๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku nggak ingin mengulang bagaimana aku menerima perlakuan
orang sejak kejadian itu. Hampir semua orang menyudutkanku; Sidney, Mama, guru
dan kepala sekolah ditambah seisi sekolah. Banyak yang mengaku bahwa mereka
menyaksikan sendiri bagaimana aku mencelakai Magisa. Aku dengan sengaja
mendorongnya sampai jatuh dari tangga hingga koma di rumah sakit. Tuduhan itu
terdengar makin menyakitkan saja. Ada yang bilang aku melakukan itu untuk
membungkam Magisa agar nggak membongkar kedok Saira’s Squad. Ada pula yang
bilang aku membalaskan dendam.
Nggak lama foto-foto yang Magisa pakai untuk mengancam
Ananda tersebar luas. Wali murid mulai heboh dengan kabar tentang prostistusi
yang menyeret aku dan juga Ananda yang berada di foto itu. Aku nggak tahu siapa
penyebar foto itu tapi yang jelas bukan Magisa karena dia masih koma. Aku
mencurigai teman-teman di klub madingnya. Ya, mereka pasti juga mempunyai foto
itu dan sengaja menyebarkannya untuk membalasku.
“Sai, kita udah nggak bisa tinggal diam!” putus Pevi yang
kesal. “Kenapa sih selalu lo yang jadi sasaran?!”
“Pev, udah...,” pintaku berusaha menahan air mataku agar
nggak jatuh. Bahkan pada saat yang genting pun aku belum ingin menangis.
“Masalah ini nggak pernah berhenti...,” rengek Ananda yang
sama sekali nggak kelihatan tenang. Terutama sejak si kawat gigi mengancam,
Ananda lah yang paling tertekan.
Aku mencoba membelanya tapi malah menimbulkan masalah yang
lain. Seakan yang merasa paling terpojok adalah dia. Aku nggak pernah lagi
melihatnya ceria.
“Nan, lo harus kuat... kita nggak sendirian...,” ujar Pevi
padanya tapi Ananda terus menggeleng membantah semua ucapan kami.
“Gue nggak tahu... apa sih salah gue....” ringisnya sambil
memeluk dirinya. “Kenapa mereka... ngelakuin ini ke gue?”
Aku heran. “Mereka siapa, Nand?” tanyaku. “Apa yang mereka
lakuin ke lo?”
Ananda hanya terisak. Ia memeluk dirinya sendiri makin erat.
Air mata terus mengalir di pipinya yang memerah. Dia menatapku dengan sedih
seakan ingin menunjukan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi kepadanya.
“Ada apa, Nand?” Pevi juga mendesaknya.
Sahabatku, Ananda hanya terisak makin keras sebelum dia
menceritakan bahwa kemarin sekelompok anak lelaki menyeretnya ke halaman
belakang sekolah setelah jam pulang. Ananda nggak menceritakan dengan detil
tentang apa yang anak-anak itu lakukan di sana terhadapnya, namun aku sudah
bisa menyimpulkan banyak hal.
***
Dengan tergesa-gesa aku meninggalkan Ananda bersama Pevi dan
mencari anak-anak kelas tiga lain yang dimaksudnya. Darahku sudah berada di
kepala. Amarahku sudah berada di ambang batas. Mereka boleh menghinaku,
menyebutku murahan atau p*lacur tapi teman-temanku nggak pantas menerima itu.
Aku mendatangi kelas mereka dengan kemarahan yang sudah meluap-luap.
“Hei, geng banci!” teriakku hingga seisi kelas melihat ke
arahku dengan ekspresi terkejut. “Kalian bener-bener pengecut ya?!”
Salah seorang tertawa meledek. “Wah, datang nih induk ayam!”
seru dia di sambut tawa teman-temannya yang lain termasuk semua yang ada di
kelas. “Mau apa lo ke sini?”
“Anj*ing lo semua!” cercaku sambil menghampiri mereka.
“Kenapa lo beraninya cuma sama Ananda?! Dasar bencong!”
Mereka tertawa bersahutan. Salah seorang berdiri dari
kursinya untuk menghampiriku. “Kenapa juga itu jadi urusan lo?!” balas dia.
“Denger ya, gue bakal ngelaporin kalian ke guru!” ancamku.
“Eh, bispak, lo pikir orang-orang bakal percaya sama lo?!
Yang ada juga lo disalahin gara-gara lo teman-teman lo jadi murahan kayak lo!”
balas dia. “Lo yakin mau koar-koar soal dia? Lo mau bikin teman lo sendiri
malu?!”
Mereka membuatku semakin naik darah. “Lo laki apa bencong
pake ngancam-ngancam gue?” tantangku.
“Mendingan lo pergi deh dari sini!” kata salah seorang yang
lain mengusirku. “Lo pikir ini pasar?!”
“Diem lo, anj*ing!” teriakku.
“Saira Gayatri!” seseorang menegurku hingga aku terkejut
bagaikan tersambar petir.
Ketika aku menoleh ke belakang aku menemukan seorang guru
baru saja masuk ke kelas itu. Lagi-lagi keberuntungan nggak berpihak padaku. Di
saat aku membela temanku, aku selalu mendapatkan masalah yang baru. Kali ini
karena bersumpah serapah dengan kasar di kelas lain. Aku kembali dipanggil ke
ruang konseling namun kali ini aku melawan.
“Sudah cukup, Saira! Kenapa kamu membuat sekolah ini seperti
nggak punya aturan dengan kelakuan kamu itu?!” Bu Tetty meradang. Kepala
sekolah berada di belakangnya dan menatapku dengan kesal. “Jangan hanya karena
ibu kamu sudah memberikan banyak donasi kamu bisa berbuat sesukanya!”
“Siapa yang sebenarnya berbuat sesukanya, Bu Tetty?”
balasku, tanpa gentar sambil berdiri dari kursiku seakan menantang. “Saya atau
mereka yang seenaknya menuduh dan melecehkan seseorang yang nggak bersalah?!”
Bu Tetty dan Kepala Sekolah tampak terkejut.
“Apa yang ibu guru tahu tentang mereka?! Apa?!” teriakku.
“Jangan kurang ajar, Saira!” Ibu Kepala Sekolah menghardikku
dengan suaranya yang keras tapi nggak mampu menyurutkan amarahku.
“Setelah ini silakan keluarin saya dari sekolah asalkan nama
saya bisa bersih dari semua tuduhan yang selama ini bikin saya dihina dan
dicaci maki sama orang-orang yang sok tahu!” teriakku. “Saya diam bukan karena
saya takut dimarahi, tapi demi melindungi teman-teman saya! Dan lihat apa yang
mereka lakuin ke Nanda, Bu! Mereka melecehkan Nanda di halaman belakang sekolah
hanya karena berteman dengan saya mereka juga menyebut Nanda p*lacur! Apa ibu
tahu itu? Apa ibu mau tahu apa yang terjadi?!”
Dahi Bu Tetty mengerut. “Kamu bilang apa?” ia kelihatan
kaget.
“Ibu masih mau bilang kalau ini salah saya?!” cetusku.
“Salah saya karena Nanda berteman sama saya?!”
Mereka terdiam. Aku merasa bahwa pengakuanku cukup untuk
merubah keadaan yang pada awalnya nggak pernah berpihak padaku. Untungnya
mereka percaya dan kemudian mengusut kejadian itu. Ananda dipanggil lalu
anak-anak itu untuk memberikan keterangan. Kasus ini bahkan sampai ke polisi
karena keluarga Ananda nggak terima.
***
Saat itu aku dan Pevi, juga Adrian berusaha mendampingi
Ananda yang nggak pernah mau lagi ke sekolah. Dia nggak ingin bertemu siapa pun
sampai-sampai aku dan Pevi juga kesulitan menemuinya. Terpaksa hampir setiap
hari kami menunggu di rumahnya untuk memastikan Ananda baik-baik saja.
“Maafin aku...,” kataku pada Adrian atas apa yang terjadi
akhir-akhir itu.
Berita tentang Ananda bahkan sudah menjadi headline di kota.
Banyak wartawan yang datang ke rumah untuk mencari informasi. Mereka juga
sempat menyerangku dengan banyak pertanyaan tapi aku juga menghindar; demikian
juga Pevi dan Adrian serta pihak keluarga Ananda.
“Kamu melakukan hal yang benar, Sai...,” dia berujar.
Aku pikir Ananda akan mendapatkan keadilan dan kejadian itu
bisa membuka mata semua orang. Aku ingin meluruskan semua tuduhan yang pernah
dialamatkan padaku untuk membongkar kebohongan yang pernah Magisa buat. Aku
pikir belum terlambat untuk menunjukan siapa diriku yang sebenarnya tapi tanpa
disangka Ananda membuat keputusannya sendiri.
Jam dua dini hari telepon di rumahku berbunyi; dari Ananda.
Sejak ia mulai mengurung diri di kamarnya selama berhari-hari, baru kali itu
aku bisa bicara dengannya.
“Sai...,” suaranya terdengar sayup hingga aku harus
menajamkan pendengaranku.
“Ada apa, Nan?” tanyaku penuh perhatian namun cemas.
Aku mendengarnya menarik nagas; dari tarikan nafas itulah
aku tahu bahwa ia tengah menangis lagi.
“Makasih ya, lo udah jadi sahabat gue selama ini...,”
katanya. “Sampai saat ini gue nggak nyangka bisa sahabatan sama lo....”
“Lo ngomong apa sih, Nan? Biasa aja. Gue juga senang punya
sahabat kayak lo,” ujarku.
“Gue dan Gigi kagum banget sama lo. Itu awalnya kenapa kita
berusaha untuk deketin lo. Walaupun Gigi udah jadi musuh bebuyutan lo seumur
hidup, paling nggak gue bisa tahu kalau lo nggak seperti yang kita kira
sebelumnya. Lo cewek yang punya pendirian yang kuat dan sekali lo memiliki
sesuatu lo menjaganya dengan baik....” katanya lagi. “Gue senang pernah kenal
dengan Saira yang kayak gitu, bukan Saira yang angkuh, jutek dan nyebelin....”
“Jangan bilang gitu, Nan. Gue jadi merasa bersalah....”
“Nggak apa-apa, Sai... gue ngerti... lo cuma kesepian dan
sedih....”
“Sebentar lagi semua ini selesai, Nan. Lo harus tabah.
Sebentar lagi semua juga tahu kebenarannya. Lo nggak perlu ketakutan lagi....”
Nggak ada jawaban dari seberang hingga aku kembali gelisah.
“Nan?” panggilku. “Oh iya, Nan, gue sama Pevi punya rencana
setelah lulus nanti kita mau ke Jepang, ke ladang bunga matahari dan otomatis
lo juga harus ikut. Lo nggak perlu pikirin tiket atau hotel, semuanya gue yang
atur. Gimana?”
Tapi, tetap nggak ada jawaban. Hening dan sunyi. Aku
berusaha untuk memanggil tapi Ananda nggak menjawabku. Firasat burukku semakin
menjadi karena lima menit kemudian juga Ananda masih diam. Dengan nekat aku
membangunkan Pak Didi supaya mengantarku ke rumahnya.
Aku menggedor-gedor pintu membangunkan semua orang yang
malam itu tengah tertidur. Adrian membuka pintu dengan rambut acak-acakan dan
terkejut melihatku.
“Saira? Ngapain kamu datang malam-malam begini?” dia
bertanya.
Tanpa menjawab pertanyaannya aku menyerobot masuk dan menuju
kamar Ananda. Aku mengetuk pintu kamarnya beberapa kali dengan tidak sabaran.
“Nanda?! Nanda!” panggilku hingga semua orang terbangun dan
heran melihatku.
“Ada apa, Sai?” tanya Adrian padaku.
“Nanda barusan telepon aku! Aku takut dia kenapa-napa!”
jawabku sambil tetap memukul-mukul pintu yang terkunci dari dalam. “Nan, buka
pintunya!”
Tapi, Ananda nggak mau membuka pintunya.
Berikutnya Adrian terpaksa mendobrak pintu itu karena
setelah cukup lama, Ananda nggak menggubrisku. Malam itu kami dipaksa untuk
menerima kenyataan bahwa Ananda telah tiada. Kami menemukan dia tergantung di
langit-langit kamar dan sudah nggak bernyawa.
***
Aku menyesal atas pengakuanku dan mulai menyalahkan diriku
karena yang membuat Ananda bunuh diri adalah rasa malu setelah semua orang kini
tahu ia dilecehkan. Seandainya aku nggak melaporkan kejadian itu ke guru,
orang-orang nggak akan tahu apa yang menimpanya, Ananda nggak akan menanggung
malu yang begitu besar. Ananda nggak akan mati.
Banyak kejadian telah membuatku terpukul. Namun, kematian
Ananda membuatku benar-benar mengalami kemunduran. Aku menjauhi semua orang
karena merasa bersalah. Aku yang membuatnya bunuh diri dan nggak pernah
memaafkan diriku walaupun setelah kematian Ananda yang menjadi headline membuat
Magisa keluar dari persembunyiannya dan mengakui semua kebohongannya. Aku nggak
merasa memenangkan apa pun. Aku kehilangan sahabat terbaikku; aku kehilangan
seseorang yang pernah menyelamatkan hidupku dari kesedihan panjang.
Komentar
0 comments