[Novel Romantis] Sidney (hal.12)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Sai...,” Pevi kembali menatapku seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu saat aku sibuk mengganti pakaian Sunny yang baru selesai mandi. “Gue ngerasa kenapa lo nggak kasih tahu Sidney soal Sunny. Gimana pun dia tetap ayanya Sunny.”

Aku pun tersenyum getir. “Dia pasti udah balik ke Australia. Mau dicari ke mana?” balasku. “Lagian mungkin... kayaknya dia udah lupa sama gue....”

Pevi terdiam sejenak sebelum menarik nafas lelah. “Ya, kalau seandainya lo nggak kabur dari Mama lo juga pasti lo punya duit untuk nyari dia ke Australia. Alamat sih bisa dicari...,” komentarnya sambil mencak-mencak. “Semuanya jadi rumit ya?”

“Gue bisa ngurus Sunny sendiri kok,” ujarku.

“Ini bukan masalah sekedar ngurusin anak, Sai...,” kata Pevi.

“Ya, siapa tahu aja Sidney udah menikah sama perempuan itu....” balasku sambil tertunduk.

Pevi mengerutkan dahinya. “Tunggu, kenapa lo jadi putus asa gitu? Gue bilang lo harus ngasih tahu Sidney itu bukan supaya dia mau nikahin lo karena kalian punya anak. Paling nggak Sidney harus tahu dulu. Urusan dia bakal nikahin lo atau enggak juga ‘kan bisa dipikirin nanti....”

Aku menggeleng pelan. “Gue udah nggak mau ngomongin soal dia lagi,” tegasku.

“Iya gue ngerti. Dia itu memang bangsat banget. Bikin gue keki setelah tahu dia kayak ada sesuatu gitu sama si Gigi!” kata Pevi mulai mencak-mencak lagi. “Menjelang magangnya selesai, mereka sering kelihatan bareng. Kayak ada sesuatu. Dan lo tahu apa yang bikin gue lebih jengkel lagi? Si kawat gigi itu nggak cuma bikin Nanda bunuh diri tapi juga mengambil impiannya Nanda!”

Aku terkejut dan memusatkan perhatianku padanya.

“Iya, Sai! Si Gigi kabarnya mau kuliah di Australia! Dan lo tahu dia ngambil jurusan arsitektur! Persis kayak yang Nanda mau!”

“Mereka mungkin punya pemikiran yang sama karena dulunya sahabatan. Barangkali juga dulu mereka niatnya bisa sama-sama lulus...,” kataku, nggak mau ambil pusing soal si kawat gigi. Setiap mendengar namanya kepalaku jadi sakit. “Lo ingat ‘kan ritual kita? Itu ‘kan idenya dia dan justru Nanda yang ikut-ikutan....”

“Tapi, ini beda, Sai...,” Pevi meyakinkanku. “Gue sempat ngobrol sebentar sama dia saat ketemu di pengumuman kelulusan. Dia nanya ke gue soal permintaan terakhirnya Nanda. Dia bilang dia mau ke Australia. Abunya Nanda biar dia yang bawa ke ladang matahari yang ada di sana. Gue sebel banget tahu!”

“Terus lo bilang apa lagi?”

“Ya gue bilang aja gue sama lo juga mau ke Australia dalam waktu dekat! Bahkan kita juga udah beli tiketnya.”

“Jadi... si kawat Gigi sekarang udah di Australia?”

“Kurang lebih....”

Aku terdiam sangat lama. Sidney juga sudah kembali ke negaranya. Apa mereka mungkin bertemu lagi? Tapi, bagaimana dengan perempuan di apartemen?

“Kayaknya sih... si Gigi bela-belain ke Australia karena mau ngejar Sidney. Lo ‘kan tahu si nyebelin itu juga naksir cowok brengsek itu. Tapi, pasti dia nggak tahu kalau Sidney udah punya tunangan. Dia bakal tersingkir dengan lebih mudah....”

Aku meragukan hal itu karena nggak yakin Magisa benar-benar sudah berhenti berbohong akan segala hal. Aku sempat melihat dia mengakui kebohongannya di TV. Walaupun hanya dari kejauhan, aku bisa merasakan bahwa dia belum bersungguh-sungguh. Dia melakukan itu hanya karena terpojok. Jika selama aku nggak ada, dia dan Sidney begitu dekat nggak menutup kemungkinan dia masih suka berbohong. Katakanlah Magisa mengaku salah tapi pasti dia nggak berhenti mencoba meyakinkan Sidney bahwa dia memang menyesal sekali. Aku juga sudah tahu bahwa dia menyukai Sidney; sialnya.

Selama ini Magisa hidup dengan memperdaya orang dengan kata-kata yang tanpa perbuatan demi hasratnya yang nggak masuk akal. Aku yakin dia akan tumbuh menjadi sosok yang mengerikan setelah dewasa; barangkali mendekati psikopat. Orang ini nggak pernah benar-benar menyesali perbuatannya. Dia hanya menginginkan simpati dan perhatian orang-orang karena dulunya dia bukanlah apa-apa.

“Saira?” kehadiran Mama-nya Pevi tiba-tiba membuyarkan lamunanku. “Ada tamu,” kata Mama-nya Pevi padaku.

Aku terkesiap dan Pevi terkejut. Sejak sembunyi aku nggak pernah ketemu siapa pun. Bahkan nggak ada yang tahu bahwa selama beberapa bulan ini aku menumpang tinggal di rumah keluarga Pevi. Mama Pevi juga sangat baik padaku dan mengajariku cara mengurus bayi yang benar.

Tapi, aku bersyukur karena tamu yang datang mencariku hanyalah Adrian.

***

“Sampai kapan?” Adrian bertanya dengan serius padaku setelah kami mengobrol santai tentang apa saja yang terjadi akhir-akhir ini. Pertemuan ini adalah pertemuan pertama kalinya lagi setelah Adrian tahu kehamilanku dan dia nggak pernah menemuiku lagi sehingga dia membuatku sedikit gemetaran dan grogi. Mengetahui bahwa setidaknya dia masih peduli padaku walaupun aku selalu saja menyakiti hatinya, membuatku bahagia. Dia datang dengan sebuah boneka kelinci putih untuk Sunny.

Aku nggak langsung menjawab pertanyaannya. Aku nggak mengerti dengan apa yang dia maksud dengan ‘sampai kapan’. Aku merasa pertanyaan itu merujuk pada banyak hal yang sekarang berputar-putar di kepalaku. Entah itu pertanyaan tentang sampai kapan aku akan bersembunyi di sini atau mungkin menumpang tinggal dengan keluarga Pevi karena jelas itu sangat merepotkan mereka. Terlebih aku belum bisa menemukan pekerjaan. Bayiku masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal.

“Sampai kapan kamu akan membiarkan dia merasa nggak meninggalkan jejak sedikit pun?” Adrian kembali bertanya dan pertanyaan itu membuatku kembali terdiam.

Cukup lama kemudian, Adrian menghembuskan nafas lelah.

“Kenapa, Saira?” tanya Adrian lagi padaku. “Apa ini karena kamu nggak berdaya untuk pergi menemuinya ke sana?”

Aku menggeleng. Aku nggak pernah mengatakan padanya bahwa aku sengaja menarik diri karena Sidney sudah mempunyai perempuan lain. Hanya itu yang kutahu.

“Aku pikir ini hukuman untuknya atas apa yang dia perbuat...,” jawabku tenang. “Akan lebih baik kalau dia nggak tahu....”

Aku hanya nggak ingin Sidney muncul dengan tunangan yang mungkin sudah menjadi istrinya di hadapanku dan mengembalikan semua kenangan buruk. Selama ini aku berhasil bertahan dengan melupakan bahwa dia mengkhianatiku.

“Artinya kamu belum benar-benar lepas dari kenangan,” Adrian berkata.

“Aku nggak punya waktu untuk memikirkan gimana caranya aku bisa ketemu dia lagi,” tegasku. “Lagian kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal dia? Apa kamu sengaja datang ke sini hanya untuk itu?”

“Aku nggak sepicik itu,” kata Adrian. “Kamu menanggung ini sendirian, Saira!”

“Terus kenapa? Apa kelihatannya aku nggak mampu?”

“Bukan begitu!” suara Adrian mengeras. Dia menatapku lekat-lekat. “Aku sangat menyayangi kamu. Bahkan setelah semua hal yang nggak adil ini terjadi padaku, aku nggak bisa berhenti memikirkan kamu. Hanya sedikit lagi saja, Saira, aku bisa membuat kamu melupakan dia. Tapi, kamu... kamu mempunyai anak dengan orang itu. Aku merasa bahwa kamu harus memberitahunya. Aku nggak ingin melihat kamu menderita sendiri seperti ini....”

“Aku nggak benar-benar sendirian...,” ujarku bersungguh-sungguh. “Dan aku nggak bisa terus ada di masa lalu....”

Adrian menatapku lagi. Kali ini lebih dalam. “Kamu pikir seperti apa caraku mencintai kamu?” dia bertanya. “Aku bisa saja bilang ingin menikahi kamu dan menjadikan Sunny anakku sehingga kamu nggak perlu sembunyi terus. Paling nggak aku bisa meyakinkan ibu kamu. Tapi, aku yakin kamu nggak menginginkannya karena kamu masih terikat dengan dia. Aku tahu sampai detik ini pun kamu belum bisa melupakannya. Apa aku bisa memaksa kamu?”

Aku masih nggak percaya dengan apa yang aku dengar dari Adrian.

“Aku terus memikirkannya, Saira...,” Adrian masih menatapku dengan cara yang sama. “Aku bukan seseorang yang kamu inginkan untuk berada di sisimu saat ini. Tapi, aku merasa nggak bisa membiarkan kamu sendirian. Dan jika bersamanya, semua penderitaan kamu berakhir, apalagi yang bisa kuberikan selain mengalah? Hanya agar... kamu bahagia?”

“Aku ngerti...,” kataku kemudian. “Aku bahkan nggak mikirin diriku sampai segitunya....”

Adrian berdiri lalu memandangku lagi. “Aku datang ke sini untuk ngasih kamu sebuah penawaran,” kata dia, tegas. Tampaknya dia ingin segera mengakhiri pembicaraan kami. “Aku berharap kamu nggak menerimanya tapi aku pikir akan sangat egois kalau aku terus memaksa kamu untuk bersamaku.”

“Penawaran apa?”

“Kalau kamu mau pergi ke Australia, aku akan mengurus keperluannya. Temui dia dan katakan semuanya!”

Aku terhenyak. Ke Australia? Aku hampir nggak percaya tapi tampaknya Adrian nggak sedang mencandaiku. Aku belum memahami kenapa dia melakukan ini.

“Inilah hal terakhir yang bisa aku lakukan dan setelah itu aku akan berhenti gelisah soal kamu. Meski pun itu artinya aku akan kehilangan kamu. Tapi, memang selama ini aku juga nggak pernah merasa memiliki kamu. Kita nggak akan merindukan sesuatu yang nggak pernah kita miliki, Saira....”

“Apa kamu nggak apa-apa? Aku selalu bikin kamu kecewa dan gimana mungkin... kamu membuka kesempatan untuk dikecewakan lagi dengan cara yang sama? Aku muak ngelakuin itu ke kamu....”

“Lalu jangan lakukan itu lagi...,” katanya, suaranya mulai gemetar.

Aku diam.

“Kamu nggak bisa ‘kan?” desaknya. “Aku sudah siap dengan segala kemungkinan itu....”

“Tapi, kenapa, Adrian?”

Dia mendekat selangkah untuk menatapku lekat-lekat. “Setidaknya aku masih percaya jika sesuatu ditakdirkan untuk kita miliki, dia akan kembali walaupun telah pergi berkali-kali...,” ucap dia dan aku mendengarkan dengan seksama. “Kita nggak pernah tahu takdir kita. Nggak peduli seribu tahun,  cinta tetap akan kembali ke rumahnya... yaitu hati kita....”

***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments