[Novel Romantis] Sidney (hal.9)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar


Terberai

Selama ini aku nggak punya gambaran yang pasti tentang bagaimana rupa dan perawakannya. Memori tentangnya tertinggal sangat jauh di masa kecil yang nggak semuanya bisa teringat dengan jelas olehku. Mimpi itu pun hanya berupa kilasan pertemuan dengan seorang pria yang akrab sekaligus asing. Aku mengenalnya dengan sebutan ‘Papa’ meski aku nggak melihat wajahnya. Namun, hari ini aku akan segera bertemu dengannya.


“Dia datang ke sini?” Mama bertanya padaku dengan datar pada pertemuan pagi kami yang biasa.


Aku mengangguk. “Nggak apa-apa ‘kan kalau aku ketemu Papa?”


Mama menatapku tenang sambil menikmati sarapan paginya. “Dia Papa-mu,” katanya. “Memang siapa yang akan menikahkan kamu nanti selain Papa-mu?”


Aku gembira sekali meski nggak lama setelah pembicaraan itu Mama langsung pergi. Aku heran, kapan sih Mama nggak bilang kalau dia harus buru-buru ke kantor? Bahkan dia nggak punya satu menit untukku.


Setelah lama nggak diantar Pak Didi, aku juga nggak mempermasalahkan harus naik bus lagi. Seperti sudah menjadi kebiasaan, aku menolak saat Mama mengajakku naik ke mobil dan berangkat bersama. Mama bisa telat ke kantor kalau harus mengantarku dulu. Rasanya lebih damai saat belajar mandiri. Sebentar lagi aku akan lulus SMA. Tapi, hari ini aku akan bertemu Papa.


Pesawat yang membawa Papa ke sini mendarat sekitar pukul empat sore. Ananda menawarkan bantuan untuk menjemputnya dengan mobil ayahnya yang kebetulan sedang libur. Tapi, dengan syarat Adrian-lah yang menyetir. Pevi juga nggak mau ketinggalan. Akhirnya dia ikut untuk meramaikan suasana di dalam mobil.


Kami bernyanyi di sepanjang jalan dengan gembira. Aku merekam dengan sangat baik bagaimana hari itu begitu menyenangkan sampai lupa caranya menangis; bagaimana ekspresi Ananda yang ceria dan bagaimana Pevi menari-nari dengan tubuhnya yang besar serta bagaimana Adrian sesekali menoleh ke arahku sambil tersenyum.


Aku pikir Adrian masih berharap untuk bisa bersamaku lewat tatapannya. Aku pikir, aku telah melewatkannya dengan memilih Sidney yang pada akhirnya mengecewakanku. Saat kedua temanku terlalu asyik menyanyikan lagu Ungu, aku membalas tatapan Adrian. Sebelum tiba-tiba lagu Ciuman Pertama-nya ungu berubah menjadi lagu dangdut.


“Pandangan pertama, awal aku berjumpa!” Ananda mulai menggodaku.


“Cowok setampan diaaa datang menghampiriku...” sambung Pevi.


Sepertinya Pevi juga sengaja ikut-ikutan menggodaku seakan ia dan Ananda ingin kembali mencoba mencomblangiku dengan Adrian. Kali ini aku mungkin nggak akan menolaknya lagi.


Pokoknya kami bahagia sekali dan kuharap waktu berhenti sampai di sana; karena itulah terakhir kali kami bisa tertawa lepas bersama.


Ku kira pertemuan kembali dengan Papa adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku; itu benar. Aku menghabiskan dua hari bersama Papa karena harus segera kembali. Papa memiliki seorang istri dan tiga orang anak yang harus ia hidupi. Papa jelas nggak sekaya Mama yang punya satu perusahaan dengan ratusan karyawan. Papa hanyalah seorang pegawai biasa yang nggak bisa izin lama-lama dari kantornya. Setelah Papa pulang, aku kembali pada kehidupan sekolahku yang menyebalkan. Tapi, masalah belum berhenti menderaku.


***


Dua hari bolos sekolah, ku pikir nggak ada yang berubah selain dari tatapan sinis orang-orang. Memang menghilangnya aku selama dua hari nggak bikin heboh, tapi cukup untuk membuatku kembali terguncang.


Aku baru saja tiba di kelas dan menaruh tas di kursiku saat Pevi tiba-tiba datang dengan wajah cemas dan sedih.


“Sai, Nanda...,” Pevi terlihat ketakutan sampai ia nggak menjelaskan padaku dengan cepat. “Nanda....”


“Nanda kenapa, Pev?” aku bertanya nggak sabaran. Memang Ananda selalu ceria tapi dia rapuh. Dia pernah di bully habis-habisan dulu sampai nggak berani datang ke sekolah.


“Nanda diancam sama si Gigi,” jawab dia khawatir.


Segera aku mengikuti Pevi ke toilet di mana Ananda tengah menangis karena ketakutan setelah si kawat gigi berani menyentuhnya.


“Dia bilang apa sama lo?” desakku saat melihat Ananda tertunduk dengan wajah memerah karena terlalu lama menangis.


Ananda nggak langsung menjawab. Lalu aku menoleh ke Pevi yang pasti sudah mendengarnya lebih dulu dari Ananda. Pevi juga ketakutan. Bayangkan mereka ketakutan hanya gara-gara mantan anak cupu yang mendadak terkenal karena fitnah-fitnahnya!


“Gigi... punya foto yang menunjukan kalau kita sedang jual diri, Sai... dia bakal nyebar foto-foto itu kalau kita nggak membubarkan perkumpulan...,” jelas Pevi, dia juga ikut menangis.


“Apa?” aku nggak menyangka mereka ketakutan hanya gara-gara ancaman basi seperti itu?. “Foto apa sih? Memang kapan kita jual diri?”


“Gue nggak tahu, Sai...,” kata Pevi gemetaran. “Dia bisa aja punya. Kayak foto yang dia ambil di belakang catwalk itu....”


“Dia nggak bakal berani ngelakuin itu!” kataku, “dia nggak punya bukti yang kuat!”


“Tapi, dia punya fitnah yang kuat, Sai. Semua orang percaya sama omongan dia...,” kata Nanda yang juga gemetaran. Dia menatapku nanar dan panik. “Harusnya kita kasih tau semua orang kalau perkumpulan kita nggak seperti yang mereka pikirkan....”


“Apa sih maunya tuh orang?! Nanti gue samperin dia!” cetusku kesal.


“Jangan, Sai!” larang Pevi yang mencegatku saat aku akan mencari si kawat Gigi untuk melabraknya. “Selama ini lo aman karena nggak meladeni dia!”


“Yang dia inginkan cuma memimpin perkumpulan itu... karena... karena...” jelas Ananda terbata-bata. “Mengirim surat botol itu adalah... kebiasaan dia yang dulu. Gue kebawa karena kita pernah sahabatan. Dulunya kita sering ngelakuin itu bareng-bareng. Tapi, setelah dia mendadak terkenal, sifatnya banyak berubah. Dia mulai menganggap itu konyol. Dan saat dia tahu kalau di perkumpulan kita ngelakuin itu dia menuntut supaya gue bilang bahwa menghanyutkan botol itu idenya. Kalau nggak dia bakal menghancurkan kita semua.....”


***


Aku menemukan sosok kurus dengan senyum sumringah itu di antara teman-temannya; heran dia punya banyak teman sekarang. Ekspresi mereka semua ketika melihatku adalah sinis dan melecehkan tapi aku nggak peduli. Aku sudah siap menantangnya. Biasanya aku diam untuk menghindari masalah. Tapi, dia sengaja datang untuk menyentuh teman-temanku dan membuat mereka ketakutan. Aku nggak bisa membiarkan orang ini terus berkoar tentang kesalahan yang kulakukan untuk meraih popularitas.


“Lo datang?” dia menegur dengan senyum angkuh itu lagi. Dia bukan lagi sekedar anak cupu menyedihkan yang baru bangkit dari kuburan.


Aku berusaha menjauhinya karena aku sudah mendapatkan banyak masalah gara-gara dia tapi dia seolah menarikku ke pusaran itu. Bagiku, dia seperti hantu penasaran yang mati karena aku membunuhnya. Dia menghantuiku untuk membalaskan dendamnya atas apa yang aku lakukan. Aku akui, aku memang bersalah. Tapi, aku nggak pernah tahu bahwa aku akan membayar kesalahanku dengan harga yang begitu mahal. Aku sudah berusaha semampuku untuk menarik diri darinya setelah fitnah kejam yang membuatku terpukul.


“Lo bilang apa sama Nanda?” tanyaku setengah membentak untuk membuatnya gentar.


Tapi, cewek ini terlalu santai. “Gue bilang apa emang?” balasnya.


“Lo ngancam dia ‘kan?” cetusku. Lalu terkekeh. “Lo sakit hati karena kebiasaan lo itu jadi panutan berkat Nanda sementara lo cuma dikenal sebagai tukang fitnah?”


Ekspresinya berubah kesal. “Jadi dia ngadu ke elo?” tukasnya kemudian tertawa sinis. “Dia tetap ya jadi pengecut yang suka sembunyi di belakang punggung orang? Dan lo datang ke sini cuma buat belain orang yang nggak berguna kayak dia.”


“Justru yang nggak guna itu adalah elo. Coba deh pikir, lo tanpa semua fitnah-fitnah tentang gue itu siapa?” tantangku. “Lo itu cuma paparazzi amatir nggak jelas yang nebeng di popularitas orang. Lo cuma tukang cari sensasi, Magisa. Beruntung, itu cuma gue yang tahu dan gue nggak ikutan jadi penebar fitnah kayak lo! Kalau gue bilang ke orang-orang kalau mading lo itu sampah, lo pasti lebih hancur dari gue! Tapi, kualitas gue sama kualitas lo beda jauh.”


Magisa kelihatan sedikit goyah saat dia menatapku tajam. Dia benar-benar terganggu dengan ucapanku. “Ya iyalah beda jauh. Kualitas lo murahan!” kata dia. “Lo pikir gue nggak tahu lo ngerayu Sidney dengan cara lo yang murahan?”


Aku tertawa. “Murahan lo bilang?!” teriakku. “Masih mending gue murahan, gue bisa ngedapetin Sidney. Daripada lo yang sok baik dan alim cuma bisa memfitnah gue tapi Sidney nggak percaya! Lagian lo itu jelek. Nggak bakal ada cowok yang suka sama lo lebih-lebih lo suka nuduh orang sembarangan!”


Ya, aku berhasil membangungkan amarah Magisa. Dia yang awalnya tampak percaya diri menghadapiku mulai kehilangan sikap angkuhnya.


“Gue, walaupun kelakuannya jelek orang masih suka ngelihat karena gue cantik! Tapi, elo, ngelihatnya aja orang udah males banget, apalagi setelah tahu kalau lo tukang fitnah! Apalagi Sidney!” cercaku sambil menunjuk-nunjuk ke wajahnya. “Lo ngerasa hebat karena semua orang percaya sama omongan lo?! Bohong itu tetap bohong! Sampai kapan sih lo mau ngebohongin orang?!”


“Diem lo, Saira!” jerit dia. Magisa benar-benar di ambang amarahnya sementara aku tertawa. “Ini nggak bakal terjadi kalau seandainya lo nggak pernah nge-bully gue! Orang lain kena getahnya gara-gara elo, tahu?!”


Aku sempat diam sebentar. “Tapi, gue nggak pernah memfitnah elo dan yang lo lakuin ke gue itu lebih jahat dari yang pernah gue lakuin ke elo, Magisa...,” kataku sambil memelototinya. “Jangan pikir gue takut sama lo, gue cuma ingin menunjukan kalau gue nggak sama kayak lo. Lo ngerti, kawat gigi?”


“Apa salahnya kalian bilang kalau ritual kalian itu idenya gue?” suara Magisa mulai melemah. Aku hampir membuatnya menangis. “Nanda itu sahabat gue! Lo ngeracunin dia supaya berpihak sama lo ‘kan?!”


“Gue nggak pernah minta dia berpihak sama gue! Dia datang ke gue karena salah lo sendiri, tahu?! Otaknya nggak sakit, nggak sama kayak teman-teman lo sekarang yang juga hobi memfitnah orang! Dia sahabat yang baik tapi lo menyia-nyiakan dia. Bukan salah gue sekarang dia dekat sama gue!”


“Lo emang jahat, Sai...,” Magisa tiba-tiba meringis. “Kenapa harus lo?!”


“Gue tahu lo cuma ingin gabung sama kita,” kataku untuk yang terakhir. “Denger ya, sampai kapan pun lo nggak akan pernah jadi salah satu dari kita! Inget tuh!”


Aku membalikan badanku segera sebelum perdebatan dengannya lebih panjang lagi. Aku merasa menang karena berhasil membuatnya takut. Tapi, entah kenapa tiba-tiba Gigi memegangi tanganku.


“Lo apaan sih?! Lepasin gue...,” kataku sambil menoleh dan menepiskan tangannya dengan kasar. Sekilas aku melihatnya tampak memohon di saat yang sama aku menyadari dia kehilangan keseimbangannya. Dan tubuhnya yang kurus kecil di sambut oleh anak tangga di belakangnya.


Aku memang membencinya; berharap dia jera dengan semua kejahatannya. Tapi, sungguh, aku nggak pernah ingin mencelakainya sengaja atau tidak disengaja. Namun, itulah yang kulakukan. Aku menyaksikan dia terhempas berkali-kali menuruni anak tangga dan mendarat di lantai dengan tubuh lunglai. Di saat yang sama aku mendapati Sidney berdiri nggak jauh dari sana disambut oleh anak-anak lain yang menyerbu tubuh Magisa.


***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments