[Novel Romantis] Sidney (hal.6)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Cinta Gadis Kecil

“Merokok itu nggak baik, Sai,” kata Pevi padaku tapi aku nggak menghiraukannya. Aku menjadi tergantung pada tembakau yang dibungkus rasa mint itu karena aku seringkali merasa gelisah akan sesuatu.

Sejak kabar angin mulai berhembus tentang Saira’s Squad, aku semakin takut saja. Aku nggak tahu siapa yang mulai menjuluki pertemuan itu dengan namaku; aku curiga lagi-lagi si kawat gigi yang sepertinya nggak suka ada gerakan lain yang menggesernya dari posisi ‘headline sekolah’. Orang-orang mulai berkeyakinan aku yang mencetuskan ide perkumpulan rahasia itu untuk membalas Gigi dengan program anti bullying-nya.

Walaupun popularitas yang kembali kudapatkan itu hampir positif di mata orang-orang yang menilai bahwa bertindak diam-diam tanpa orasi adalah cara yang elegan untuk bangkit, aku nggak serta merta kembali mendapatkan cakarku. Aku benar-benar takut akan apa yang membuatku di atas angin; seseorang akan kembali menjatuhkanku ke tanah. Ananda dan Pevi sadar akan hal itu dan mereka mencoba untuk mendukungku. Tapi, kami telah berjanji bahwa semuanya adalah rahasia dan nggak ada seorang pun yang boleh mengetahuinya. Nggak peduli pendapat orang lain kami tetap bersama, menjalankan ritual itu dengan diam-diam.

Selama itu, aku sudah mendengar banyak sekali permohonan dan aku masih belum menulis satu pun permohonan. Ada yang ingin seragam baru, ada yang ingin bertemu orang tuanya, ada pula yang ingin pernyataan cintanya diterima orang yang disukai. Semua itu amat sederhana bagiku. Namun, bagi mereka hal-hal yang mereka ucapkan begitu berharga.

Aku mulai mempertanyakan apakah aku orang yang hidup? Kenapa rasanya begitu hampa? Apakah aku nggak memiliki sesuatu yang berharga di dunia ini?

Nggak lama kemudian, akhirnya Adrian menyatakan cintanya lewat sekotak coklat yang terang-terangan dia berikan di depan adiknya dan Pevi. Semua orang berkata aku harus menerimanya karena kami serasi. Aku merasa bingung. Aku suka mengobrol dengan Adrian apalagi saat dia mengajariku matematika, tapi perasaan yang kupunya untuknya belum sejauh itu. Dalam kebingungan itu, tiba-tiba aku sadar kalau sebenarnya aku punya seseorang yang selalu aku perhatikan dan sayangnya itu bukan Adrian. Jadi, saat itu aku hanya mengucapkan maaf.

Aku mungkin membuat Ananda kecewa tapi untungnya dia mengerti bahwa aku sama sekali nggak mengerti cinta. Aku masih mempertanyakan apa aku ini memiliki cinta untuk orang lain. Aku bahkan nggak mencintai diriku sendiri dengan berlarut-larut dalam ketakutan akan segala hal yang mungkin menyakitiku. Aku merokok dan malas belajar. Aku masih berusaha melarikan diri di saat teman-temanku berusaha untuk menopangku agar nggak jatuh lagi.

Saat Saira Squad mulai menjadi viral di sekolah karena mulai banyak anak-anak yang ikut ritual, aku semakin takut lagi. Aku berusaha untuk sembunyi karena nggak ingin dihubung-hubungkan dengan apa yang dilakukan teman-temanku. Mereka orang-orang yang berhasil bangkit, sedangkan aku? Aku seperti pengecut yang selalu mati ketakutan dan ingin sembunyi lebih lama.

Tapi, suatu ketika saat aku melihat Sidney lagi, sebuah keinginan muncul begitu saja dari dalam diriku. Aku memperhatikannya dari kejauhan dan berharap bisa menyapanya; hanya sekedar menyapa. Dan entah ada apa dengan diriku, ketika dia hampir menemukanku, aku bersembunyi seperti gadis pemalu; selalu seperti itu sampai aku putus asa.

Hingga pada sebuah ritual perkumpulan berikutnya, aku muncul untuk menulis sebuah permohonan. Ananda dan Pevi sempat terkejut tapi senang saat tahu aku akan menulis permohonan pertamaku di saat yang lain sudah menghanyutkan banyak permohonan di laut. Kami berdiri sambil berpegangan tangan untuk membacakan permohonan masing-masing.

Saat Ananda berkata ingin pergi ke ladang bunga matahari dan Pevi masih belum kurus dan langsing, aku mengucapkan “Aku ingin bicara dengan Sidney.”

Kedua temanku terkejut dan mendadak histeris.

“Lo suka sama cowok yang sering di ruangan Bu Tetty itu?!” Pevi tampak tak percaya padaku dan aku mengangguk.

Sedikit malu mengakuinya, terlebih aku juga nggak enak sama Ananda. Tapi, Ananda memelukku. “Gue senang akhirnya lo bikin permohonan,” katanya.

“Sorry ya, Nan...,” ucapku soal Adrian yang mungkin masih patah hati karena penolakanku.

Ananda menggeleng sambil tersenyum dan memelukku lagi dengan haru. “Gue senang lihat lo akhirnya punya sesuatu yang lo inginkan...,” dia berkata. “Walaupun Adrian kakak gue, itu tetap nggak ada hubungannya....”

Lalu kami menghanyutkan semua permohonan kami bersama-sama dan pulang dengan gembira. Setelah itu, kami mulai berusaha untuk mewujudkan impian masing-masing. Ananda mulai sibuk belajar untuk dapat beasiswa sekolah di luar negeri dan Pevi mulai mengatur pola makan dan olahraga. Sedangkan aku mengambil langkah awal dengan menonton film romantis Hollywood seperti Chasing Liberty, The Notebook, Love Actually dan sejenisnya; setidaknya itu memberitahuku seperti apa orang-orang jatuh cinta dan menjalani sebuah hubungan.

Namun, kisah cintaku berbeda. Mungkin karena keingintahuanku tentang ‘kedewasaan’ begitu besar dan seandainya aku bisa menahan diri semua kejadian buruk nggak akan menimpaku. Aku hanya nggak tenang sehingga kemudian aku merokok lagi walaupun teman-temanku sudah melarangnya. Di sekolah aku tetap sendirian karena nggak punya nyali mendekati teman-temanku. Aku bahkan menghindar saat Ananda dan Pevi menghampiriku di sekolah. Aku nggak ingin orang lain melihat mereka bersamaku jadinya aku memilih halaman belakang sekolah untuk menyendiri. Lalu dia datang; begitu saja; dan kemudian mengubah banyak hal.

Sidney nggak berpikiran buruk padaku saat melihatku merokok karena bahkan dia ikut merokok bersama. Rupanya dia sering memperhatikan fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini. Seperti keinginan yang telah dikabulkan, kami mulai saling bicara dan aku berusaha menyembunyikan debaran di dadaku setiap melihatnya. Dia begitu tenang dan aku mulai merasa begitu menginginkannya. Seperti yang kukatakan, dia datang dengan begitu mudahnya semudah ia menghancurkan hatiku. Aku pikir aku gadis satu-satunya yang sering dia ajak bicara serius tapi aku melihatnya berbicara dengan Magisa beberapa kali.

“Kamu tahu merokok di sekolah itu berbahaya?” dia menegurku setelah muncul dengan tiba-tiba saat aku merokok.

“Tumben...,” balasku. “Kamu kehabisan rokok ya?”

“Aku masih punya banyak kalau kamu mau,” dia menegaskan. “Tapi, nggak perlu harus ngerokok di sini. Kalau ketahuan, kamu pasti habis.”

“Habis yang gimana sih?” balasku lagi. “Habis karena aku di skorsing guru?”

Tapi tiba-tiba saja dia merampas rokok di tanganku. “Hey!” protesku dan aku geram sekali ketika dia membuang rokok itu dan menginjaknya. “Itu tinggal satu!”

“Kamu tahu ada yang lebih buruk dari kemarahan guru kamu ‘kan?” Sidney mulai bertingkah aneh,

“Oh, aku lupa kalau aku selebritis sekolah dan apapun yang aku lakuin bakal di pajang di selebaran nggak jelas itu,” aku terkekeh. “Harusnya si kawat gigi ganti nama madingnya jadi namaku, karena yang dia omongin di sana selalu aku.”

“Coba deh kamu  nggak bikin perkumpulan aneh yang jadi trend itu, kamu nggak akan jadi langganan artikel mereka....”

“Siapa sih yang bikin perkumpulan?” celetukku sebal.

“Terus kamu sama anak-anak itu ngapain?”

Aku diam dan kembali nggak tenang. Aku nggak menyangka Sidney pun merasa bahwa aku yang membuat perkumpulan itu untuk balas dendam. Apa itu yang membuat sikapnya sedikit berbeda dari saat terakhir kami mengobrol? Apa karena dia juga... termakan oleh omonngannya Magisa?

“Sejak kapan sih kamu jadi pingin tahu banget?” celetukku lagi dengan kesal. “Oh, atau karena kebanyakan mojok sama si kawat gigi?”

“Terus kamu cemburu?” dia membalas seakan dengan tatapannya itu ia bisa membaca hatiku saat ini.

“Cemburu?” aku membantah dan nyaris nggak bisa sembunyi lagi. “Jangan ngasal....”

“Apa ya namanya perasaan kalau tiba-tiba orang balik kanan hanya karena melihat seorang laki-laki berjabat tangan sama seorang gadis?” tanya Sidney yang tiba-tiba malah mendesakku. “Setelah itu selalu kabur dan setiap ketemu selalu lari-lari kucing.”

“Bakal lain ceritanya kalau kamu nggak berurusan sama si kawat gigi, tau?! Kalau sama yang lain aku nggak peduli!” cetusku kesal dan ingi pergi sebelum Sidney benar-benar menyadarinya. Tentu saja aku malu. Selama ini aku selalu berpura-pura di depannya.

Tapi, Sidney mendapatkanku sebelum aku berhasil kabur. “Kamu serius?” ia bertanya sambil menatapku lekat-lekat.

“Apa sih?!” teriakku. Gengaman tangannya di lenganku membuatku benar-benar takut dan salah tingkah. Namun, aku nggak bisa menarik diriku sekalipun yang kukatakan sudah cukup menegaskan bahwa persembunyianku belum terungkap. “Aku ini bukan cewek bego yang bisa dijadiin objek penelitian! Aku bukan anak kecil!”

Sidney tertawa tanpa melepaskan genggamannya sementara aku mulai berkeringat dingin. Kalau dia nggak melepaskanku, aku bisa mati lemas. Tapi, dia ternyata menggodaku seakan dia mempunyai rasa yang sama. “Kalau gitu buktikan kalau kamu bukan anak kecil,” Sidney mulai serius dengan tatapan matanya yang juga nggak mau melepaskanku. “Orang dewasa nggak akan semudah itu jatuh hanya gara-gara kata yang sepele, Saira...”

Aku benar-benar berada dalam jarak yang dekat dengannya di tambah dengan situasi yang mendukung. Halaman belakang yang sepi dan sunyi. Aku berusaha mengendalikan detak jantungku saat dia mendekatkan wajahnya dan kalau saja bel tanda istirahat berakhir nggak pakai acara berbunyi segala, dia berhasil menciumku.

Namun, esoknya Magisa kembali terlihat di sekitar Sidney.

***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments