๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Pencarian
Ada perbedaan mencolok antara Sidney dan Adrian. Sidney
mungkin dewasa dari segi umur dan pemikiran. Tapi, dia kurang suka berterus
terang dan memiliki banyak rahasia yang nggak bisa tersentuh olehku. Dia
terlihat memiliki batasan yang nggak bisa ditembus dengan mudah. Mungkin karena
aku masih kecil, dia bisa menghadapiku dengan kedewasaannya. Dia bisa mengendalikanku.
Sedangkan Adrian begitu polos dan putih. Dia mungkin nggak sekeren Sidney yang
punya gaya parlente; mobil mewah dan setelan yang kelihatannya mahal. Tapi,
kehidupannya berbeda dari aku dan Sidney. Adrian lebih apa adanya karena
terlahir dari keluarga yang normal.
Memang Sidney disayangi oleh ibu dan adik-adiknya tapi dia
mempunyai trauma yang cukup dalam mengenai ayahnya. Ayahnya terlalu keras
padanya dan selalu menentang semua yang dia inginkan. Sidney mengambil
penelitian di Indonesia karena mempunyai alasan untuk bisa lepas dari ayahnya
sejenak. Kurang lebih nasibnya sama denganku.
Aku pernah mendengar bahwa pasangan yang ditakdirkan bersama
biasanya memiliki perbedaan yang mencolok untuk bisa saling melengkapi. Jika
aku mengikuti rumus-rumus orang kebanyakan, mungkin aku harusnya memilih Adrian
yang jelas asal usulnya dan yang pasti rela berkorban ketimbang Sidney yang
penuh ambigu. Tapi, benar kata Adrian. Nggak mudah bagiku untuk lepas dari
bayang-bayang Sidney. Barangkali walau aku tahu dia sudah menikah, bisa saja
aku memohon padanya.
Cinta benar-benar memupus akal sehatku di saat harusnya aku
menolak tawaran Adrian pergi ke Australia dan justru menerima lamarannya. Toh,
dia seorang dokter dengan masa depan cerah lebih-lebih dia ingin menjadikan
Sunny seperti anaknya sendiri. Aku bisa pulang ke rumah dan siap mental
menghadapi Mama lalu menikah. Tapi, aku nggak melakukan semua itu.
Aku memilih ke Australia; begitulah rencananya. Tapi, siapa
sangka di bandara aku bertemu seseorang.
Dengar-dengar dia sedang menempuh pendidikan di
universitas.... apalah namanya dengan jurusan arsitektur pula. Aku ingat Ananda
yang ingin mendesign rumah untuk keluarganya dan impian terbesarnya dicuri
begitu saja oleh si kawat Gigi. Aku nggak percaya kebetulan macam apa sih yang
mempertemukanku dengannya di pesawat yang sama menuju Sydney? Kami bahkan
berada di deretan kursi yang sama dan selama penerbangan aku harus berhadapan
dengannya.
“Lo pasti mau ketemu Sidney di sana...,” dia memancingku
untuk bicara setelah hampir satu jam aku diam dan memilih pura-pura tidur.
“Apa urusan lo?” celetukku.
“Ayahnya meninggal dua bulan yang lalu,” kata Magisa
tiba-tiba dan aku terkejut. Aku mencoba memastikan kalau orang itu nggak
mengarang cerita lagi; setidaknya untuk menggangguku. “Kabarnya serangan
jantung.....”
“Oh ya?” aku berpura-pura acuh. Tapi, aku jelas
mendengarkannya. Sudah lama aku nggak mendengar kabar tentang Sidney.”Kayaknya
lo dekat banget sama dia....”
“Nggak kok...,” bantah Magisa dengan meyakinkan. “Sidney tinggal
di Sydney sama keluarganya sedangkan gue di Canberra. Sidney pernah kuliah di
Universitas Canberra sebelum ngambil S2 di Queensland. Gue memang pernah minta
tolong sama dia waktu baru nyampai sini. Tapi, sekarang udah nggak pernah
ketemu lagi.”
“Lo memang tahu banyak ya soal Sidney?” aku menatapnya
sinis.
“Sai, gue tau lo masih kesal sama gue dan gue belum sempat
minta maaf soal Ananda dan semua yang pernah gue lakuin ke elo. Lo menghilang
kayak ditelan bumi,” katanya menatapku sungguh-sungguh. “Gue mohon maafin
gue....”
“Lo nggak bohong ‘kan?” aku memandangnya skeptis.
“Ya Tuhan, Sai, kenapa lo masih berpikir kalau gue nggak
kapok? Ananda itu sahabat gue juga dulu. Gue nggak tahu ini bakal kejadian....”
“Lo harus tahu kalau penyebab Nanda berubah 180 derajat
dalam waktu singkat sampa-sampai berpikiran pendek dan bunuh diri. Dia terlalu
takut karena semua ancaman lo. Dan gue nggak habis pikir, target lo itu bukan
dia, tapi gue! Tapi, kenapa lo bawa-bawa dia segala?”
“Karena gue pikir Nanda mengkhianati gue dengan akrab sama
lo....”
“Asal lo tahu ya, dia ninggalin elo karena dia tahu semua
yang lo tulis tentang gue dan kelakuan gue itu bohong....”
“Gue tahu, Sai... please, gue merasa bersalah banget....”
“Lo nggak perlu minta maaf ke gue. Ke Nanda juga udah
telat...”
Magisa terdiam beberapa saat. Sebelum kembali bertanya,
“Kalau lo mau ketemu Sidney gue bisa bantu. Gue tahu dia tinggal di mana,”
katanya.
“Nggak usah....”
“Terus kenapa lo tiba-tiba ninggalin dia?”
Aku kembali menatapnya heran sambil mengerutkan dahi.
“Kenapa lo bisa tahu kalau gue yang ninggalin dia?” balasku. Aku mulai curiga;
jangan-jangan selama aku pergi, dia dan Sidney sudah semakin dekat. Tapi,
bagaimana dengan perempuan di apartemen yang pasti adalah tunangannya. “Dia
juga cerita?”
Si kawat gigi nggak langsung menjawab. Sikapnya mulai
meragukan dan dia benar-benar memancingku untuk bertanya lebih banyak.
“Kalau dia berani cerita sama lo soal gue, berarti dia juga
bilang soal cewek di apartemen dia ‘kan?”
“Maksud lo Glenda?” Magisa bertanya lagi dan dia terlihat
khawatir; entah itu benar-benar atau kamuflase. Aku nggak bisa mempercayainya
sekalipun aku mulai meyakini dia memang tahu banyak hal.
“Oh, namanya Glenda?” balasku.
“Mereka putus. Udah lama. Lagian Sidney nggak terlalu suka
sama cewek itu karena dijodohkan sama ayahnya untuk kelangsungan bisnis.” jelas
Magisa membuatku semakin penasaran. “Sekarang Sidney meneruskan bisnis
keluarga....’
Aku kembali menatapnya skeptis lalu terkekeh. “Inilah
penyebab kenapa gue nggak pernah percaya sama omongan lo. Tadi lo bilang lo
udah lama nggak ketemu tapi barusan lo cerita seolah lo tahu keadaannya yang
sekarang!” celetukku. “Kabarnya lo kuliah di Canberra tapi kenapa lo naik
pesawat ke Sydney?”
Magisa diam sebentar sebelum dia menegaskan. “Gue nggak
seperti yang lo kira.”
“Emang!” cetusku
kesal lalu nggak pernah lagi meladeninya bicara sampai pesawat mendarat di
Bandara Internasional Sydney.
***
Komentar
0 comments