๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Lelaki Pertama
Setiap aku membantah ucapan Sidney, dia lebih memilih diam
untuk menghindari perdebatan. Mungkin itu cara terbaiknya menghadapi
kemarahanku yang kadang sama sekali nggak beralasan. Misal aku marah karena dia
dia terlambat menjemputku dengan alasan ada banyak yang harus dia kerjakan di
sekolah atau saat di mobil dia sama sekali nggak bicara dan aku mulai merajuk
nggak jelas untuk memancing perhatiannya.
“Kamu bosan?” aku bertanya sambil menoleh ke arahnya.
Sidney menyetir dengan serius; yang paling mengesalkan
bagiku saat itu adalah dia nggak mau memandangku. “Nggak,” jawab dia datar.
“Terus kenapa kamu diam?”
Lagi-lagi nggak ada jawaban. Dia membuatku sedikit berkecil
hati karena begitu Sidney diam, nggak akan ada lagi pembicaraan berarti di
antara kami. Hingga kemudian, handphone-nya berbunyi. Dia meraihnya dan melihat
panggilan itu sebentar lalu menatapku. Aku nggak tahu kenapa dia kelihatan
cemas, tapi dia tetap saja mengangkat telepon itu. Sayangnya, dia bicara dalam
Bahasa Inggris; tahu sendiri, kemampuan Bahasa Inggrisku di bawah rata-rata
alias sama sekali nggak bisa. Jadi, aku hanya menunggu sampai dia selesai.
Pembicaraannya hanya sebentar dan kesimpulannya, Sidney tampak buru-buru
mengakhirinya.
“Siapa?” tanyaku.
Dia menatapku, masih dengan tatapan cemas itu. Aku belum
pernah melihat Sidney cemas atau khawatir akan sesuatu. Dia orang yang segala
tindak tanduknya terstruktur dengan rapi. Jadi hampir nggak mungkin aku
melihatnya cemas apalagi takut.
Dia memberiku jawaban yang cukup lama. “Adikku...,” katanya
dan aku nggak lagi bertanya.
Andai aku tahu bahwa
itu adalah tunangannya.
Putus asa karena sikap itu, aku merasa begitu lemah. Aku
belum pernah menangis karena sesuatu yang sepele namun saat itu hampir saja aku
meneteskan air mata di hadapannya. Aku menoleh ke sampingku sekali lagi;
berusaha untuk merasakan bahwa orang ini benar-benar ada untukku tapi aku mulai
meragukannya. Namun, meragukannya pun,
apa dayaku?
Akhirnya tetesan yang kubenci itu jatuh juga dari pelupuk
mataku. Bahkan aku sudah berusaha membendungnya. Aku juga menahan nafas agar
Sidney nggak mendengar kalau aku menangis. Tapi, saat aku nggak bisa menahannya
lagi, nafasku sesak dan air mataku semakin membanjir. Sidney melihatnya dan dia
kembali terlihat khawatir.
Oh, akhirnya aku mendapatkan perhatiannya lagi.
“Aku nggak bisa mengatakan apa yang aku pikirkan karena
pasti kamu nggak bisa mengerti dari sudut pandang kamu, Saira...,” dia berujar
saat kemudian dia memberhentikan mobil dan kami kembali berbicara. “Ada hal
yang nggak bisa aku paksakan ke kamu....”
Aku hanya terisak.
“Aku mengerti selama ini kamu sendirian,” sambung dia.
“Tapi, aku nggak mau memanfaatkan itu untuk memenuhi egoku sendiri. Kamu masih
sekolah dan aku harus menjaga agar hubungan ini nggak merugikan kamu atau pun
aku....”
“Jadi kamu salah memilih orang?” aku semakin nggak tahan
mendengarnya.
“Bukan begitu...,” ujarnya sambil membelai kepalaku lembut.
“Aku menjaga kamu karena aku sangat menyayangi kamu....”
“Aku bisa jaga diri sendiri...,” celetukku. “Selama ini aku
juga sendirian. Apa bedanya?”
“Terus apa mau kamu?” Sidney bertanya setelah dia menarik
nafas panjang.
Aku menatapnya lekat-lekat dan balas bertanya, “Menurut
kamu, kenapa kita bisa begini?”
Sidney mengerutkan dahinya. Tampak nggak mengerti dengan
pertanyaanku.
“Kamu nggak suka nyium cewek sembarangan ‘kan?” aku bertanya
lagi dan Sidney membelalak karena kaget. Kepalaku tertunduk namun aku mencoba
mendekat menyandarkan kedua lenganku di dadanya. Aku ingin dia memelukku karena
pikiranku mulai kacau. Aku bahkan nggak tahu apa yang ada di kepalaku. “Aku ngerasa...
kita begini... karena kamu nggak melihatku sebagai anak kecil. Aku ... biarin
kamu mendekat karena aku senang ada orang yang memahami aku. Bahkan Mama-ku
sendiri nggak tahu kalau aku ingin cepat dewasa.”
“Umur memang nggak mempengaruhi kedewasaan seseorang,
Sai,...” katanya dengan pelan. Dia nggak kunjung merengkuh tubuhku ke dalam
dekapannya di saat aku ingin. “Tapi, umur mempengaruhi cara bagaimana orang
lain melihat diri kita. Itulah yang akan membuat kita dalam masalah. Kamu harus
tahu, kedewasaan dinilai dari cara kita
menghadapi sesuatu bukan dari cara merokok atau berpacaran. Kalau kamu seperti
ini, kamu belum berpikiran dewasa....”
Faktanya bukan kedewasaan seperti itu yang aku maksud.
Lagipula aku memang belum dewasa. Yang kulakukan selama ini hanyalah supaya
‘terlihat dewasa’. Aku hanya ingin bersamanya karena aku kesepian dan aku belum
pernah bertemu orang yang bisa membuatku tertawa. Tapi, tertawa saja nggak
cukup bagiku. Aku mulai bertingkah seperti ini karena merasa bahwa bukan hanya
aku yang dia perlakukan dengan manis; Magisa juga. Itu benar-benar membuatku
putus asa.
Jawaban Sidney membuatku sedikit kecewa hingga aku menarik
diriku darinya. Ia menatapku datar dan aku merasa mulai kehilangan sosoknya.
Aku sangat takut hingga perasaanku mengambil alih diriku. Dia mungkin lupa
kalau aku gadis gila yang sudah nggak peduli dengan harga dirinya karena
seseorang sudah menghancurkan hidupnya.
“Saira?” Sidney melotot saat aku melepas kancing seragamku
satu persatu.
Aku melakukan hal itu karena seragam ini yang membuatnya
selalu memanggilku anak kecil. Segala sesuatu tentang sekolah lah yang membuat
dia begitu hati-hati terhadapku. Untuk itu aku menanggalkan semuanya agar dia
melihatku sebagai seorang gadis sama seperti pertama kali dia menciumku. Tak
puas melepas seragam, aku menciumnya dengan paksa hingga dia benar-benar nggak
bisa menolakku lagi. Aku tahu itu gila dan berlebihan, namun dia nggak mengerti
bahwa aku cemburu. Itu saja.
Sejak itulah semuanya mulai keluar dari jalur tanpa kendali
penuh.
***
Di sekolah, aku kembali menjadi siswa nakal yang terkadang
dilecehkan secara verbal oleh teman sekelasnya. Aku masih memakai rok di atas
lutut dan terlihat berbeda dari yang lain.
“Lo mau ke mana, Saiang?” seorang anak lelaki menegurku saat
aku lewat di depan kelas mereka. “Lihat dikit dong!”
Aku menoleh padanya dengan gusar sambil mengacungkan jari
tengah dan kemudian berlalu.
“Dasar cewek murahan!” seru mereka setelah aku cukup jauh.
Mereka membuatku kesal sampai ke ubun-ubun. Tapi, aku hanya
menarik nafas dalam-dalam dan mengabaikan suara tawa mereka yang mengesalkan.
Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu. Aku juga sudah biasa dipandangi
sepanjang jalan hanya karena seragamku berbeda. mereka menilai sesuatu dari
luarnya saja dan membuat drama mereka sendiri terhadap orang lain; seakan aku
begitu murahan karena seragam yang kukenakan. Setidaknya sebelum mengenal
Sidney, aku nggak pernah disentuh siapapun. Aku menjaga diriku dengan baik.
Sekarang, aku mulai muak dengan diriku. Aku yang nggak pernah
lepas dari tatapan sarkastis dan sinis, bahkan dari orang-orang yang sama
sekali nggak mengenali diriku. Hubunganku dengan Sidney juga bukan hubungan
yang bisa kubanggakan kepada Ananda dan Pevi setelah aku mengakui bahwa aku
benar-benar jatuh cinta dengan orang ini. Mungkin, mereka benar tentang Sidney
tapi aku nggak berani menceritakan kegelisahanku.
Aku... merasa nggak berguna. Magisa muncul secara tiba-tiba
untuk memperburuk suasana hatiku. Kami kebetulan berpapasan saat aku ingin
pergi ke toilet.
Magisa baru saja keluar dari toilet dan melihatku. Dia
tersenyum ramah dengan penuh percaya diri memperlihatkan giginya yang masih
dipagari kawat. Aku mengabaikannya dengan melewatinya begitu saja. Aku juga
muak dengan senyum ala malaikat miliknya itu.
“Ngomong-ngomong, sejak kapan lo sama Ananda temenan?” dia
bertanya dan itu benar-benar memancingku untuk membalikan badanku.
Inilah yang aku takutkan.
Si kawat gigi pun tampaknya masih punya banyak kata-kata
pamungkas yang membuatku melotot padanya. “Dan... sejak kapan melempar botol ke
laut bisa mengabulkan permohonan?” sambungnya. “Gue nggak percaya, Nanda masih
percaya aja sama hal konyol begitu.”
Aku belum mengatakan apa-apa dan hanya memandangnya dengan
gusar. Aku menahan diriku agar nggak menjambak rambutnya dan membuatnya
menjerit kesakitan. Sekali aku berurusan dengannya lagi, aku pasti akan
mendapatkan masalah yang lebih besar.
“Kalian sadar nggak sih, itu sama aja mengotori laut dengan
sampah. Kalau kalian mau cita-cita tercapai, harus belajar dan jangan
kebanyakan mimpi!” tandas dia, lalu tertawa. “Khusus buat lo, Saira, kalau lo
mau ngedapetin Sidney, mendingan lo godain aja dia pakai body lo yang seksi. Bukannya itu bakat alami lo?”
Kalau saja dia nggak menghancurkanku sebelum ini, sudah
pasti aku akan membuatnya jera. Tapi, aku takut. Setiap perbuatan yang
kulakukan padanya akan memantul padaku dengan kuat. Aku hanya mengepalkan
tanganku, menahan amarahku hanya untuk nggak menampar dia. Pada akhirnya aku
hanya membiarkan dia pergi sembari mendengarkan tawanya.
Hari itu aku nggak membolos lagi. Aku mengikuti pelajaran
sampai selesai walaupun aku lagi-lagi nggak memahaminya. Sebelum pulang aku
menyempatkan diri ke ruang konseling untuk melihat Sidney. Aku hanya ingin tahu
apa yang dia lakukan. Dia pernah bilang sedikit kesulitan dengan tugasnya dan
waktunya mulai menipis. Tapi, kelihatannya dia nggak kesulitan lagi. Seseorang
selain Bu Tetty membantunya mengumpulkan bahan penelitian.
Mereka tampak sibuk menyatukan kertas-kertas dan menggarisi
halaman buku. Walaupun aku tahu bahwa orang itu adalah orang yang kubenci, aku
merasa nggak pantas untuk marah. Mereka bisa terlihat bersama dengan mudah
sementara aku? Aku harus menunggu di luar seperti seorang pengecut. Tapi, aku
sudah nggak ingin lagi seperti itu.
Marah pun tidak tahu harus kepada siapa. Semuanya adalah
salahku. Aku bermesraan dengannya di mobil dan berakhir di apartemennya. Itu
nggak hanya sekali karena aku datang padanya setiap merasa gelisah. Hanya dia
yang bisa menenangkanku tapi di sisi lain ada hal yang nggak bisa kupenuhi:
Sidney berusaha membantuku dengan membuatku berterus terang tentang segalanya.
Aku nggak bisa melanggar janji pada teman-temanku.
***
“Gimana kita bisa menjalani sebuah hubungan kalau kamu masih
penuh dengan rahasia?” Sidney bertanya padaku dan aku hanya tertunduk di tempat
tidur, berusaha menghindari tatapannya yang membuatku takut.
Janji adalah janji. Aku bisa saja mengatakan padanya bahwa
perkumpulan itu bahkan bukan ideku. Mereka menamainya dengan namaku hanya karena
aku ada di sana. Janji kami menguatkan kami satu sama lain. Aku sudah
meyakinkan Sidney bahwa aku nggak pernah menyebutnya dengan nama Saira’s Squad.
Tapi, dia tetap ingin tahu karena di sekolah mulai beredar kabar bahwa aku
mencuci otak gadis-gadis itu dan membawa mereka seperti diriku.
Beberapa jam lalu kami bertemu di dekat sekolah dan pergi ke
apartemennya. Aku memang sempat merasa bahwa sikap Sidney agak acuh padaku tapi
dia nggak menolak saat aku menciumnya dan membawaku ke ranjangnya. Aku pikir,
aku bisa sedikit menghibur tapi saat dia mulai membicarakan apa yang dia dengar
di sekolah tentangku, Sidney mulai nggak tenang. Lalu semuanya menjadi seperti
ini.
Sidney mulai mondar-mandir dengan kesal. “Katakan, Saira!”
desak dia sambil mendekat dan menggenggam kedua bahuku. “Gimana aku bisa
melindungi kamu kalau begini? Aku bahkan nggak tahu apa-apa!”
Tapi, aku diam. Aku nggak bisa mengatakan padanya bahwa aku
nggak peduli sekalipun semua orang membenciku asalkan dia tetap bersamaku.
Aku tahu Sidney mulai bosan padaku dan mempertanyakan apakah
ini karena hampir setiap hari kami bersama. Karena meladeniku, Sidney hampir
nggak punya waktu untuk menyelesaikan penelitiannya. Akhir-akhir ini aku memang
jarang melihatnya duduk di depan komputer. Salahku nggak membiarkan dia memegang buku atau
komputer. Aku membuat dia melupakan semua itu dengan tubuhku.
Ya, keinginanku terhadapnya memang nggak bisa dikendalikan.
Orang bilang pubertas, tapi aku merasa seperti wanita dewasa. Barangkali aku
sudah terpengaruh oleh film-film Hollywood yang sering ku tonton. Aku melihat
berbagai adegan percintaan yang panas dan membuatku ikut gerah. Perasaan
seperti itu terbawa setiap sedang bersama Sidney dan tanpa sadar aku
memulainya. Sidney pernah menolakku tapi setelah dia menyentuhku sekali, dia
nggak bisa menahan diri lagi. Terlebih setelah merasakan bagaimana Sidney
membuatku menjerit di tempat tidur, ada semacam perasaan ingin mengulangnya
lagi. Aku ingin menguasai dirinya sejak dia berkata mengagumiku; kecantikanku,
tubuhku dan gerak-gerikku. Aku pikir aku memegang kendali saat Sidney tunduk
pada setiap ucapanku hingga ia mulai tampak tertekan oleh keadaan di
sekitarnya. Sebenarnya aku hanyalah gadis kecil yang sok tahu.
“Jawab, Saira!” Sidney mengguncang bahuku dan ia membuatku
takut. “Ada apa sebenarnya? Apa yang kamu lakukan?!”
“Aku nggak melakukan apa-apa,” kataku memohon. “Kenapa kamu
mulai seperti mereka? Kenapa kamu juga mulai beranggapan kalau aku melakukan
kesalahan?”
“Itu karena aku nggak tahu apa pun!” dia membalasku dengan
setengah berteriak. “Kamu selalu di sini, bersamaku, tapi aku nggak tahu
apa-apa soal kamu! Apa yang membuat kamu nggak mau menceritakannya sama aku?!
Aku percaya kamu tapi kamu sepertinya nggak bisa mempercayaiku!”
Komentar
0 comments