[Novel Romantis] Sidney (hal.11)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Harapan Terakhir

Sangat disayangkan waktu itu aku nggak melihat amukan orang-orang terhadap si kawat gigi. Sejak pemakaman Ananda, aku enggan datang ke sekolah. Ya, aku menyendiri. Mama kelihatan belum puas sebelum aku menunjukan diriku agar semua orang tahu aku nggak bersalah sehingga dia memaksaku untuk tampil di muka umum dan membuat si kawat gigi makin terpojok. Bagiku, tanpa Ananda semua itu sudah nggak ada artinya.

Sampai suatu hari aku menyadari sesuatu di dalam diriku dan nggak punya pilihan selain menemui Pevi.

“Lo udah periksa ke dokter?” Pevi bertanya dengan wajah cemas.

Aku menggeleng. Aku merasa pusing karena memang kurang tidur dan barangkali terserang anemia. Lagipula stress berkepanjangan membuatku sama sekali nggak bernafsu untuk makan. Setiap pagi aku merasa mual sampai muntah beberapa kali.

Karena khawatir, Pevi memberitahu Adrian yang notabene akan menjadi seorang dokter.

Adrian datang dan luar biasa senang ketika melihatku. Namun, rautnya yang bahagia tiba-tiba berubah muram saat memperhatikan wajahku yang pucat.

“Sejak kapan kamu sering mual?” dia bertanya padaku dengan tampang serius seolah sakitku ini sangat berbahaya.

Aku masih berpikiran bahwa hanya dengan beristirahat aku akan membaik. “Aku nggak ingat, tapi sering...,” jawabku. Aku juga cepat lelah tanpa sebab. Dan yang terparah rasa pusing terkadang membuatku harus berbaring seharian di tempat tidur.

Adrian masih menatapku dengan cara yang sama. Antara khawatir dan curiga. Dia membuatku sedikit jengah di saat aku lebih ingin sendiri daripada menjawab pertanyaannya. “Kapan terakhir kali kamu menstruasi?” dia bertanya lagi dan itu membuatku kaget setengah mati. Kenapa dia bertanya begitu?

Pevi mendekat. “Lo nggak telat ‘kan, Sai?” dia ikut bertanya seakan sependapat dengan Adrian.

Aku mencoba mengingatnya lagi dan mulai menghitung. Saat aku menemukan jawaban dari pertanyaan Pevi dan Adrian, aku mulai panik. Itu nggak mungkin. Aku menendang semua memori bersama Sidney namun itu tak dapat membantah kenyataan yang harus kuterima bagaimana pun juga. Aku hamil. Aku memang terkejut, Pevi juga. Tapi, Adrian tampak kecewa lagi. Sejak dia tahu tentang hubunganku dengan Sidney, sikapnya berubah. Aku tahu aku nggak hanya membuatnya patah hati berkali-kali tapi juga menyakiti perasaannya setelah itu dan bahkan aku telah membuat adiknya bunuh diri.

Aku mulai membayangkan bagaimana jika aku melalui ini tanpa Sidney. Aku akui bahwa akulah yang menghindar darinya karena takut kecewa. Namun, saat Pevi memberiku sebuah kertas kecil yang ia dapatkan dari Sidney yang mencariku, aku melihat harapan terakhirku masih ada bersamanya. Dia mengirimiku pesan pada kertas kecil yang bergambar rumah seolah menunjukan bahwa dia adalah tempat bagiku untuk kembali. Aku hampir menangis saat menyadari bahwa pemikiranku salah. Kemudian, aku merasa nggak akan sanggup melalui semua ini tanpanya.

Harapan untuk kembali bersama terlihat kian jelas di pelupuk mata saat aku menuju apartemen Sidney dengan membawa baju-bajuku. Aku tahu Mama nggak akan setuju dengan keputusanku sehingga aku berpikir untuk melarikan diri saja. Dengan naifnya aku sangat yakin setelah aku memberitahu Sidney, dia akan menikahiku. Dia akan membawaku pergi. Ke Australia atau ke mana pun itu. Aku sangat yakin Sidney sedang menungguku kembali padanya.

Tapi, aku keliru.

Dengan riang, aku memencet bel pintunya. Berharap dia akan membukanya dan langsung memelukku begitu dia tahu yang datang adalah aku. Aku sudah nggak bisa menunggu lama untuk memberitahunya. Namun, kejamnya kenyataan menghancurkan semua khayalanku tentangnya. Seorang perempuan asing yang hanya mengenakan baju tidur terlihat di balik pintu.

Aku terpana padanya saat dia mengerutkan dahi dan menanyakan sesuatu; tapi dalam Bahasa Inggris yang sama sekali nggak kupahami. Tapi, melihat akhirnya Sidney muncul juga dengan telanjang dada, membuatku benar-benar mengubur semua keinginan untuk bersamanya.

Ternyata kabar bahwa dia sudah bertunangan itu benar. Perempuan bermata biru dan berambut pirang itu adalah kekasihnya yang lain.

“Saira?!” Sidney memanggil namaku.

Tapi, aku segera pergi. Aku berlari sekencang-kencangnya sambil menghapus air mataku yang nggak bisa berhenti mengalir. Aku nggak pernah menyangka bahwa aku akan melihat hal-hal seperti itu. Aku nggak hanya merasa dikhianati tapi juga telah ditipu mentah-mentah. Seharusnya aku mendengarkan teman-temanku. Namun, penyesalan nggak membuat masa-masa yang harusnya indah menjadi baik. Aku benar-benar tersesat seperti orang buta yang kehilangan tongkatnya. Aku merangkak dalam kegelapan dan tangisku sendiri cukup lama. Dan di saat terkelamku, Pevi nggak pernah meninggalkanku.

Dia memberiku tempat tinggal karena aku nggak bisa pulang lagi. Mamaku pasti akan mengamuk kalau dia tahu aku hamil. Karena itu aku menghilang dari rumah hanya dengan meninggalkan secarik kertas di atas meja dan mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja. Aku berpesan pada Mama agar jangan mencariku.

***

Aku melewatkan banyak hal yang harusnya kualami di masa-masa terakhirku menjadi anak SMA; pesta perpisahan berlalu begitu saja. Aku juga bahkan absen dari Ujian Nasional. Artinya aku nggak pernah lulus. Aku menghabiskan hariku untuk merenungi semua yang telah terjadi. Badai sudah berlalu namun menyisakan kepedihan yang panjang. Aku tahu semua orang mencariku untuk mengembalikan namaku tapi aku memilih menghindar.

Satu masalah besar selesai, satu masalah yang lebih besar lagi datang. Ah, aku nggak boleh menyebutnya masalah karena ini menyangkut satu nyawa yang hidup dan tumbuh bersamaku; dan berharap untuk terus hidup. Aku tahu aku akan mencintai anak ini lebih dari aku mencintai Sidney dan enam bulan kemudian dia hadir dalam bentuk yang sangat nyata. Seorang bayi kecil laki-laki yang sangat imut dan membuatku menangis saat pertama kali aku memeluknya.

“Satu nyawa pergi, satu nyawa terlahir kembali...,” kata Pevi padaku saat ia menggendong anak lelakiku yang lahir beberapa hari lalu. “Dia manis banget... mirip lo, Sai....”

Aku tersenyum hampa memandangi Pevi. Aku masih belum percaya sembilan bulan telah berlalu tanpa terasa dalam persembunyian. Aku mengingat prosesnya yang panjang sampai akhirnya dia hadir dalam pelukanku dengan rasa sakit yang luar biasa sebagai penguat setiap aku merasa lemah. Setelah anakku lahir, aku akan hidup dengan baik.

“Lo mau kasih nama apa?” tanya Pevi kemudian.

“Gue belum kepikiran, Pev...,”  jawabku murung.

Pevi memandangi wajah bayi itu dengan penuh kasih sayang. “Dia bakal menggantikan Nanda di antara kita,” katanya. “Mungkin dia reinkarnasinya Nanda....”

“Tapi, dia cowok, Pev....”

Tiba-tiba Pevi menghampiriku sambil tetap menggendong si bayi yang sedang tidur pulas. “Eh, Nanda ‘kan suka banget sama bunga matahari. Kita namain anak ini Sunny aja,” usul dia.

Aku tersenyum. “Sunny?”

“Ya, kalau lo mau.”

Aku pun mengangguk. “Sunny,” kataku sambil memandangi putraku.

“Sunny, nama yang lucu...,” gumam Pevi sambil menciumi pipi Sunny dengan gemas. Lalu menatapku. “Oh ya, ngomong-ngomong soal Nanda... rencana kita soal ladang bunga matahari masih tetap ‘kan?”

“Ya, itu permintaan terakhirnya Nanda di catatan bunuh dirinya...,” kataku menjadi sedih secara tiba-tiba.

“Tenang aja,” ujar Pevi. “Gue pasti bisa ngumpulin uang buat ke sana. Lo juga.”

“Pasti....”

Kami saling tatap dan tersenyum. Sama-sama melempar kerinduan yang pedih kepada teman kami yang sudah pergi. Tapi, kesedihan itu seketika sirna ketika memandangi Sunny. Dia adalah matahari yang kembali terbit setelah gelapnya malam membuat kami kehilangan Ananda. Masalah di sekolah sudah selesai. Kelulusan berjalan dengan semestinya tanpaku.


***




Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments