku semakin menjadi-jadi karena mereka ternyata mengejarku.

Belum pernah aku setakut ini dalam hidupku. Bak dikejar serigala kelaparan, aku terus berlari; ke arah mana pun yang kupikir akan menuntunku pada keramaian. Tapi, yang kutemukan adalah jalan buntu dan mereka berhasil membuatku terpojok.

Aku masih ingat seringai dan suara mereka juga bagaimana mereka berbicara. Tampaknya mereka puas melihatku begitu ketakutan. Perlahan tapi pasti mereka mendekat dan mendapatkanku. Mereka menyeretku masuk ke mobil dan membawaku entah ke mana. Yang aku ingat tempat itu gelap dan kotor.

Dari semua kejahatan yang pernah Magisa lakukan kepadaku itu adalah kejahatan yang terburuk. Saat orang menjijikan itu menyentuhku, aku pikir aku akan mati. Tapi, hanya dengan mengingat Sunny, entah dari mana aku mendapatkan kekuatan untuk melawan.

Aku menyaksikan orang-orang itu tertawa atas apa yang mereka lakukan padaku. Tapi, mereka tampaknya terlalu mabuk untuk menyadari bahwa aku berusaha meraih botol kaca yang berada tidak jauh dariku. Dengan cepat aku mengayunkan tanganku dan memukul kepala lelaki yang menindih tubuhku dengan kasar.

“AAH!” dia menjerit kesakitan tapi aku belum melepaskan genggamanku dari kepala botol yang telah pecah di atas kepalanya.

Dengan sisa tenagaku, aku bangkit dan menusukan benda itu ke wajahnya. Dalam hitungan detik aku menghabisi nyawanya.

Ketiga temannya tampak terkejut, lalu ketakutan karena aku masih memegang botol yang sama yang telah membunuh rekan mereka. Seperti pengecut mereka kabur meninggalkan diriku yang telah hancur lebur di dalam kegelapan itu.


***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments