๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Terberai
Selama ini aku nggak punya gambaran yang pasti tentang
bagaimana rupa dan perawakannya. Memori tentangnya tertinggal sangat jauh di
masa kecil yang nggak semuanya bisa teringat dengan jelas olehku. Mimpi itu pun
hanya berupa kilasan pertemuan dengan seorang pria yang akrab sekaligus asing.
Aku mengenalnya dengan sebutan ‘Papa’ meski aku nggak melihat wajahnya. Namun,
hari ini aku akan segera bertemu dengannya.
“Dia datang ke sini?” Mama bertanya padaku dengan datar pada
pertemuan pagi kami yang biasa.
Aku mengangguk. “Nggak apa-apa ‘kan kalau aku ketemu Papa?”
Mama menatapku tenang sambil menikmati sarapan paginya. “Dia
Papa-mu,” katanya. “Memang siapa yang akan menikahkan kamu nanti selain
Papa-mu?”
Aku gembira sekali meski nggak lama setelah pembicaraan itu
Mama langsung pergi. Aku heran, kapan sih Mama nggak bilang kalau dia harus
buru-buru ke kantor? Bahkan dia nggak punya satu menit untukku.
Setelah lama nggak diantar Pak Didi, aku juga nggak mempermasalahkan
harus naik bus lagi. Seperti sudah menjadi kebiasaan, aku menolak saat Mama
mengajakku naik ke mobil dan berangkat bersama. Mama bisa telat ke kantor kalau
harus mengantarku dulu. Rasanya lebih damai saat belajar mandiri. Sebentar lagi
aku akan lulus SMA. Tapi, hari ini aku akan bertemu Papa.
Pesawat yang membawa Papa ke sini mendarat sekitar pukul
empat sore. Ananda menawarkan bantuan untuk menjemputnya dengan mobil ayahnya
yang kebetulan sedang libur. Tapi, dengan syarat Adrian-lah yang menyetir. Pevi
juga nggak mau ketinggalan. Akhirnya dia ikut untuk meramaikan suasana di dalam
mobil.
Kami bernyanyi di sepanjang jalan dengan gembira. Aku
merekam dengan sangat baik bagaimana hari itu begitu menyenangkan sampai lupa
caranya menangis; bagaimana ekspresi Ananda yang ceria dan bagaimana Pevi
menari-nari dengan tubuhnya yang besar serta bagaimana Adrian sesekali menoleh
ke arahku sambil tersenyum.
Aku pikir Adrian masih berharap untuk bisa bersamaku lewat
tatapannya. Aku pikir, aku telah melewatkannya dengan memilih Sidney yang pada
akhirnya mengecewakanku. Saat kedua temanku terlalu asyik menyanyikan lagu
Ungu, aku membalas tatapan Adrian. Sebelum tiba-tiba lagu Ciuman Pertama-nya
ungu berubah menjadi lagu dangdut.
“Pandangan pertama, awal aku berjumpa!” Ananda mulai
menggodaku.
“Cowok setampan diaaa datang menghampiriku...” sambung Pevi.
Sepertinya Pevi juga sengaja ikut-ikutan menggodaku seakan
ia dan Ananda ingin kembali mencoba mencomblangiku dengan Adrian. Kali ini aku
mungkin nggak akan menolaknya lagi.
Pokoknya kami bahagia sekali dan kuharap waktu berhenti
sampai di sana; karena itulah terakhir kali kami bisa tertawa lepas bersama.
Ku kira pertemuan kembali dengan Papa adalah hari yang
paling membahagiakan dalam hidupku; itu benar. Aku menghabiskan dua hari
bersama Papa karena harus segera kembali. Papa memiliki seorang istri dan tiga
orang anak yang harus ia hidupi. Papa jelas nggak sekaya Mama yang punya satu
perusahaan dengan ratusan karyawan. Papa hanyalah seorang pegawai biasa yang nggak
bisa izin lama-lama dari kantornya. Setelah Papa pulang, aku kembali pada
kehidupan sekolahku yang menyebalkan. Tapi, masalah belum berhenti menderaku.
***
Dua hari bolos sekolah, ku pikir nggak ada yang berubah
selain dari tatapan sinis orang-orang. Memang menghilangnya aku selama dua hari
nggak bikin heboh, tapi cukup untuk membuatku kembali terguncang.
Aku baru saja tiba di kelas dan menaruh tas di kursiku saat
Pevi tiba-tiba datang dengan wajah cemas dan sedih.
“Sai, Nanda...,” Pevi terlihat ketakutan sampai ia nggak
menjelaskan padaku dengan cepat. “Nanda....”
“Nanda kenapa, Pev?” aku bertanya nggak sabaran. Memang
Ananda selalu ceria tapi dia rapuh. Dia pernah di bully habis-habisan dulu sampai nggak berani datang ke sekolah.
“Nanda diancam sama si Gigi,” jawab dia khawatir.
Segera aku mengikuti Pevi ke toilet di mana Ananda tengah
menangis karena ketakutan setelah si kawat gigi berani menyentuhnya.
“Dia bilang apa sama lo?” desakku saat melihat Ananda
tertunduk dengan wajah memerah karena terlalu lama menangis.
Ananda nggak langsung menjawab. Lalu aku menoleh ke Pevi
yang pasti sudah mendengarnya lebih dulu dari Ananda. Pevi juga ketakutan.
Bayangkan mereka ketakutan hanya gara-gara mantan anak cupu yang mendadak
terkenal karena fitnah-fitnahnya!
“Gigi... punya foto yang menunjukan kalau kita sedang jual
diri, Sai... dia bakal nyebar foto-foto itu kalau kita nggak membubarkan
perkumpulan...,” jelas Pevi, dia juga ikut menangis.
“Apa?” aku nggak menyangka mereka ketakutan hanya gara-gara
ancaman basi seperti itu?. “Foto apa sih? Memang kapan kita jual diri?”
“Gue nggak tahu, Sai...,” kata Pevi gemetaran. “Dia bisa aja
punya. Kayak foto yang dia ambil di belakang catwalk itu....”
“Dia nggak bakal berani ngelakuin itu!” kataku, “dia nggak
punya bukti yang kuat!”
“Tapi, dia punya fitnah yang kuat, Sai. Semua orang percaya
sama omongan dia...,” kata Nanda yang juga gemetaran. Dia menatapku nanar dan
panik. “Harusnya kita kasih tau semua orang kalau perkumpulan kita nggak
seperti yang mereka pikirkan....”
“Apa sih maunya tuh orang?! Nanti gue samperin dia!” cetusku
kesal.
“Jangan, Sai!” larang Pevi yang mencegatku saat aku akan
mencari si kawat Gigi untuk melabraknya. “Selama ini lo aman karena nggak
meladeni dia!”
“Yang dia inginkan cuma memimpin perkumpulan itu...
karena... karena...” jelas Ananda terbata-bata. “Mengirim surat botol itu
adalah... kebiasaan dia yang dulu. Gue kebawa karena kita pernah sahabatan.
Dulunya kita sering ngelakuin itu bareng-bareng. Tapi, setelah dia mendadak
terkenal, sifatnya banyak berubah. Dia mulai menganggap itu konyol. Dan saat
dia tahu kalau di perkumpulan kita ngelakuin itu dia menuntut supaya gue bilang
bahwa menghanyutkan botol itu idenya. Kalau nggak dia bakal menghancurkan kita
semua.....”
***
Aku menemukan sosok kurus dengan senyum sumringah itu di
antara teman-temannya; heran dia punya banyak teman sekarang. Ekspresi mereka
semua ketika melihatku adalah sinis dan melecehkan tapi aku nggak peduli. Aku
sudah siap menantangnya. Biasanya aku diam untuk menghindari masalah. Tapi, dia
sengaja datang untuk menyentuh teman-temanku dan membuat mereka ketakutan. Aku
nggak bisa membiarkan orang ini terus berkoar tentang kesalahan yang kulakukan
untuk meraih popularitas.
“Lo datang?” dia menegur dengan senyum angkuh itu lagi. Dia
bukan lagi sekedar anak cupu menyedihkan yang baru bangkit dari kuburan.
Aku berusaha menjauhinya karena aku sudah mendapatkan banyak
masalah gara-gara dia tapi dia seolah menarikku ke pusaran itu. Bagiku, dia
seperti hantu penasaran yang mati karena aku membunuhnya. Dia menghantuiku
untuk membalaskan dendamnya atas apa yang aku lakukan. Aku akui, aku memang
bersalah. Tapi, aku nggak pernah tahu bahwa aku akan membayar kesalahanku
dengan harga yang begitu mahal. Aku sudah berusaha semampuku untuk menarik diri
darinya setelah fitnah kejam yang membuatku terpukul.
“Lo bilang apa sama Nanda?” tanyaku setengah membentak untuk
membuatnya gentar.
Tapi, cewek ini terlalu santai. “Gue bilang apa emang?”
balasnya.
“Lo ngancam dia ‘kan?” cetusku. Lalu terkekeh. “Lo sakit
hati karena kebiasaan lo itu jadi panutan berkat Nanda sementara lo cuma
dikenal sebagai tukang fitnah?”
Ekspresinya berubah kesal. “Jadi dia ngadu ke elo?” tukasnya
kemudian tertawa sinis. “Dia tetap ya jadi pengecut yang suka sembunyi di
belakang punggung orang? Dan lo datang ke sini cuma buat belain orang yang
nggak berguna kayak dia.”
“Justru yang nggak guna itu adalah elo. Coba deh pikir, lo
tanpa semua fitnah-fitnah tentang gue itu siapa?” tantangku. “Lo itu cuma
paparazzi amatir nggak jelas yang nebeng di popularitas orang. Lo cuma tukang
cari sensasi, Magisa. Beruntung, itu cuma gue yang tahu dan gue nggak ikutan
jadi penebar fitnah kayak lo! Kalau gue bilang ke orang-orang kalau mading lo
itu sampah, lo pasti lebih hancur dari gue! Tapi, kualitas gue sama kualitas lo
beda jauh.”
Magisa kelihatan sedikit goyah saat dia menatapku tajam. Dia
benar-benar terganggu dengan ucapanku. “Ya iyalah beda jauh. Kualitas lo
murahan!” kata dia. “Lo pikir gue nggak tahu lo ngerayu Sidney dengan cara lo
yang murahan?”
Aku tertawa. “Murahan lo bilang?!” teriakku. “Masih mending
gue murahan, gue bisa ngedapetin Sidney. Daripada lo yang sok baik dan alim
cuma bisa memfitnah gue tapi Sidney nggak percaya! Lagian lo itu jelek. Nggak
bakal ada cowok yang suka sama lo lebih-lebih lo suka nuduh orang sembarangan!”
Ya, aku berhasil membangungkan amarah Magisa. Dia yang
awalnya tampak percaya diri menghadapiku mulai kehilangan sikap angkuhnya.
“Gue, walaupun kelakuannya jelek orang masih suka ngelihat
karena gue cantik! Tapi, elo, ngelihatnya aja orang udah males banget, apalagi
setelah tahu kalau lo tukang fitnah! Apalagi Sidney!” cercaku sambil
menunjuk-nunjuk ke wajahnya. “Lo ngerasa hebat karena semua orang percaya sama
omongan lo?! Bohong itu tetap bohong! Sampai kapan sih lo mau ngebohongin
orang?!”
“Diem lo, Saira!” jerit dia. Magisa benar-benar di ambang
amarahnya sementara aku tertawa. “Ini nggak bakal terjadi kalau seandainya lo
nggak pernah nge-bully gue! Orang
lain kena getahnya gara-gara elo, tahu?!”
Aku sempat diam sebentar. “Tapi, gue nggak pernah memfitnah
elo dan yang lo lakuin ke gue itu lebih jahat dari yang pernah gue lakuin ke
elo, Magisa...,” kataku sambil memelototinya. “Jangan pikir gue takut sama lo,
gue cuma ingin menunjukan kalau gue nggak sama kayak lo. Lo ngerti, kawat
gigi?”
“Apa salahnya kalian bilang kalau ritual kalian itu idenya
gue?” suara Magisa mulai melemah. Aku hampir membuatnya menangis. “Nanda itu
sahabat gue! Lo ngeracunin dia supaya berpihak sama lo ‘kan?!”
“Gue nggak pernah minta dia berpihak sama gue! Dia datang ke
gue karena salah lo sendiri, tahu?! Otaknya nggak sakit, nggak sama kayak
teman-teman lo sekarang yang juga hobi memfitnah orang! Dia sahabat yang baik
tapi lo menyia-nyiakan dia. Bukan salah gue sekarang dia dekat sama gue!”
“Lo emang jahat, Sai...,” Magisa tiba-tiba meringis. “Kenapa
harus lo?!”
“Gue tahu lo cuma ingin gabung sama kita,” kataku untuk yang
terakhir. “Denger ya, sampai kapan pun lo nggak akan pernah jadi salah satu
dari kita! Inget tuh!”
Aku membalikan badanku segera sebelum perdebatan dengannya
lebih panjang lagi. Aku merasa menang karena berhasil membuatnya takut. Tapi,
entah kenapa tiba-tiba Gigi memegangi tanganku.
“Lo apaan sih?! Lepasin gue...,” kataku sambil menoleh dan
menepiskan tangannya dengan kasar. Sekilas aku melihatnya tampak memohon di
saat yang sama aku menyadari dia kehilangan keseimbangannya. Dan tubuhnya yang
kurus kecil di sambut oleh anak tangga di belakangnya.
Aku memang membencinya; berharap dia jera dengan semua
kejahatannya. Tapi, sungguh, aku nggak pernah ingin mencelakainya sengaja atau
tidak disengaja. Namun, itulah yang kulakukan. Aku menyaksikan dia terhempas
berkali-kali menuruni anak tangga dan mendarat di lantai dengan tubuh lunglai.
Di saat yang sama aku mendapati Sidney berdiri nggak jauh dari sana disambut
oleh anak-anak lain yang menyerbu tubuh Magisa.
***
Komentar
0 comments