[Novel Romantis] Sidney (hal.18)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar


Saat jam istirahat di sekolah, aku melihat Sidney; tepat di depan kelasku. Dia mengintip ke dalam lalu pergi setelah memastikan aku nggak ada di sana. Aku tersenyum mengetahui mungkin dia merasa bersalah mengusirku dari rumahnya waktu itu.  Tapi, aku harus menjauhinya. Orang seperti dia nggak mungkin bisa kumiliki dengan mudah semudah dia datang dalam hidupku. Sidney harus menyelesaikan tesis-nya sedangkan aku harus belajar untuk ujian nasional. Rasa hati terkadang masih memperdayaku agar kembali padanya, tapi aku hanya akan mengulangi kebodohan itu lagi.


Ananda dan Pevi tiba-tiba menghampiriku dengan cara yang mengagetkanku.


“Samperin sana!” goda Pevi saat kami sama-sama menyaksikan Sidney pergi dari kelasku.


“Enggak!” kataku sambil menghindari mereka. “Ngapain sih kalian dekat-dekat gue?”


“Ih, emang kenapa, Sai?” protes Ananda yang menggandengku dengan paksa.


“Lo mau pura-pura judes ke kita di sekolah?” celetuk Pevi yang ikut-ikutan menggandeng lengan kananku. “Udah nggak perlu kali! Biar mereka dunia tahu kalau lo sahabat kesayangan kita!”


Sekarang mereka memegangiku lalu menyeretku ke kantin. Semua orang melihat saat kedua gadis itu membuatku tertawa dan mereka pasti heran, sejak kapan Saira Gayatri berteman dengan orang-orang seperti Ananda yang nggak populer dan Pevi yang masih saja gendut.


Kabar tentang Saira telah mencuci otak pengikutnya di perkumpulan makin santer terdengar setelah kami sering muncul bersama di sekolah. Jangankan Sidney yang mencoba menemuiku tapi selalu digagalkan teman-temanku, Ananda dan Pevi juga mulai gerah sampai-sampai mereka berpikir untuk membuka semuanya.


“Kalau begini sih kasian lo juga, Sai...,” komentar Pevi. “Kita nggak tega lo menanggung beban itu sendirian....”


“Tapi, gue punya kalian. Memang kelihatannya gue kacau banget tapi kalian tahu sendiri ‘kan gue udah mulai bangkit,” ujarku menenangkan. “Gue udah lama nggak peduli sama omongannya si kawat gigi. Ntar juga dia kena sendiri. Kata Nyokap gue, kebenaran itu tetap kebenaran. Nggak ada yang bisa merubahnya....”


“Cie... yang udah bisa curhat sama Nyokap,” ledek Ananda.


Aku tersenyum. “Lagian yang harus kita pikirin itu bukan masalah kita bertiga aja. Kita punya sahabat-sahabat yang lain,” jelasku. “Kalau kalian buka rahasia, yang lain pasti bakal kembali di bully. Waktu kita di sini udah nggak banyak, nggak usah pikirin mereka yang sibuk fitnah. Ingat, Nan, Pev, kalian membangun ini dengan rahasia tentang kesedihan yang mereka rasain. Kalian ingat ‘kan gimana sedihnya saat kita nggak bisa mengungkapkan sesuatu dengan lepas seperti yang kita lakuin saat ritual? Orang lain menganggap itu konyol, tapi buat kita itu berharga dan kita harus menjaganya, oke?”


“Lo bener, Sai,...” Pevi mengangguk-angguk. “Hanya saat berkumpul lah kita merasa nggak sendirian....”


Bel masuk kelas berbunyi. Karena nggak sekelas, aku harus berpisah dengan mereka. Tapi, sebelum aku sempat masuk kelas, seseorang menegurku dan mengatakan padaku bahwa Bu Tetty memanggilku.


Lagi? Apa lagi sekarang?


***


Nggak seperti biasanya. Ruangan Bu Tetty sekarang terasa begitu menegangkan. Bukan karena Sidney nggak ada di sana dan biasanya aku sering memperhatikan sosoknya yang sedang serius. Tapi, aku sudah nggak membuat masalah lagi akhir-akhir ini; tidak secara terang-terangan atau di luar Saira’s Squad yang menhebohkan jagad sekolah. Aku harus kembali menghadapi Bu Tetty dengan wajah masamnya.


“Saya nggak tahu harus berapa kali lagi kamu harus masuk ruangan ini dan saya harus menghadapi semua hal yang berhubungan dengan kamu,” ia memulainya dengan kaimat yang terdengar menyalahkan.


Kali ini aku harus menghadapinya seperti seorang yang benar-benar tertangkap lengkap dengan barang bukti; nggak bisa mengelak apalagi membantah. Aku nggak mau hanya karena menjawab tuduhan Bu Tetty, Mama kembali harus berada di sini.


“Kamu selalu membuat masalah yang berbeda,” lanjut dia. “Seragam yang selalu melanggar aturan, mem-bully siswi lain, merusak mading sekolah, mengumpulkan orang-orang untuk berpikiran sama seperti kamu, dan sekarang kamu melibatkan Sidney.”


Aku terkejut. Dari mana dia tahu soal aku dan Sidney?


“Saira, kenapa harus Sidney?” Bu Tetty bertanya. “Kamu tahu status Sidney bukan? Kamu bisa membuatnya dalam masalah.”


“Apa maksud Bu Tetty?”


“Saira, ayolah. Kalau saya mengatakannya, kedengarnnya nggak akan pantas....”


“Saya nggak ngerti, Bu....”


“Benar kamu mendekati Sidney?”


Aku tercekat. Siapa yang mengadukannya? Si kawat gigi lagi?


Bu Tetty berdiri dari kursinya dan duduk di kursi yang ada di sampingku. Dia tampak akan mengatakan sesuatu dengan pelan padaku. “Bisa kamu bayangkan betapa kecewanya ibu kamu kalau dia sempat mengetahui hal ini?” tanyanya.


Pertanyaan Bu Tetty membuatku merinding sekaligus sedih. Aku nggak bisa membantah ucapannya itu karena benar aku dan Sidney terlibat hubungan yang menjijikan dan nggak pantas. Aku sudah tahu kalau Mamaku nggak akan pernah memaafkanku kalau tahu yang sebenarnya. Tapi, kenapa masih ada saja orang yang mau menghancurkanku? Aku sudah berusaha hidup dengan baik.


Aku hampir nggak bisa bernafas saat keluar dari ruangan Bu Tetty. Apa usahaku untuk bangkit akan menjadi sia-sia hanya karena pengaduan orang lain yang nggak bertanggungjawab? Aku masih memiliki harga diri; satu-satunya penegak kepalaku saat orang-orang mencemooh dan nggak pindah dari sekolah sialan ini sebagai pengecut. Perkataan Bu Tetty kembali membuatku gelisah. Aku kembali dalam lambaian asap rokok di depan wajahku setiap aku takut.


Ketika halaman belakang masih menjadi saksi bisu dari kelemahanku setelah Bu Tetty memporakporandakan pertahananku, Sidney muncul. Dia menemukanku setelah aku mati-matian menghindarinya beberapa hari ini. Aku bisa saja membiarkan dia menghampiriku karena aku tengah menangis. Dimarahi lagi oleh guru konseling bukan akhir dari dunia. Hanya tinggal beberapa bulan lagi, aku akan bebas Tapi, saat ini aku memutuskan untuk lari.


Sepulang sekolah, aku, Ananda dan Pevi kembali melakukan ritual karena aku mempunyai sebuah permohonan yang baru; di luar dari kisah cinta yang kandas dan fitnah yang bertubi-tubi menggilasku. Semua ini akan berlalu.


“Aku ingin ketemu Papa,” kataku saat kami menyatukan jari dan merasakan angin laut bertiup menghembus wajahku dengan lembut. Kemudian aku menyerahkan permohonan itu ke lautan luas dengan sebuah botol kaca.



***



Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments