๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Harapan Terakhir
Sangat disayangkan waktu itu aku nggak melihat amukan
orang-orang terhadap si kawat gigi. Sejak pemakaman Ananda, aku enggan datang
ke sekolah. Ya, aku menyendiri. Mama kelihatan belum puas sebelum aku
menunjukan diriku agar semua orang tahu aku nggak bersalah sehingga dia
memaksaku untuk tampil di muka umum dan membuat si kawat gigi makin terpojok.
Bagiku, tanpa Ananda semua itu sudah nggak ada artinya.
Sampai suatu hari aku menyadari sesuatu di dalam diriku dan
nggak punya pilihan selain menemui Pevi.
“Lo udah periksa ke dokter?” Pevi bertanya dengan wajah
cemas.
Aku menggeleng. Aku merasa pusing karena memang kurang tidur
dan barangkali terserang anemia. Lagipula stress berkepanjangan membuatku sama
sekali nggak bernafsu untuk makan. Setiap pagi aku merasa mual sampai muntah
beberapa kali.
Karena khawatir, Pevi memberitahu Adrian yang notabene akan
menjadi seorang dokter.
Adrian datang dan luar biasa senang ketika melihatku. Namun,
rautnya yang bahagia tiba-tiba berubah muram saat memperhatikan wajahku yang
pucat.
“Sejak kapan kamu sering mual?” dia bertanya padaku dengan
tampang serius seolah sakitku ini sangat berbahaya.
Aku masih berpikiran bahwa hanya dengan beristirahat aku
akan membaik. “Aku nggak ingat, tapi sering...,” jawabku. Aku juga cepat lelah
tanpa sebab. Dan yang terparah rasa pusing terkadang membuatku harus berbaring
seharian di tempat tidur.
Adrian masih menatapku dengan cara yang sama. Antara
khawatir dan curiga. Dia membuatku sedikit jengah di saat aku lebih ingin
sendiri daripada menjawab pertanyaannya. “Kapan terakhir kali kamu menstruasi?”
dia bertanya lagi dan itu membuatku kaget setengah mati. Kenapa dia bertanya
begitu?
Pevi mendekat. “Lo nggak telat ‘kan, Sai?” dia ikut bertanya
seakan sependapat dengan Adrian.
Aku mencoba mengingatnya lagi dan mulai menghitung. Saat aku
menemukan jawaban dari pertanyaan Pevi dan Adrian, aku mulai panik. Itu nggak
mungkin. Aku menendang semua memori bersama Sidney namun itu tak dapat
membantah kenyataan yang harus kuterima bagaimana pun juga. Aku hamil. Aku
memang terkejut, Pevi juga. Tapi, Adrian tampak kecewa lagi. Sejak dia tahu
tentang hubunganku dengan Sidney, sikapnya berubah. Aku tahu aku nggak hanya
membuatnya patah hati berkali-kali tapi juga menyakiti perasaannya setelah itu
dan bahkan aku telah membuat adiknya bunuh diri.
Aku mulai membayangkan bagaimana jika aku melalui ini tanpa
Sidney. Aku akui bahwa akulah yang menghindar darinya karena takut kecewa.
Namun, saat Pevi memberiku sebuah kertas kecil yang ia dapatkan dari Sidney
yang mencariku, aku melihat harapan terakhirku masih ada bersamanya. Dia
mengirimiku pesan pada kertas kecil yang bergambar rumah seolah menunjukan
bahwa dia adalah tempat bagiku untuk kembali. Aku hampir menangis saat
menyadari bahwa pemikiranku salah. Kemudian, aku merasa nggak akan sanggup
melalui semua ini tanpanya.
Harapan untuk kembali bersama terlihat kian jelas di pelupuk
mata saat aku menuju apartemen Sidney dengan membawa baju-bajuku. Aku tahu Mama
nggak akan setuju dengan keputusanku sehingga aku berpikir untuk melarikan diri
saja. Dengan naifnya aku sangat yakin setelah aku memberitahu Sidney, dia akan
menikahiku. Dia akan membawaku pergi. Ke Australia atau ke mana pun itu. Aku
sangat yakin Sidney sedang menungguku kembali padanya.
Tapi, aku keliru.
Dengan riang, aku memencet bel pintunya. Berharap dia akan
membukanya dan langsung memelukku begitu dia tahu yang datang adalah aku. Aku
sudah nggak bisa menunggu lama untuk memberitahunya. Namun, kejamnya kenyataan
menghancurkan semua khayalanku tentangnya. Seorang perempuan asing yang hanya
mengenakan baju tidur terlihat di balik pintu.
Aku terpana padanya saat dia mengerutkan dahi dan menanyakan
sesuatu; tapi dalam Bahasa Inggris yang sama sekali nggak kupahami. Tapi,
melihat akhirnya Sidney muncul juga dengan telanjang dada, membuatku
benar-benar mengubur semua keinginan untuk bersamanya.
Ternyata kabar bahwa dia sudah bertunangan itu benar.
Perempuan bermata biru dan berambut pirang itu adalah kekasihnya yang lain.
“Saira?!” Sidney memanggil namaku.
Tapi, aku segera pergi. Aku berlari sekencang-kencangnya
sambil menghapus air mataku yang nggak bisa berhenti mengalir. Aku nggak pernah
menyangka bahwa aku akan melihat hal-hal seperti itu. Aku nggak hanya merasa
dikhianati tapi juga telah ditipu mentah-mentah. Seharusnya aku mendengarkan
teman-temanku. Namun, penyesalan nggak membuat masa-masa yang harusnya indah
menjadi baik. Aku benar-benar tersesat seperti orang buta yang kehilangan
tongkatnya. Aku merangkak dalam kegelapan dan tangisku sendiri cukup lama. Dan
di saat terkelamku, Pevi nggak pernah meninggalkanku.
Dia memberiku tempat tinggal karena aku nggak bisa pulang
lagi. Mamaku pasti akan mengamuk kalau dia tahu aku hamil. Karena itu aku
menghilang dari rumah hanya dengan meninggalkan secarik kertas di atas meja dan
mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja. Aku berpesan pada Mama agar jangan
mencariku.
***
Aku melewatkan banyak hal yang harusnya kualami di masa-masa
terakhirku menjadi anak SMA; pesta perpisahan berlalu begitu saja. Aku juga
bahkan absen dari Ujian Nasional. Artinya aku nggak pernah lulus. Aku
menghabiskan hariku untuk merenungi semua yang telah terjadi. Badai sudah
berlalu namun menyisakan kepedihan yang panjang. Aku tahu semua orang mencariku
untuk mengembalikan namaku tapi aku memilih menghindar.
Satu masalah besar selesai, satu masalah yang lebih besar
lagi datang. Ah, aku nggak boleh menyebutnya masalah karena ini menyangkut satu
nyawa yang hidup dan tumbuh bersamaku; dan berharap untuk terus hidup. Aku tahu
aku akan mencintai anak ini lebih dari aku mencintai Sidney dan enam bulan
kemudian dia hadir dalam bentuk yang sangat nyata. Seorang bayi kecil laki-laki
yang sangat imut dan membuatku menangis saat pertama kali aku memeluknya.
“Satu nyawa pergi, satu nyawa terlahir kembali...,” kata
Pevi padaku saat ia menggendong anak lelakiku yang lahir beberapa hari lalu.
“Dia manis banget... mirip lo, Sai....”
Aku tersenyum hampa memandangi Pevi. Aku masih belum percaya
sembilan bulan telah berlalu tanpa terasa dalam persembunyian. Aku mengingat
prosesnya yang panjang sampai akhirnya dia hadir dalam pelukanku dengan rasa
sakit yang luar biasa sebagai penguat setiap aku merasa lemah. Setelah anakku
lahir, aku akan hidup dengan baik.
“Lo mau kasih nama apa?” tanya Pevi kemudian.
“Gue belum kepikiran, Pev...,” jawabku murung.
Pevi memandangi wajah bayi itu dengan penuh kasih sayang.
“Dia bakal menggantikan Nanda di antara kita,” katanya. “Mungkin dia
reinkarnasinya Nanda....”
“Tapi, dia cowok, Pev....”
Tiba-tiba Pevi menghampiriku sambil tetap menggendong si
bayi yang sedang tidur pulas. “Eh, Nanda ‘kan suka banget sama bunga matahari.
Kita namain anak ini Sunny aja,” usul dia.
Aku tersenyum. “Sunny?”
“Ya, kalau lo mau.”
Aku pun mengangguk. “Sunny,” kataku sambil memandangi
putraku.
“Sunny, nama yang lucu...,” gumam Pevi sambil menciumi pipi
Sunny dengan gemas. Lalu menatapku. “Oh ya, ngomong-ngomong soal Nanda...
rencana kita soal ladang bunga matahari masih tetap ‘kan?”
“Ya, itu permintaan terakhirnya Nanda di catatan bunuh
dirinya...,” kataku menjadi sedih secara tiba-tiba.
“Tenang aja,” ujar Pevi. “Gue pasti bisa ngumpulin uang buat
ke sana. Lo juga.”
“Pasti....”
Kami saling tatap dan tersenyum. Sama-sama melempar kerinduan
yang pedih kepada teman kami yang sudah pergi. Tapi, kesedihan itu seketika
sirna ketika memandangi Sunny. Dia adalah matahari yang kembali terbit setelah
gelapnya malam membuat kami kehilangan Ananda. Masalah di sekolah sudah
selesai. Kelulusan berjalan dengan semestinya tanpaku.
***
Komentar
0 comments