[Novel Romantis] Sidney (hal.10)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar


Aku nggak ingin mengulang bagaimana aku menerima perlakuan orang sejak kejadian itu. Hampir semua orang menyudutkanku; Sidney, Mama, guru dan kepala sekolah ditambah seisi sekolah. Banyak yang mengaku bahwa mereka menyaksikan sendiri bagaimana aku mencelakai Magisa. Aku dengan sengaja mendorongnya sampai jatuh dari tangga hingga koma di rumah sakit. Tuduhan itu terdengar makin menyakitkan saja. Ada yang bilang aku melakukan itu untuk membungkam Magisa agar nggak membongkar kedok Saira’s Squad. Ada pula yang bilang aku membalaskan dendam.


Nggak lama foto-foto yang Magisa pakai untuk mengancam Ananda tersebar luas. Wali murid mulai heboh dengan kabar tentang prostistusi yang menyeret aku dan juga Ananda yang berada di foto itu. Aku nggak tahu siapa penyebar foto itu tapi yang jelas bukan Magisa karena dia masih koma. Aku mencurigai teman-teman di klub madingnya. Ya, mereka pasti juga mempunyai foto itu dan sengaja menyebarkannya untuk membalasku.


“Sai, kita udah nggak bisa tinggal diam!” putus Pevi yang kesal. “Kenapa sih selalu lo yang jadi sasaran?!”


“Pev, udah...,” pintaku berusaha menahan air mataku agar nggak jatuh. Bahkan pada saat yang genting pun aku belum ingin menangis.


“Masalah ini nggak pernah berhenti...,” rengek Ananda yang sama sekali nggak kelihatan tenang. Terutama sejak si kawat gigi mengancam, Ananda lah yang paling tertekan.


Aku mencoba membelanya tapi malah menimbulkan masalah yang lain. Seakan yang merasa paling terpojok adalah dia. Aku nggak pernah lagi melihatnya ceria.


“Nan, lo harus kuat... kita nggak sendirian...,” ujar Pevi padanya tapi Ananda terus menggeleng membantah semua ucapan kami.


“Gue nggak tahu... apa sih salah gue....” ringisnya sambil memeluk dirinya. “Kenapa mereka... ngelakuin ini ke gue?”


Aku heran. “Mereka siapa, Nand?” tanyaku. “Apa yang mereka lakuin ke lo?”


Ananda hanya terisak. Ia memeluk dirinya sendiri makin erat. Air mata terus mengalir di pipinya yang memerah. Dia menatapku dengan sedih seakan ingin menunjukan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi kepadanya.


“Ada apa, Nand?” Pevi juga mendesaknya.


Sahabatku, Ananda hanya terisak makin keras sebelum dia menceritakan bahwa kemarin sekelompok anak lelaki menyeretnya ke halaman belakang sekolah setelah jam pulang. Ananda nggak menceritakan dengan detil tentang apa yang anak-anak itu lakukan di sana terhadapnya, namun aku sudah bisa menyimpulkan banyak hal.


***


Dengan tergesa-gesa aku meninggalkan Ananda bersama Pevi dan mencari anak-anak kelas tiga lain yang dimaksudnya. Darahku sudah berada di kepala. Amarahku sudah berada di ambang batas. Mereka boleh menghinaku, menyebutku murahan atau p*lacur tapi teman-temanku nggak pantas menerima itu. Aku mendatangi kelas mereka dengan kemarahan yang sudah meluap-luap.


“Hei, geng banci!” teriakku hingga seisi kelas melihat ke arahku dengan ekspresi terkejut. “Kalian bener-bener pengecut ya?!”


Salah seorang tertawa meledek. “Wah, datang nih induk ayam!” seru dia di sambut tawa teman-temannya yang lain termasuk semua yang ada di kelas. “Mau apa lo ke sini?”


“Anj*ing lo semua!” cercaku sambil menghampiri mereka. “Kenapa lo beraninya cuma sama Ananda?! Dasar bencong!”


Mereka tertawa bersahutan. Salah seorang berdiri dari kursinya untuk menghampiriku. “Kenapa juga itu jadi urusan lo?!” balas dia.


“Denger ya, gue bakal ngelaporin kalian ke guru!” ancamku.


“Eh, bispak, lo pikir orang-orang bakal percaya sama lo?! Yang ada juga lo disalahin gara-gara lo teman-teman lo jadi murahan kayak lo!” balas dia. “Lo yakin mau koar-koar soal dia? Lo mau bikin teman lo sendiri malu?!”


Mereka membuatku semakin naik darah. “Lo laki apa bencong pake ngancam-ngancam gue?” tantangku.


“Mendingan lo pergi deh dari sini!” kata salah seorang yang lain mengusirku. “Lo pikir ini pasar?!”


“Diem lo, anj*ing!” teriakku.


“Saira Gayatri!” seseorang menegurku hingga aku terkejut bagaikan tersambar petir.


Ketika aku menoleh ke belakang aku menemukan seorang guru baru saja masuk ke kelas itu. Lagi-lagi keberuntungan nggak berpihak padaku. Di saat aku membela temanku, aku selalu mendapatkan masalah yang baru. Kali ini karena bersumpah serapah dengan kasar di kelas lain. Aku kembali dipanggil ke ruang konseling namun kali ini aku melawan.


“Sudah cukup, Saira! Kenapa kamu membuat sekolah ini seperti nggak punya aturan dengan kelakuan kamu itu?!” Bu Tetty meradang. Kepala sekolah berada di belakangnya dan menatapku dengan kesal. “Jangan hanya karena ibu kamu sudah memberikan banyak donasi kamu bisa berbuat sesukanya!”


“Siapa yang sebenarnya berbuat sesukanya, Bu Tetty?” balasku, tanpa gentar sambil berdiri dari kursiku seakan menantang. “Saya atau mereka yang seenaknya menuduh dan melecehkan seseorang yang nggak bersalah?!”


Bu Tetty dan Kepala Sekolah tampak terkejut.


“Apa yang ibu guru tahu tentang mereka?! Apa?!” teriakku.


“Jangan kurang ajar, Saira!” Ibu Kepala Sekolah menghardikku dengan suaranya yang keras tapi nggak mampu menyurutkan amarahku.


“Setelah ini silakan keluarin saya dari sekolah asalkan nama saya bisa bersih dari semua tuduhan yang selama ini bikin saya dihina dan dicaci maki sama orang-orang yang sok tahu!” teriakku. “Saya diam bukan karena saya takut dimarahi, tapi demi melindungi teman-teman saya! Dan lihat apa yang mereka lakuin ke Nanda, Bu! Mereka melecehkan Nanda di halaman belakang sekolah hanya karena berteman dengan saya mereka juga menyebut Nanda p*lacur! Apa ibu tahu itu? Apa ibu mau tahu apa yang terjadi?!”


Dahi Bu Tetty mengerut. “Kamu bilang apa?” ia kelihatan kaget.


“Ibu masih mau bilang kalau ini salah saya?!” cetusku. “Salah saya karena Nanda berteman sama saya?!”


Mereka terdiam. Aku merasa bahwa pengakuanku cukup untuk merubah keadaan yang pada awalnya nggak pernah berpihak padaku. Untungnya mereka percaya dan kemudian mengusut kejadian itu. Ananda dipanggil lalu anak-anak itu untuk memberikan keterangan. Kasus ini bahkan sampai ke polisi karena keluarga Ananda nggak terima.


***


Saat itu aku dan Pevi, juga Adrian berusaha mendampingi Ananda yang nggak pernah mau lagi ke sekolah. Dia nggak ingin bertemu siapa pun sampai-sampai aku dan Pevi juga kesulitan menemuinya. Terpaksa hampir setiap hari kami menunggu di rumahnya untuk memastikan Ananda baik-baik saja.


“Maafin aku...,” kataku pada Adrian atas apa yang terjadi akhir-akhir itu.


Berita tentang Ananda bahkan sudah menjadi headline di kota. Banyak wartawan yang datang ke rumah untuk mencari informasi. Mereka juga sempat menyerangku dengan banyak pertanyaan tapi aku juga menghindar; demikian juga Pevi dan Adrian serta pihak keluarga Ananda.


“Kamu melakukan hal yang benar, Sai...,” dia berujar.


Aku pikir Ananda akan mendapatkan keadilan dan kejadian itu bisa membuka mata semua orang. Aku ingin meluruskan semua tuduhan yang pernah dialamatkan padaku untuk membongkar kebohongan yang pernah Magisa buat. Aku pikir belum terlambat untuk menunjukan siapa diriku yang sebenarnya tapi tanpa disangka Ananda membuat keputusannya sendiri.


Jam dua dini hari telepon di rumahku berbunyi; dari Ananda. Sejak ia mulai mengurung diri di kamarnya selama berhari-hari, baru kali itu aku bisa bicara dengannya.


“Sai...,” suaranya terdengar sayup hingga aku harus menajamkan pendengaranku.


“Ada apa, Nan?” tanyaku penuh perhatian namun cemas.


Aku mendengarnya menarik nagas; dari tarikan nafas itulah aku tahu bahwa ia tengah menangis lagi.


“Makasih ya, lo udah jadi sahabat gue selama ini...,” katanya. “Sampai saat ini gue nggak nyangka bisa sahabatan sama lo....”


“Lo ngomong apa sih, Nan? Biasa aja. Gue juga senang punya sahabat kayak lo,” ujarku.


“Gue dan Gigi kagum banget sama lo. Itu awalnya kenapa kita berusaha untuk deketin lo. Walaupun Gigi udah jadi musuh bebuyutan lo seumur hidup, paling nggak gue bisa tahu kalau lo nggak seperti yang kita kira sebelumnya. Lo cewek yang punya pendirian yang kuat dan sekali lo memiliki sesuatu lo menjaganya dengan baik....” katanya lagi. “Gue senang pernah kenal dengan Saira yang kayak gitu, bukan Saira yang angkuh, jutek dan nyebelin....”


“Jangan bilang gitu, Nan. Gue jadi merasa bersalah....”


“Nggak apa-apa, Sai... gue ngerti... lo cuma kesepian dan sedih....”


“Sebentar lagi semua ini selesai, Nan. Lo harus tabah. Sebentar lagi semua juga tahu kebenarannya. Lo nggak perlu ketakutan lagi....”


Nggak ada jawaban dari seberang hingga aku kembali gelisah.


“Nan?” panggilku. “Oh iya, Nan, gue sama Pevi punya rencana setelah lulus nanti kita mau ke Jepang, ke ladang bunga matahari dan otomatis lo juga harus ikut. Lo nggak perlu pikirin tiket atau hotel, semuanya gue yang atur. Gimana?”


Tapi, tetap nggak ada jawaban. Hening dan sunyi. Aku berusaha untuk memanggil tapi Ananda nggak menjawabku. Firasat burukku semakin menjadi karena lima menit kemudian juga Ananda masih diam. Dengan nekat aku membangunkan Pak Didi supaya mengantarku ke rumahnya.


Aku menggedor-gedor pintu membangunkan semua orang yang malam itu tengah tertidur. Adrian membuka pintu dengan rambut acak-acakan dan terkejut melihatku.


“Saira? Ngapain kamu datang malam-malam begini?” dia bertanya.


Tanpa menjawab pertanyaannya aku menyerobot masuk dan menuju kamar Ananda. Aku mengetuk pintu kamarnya beberapa kali dengan tidak sabaran.


“Nanda?! Nanda!” panggilku hingga semua orang terbangun dan heran melihatku.


“Ada apa, Sai?” tanya Adrian padaku.


“Nanda barusan telepon aku! Aku takut dia kenapa-napa!” jawabku sambil tetap memukul-mukul pintu yang terkunci dari dalam. “Nan, buka pintunya!”


Tapi, Ananda nggak mau membuka pintunya.


Berikutnya Adrian terpaksa mendobrak pintu itu karena setelah cukup lama, Ananda nggak menggubrisku. Malam itu kami dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa Ananda telah tiada. Kami menemukan dia tergantung di langit-langit kamar dan sudah nggak bernyawa.


***


Aku menyesal atas pengakuanku dan mulai menyalahkan diriku karena yang membuat Ananda bunuh diri adalah rasa malu setelah semua orang kini tahu ia dilecehkan. Seandainya aku nggak melaporkan kejadian itu ke guru, orang-orang nggak akan tahu apa yang menimpanya, Ananda nggak akan menanggung malu yang begitu besar. Ananda nggak akan mati.


Banyak kejadian telah membuatku terpukul. Namun, kematian Ananda membuatku benar-benar mengalami kemunduran. Aku menjauhi semua orang karena merasa bersalah. Aku yang membuatnya bunuh diri dan nggak pernah memaafkan diriku walaupun setelah kematian Ananda yang menjadi headline membuat Magisa keluar dari persembunyiannya dan mengakui semua kebohongannya. Aku nggak merasa memenangkan apa pun. Aku kehilangan sahabat terbaikku; aku kehilangan seseorang yang pernah menyelamatkan hidupku dari kesedihan panjang.


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments