[Novel Romantis] Sidney (hal.16)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Saira’s Squad atau apa pun yang mereka bilang tentang aku itu nggak ada hubungannya dengan kita, Azid...,” kataku, berusaha merendahkan suaraku karena mulai menyadari sifatnya yang seperti ini; pemarah. “Bukannya aku lebih banyak menghabiskan waktu sama kamu? Buat aku kabar itu sama sekali nggak penting. Aku bisa mengatasinya karena ini bukan pertama kalinya aku dituduh aneh-aneh.”

“Tapi, buat ku penting, Saira! Itu sangat penting! Kalau memang nggak ada sesuatu yang harus aku cemaskan, apa salahnya kamu bilang ke aku?!”

“Aku nggak bisa bilang,” aku kembali memohon padanya saat Sidney kembali menatapku dengan tatapan itu. “Aku janji untuk nggak bilang siapa pun....”

“Benar ‘kan kamu terlibat dengan kelompok itu?” desak dia lagi.

Aku kembali tertunduk. Sebelum memberanikan diri untuk menegaskan bahwa aku nggak bisa mengecualikan dia untuk rahasia teman-temanku. “Kelompok itu nggak ada hubungannya dengan kita. Lagian aku bilang pun kamu nggak akan ngerti,” balasku, menatapnya dengan memohon agar dia berhenti mendesakku. “Sama kayak tugas kamu yang aku sama sekali nggak ngerti. Aku juga nggak pernah mau tahu kenapa kamu sampai melibatkan si kawat gigi untuk membantu kamu ngerjainnya....”

“Tesis-ku dan apa yang kamu lakukan itu adalah dua hal yang berbeda! Kamu harus tahu itu!” Sidney membentakku. Ya, aku sudah membangunkan amarahnya. Dia hampir membuatku menangis  “Kenapa kamu malah bawa-bawa orang lain dalam masalah kita?!”

“Kita nggak punya masalah, Azid!” tegasku, dengan suara gemetaran. “Kamu sendiri yang menganggapnya masalah. Bukannya aku bilang semua yang dituduhkan ke aku itu nggak ada hubungannya dengan kita. Biar aja orang lain bilang aku ini mencuci otak anggota Saira’s Squad, mengajak mereka ke jalan yang salah... karena semua itu sama sekali nggak benar....”

Sidney terlihat menarik nafas panjang sebelum mendekat lagi untuk yang terakhir. “Dengar, kalau kamu berpikiran ada sesuatu antara aku sama Magisa, kamu salah,” kata dia dan aku tertunduk ketakutan di hadapannya. “Justru karena kamu tertutuplah, aku harus mencari tahu dari orang lain tentang apa yang terjadi!”

“Tapi, bukan dari orang kayak dia!” celetukku lalu menatapnya. Air mataku sudah jatuh melewati pipiku “Dia pernah menuduhku, kamu tahu itu ‘kan?”

“For God’s sake, Saira, katakan saja semuanya agar aku tenang dan perdebatan ini selesai!” Sidney kembali membentakku.

Aku menangis. Perlahan aku merasakan bahwa sebenarnya aku telah menggantungkan kebahagiaanku di tangannya. Aku memikirkan alasan tentang kenapa Sidney kemudian mengusirku dari apartemennya hari itu. Dari sekian banyak alasan yang paling memungkinkan, aku sedikitnya percaya bahwa satu-satunya yang paling masuk akal adalah tesis-nya yang belum selesai di saat waktunya menipis. Karena itu dia kesal padaku.

Air mataku terus mengalir deras seperti sungai di musim hujan. Sidney nggak akan pernah tahu bahwa aku menangis sepanjang perjalanan pulang dari apaetemennya setelah dia berkata bahwa dia memikirkanku terlalu banyak sampai dia mengabaikan semua hal dan aku nggak membantunya dengan berterus terang agar dia berhenti merasa cemas. Dia mencoba membantuku tapi aku malah menyulitkannya.

Setibanya di rumah, aku mengurung diriku di kamar mandi di bawah guyuran air selama berjam-jam. Mungkin sudah terlambat untuk menangisinya sekarang, namun aku menyesal telah memberikan segalanya. Siraman air dingin itu nggak akan bisa mencuci bersih diriku dan noda-noda yang melekat pada tubuhku. Aku mulai paham kenapa Mama nggak mengizinkanku berpacaran, karena takut hal ini terjadi. Kalau Mama tahu apa yang sudah kulakukan, dia pasti sangat kecewa padaku. Aku merasa sangat berdosa padanya. 

Aku memang bodoh. Benar-benar sangat tolol. Aku merasa kalau saja aku nggak jatuh cinta padanya, aku nggak akan patah hati sesakit ini. Pertanda demi pertanda bahwa Sidney akan mencampakanku sudah mulai terlihat dan sebelum itu terjadi, aku memutuskan untuk mundur. Aku menarik diriku darinya.

Malam nggak pernah terasa semenyedihkan ini sebelumnya. Aku menyalakan TV dan DVD untuk memutar Ice Age lagi. Sidney Adams memang sudah membuatku menangis tapi Sidney si kukang pasti akan membuatku tertawa. Namun, hanya 10 menit film itu diputar aku malah mematikannya dan kembali meringkuk di bawah selimut.

Satu tempat berpegangan telah lepas dan aku jatuh terhempas sangat keras dalam kesedihan. Aku punya teman-teman tapi aku nggak bisa menceritakan ketololanku pada mereka karena itu justru akan mempermalukanku. Lalu dalam gelap aku mulai memikirkan langkah selanjutnya. Masa-masa SMA-ku akan segera berakhir kurang dari enam bulan lagi. Setelah Sidney menyelesaikan tugasnya dia akan kembali ke negaranya. Lalu apa yang akan aku lakukan?

Aku membutuhkan seseorang untuk memelukku dengan hangat. Tanpa kusadari aku tertidur bersimbah air mata lalu bermimpi bertemu seseorang. Papa.

***

Seperti biasanya, Mama-ku sibuk dengan telepon di telinga. Aku sudah bersiap sejak mendengar suara langkah kaki menuruni tangga karena yakin itu pasti Mama yang tergesa-gesa harus ke kantor. Padahal masih jam enam pagi dan dia sudah harus pergi.

Aku duduk di meja makan dan menatap ke arahnya ketika dia sudah tiba.

“Kamu nggak sarapan?” tanya dia menginterupsi pembicaraannya di telepon lalu mulai mengedarkan pandangan ke penjuru dapur; sepertinya Mama mencari Mbok Ijah yang harusnya sudah membuatkan sarapanku.

“Aku udah sarapan, Ma...,” jawabku tenang dan memperlihatkan bahwa sarapan wajibku sudah habis. Aku nggak ingin Mama marah terlebih dahulu hanya gara-gara aku nggak mau makan makanan bergizi anjurannya.

Mama tampak langsung percaya dan ia kembali melihat sekelilingnya. “Mbok Jah!” dia berteriak dengan keras sampai wanita berusia sekitar 57 tahun itu muncul dari pintu belakang.

“Ya, Nya...,” sahut Mbok Ijah yang buru-buru menghampiri Mama.

“Bikinin saya sarapan,” kata Mama sambil duduk di kursi yang ada di depanku. Dia kembali melanjutkan pembicaraan dengan stafnya di telepon.

Selagi Mbok Ijah menyiapkan sarapan untuk Mama, aku menatap Mama lekat-lekat lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Aku harus bertanya pada Mama sebelum pergi tanpa harus menunggunya pulang larut malam nanti.

“Apa Mama tahu Papa di mana?” tanyaku dengan suara lantang.

Mama yang langsung mendengarnya tiba-tiba melotot. Dia terdiam sampai kemudian mematikan teleponnya begitu saja tanpa permisi. “Kenapa kamu tiba-tiba nanya?” dia balas bertanya.

“Aku cuma mau tahu...,” jawabku. “Selama ini aku nggak pernah nanya karena nggak mau Mama marah....”

Mama masih menatapku dengan caranya; tenang dan datar. “Mama nggak perlu marah kalau soal itu,” dia berkata. “Kalau memang ini saat yang tepat di mana kamu harus tahu, kenapa Mama harus marah?”

“Kenapa dia pergi?” aku memberikan pertanyaan lain.

Mama terkekeh. “Kenapa kamu menatap Mama seolah kamu curiga kalau Mama yang bikin Papa kamu nggak tahan dan pergi?” balasnya sinis.

“Ma, aku nggak mau berantem sama Mama pagi-pagi...,” tegasku. “Aku nggak bisa nyalahin Mama sementara aku nggak tahu apa-apa ‘kan?”

“Oke, Saira, Mama tahu,” kata dia menghela nafas. “Papa kamu pergi saat umur kamu masih lima tahun dan sampai detik ini nggak pernah muncul lagi. Tapi, dia masih hidup dalam keadaan sehat walafiat.”

Aku mendengarkannya dengan baik sementara Mbok Ijah menaruh sarapan Mama -roti isi yang sama denganku- di atas meja. Mama membuatku nggak sabar dengan memilih menghabiskan sepotong demi sepotong rotinya dan bertingkah amat misterius di depanku daripada menjawab pertanyaanku dengan singkat.

“Tadi kamu nanya dia di mana sekarang?” Mama bertanya dengan santai sambil menusuk potongan roti berikutnya dengan garpu sebelum ia memakannya.

Aku menunggu lagi sampai Mama selesai mengunyah; Mama seolah mengulur waktu hingga makin ketahuan kalau dia benar-benar nggak mau membahas tentang Papa.

“Papa kamu kembali ke kampung halamannya,” jawab Mama. “Mungkin punya anak-anak dengan istrinya yang sekarang dan hidup bahagia.”

“Papa.... menikah lagi?” aku sedikit syok mendengarnya.

Mama nggak menjawabku. Lalu berdiri dari kursinya dan bersiap untuk pergi. Bahkan Mama belum menjawab semua pertanyaanku.

“Mama?” aku memanggilnya untuk memintanya tinggal beberapa saat lagi untuk menjelaskan alasan mengapa ayahku pergi dari kehidupan kami dan nggak pernah menemuiku.

“Mama buru-buru, Saira,” hanya itu yang dia katakan sambil melangkah menuju teras depan rumah.

Aku sangat kecewa dengan Mama yang menjadi begitu acuh di saat aku benar-benar butuh penjelasan darinya.

“Pak Didi!” Mama berteriak lagi dan langkahnya amat cepat.

“Mama!” panggilku, setengah berlari mengikuti kecepatannya. “Kenapa Mama nggak mau bilang sama aku?!”

“Ceritanya panjang, Saira. Mama bisa telat ke kantor,” jawabnya.

“Mau berangkat sekarang, Nya?” tanya Pak Didi yang sudah siap dengan mobil di depan teras.

“Iya, Pak Didi,” jawab Mama cepat sambil masuk ke mobil begitu Pak Didi membukakan pintunya.

“Ma?!” aku kembali memanggilnya.

Pak Didi yang selalu nggak berkutik di depan Mama pun juga langsung naik mobil. Aku hampir menangis saat kupikir Mama akan langsung pergi. Tapi, mobilnya masih belum bergerak walau mesin sudah menyala. Nggak lama Mama turun dari mobil itu dan menghampiriku.

“Mama sudah muak disalahkan atas kepergian Papa-mu,” kata dia padaku. “Tekanan yang Mama rasakan setelah dia sangat luar biasa di saat yang sama Mama harus membesarkan kamu seorang diri.”

Aku menatap Mamaku yang juga nggak bisa menyembunyikan kesedihannya saat dia memberiku secarik kertas kecil yang baru ia tulisi sebuah nomor telepon.

“Kamu bakal mengerti kenapa kita hanya berdua, Saira,” sambung Mama setelah aku menerima kertas itu dengan tangan gemetaran. “Setelah kamu menanyakannya sendiri ke Papa-mu....”

Setelah itu Mama kembali ke mobil. Pintunya ditutup, Pak Didi langsung melajukan mobil sementara aku tertegun sangat lama di depan pintu dan mengingat ekspresi ibuku tepat sebelum ia pergi. Mama juga hampir menangis; sepertiku.


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments