๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Pertemuan Kembali~
“Kenapa nggak ditelpon aja?” tanya Ananda ketika aku masih
memandangi deretan angka-angka itu dengan gelisah.
Aku tersenyum gertir. “Gue nggak ingat kapan terakhir
ngomong sama dia,” jelasku. “Apa yang bakal gue omongin? Kira-kira apa dia
nggak bakal sakit jantung tiba-tiba gue nelpon?”
Ananda dan Pevi sengaja bertandang ke rumahku setelah pulang
sekolah. Katanya mereka kangen karena aku selalu sibuk dengan Sidney dan mereka
sedikit ‘cemburu’. Awalnya mereka memang sempat bertanya tentang Sidney dan aku
dengan enteng menjawab ‘semuanya sudah berakhir’; mereka gembira mengetahuinya.
Memang terlalu cepat untuk menyimpulkan sebuah akhir, tapi aku sudah nggak
memiliki niatan lagi untuk bertemu Sidney sehingga di sekolah aku selalu
menghindari tempat-tempat di mana dia sering terlihat.
Aku nggak mau sebuah hubungan yang dijalani untuk kesenangan
di tempat tidur saja. Aku ingin dicintai, bukan dicurigai. Bukan berarti karena
aku menginginkan Sidney, dia bisa memberiku apa yang kuinginkan. Mungkin aku
tertarik padanya hanya karena dia keren. Sisanya... entahlah. Sidney memang
sedikit misterius. Seingatku dia nggak mengizinkan aku memegang handphone-nya,
dia nggak suka aku mengutak-atik sesuatu di apartemen semisal laci meja atau
lemari. Padahal aku melakukan itu hanya karena kurang kerjaan dan tempat itu
terlalu membosankan. Barangkali aku bukan satu-satunya gadis yang pernah masuk
ke sana; bisa jadi.
Ah, tiba-tiba aku meneteskan air mataku. Kenapa aku malah
menyiksa diriku sendiri dengan terus memikirkannya? Aku baru sadar kalau Sidney
sendiri juga tampaknya menyembunyikan sesuatu dariku. Mungkin karena dia tahu
aku gadis bodoh yang nggak mengerti dengan apa yang dia bicarakan di telepon
karena berbahasa Inggris. Aku nggak benar-benar memastikan apakah itu memang
adik perempuannya atau gadis lain.
“Yah, malah nangis!” celetuk Pevi yang kemudian merangkul
pundakku. Dia mengira aku menangisi ayahku yang sudah melupakanku.
Aku kembali terisak. Bukan karena merindukan Papa yang sudah
menghilang lebih dari separuh umurku, tapi karena lelaki yang ingkar padaku.
Memangnya mana yang lebih menyakitkan? Merindukan sesuatu yang nggak pernah ada
atau sesuatu yang pernah ada dan tiba-tiba hilang?
“Yang sabar ya, Sai...,” ujar Ananda yang bersandar di
pundakku sambil memelukku.
Aku nggak benar-benar kehilangan tempat berpegangan; masih
ada mereka yang setia. Kenapa aku bisa lupa tentang keberadaan sahabat seperti
mereka?
“Udah deh, pokoknya telepon aja,” Pevi kembali berujar.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan memencet angka-angka yang
dituliskan ibuku pada keypad telepon. Jantungku berdebar keras; bahkan berdiri
di samping orang yang aku sukai saja nggak pernah sampai begini. Aku menaruh
gagang telepon dengan hati-hati di telingaku dan mulai menunggu.
Panggilannya tersambung. Cukup lama aku menenggar nada
tunggu yang membuat jantungku berlomba sampai aku mendengar suara itu. Suara seorang
pria yang sesungguhnya pernah ada dalam hidupku tapi tiba-tiba menghilang.
“Hallo?” dia menyapa lebih dulu.
Aku tertegun. Suara detak jantungku bahkan lebih keras dari
suara dari seberang.
“Hallo? Ini siapa?” suara itu kembali terdengar.
Kedua temanku menempelkan kupingnya di dekatku untuk ikut
mendengar.
“Hallo?” ia memanggil lagi. “Ini siapa?”
Aku membersihkan tenggorokanku untuk mengatakannya dengan
jelas. “Sa... Saira...,” kataku ragu-ragu dan tiba-tiba hening. Aku hanya
mendengar suaranya bernafas. “Ini... Saira...”
Apa dia masih ingat pernah memiliki seorang putri yang
bernama Saira?
“Apa kabar, Saira?” suara itu menegurku setelah sepuluh
detik keheningan yang membuatku bertambah gelisah.
“Ba... baik..., Pa...,” jawabku dengan terbata-bata. Lidahku
kelu karena itu pertama kalinya lagi aku memanggilnya ‘Pa’. Aku saja nggak
ingat kapan terakhir kalinya aku masih menyebutkan ‘Papa’ dengan bibirku.
Awalnya terasa begitu sulit. Namun setelah aku tahu bahwa
ayahku nggak menutup teleponnya dan mulai bertanya banyak hal tentangku,
membuatku sangat lega. Ada perasaan rindu yang menyelinap diam-diam setelah
pembicaraan pertamaku dengan Papa sehingga kemudian aku sering menelponnya.
Biasanya malam sebelum tidur aku menghubungi Papa. Walau sudah dua belas tahun
lamanya ia meninggalkanku, aku nggak merasa marah ataupun dendam. Aku
bersyukur, di saat yang paling kritis dalam hidupku ini, aku menemukan cinta
pertamaku yang pernah hilang.
Aku mulai mereka-reka seperti apa sifat ayahku. Dari
suaranya yang ramah, dia terkesan hangat; seperti Ayah-nya Ananda. Dia
berbicara dengan nada yang lunak dan terdengar begitu perhatian; itu membuatku
terpaksa membandingkannya dengan Mama yang tegas dan pemarah. Yang pasti, sifat
Papa adalah kebalikan dari Mama. Mungkin karena itulah mereka berpisah. Tapi,
itu hanya sebuah kemungkinan. Aku harus menanyakannya karena itulah niat awalku
menghubungi Papa; untuk mempertanyakan kenapa aku nggak bisa memiliki sebuah
keluarga yang utuh serta mengapa aku harus tinggal dengan Mama yang cenderung
mencintai pekerjaannya ketimbang diriku.
“Apa Mama-mu belum pulang?” tanya Papa.
“Mama selalu pulang larut malam,” jawabku sambil
mengutak-atik siaran televisi dengan remote sampai bosan. “Mama sibuk....”
“Mama-mu masih kerja?” tanya Papa lagi. Aku mulai heran,
Papa nggak biasanya bertanya banyak soal Mama.
“Ya gitu deh, Pa...,” jawabku sambil menaruh remot di meja
lalu pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin di kulkas.
“Apa Mama-mu nggak menikah lagi?”
Aku tertawa. “Ya, enggaklah, Pa!” jawabku. “Boro-boro. Sama
aku aja nggak perhatian apalagi sama orang lain. Lagian Mama ‘kan pemarah, mana
ada yang mau sama Mama?”
“Dulu Mama-mu nggak begitu,” kata Papa dan aku terdiam.
“Mama-mu itu sabar dan nggak banyak omong.”
Aku cukup kaget. “Oh ya? Aku nggak percaya,” kataku, tertawa
lagi. “Mama itu pemarah, Pa. Kalau Mama marah serem banget! Aku ngerasa Papa
pasti pisah sama Mama karena Mama yang egois dan nggak mau ngalah....”
“Kamu salah, Nak...,” kata Papa kembali membuatku
terbungkam. “Penyebabnya bukan Mama-mu tapi Papa....”
Papa mengingatkanku pada tujuan awalku, yaitu mengetahui
alasan mereka berpisah. Aku melupakannya karena mengobrol dengan Papa terlalu
menyenangkan.
“Apa Mama-mu nggak pernah cerita?” tanya Papa kemudian.
Aku menggeleng. “Mama nggak pernah cerita karena aku juga
nggak nanya...,” jelasku. “Sebenarnya... Mama... ngasih nomor telepon Papa,
supaya aku nanya langsung ke Papa....”
“Begitu ya?” Papa terdengar sedih.
“Memangnya... kenapa, Pa?” akhirnya aku menanyakan juga.
“Kenapa Mama juga nggak mau ngomong langsung sama aku?”
“Karena itu adalah kesalahan Papa, Saira...,” ucapan Papa
membuatku lagi-lagi terdiam. Apa dia juga akan menjawab pertanyaan kenapa Mama
juga hampir menangis sebelum naik mobil waktu itu?
Aku menunggu penjelasan Papa yang lain dan mengabaikan rasa
haus di tenggorokanku. Aku hanya menaruh minuman itu di meja dan duduk di
kursi.
“Papa jatuh cinta dengan orang lain sehingga Papa
meninggalkan kamu dan Mama-mu,” jawaban Papa membuatku benar-benar hampir mati
berdiri. “Mama-mu sama sekali nggak bersalah. Malahan dia berusaha jadi istri
dan ibu yang baik... tapi Papa malah meninggalkannya....”
Ah, Mama... kenapa dia nggak pernah menceritakan
kepedihannya padaku?
“Papa merasa bersalah dan karena itu Papa nggak pernah
berani mengusik kalian lagi. Papa pikir... kamu membenci Papa setelah Mama kamu
memberitahu apa yang Papa lakukan...”
Air mataku menetes lagi. Suaraku mulai gemetar. “Mama nggak
pernah cerita tentang Papa... sama sekali nggak pernah....”
“Apa... kamu benci Papa, Saira?”
Aku langsung menggeleng. “Kenapa aku harus benci?” balasku.
“Aku... nggak menyangka... ternyata Mama menyembunyikan itu dariku selama
ini....”
***
Jam dinding menunjukan pukul dua dini hari tapi masih belum
tidur sepejam pun. Mama sudah pulang sekitar jam satu tadi; aku mendengar suara
langkah kakinya berjalan di koridor menuju kamarnya. Aku masih gelisah dan
nggak bisa tidur. Pembicaraan dengan Papa di telepon tadi membuatku berpikir
keras. Lalu aku keluar kamar dan melewati koridor panjang menuju sebuah ruangan
yang ada di ujung; kamar Mama. Pelan-pelan aku membuka pintunya dan masuk
dengan mengendap-endap selagi Mama masih berbaring di ranjangnya dengan
mengenakan baju tidur.
Dengan pelan aku naik ke ranjang, dan menjatuhkan diriku di
belakang punggung Mama yang tampak bernafas teratur. Aku sudah lama nggak
memeluknya. Kami memang jarang bertemu selain di meja makan pagi hari. Lewat
pelukan aku mengungkapkan penyesalanku atas kelakuan dan masalah yang
kuciptakan selama ini. Mama sudah menanggung banyak beban tapi aku selalu
berpikir Mama nggak menyayangiku.
“Maafin aku, Ma...,” ucapku pelan di punggungnya.
Kurasakan Mama bergeming. Mungkin Mama sudah terbangun.
Tapi, Mama nggak mengatakan sesuatu padaku sampai aku tertidur dan pagi ketika
aku bangun, Mama sudah nggak ada. Hanya saja aku menemukan diriku sudah
diselimuti.
Mataku masih mengantuk, sayangnya masih hari Jumat dan aku
harus ke sekolah lagi. Setelah kembali ke kamarku, aku masuk ke kamar mandi dan
bersiap dengan seragamku yang biasa. Rupanya Mama sudah menunggu di ruang makan
tapi ajaibnya kali ini sedang nggak menelepon lagi melainkan menyiapkan sarapan
bersama Mbok Ijah.
“Habisin sarapannya,” kata Mama menaruh roti isi yang
menyebalkan itu di depanku. “Mama harus ke kantor sebentar lagi.”
“Aku naik bus aja...,” kataku. “Lagian ‘kan hukumanku masih
jalan....”
Mama menatapku lalu mengangguk-angguk. “Mama senang kamu
suka dengan hukumannya,” celetuk dia dan itu terdengar menyebalkan tapi aku
malah tertawa. Koleksi kata-kata menyakitkan Mama-ku masih banyak.
“Ya udah. Mama berangkat dulu,” kata dia pamitan lalu pergi.
Setidaknya hubunganku dengan Mama sudah membaik hingga
rasanya aku ingin bercerita padanya tentang apa yang kualami. Tapi, aku perlu
membiarkan Mama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mungkin setelah ujian
nasional lalu disambut liburan, kami bisa pergi ke suatu tempat bersama. Namun,
aku harus membuktikan padanya aku bisa merubah sikapku. Aku ingin menebus
kesalahanku dengan berusaha sebaik mungkin dan membuang semua keinginanku yang
keras kepala terhadap sesuatu yang belum pantas untukku.
***
Komentar
0 comments