๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Saat lampu kuningku menyala, teman-temanku mulai resah. Aku
nggak lagi mendengar mereka mendukungku sejak Sidney mulai sering terlihat
bersama Magisa. Aku sempat berpikir untuk mundur apalagi Ananda dan Pevi
akhirnya mengatakan bahwa mereka sempat mendengar bahwa Sidney sudah
bertunangan. Mereka memintaku untuk memupus perasaanku sebelum semuanya
terlambat. Mereka benar-benar percaya karena Sidney tampaknya juga menggoda
Magisa. Tapi untuk apa dia melakukan itu? Sidney hanya melakukan penelitian
untuk menyelesaikan sesuatu yang disebut penting untuk gelar S2-nya. Aku
percaya dia bukan laki-laki yang seperti itu.
“Kalau kamu nggak percaya, coba perhatiin jari manisnya.
Sidney pakai cincinnya, Sai...,” kata Pevi. “Aku tahu dari teman-teman yang
kebetulan pernah dengar Bu Tetty ngobrol santai sama Sidney....”
Aku diam. Aku nggak tahu mana yang harus aku percayai. Namun,
kemudian aku berusaha membuktikan kalau teman-temanku salah. Aku menunggu
Sidney, mengajaknya kabur dari sekolah yang melelahkan itu. Untuk beberapa
saat, aku lega. Aku nggak melihat cincin di jari tangannya seperti yang
teman-temanku bilang. Aku sama sekali nggak berpikiran bahwa kalau memang iya,
Sidney bisa saja melepasnya saat diperlukan. Tapi, aku sudah buta.
Setelah melompat pagar di mana pelajaran sekolah belum usai,
Sidney benar-benar mendapatkanku. Dia memberiku ciuman pertama yang sampai
kapan pun nggak akan terlupakan. Aku nggak bisa mundur lagi darinya. Setelah
semua hal buruk yang terjadi padaku, Sidney menjadi alasan pertamaku untuk
bahagia dan melupakan keluh kesahku. Bersamanya aku mulai menemukan kebahagiaan
yang belum pernah kumiliki.
Dari awal Sidney memang nggak percaya dengan tuduhan Magisa
padaku dan aku senang sekali saat mengetahui bahwa dia selalu memperhatikanku.
Dia mencari tahu apa yang kulakukan karena ia percaya aku nggak seperti yang
orang-orang tuduhkan. Namun, rahasia tetap rahasia. Aku nggak mau membeberkan
apa yang dilakukan teman-temanku dalam perkumpulan. Kami menjaga sebuah
komitmen untuk nggak bilang pada siapa-siapa sekalipun semua orang beranggapan
bahwa Saira telah mencuci otak mereka. Aku bersedia menanggung semua keburukan
itu karena nggak ingin teman-temanku harus bubar. Saling menyimpan rahasia
membuat persaudaraan itu semakin kuat. Magisa dan fitnah-fitnahnya nggak akan
bisa meruntuhkan mereka.
Semuanya memang terjadi dalam waktu yang singkat
sampai-sampai aku nggak sempat memikirkan seperti apa jadinya kami nanti.
Namun, melarikan diri nggak pernah semenyenangkan saat aku selalu bolos
pelajaran di jam-jam terakhir dan menunggu Sidney di pinggir jalan yang nggak
jauh dari sekolah. Aku naik ke mobilnya dan kami pergi berkendara tanpa tujuan.
Dia menceritakan banyak hal tentang keluarganya; di antaranya ibu yang super
over-protektif, adik-adik yang manja dan ayah yang ingin ia menjalankan bisnis
keluarga. Aku memang baru mengenalnya tapi jiwanya sangat akrab denganku karena
kami sama.
Sidney selalu bertentangan dengan ayahnya seperti aku yang
selalu melawan Mama. Ayahnya Sidney dan Mamaku kurang lebih mirip. Mereka
seorang bos yang suka mengatur bahkan hal-hal terkecil sekalipun mereka nggak
ingin melewatkannya.
“Mama bener-bener nyebelin soal baju,” kataku. “Dia bilang bajuku kurang bahan lah, sempit lah,
dan ujung-ujungnya dia ceramahin aku. Pelecehan itu kadang terjadi karena
kesalahan perempuan sendiri contohnya baju yang mereka pakai itu bisa
mengundang perhatian orang. Pagi-pagi kalau dia sempat masuk kamarku sebelum
berangkat sekolah dia pasti nyuruh aku ganti baju. Padahal menurutku sih kalau
laki-lakinya emang bejat nggak peduli terbuka atau ketutup tetap aja nafsu!”
“Kalau soal itu Mama kamu nggak salah,” komentar dia hingga
membuatku melotot. Dia memandangiku dari atas hingga ke bawah dengan tatapan
yang dipenuhi nafsu. ”Mungkin karena laki-laki yang kamu maksud itu belum pernah semobil sama kamu.”
“Ih, apa sih?!” cetusku sambil mendorong dan memukul-mukul
tubuhnya.
Sidney tertawa.
“Jangan ikutan nyebelin!” teriakku masih nggak terima karena
dia masih menertawaiku bahkan sampai terpingkal-pingkal.
Entah apa yang lucu baginya tapi saat di dekatnya, aku
berusaha untuk tahu apa yang dia pikirkan tentangku. Aku ingin mencuri
pikirannya. Hanya saja ketika Sidney menangkap basah aku yang sedang
memandanginya, aku selalu tertunduk dengan menggelikan. Seperti belum terbiasa
berada dalam jarak yang dekat dengannya. Dan Sidney, dia selalu tenang dan
mengendalikan keadaan. Misalnya dengan bertanya ke mana tujuan kami selanjutnya
dan aku menjawab nggak tahu; aku belum pernah berkencan dengan siapa pun.
“Kamu nggak sedang diet ‘kan?” dia bertanya setengah meledek
padaku. “Aku lapar sejak diculik dari sekolah belum makan apa-apa.”
Aku sedikit sebal dan membalas ucapannya sambil cemberut.
“Mana ada orang yang diculik nyetir mobil sendiri sama penculiknya?” cetusku.
“Habisnya si penculik nggak bisa nyetir dan yang diculik
ingin sekali diculik,” jawab dia enteng lalu tertawa lagi.
“Kenapa kamu nggak ngajarin aku nyetir?” tanyaku, sedikit
merajuk.
Sidney nggak langsung menjawab. Malahan dia cukup kaget
mendengar permintaanku.
Aku kembali cemberut. “Kamu takut mobil mahal kamu nabrak
kalau aku yang bawa?” celetukku lagi.
Sepertinya aku membuatnya kesal, karena dia buang pandang
sebentar sebelum menyentil dahiku. “Dasar, anak kecil!” katanya. “Kenapa kamu
selalu berpikiran buruk sama orang lain?”
“Habis tampang kamu nggak enak dilihat,” kataku.
“Oke, aku ajarin kamu nyetir. Kalau kamu nabrak dan mobilnya
rusak, tenang aja, aku masih bisa beli sepuluh lagi,” kata dia lalu menatapku
lekat-lekat. “Tapi, ada syaratnya.”
Aku mengangguk dengan bersemangat sembari menunggu syarat
yang dia maksud itu.
“Kita makan dulu ya?” sambung dia. “Aku lapar.”
“Ih, aku kira apaan!” celetukku sedikit gusar.
Sidney tertawa. “Kamu pikir aku pasti minta yang aneh-aneh
‘kan?” dia malah menggodaku.
Aku nggak menjawabnya karena tiba-tiba jadi malu. Memang aku
sempat mengira dia minta aku menciumnya atau yang lebih dari itu. Tapi,
sepertinya dia berhasil mempermainkanku.
“Aku bukan laki-laki yang gampang tergoda hanya karena kamu
pakai rok yang kalau udah duduk kayak gitu hampir seperti pakai celana dalam,”
tandas dia, dan itu terdengar menyebalkan bagiku.
“Kamu udah kayak Mama-ku aja ya?” balasku, kesal. “Aku tahu
kamu tuh udah biasa di Australia dan ngelihat lebih dari ini, tapi nggak usah
ngomong kayak gitu dong ke aku!”
“Makanya sekarang kita pergi makan ya?” kata dia lagi dan
itu membuatku heran. Sikapnya begitu santai menghadapiku. “Aku suka ngomong
aneh-aneh kalau lagi lapar.”
Dia menghadapiku dengan baik. Aku kira itu sindiran karena
sepertinya Sidney juga nggak suka dengan rokku. Aku gelisah memikirkannya
sampai kami tiba di restoran dan kami belum bicara apa-apa lagi. Sampai saat
kami duduk dan menunggu pesanan datang, aku kembali gelisah. Aku memandanginya
dengan khawatir karena Sidney sibuk dengan handphone-nya.
“Habis ini, aku... ganti baju ya?” kataku dengan ragu-ragu.
Sidney menoleh lalu tersenyum. “Ide bagus,” jawab dia. “Aku
juga nggak mau kelihatan jalan sama anak SMA.”
“Jangan nyebelin lagi deh...,”
“Aku cuma bercanda,” katanya sambil mengusap-usap kepalaku.
“Mau gimana lagi kamu memang belum cukup 17 tahun.”
“Aku udah 17 tahun, Azid!” tukasku. “Aku cuma nggak pernah
ngerayain Sweet Seventeen karena aku nggak punya teman! Bukan berarti aku belum
17 tahun!”
“Kapan?”
“Sebulan yang lalu. Aku juga lupa kalau aku ulang tahun,”
kataku, sedih.
“Harusnya kamu bilang ke aku,”
“Gimana mau bilang? Kita belum kenal...,”
“Ya sudah, kalau gitu ayo kita kenalan.” Sidney mengulurkan
tangannya padaku. “Aku Sidney William Adams, apa kabar?”
Aku tertawa dibuatnya. Dia selalu berhasil membuatku
tertawa. Menurutku dia benar-benar konyol.
“Kenapa?” dia bertanya karena aku nggak membalas uluran
tangannya. “Katanya mau merayakan Sweet Seventeen?”
“Udah lewat!” teriakku sambil terus tertawa. “Kamu apa-apaan
sih? Sok lucu!”
Sidney hanya menatapku sambil tersenyum. Aku nggak mengerti
kenapa dia menatapku seolah dia nggak pernah bosan melakukannya. Padahal aku
ini pemarah, kekanakan, suka ngomong sembarangan, ringan tangan juga. Tapi, dia
selalu membuatku tertawa.
“Aku nggak minta kamu ngerayainnya kok,” kataku. “Acara
ulang tahun itu cuma buat mereka yang punya orang-orang untuk merayakannya.”
“Ya, kamu benar. Kalau cuma berdua itu namanya pacaran,”
balas Sidney lagi dan aku kembali terpingkal dibuatnya.
Lalu pesanan makanan tiba. Kami mulai makan sambil mengobrol
ringan. Seperti biasa, kata-kata Sidney yang singkat tanpa makna, namun
menghibur. Aku nggak pernah sesenang ini sebelumnya sehingga aku nggak ingin
saat-saat itu segera berlalu.
***
“Jadi... setelah ini kita mau ke mana?” tanyaku saat kami
berjalan menuju ke parkiran mobil.
Sidney melirik jam tangannya. “Jam lima sore. Kamu pikir
kita bisa ke mana lagi?” dia bertanya dan aku hanya angkat bahu. “Dengar-dengar
Mama kamu ngelarang kamu pacaran, jadi kupikir... kamu harus sampai di rumah
sebelum jam enam.”
“Yah, nggak seru, Azid!” kataku dengan kecewa. ”Aku masih
ingin keliling!”
“Mungkin besok,” jawab dia tegas.
“Gimana kalau nggak ada besok?” aku mulai merajuk.
“Ada.” Sidney masih terlihat tenang dan santai.
“Gimana kalau besok kita nggak bisa ketemu lagi,” desakku.
Reaksi Sidney masih nggak berubah. “Aku bakal nyari kamu
sampai ketemu.”
“Kalau aku benar-benar menghilang, kamu mau apa?” aku mulai
memaksanya.
“Aku akan menunggu sampai kamu kembali,” balas dia datar.
“Kalau aku nggak kembali untuk selama-lamanya gimana?” aku benar-benar kehilangan ide.
“Aku pacaran sama orang lain aja,” jawab Sidney dengan cara
yang sama namun membuatku benar-benar patah semangat.
“Yaah, nggak asyik!”
“Jangan bandel, Saira!” dia berkata sambil menyentil dahiku
lagi.
Aku kesal dan mulai menghentakan kakiku seperti anak kecil
yang merengek. “Ih, aku nggak suka kamu nyentil dahiku terus!” kataku. “Aku
bukan anak kecil!”
“Kamu selalu bikin aku harus ngelakuin itu,” kata dia sambil
menatapku serius. Lalu membalikan badan menuju mobilnya yang sudah ada di depan
mata.
Aku menarik nafas. Seringkali Sidney membuatku hilang akal;
ingin menunjukan padanya bahwa aku masih ingin bersamanya. Tapi, entah apa yang
membuatnya terkadang tampak acuh; atau memang begitulah orang dewasa. Dia
selalu bisa menghadapi emosiku yang meledak-ledak dengan sikapnya itu. Aku
merasa dia nggak benar-benar mengerti diriku.
“Kamu sering bilang aku anak kecil, tapi kamu ingat kemarin
kamu pernah nyium aku?!” seruku saking kesalnya hingga Sidney menoleh dan dia
tampak kelabakan.
Sepertinya dia nggak ingin ada orang lain yang mendengar
kata-kataku barusan. Dengan cepat, dia menghampiriku dengan wajah gusar.
“Kenapa kamu harus teriak-teriak?” dia bertanya.
Aku menjawabnya hanya dengan menunjukan ekspresi kesalku.
Sidney menunjuk ke mobil. “Cepat naik ke mobil, sekarang!”
dia memerintahku dan aku bertambah sebal dengan sikapnya itu. “Aku harus
mengantar kamu sebelum jam enam karena aku nggak mau kamu dalam masalah. Lagian
aku juga nggak enak sama ibu kamu, Saira. Kamu harus paham itu.”
Ya, dia benar. Aku selalu dalam masalah dan dia nggak ingin
menambahnya. Mungkin kalau ketahuan Mama aku pergi dengannya, habislah aku.
Mama juga nggak akan segan-segan menyerang Sidney dan pasti dituduh
macam-macam. Bagi sebagian orang hubungan antara gadis SMA dengan laki-laki dua
puluh enam tahun di sekolah itu sesuatu yang nggak bagus. Sidney memintaku
untuk memahami hal itu berkali-kali.
Tapi, aku hanya... hanya ingin dia melihatku sebagai seorang
gadis seperti saat dia menciumku waktu itu. Dia bisa mengabaikan hal itu namun
hanya sekali. Untuk selanjutnya Sidney benar-benar memperlakukanku seperti anak
kecil yang harus dia jaga baik-baik.
***
Komentar
0 comments