[Novel Romantis] Sidney (hal.13)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Pencarian 

Ada perbedaan mencolok antara Sidney dan Adrian. Sidney mungkin dewasa dari segi umur dan pemikiran. Tapi, dia kurang suka berterus terang dan memiliki banyak rahasia yang nggak bisa tersentuh olehku. Dia terlihat memiliki batasan yang nggak bisa ditembus dengan mudah. Mungkin karena aku masih kecil, dia bisa menghadapiku dengan kedewasaannya. Dia bisa mengendalikanku. Sedangkan Adrian begitu polos dan putih. Dia mungkin nggak sekeren Sidney yang punya gaya parlente; mobil mewah dan setelan yang kelihatannya mahal. Tapi, kehidupannya berbeda dari aku dan Sidney. Adrian lebih apa adanya karena terlahir dari keluarga yang normal.

Memang Sidney disayangi oleh ibu dan adik-adiknya tapi dia mempunyai trauma yang cukup dalam mengenai ayahnya. Ayahnya terlalu keras padanya dan selalu menentang semua yang dia inginkan. Sidney mengambil penelitian di Indonesia karena mempunyai alasan untuk bisa lepas dari ayahnya sejenak. Kurang lebih nasibnya sama denganku.

Aku pernah mendengar bahwa pasangan yang ditakdirkan bersama biasanya memiliki perbedaan yang mencolok untuk bisa saling melengkapi. Jika aku mengikuti rumus-rumus orang kebanyakan, mungkin aku harusnya memilih Adrian yang jelas asal usulnya dan yang pasti rela berkorban ketimbang Sidney yang penuh ambigu. Tapi, benar kata Adrian. Nggak mudah bagiku untuk lepas dari bayang-bayang Sidney. Barangkali walau aku tahu dia sudah menikah, bisa saja aku memohon padanya.

Cinta benar-benar memupus akal sehatku di saat harusnya aku menolak tawaran Adrian pergi ke Australia dan justru menerima lamarannya. Toh, dia seorang dokter dengan masa depan cerah lebih-lebih dia ingin menjadikan Sunny seperti anaknya sendiri. Aku bisa pulang ke rumah dan siap mental menghadapi Mama lalu menikah. Tapi, aku nggak melakukan semua itu.

Aku memilih ke Australia; begitulah rencananya. Tapi, siapa sangka di bandara aku bertemu seseorang.

Dengar-dengar dia sedang menempuh pendidikan di universitas.... apalah namanya dengan jurusan arsitektur pula. Aku ingat Ananda yang ingin mendesign rumah untuk keluarganya dan impian terbesarnya dicuri begitu saja oleh si kawat Gigi. Aku nggak percaya kebetulan macam apa sih yang mempertemukanku dengannya di pesawat yang sama menuju Sydney? Kami bahkan berada di deretan kursi yang sama dan selama penerbangan aku harus berhadapan dengannya.

“Lo pasti mau ketemu Sidney di sana...,” dia memancingku untuk bicara setelah hampir satu jam aku diam dan memilih pura-pura tidur.

“Apa urusan lo?” celetukku.

“Ayahnya meninggal dua bulan yang lalu,” kata Magisa tiba-tiba dan aku terkejut. Aku mencoba memastikan kalau orang itu nggak mengarang cerita lagi; setidaknya untuk menggangguku. “Kabarnya serangan jantung.....”

“Oh ya?” aku berpura-pura acuh. Tapi, aku jelas mendengarkannya. Sudah lama aku nggak mendengar kabar tentang Sidney.”Kayaknya lo dekat banget sama dia....”

“Nggak kok...,” bantah Magisa dengan meyakinkan. “Sidney tinggal di Sydney sama keluarganya sedangkan gue di Canberra. Sidney pernah kuliah di Universitas Canberra sebelum ngambil S2 di Queensland. Gue memang pernah minta tolong sama dia waktu baru nyampai sini. Tapi, sekarang udah nggak pernah ketemu lagi.”

“Lo memang tahu banyak ya soal Sidney?” aku menatapnya sinis.

“Sai, gue tau lo masih kesal sama gue dan gue belum sempat minta maaf soal Ananda dan semua yang pernah gue lakuin ke elo. Lo menghilang kayak ditelan bumi,” katanya menatapku sungguh-sungguh. “Gue mohon maafin gue....”

“Lo nggak bohong ‘kan?” aku memandangnya skeptis.

“Ya Tuhan, Sai, kenapa lo masih berpikir kalau gue nggak kapok? Ananda itu sahabat gue juga dulu. Gue nggak tahu ini bakal kejadian....”

“Lo harus tahu kalau penyebab Nanda berubah 180 derajat dalam waktu singkat sampa-sampai berpikiran pendek dan bunuh diri. Dia terlalu takut karena semua ancaman lo. Dan gue nggak habis pikir, target lo itu bukan dia, tapi gue! Tapi, kenapa lo bawa-bawa dia segala?”

“Karena gue pikir Nanda mengkhianati gue dengan akrab sama lo....”

“Asal lo tahu ya, dia ninggalin elo karena dia tahu semua yang lo tulis tentang gue dan kelakuan gue itu bohong....”

“Gue tahu, Sai... please, gue merasa bersalah banget....”

“Lo nggak perlu minta maaf ke gue. Ke Nanda juga udah telat...”

Magisa terdiam beberapa saat. Sebelum kembali bertanya, “Kalau lo mau ketemu Sidney gue bisa bantu. Gue tahu dia tinggal di mana,” katanya.

“Nggak usah....”

“Terus kenapa lo tiba-tiba ninggalin dia?”

Aku kembali menatapnya heran sambil mengerutkan dahi. “Kenapa lo bisa tahu kalau gue yang ninggalin dia?” balasku. Aku mulai curiga; jangan-jangan selama aku pergi, dia dan Sidney sudah semakin dekat. Tapi, bagaimana dengan perempuan di apartemen yang pasti adalah tunangannya. “Dia juga cerita?”

Si kawat gigi nggak langsung menjawab. Sikapnya mulai meragukan dan dia benar-benar memancingku untuk bertanya lebih banyak.

“Kalau dia berani cerita sama lo soal gue, berarti dia juga bilang soal cewek di apartemen dia ‘kan?”

“Maksud lo Glenda?” Magisa bertanya lagi dan dia terlihat khawatir; entah itu benar-benar atau kamuflase. Aku nggak bisa mempercayainya sekalipun aku mulai meyakini dia memang tahu banyak hal.

“Oh, namanya Glenda?” balasku.

“Mereka putus. Udah lama. Lagian Sidney nggak terlalu suka sama cewek itu karena dijodohkan sama ayahnya untuk kelangsungan bisnis.” jelas Magisa membuatku semakin penasaran. “Sekarang Sidney meneruskan bisnis keluarga....’

Aku kembali menatapnya skeptis lalu terkekeh. “Inilah penyebab kenapa gue nggak pernah percaya sama omongan lo. Tadi lo bilang lo udah lama nggak ketemu tapi barusan lo cerita seolah lo tahu keadaannya yang sekarang!” celetukku. “Kabarnya lo kuliah di Canberra tapi kenapa lo naik pesawat ke Sydney?”

Magisa diam sebentar sebelum dia menegaskan. “Gue nggak seperti yang lo kira.”

 “Emang!” cetusku kesal lalu nggak pernah lagi meladeninya bicara sampai pesawat mendarat di Bandara Internasional Sydney.


***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments