๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Saat jam istirahat di sekolah, aku melihat Sidney; tepat di
depan kelasku. Dia mengintip ke dalam lalu pergi setelah memastikan aku nggak
ada di sana. Aku tersenyum mengetahui mungkin dia merasa bersalah mengusirku
dari rumahnya waktu itu. Tapi, aku harus
menjauhinya. Orang seperti dia nggak mungkin bisa kumiliki dengan mudah semudah
dia datang dalam hidupku. Sidney harus menyelesaikan tesis-nya sedangkan aku
harus belajar untuk ujian nasional. Rasa hati terkadang masih memperdayaku agar
kembali padanya, tapi aku hanya akan mengulangi kebodohan itu lagi.
Ananda dan Pevi tiba-tiba menghampiriku dengan cara yang
mengagetkanku.
“Samperin sana!” goda Pevi saat kami sama-sama menyaksikan Sidney
pergi dari kelasku.
“Enggak!” kataku sambil menghindari mereka. “Ngapain sih
kalian dekat-dekat gue?”
“Ih, emang kenapa, Sai?” protes Ananda yang menggandengku
dengan paksa.
“Lo mau pura-pura judes ke kita di sekolah?” celetuk Pevi
yang ikut-ikutan menggandeng lengan kananku. “Udah nggak perlu kali! Biar
mereka dunia tahu kalau lo sahabat kesayangan kita!”
Sekarang mereka memegangiku lalu menyeretku ke kantin. Semua
orang melihat saat kedua gadis itu membuatku tertawa dan mereka pasti heran,
sejak kapan Saira Gayatri berteman dengan orang-orang seperti Ananda yang nggak
populer dan Pevi yang masih saja gendut.
Kabar tentang Saira telah mencuci otak pengikutnya di
perkumpulan makin santer terdengar setelah kami sering muncul bersama di
sekolah. Jangankan Sidney yang mencoba menemuiku tapi selalu digagalkan
teman-temanku, Ananda dan Pevi juga mulai gerah sampai-sampai mereka berpikir
untuk membuka semuanya.
“Kalau begini sih kasian lo juga, Sai...,” komentar Pevi.
“Kita nggak tega lo menanggung beban itu sendirian....”
“Tapi, gue punya kalian. Memang kelihatannya gue kacau
banget tapi kalian tahu sendiri ‘kan gue udah mulai bangkit,” ujarku
menenangkan. “Gue udah lama nggak peduli sama omongannya si kawat gigi. Ntar
juga dia kena sendiri. Kata Nyokap gue, kebenaran itu tetap kebenaran. Nggak
ada yang bisa merubahnya....”
“Cie... yang udah bisa curhat sama Nyokap,” ledek Ananda.
Aku tersenyum. “Lagian yang harus kita pikirin itu bukan
masalah kita bertiga aja. Kita punya sahabat-sahabat yang lain,” jelasku.
“Kalau kalian buka rahasia, yang lain pasti bakal kembali di bully. Waktu kita di sini udah nggak
banyak, nggak usah pikirin mereka yang sibuk fitnah. Ingat, Nan, Pev, kalian
membangun ini dengan rahasia tentang kesedihan yang mereka rasain. Kalian ingat
‘kan gimana sedihnya saat kita nggak bisa mengungkapkan sesuatu dengan lepas
seperti yang kita lakuin saat ritual? Orang lain menganggap itu konyol, tapi
buat kita itu berharga dan kita harus menjaganya, oke?”
“Lo bener, Sai,...” Pevi mengangguk-angguk. “Hanya saat
berkumpul lah kita merasa nggak sendirian....”
Bel masuk kelas berbunyi. Karena nggak sekelas, aku harus
berpisah dengan mereka. Tapi, sebelum aku sempat masuk kelas, seseorang
menegurku dan mengatakan padaku bahwa Bu Tetty memanggilku.
Lagi? Apa lagi sekarang?
***
Nggak seperti biasanya. Ruangan Bu Tetty sekarang terasa
begitu menegangkan. Bukan karena Sidney nggak ada di sana dan biasanya aku
sering memperhatikan sosoknya yang sedang serius. Tapi, aku sudah nggak membuat
masalah lagi akhir-akhir ini; tidak secara terang-terangan atau di luar Saira’s
Squad yang menhebohkan jagad sekolah. Aku harus kembali menghadapi Bu Tetty
dengan wajah masamnya.
“Saya nggak tahu harus berapa kali lagi kamu harus masuk
ruangan ini dan saya harus menghadapi semua hal yang berhubungan dengan kamu,”
ia memulainya dengan kaimat yang terdengar menyalahkan.
Kali ini aku harus menghadapinya seperti seorang yang
benar-benar tertangkap lengkap dengan barang bukti; nggak bisa mengelak apalagi
membantah. Aku nggak mau hanya karena menjawab tuduhan Bu Tetty, Mama kembali
harus berada di sini.
“Kamu selalu membuat masalah yang berbeda,” lanjut dia.
“Seragam yang selalu melanggar aturan, mem-bully
siswi lain, merusak mading sekolah, mengumpulkan orang-orang untuk berpikiran sama
seperti kamu, dan sekarang kamu melibatkan Sidney.”
Aku terkejut. Dari mana dia tahu soal aku dan Sidney?
“Saira, kenapa harus Sidney?” Bu Tetty bertanya. “Kamu tahu
status Sidney bukan? Kamu bisa membuatnya dalam masalah.”
“Apa maksud Bu Tetty?”
“Saira, ayolah. Kalau saya mengatakannya, kedengarnnya nggak
akan pantas....”
“Saya nggak ngerti, Bu....”
“Benar kamu mendekati Sidney?”
Aku tercekat. Siapa yang mengadukannya? Si kawat gigi lagi?
Bu Tetty berdiri dari kursinya dan duduk di kursi yang ada
di sampingku. Dia tampak akan mengatakan sesuatu dengan pelan padaku. “Bisa
kamu bayangkan betapa kecewanya ibu kamu kalau dia sempat mengetahui hal ini?”
tanyanya.
Pertanyaan Bu Tetty membuatku merinding sekaligus sedih. Aku
nggak bisa membantah ucapannya itu karena benar aku dan Sidney terlibat
hubungan yang menjijikan dan nggak pantas. Aku sudah tahu kalau Mamaku nggak
akan pernah memaafkanku kalau tahu yang sebenarnya. Tapi, kenapa masih ada saja
orang yang mau menghancurkanku? Aku sudah berusaha hidup dengan baik.
Aku hampir nggak bisa bernafas saat keluar dari ruangan Bu
Tetty. Apa usahaku untuk bangkit akan menjadi sia-sia hanya karena pengaduan
orang lain yang nggak bertanggungjawab? Aku masih memiliki harga diri;
satu-satunya penegak kepalaku saat orang-orang mencemooh dan nggak pindah dari
sekolah sialan ini sebagai pengecut. Perkataan Bu Tetty kembali membuatku
gelisah. Aku kembali dalam lambaian asap rokok di depan wajahku setiap aku
takut.
Ketika halaman belakang masih menjadi saksi bisu dari
kelemahanku setelah Bu Tetty memporakporandakan pertahananku, Sidney muncul.
Dia menemukanku setelah aku mati-matian menghindarinya beberapa hari ini. Aku
bisa saja membiarkan dia menghampiriku karena aku tengah menangis. Dimarahi
lagi oleh guru konseling bukan akhir dari dunia. Hanya tinggal beberapa bulan
lagi, aku akan bebas Tapi, saat ini aku memutuskan untuk lari.
Sepulang sekolah, aku, Ananda dan Pevi kembali melakukan
ritual karena aku mempunyai sebuah permohonan yang baru; di luar dari kisah
cinta yang kandas dan fitnah yang bertubi-tubi menggilasku. Semua ini akan
berlalu.
“Aku ingin ketemu Papa,” kataku saat kami menyatukan jari
dan merasakan angin laut bertiup menghembus wajahku dengan lembut. Kemudian aku
menyerahkan permohonan itu ke lautan luas dengan sebuah botol kaca.
***
Komentar
0 comments