๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Cinta Gadis Kecil
“Merokok itu nggak baik, Sai,” kata Pevi padaku tapi aku
nggak menghiraukannya. Aku menjadi tergantung pada tembakau yang dibungkus rasa
mint itu karena aku seringkali merasa gelisah akan sesuatu.
Sejak kabar angin mulai berhembus tentang Saira’s Squad, aku
semakin takut saja. Aku nggak tahu siapa yang mulai menjuluki pertemuan itu
dengan namaku; aku curiga lagi-lagi si kawat gigi yang sepertinya nggak suka
ada gerakan lain yang menggesernya dari posisi ‘headline sekolah’. Orang-orang
mulai berkeyakinan aku yang mencetuskan ide perkumpulan rahasia itu untuk
membalas Gigi dengan program anti bullying-nya.
Walaupun popularitas yang kembali kudapatkan itu hampir
positif di mata orang-orang yang menilai bahwa bertindak diam-diam tanpa orasi
adalah cara yang elegan untuk bangkit, aku nggak serta merta kembali
mendapatkan cakarku. Aku benar-benar takut akan apa yang membuatku di atas
angin; seseorang akan kembali menjatuhkanku ke tanah. Ananda dan Pevi sadar
akan hal itu dan mereka mencoba untuk mendukungku. Tapi, kami telah berjanji
bahwa semuanya adalah rahasia dan nggak ada seorang pun yang boleh
mengetahuinya. Nggak peduli pendapat orang lain kami tetap bersama, menjalankan
ritual itu dengan diam-diam.
Selama itu, aku sudah mendengar banyak sekali permohonan dan
aku masih belum menulis satu pun permohonan. Ada yang ingin seragam baru, ada
yang ingin bertemu orang tuanya, ada pula yang ingin pernyataan cintanya
diterima orang yang disukai. Semua itu amat sederhana bagiku. Namun, bagi
mereka hal-hal yang mereka ucapkan begitu berharga.
Aku mulai mempertanyakan apakah aku orang yang hidup? Kenapa
rasanya begitu hampa? Apakah aku nggak memiliki sesuatu yang berharga di dunia
ini?
Nggak lama kemudian, akhirnya Adrian menyatakan cintanya
lewat sekotak coklat yang terang-terangan dia berikan di depan adiknya dan
Pevi. Semua orang berkata aku harus menerimanya karena kami serasi. Aku merasa
bingung. Aku suka mengobrol dengan Adrian apalagi saat dia mengajariku
matematika, tapi perasaan yang kupunya untuknya belum sejauh itu. Dalam
kebingungan itu, tiba-tiba aku sadar kalau sebenarnya aku punya seseorang yang
selalu aku perhatikan dan sayangnya itu bukan Adrian. Jadi, saat itu aku hanya
mengucapkan maaf.
Aku mungkin membuat Ananda kecewa tapi untungnya dia
mengerti bahwa aku sama sekali nggak mengerti cinta. Aku masih mempertanyakan
apa aku ini memiliki cinta untuk orang lain. Aku bahkan nggak mencintai diriku
sendiri dengan berlarut-larut dalam ketakutan akan segala hal yang mungkin
menyakitiku. Aku merokok dan malas belajar. Aku masih berusaha melarikan diri
di saat teman-temanku berusaha untuk menopangku agar nggak jatuh lagi.
Saat Saira Squad mulai menjadi viral di sekolah karena mulai
banyak anak-anak yang ikut ritual, aku semakin takut lagi. Aku berusaha untuk
sembunyi karena nggak ingin dihubung-hubungkan dengan apa yang dilakukan
teman-temanku. Mereka orang-orang yang berhasil bangkit, sedangkan aku? Aku
seperti pengecut yang selalu mati ketakutan dan ingin sembunyi lebih lama.
Tapi, suatu ketika saat aku melihat Sidney lagi, sebuah
keinginan muncul begitu saja dari dalam diriku. Aku memperhatikannya dari
kejauhan dan berharap bisa menyapanya; hanya sekedar menyapa. Dan entah ada apa
dengan diriku, ketika dia hampir menemukanku, aku bersembunyi seperti gadis
pemalu; selalu seperti itu sampai aku putus asa.
Hingga pada sebuah ritual perkumpulan berikutnya, aku muncul
untuk menulis sebuah permohonan. Ananda dan Pevi sempat terkejut tapi senang saat
tahu aku akan menulis permohonan pertamaku di saat yang lain sudah
menghanyutkan banyak permohonan di laut. Kami berdiri sambil berpegangan tangan
untuk membacakan permohonan masing-masing.
Saat Ananda berkata ingin pergi ke ladang bunga matahari dan
Pevi masih belum kurus dan langsing, aku mengucapkan “Aku ingin bicara dengan
Sidney.”
Kedua temanku terkejut dan mendadak histeris.
“Lo suka sama cowok yang sering di ruangan Bu Tetty itu?!”
Pevi tampak tak percaya padaku dan aku mengangguk.
Sedikit malu mengakuinya, terlebih aku juga nggak enak sama
Ananda. Tapi, Ananda memelukku. “Gue senang akhirnya lo bikin permohonan,”
katanya.
“Sorry ya, Nan...,” ucapku soal Adrian yang mungkin masih
patah hati karena penolakanku.
Ananda menggeleng sambil tersenyum dan memelukku lagi dengan
haru. “Gue senang lihat lo akhirnya punya sesuatu yang lo inginkan...,” dia
berkata. “Walaupun Adrian kakak gue, itu tetap nggak ada hubungannya....”
Lalu kami menghanyutkan semua permohonan kami bersama-sama
dan pulang dengan gembira. Setelah itu, kami mulai berusaha untuk mewujudkan
impian masing-masing. Ananda mulai sibuk belajar untuk dapat beasiswa sekolah
di luar negeri dan Pevi mulai mengatur pola makan dan olahraga. Sedangkan aku
mengambil langkah awal dengan menonton film romantis Hollywood seperti Chasing
Liberty, The Notebook, Love Actually dan sejenisnya; setidaknya itu
memberitahuku seperti apa orang-orang jatuh cinta dan menjalani sebuah
hubungan.
Namun, kisah cintaku berbeda. Mungkin karena keingintahuanku
tentang ‘kedewasaan’ begitu besar dan seandainya aku bisa menahan diri semua
kejadian buruk nggak akan menimpaku. Aku hanya nggak tenang sehingga kemudian
aku merokok lagi walaupun teman-temanku sudah melarangnya. Di sekolah aku tetap
sendirian karena nggak punya nyali mendekati teman-temanku. Aku bahkan
menghindar saat Ananda dan Pevi menghampiriku di sekolah. Aku nggak ingin orang
lain melihat mereka bersamaku jadinya aku memilih halaman belakang sekolah
untuk menyendiri. Lalu dia datang; begitu saja; dan kemudian mengubah banyak
hal.
Sidney nggak berpikiran buruk padaku saat melihatku merokok
karena bahkan dia ikut merokok bersama. Rupanya dia sering memperhatikan
fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini. Seperti keinginan yang telah
dikabulkan, kami mulai saling bicara dan aku berusaha menyembunyikan debaran di
dadaku setiap melihatnya. Dia begitu tenang dan aku mulai merasa begitu
menginginkannya. Seperti yang kukatakan, dia datang dengan begitu mudahnya
semudah ia menghancurkan hatiku. Aku pikir aku gadis satu-satunya yang sering
dia ajak bicara serius tapi aku melihatnya berbicara dengan Magisa beberapa
kali.
“Kamu tahu merokok di sekolah itu berbahaya?” dia menegurku
setelah muncul dengan tiba-tiba saat aku merokok.
“Tumben...,” balasku. “Kamu kehabisan rokok ya?”
“Aku masih punya banyak kalau kamu mau,” dia menegaskan.
“Tapi, nggak perlu harus ngerokok di sini. Kalau ketahuan, kamu pasti habis.”
“Habis yang gimana sih?” balasku lagi. “Habis karena aku di
skorsing guru?”
Tapi tiba-tiba saja dia merampas rokok di tanganku. “Hey!”
protesku dan aku geram sekali ketika dia membuang rokok itu dan menginjaknya.
“Itu tinggal satu!”
“Kamu tahu ada yang lebih buruk dari kemarahan guru kamu
‘kan?” Sidney mulai bertingkah aneh,
“Oh, aku lupa kalau aku selebritis sekolah dan apapun yang
aku lakuin bakal di pajang di selebaran nggak jelas itu,” aku terkekeh.
“Harusnya si kawat gigi ganti nama madingnya jadi namaku, karena yang dia
omongin di sana selalu aku.”
“Coba deh kamu nggak
bikin perkumpulan aneh yang jadi trend itu, kamu nggak akan jadi langganan
artikel mereka....”
“Siapa sih yang bikin perkumpulan?” celetukku sebal.
“Terus kamu sama anak-anak itu ngapain?”
Aku diam dan kembali nggak tenang. Aku nggak menyangka
Sidney pun merasa bahwa aku yang membuat perkumpulan itu untuk balas dendam.
Apa itu yang membuat sikapnya sedikit berbeda dari saat terakhir kami
mengobrol? Apa karena dia juga... termakan oleh omonngannya Magisa?
“Sejak kapan sih kamu jadi pingin tahu banget?” celetukku
lagi dengan kesal. “Oh, atau karena kebanyakan mojok sama si kawat gigi?”
“Terus kamu cemburu?” dia membalas seakan dengan tatapannya
itu ia bisa membaca hatiku saat ini.
“Cemburu?” aku membantah dan nyaris nggak bisa sembunyi
lagi. “Jangan ngasal....”
“Apa ya namanya perasaan kalau tiba-tiba orang balik kanan
hanya karena melihat seorang laki-laki berjabat tangan sama seorang gadis?”
tanya Sidney yang tiba-tiba malah mendesakku. “Setelah itu selalu kabur dan
setiap ketemu selalu lari-lari kucing.”
“Bakal lain ceritanya kalau kamu nggak berurusan sama si
kawat gigi, tau?! Kalau sama yang lain aku nggak peduli!” cetusku kesal dan
ingi pergi sebelum Sidney benar-benar menyadarinya. Tentu saja aku malu. Selama
ini aku selalu berpura-pura di depannya.
Tapi, Sidney mendapatkanku sebelum aku berhasil kabur. “Kamu
serius?” ia bertanya sambil menatapku lekat-lekat.
“Apa sih?!” teriakku. Gengaman tangannya di lenganku
membuatku benar-benar takut dan salah tingkah. Namun, aku nggak bisa menarik
diriku sekalipun yang kukatakan sudah cukup menegaskan bahwa persembunyianku
belum terungkap. “Aku ini bukan cewek bego yang bisa dijadiin objek penelitian!
Aku bukan anak kecil!”
Sidney tertawa tanpa melepaskan genggamannya sementara aku
mulai berkeringat dingin. Kalau dia nggak melepaskanku, aku bisa mati lemas.
Tapi, dia ternyata menggodaku seakan dia mempunyai rasa yang sama. “Kalau gitu
buktikan kalau kamu bukan anak kecil,” Sidney mulai serius dengan tatapan
matanya yang juga nggak mau melepaskanku. “Orang dewasa nggak akan semudah itu
jatuh hanya gara-gara kata yang sepele, Saira...”
Aku benar-benar berada dalam jarak yang dekat dengannya di
tambah dengan situasi yang mendukung. Halaman belakang yang sepi dan sunyi. Aku
berusaha mengendalikan detak jantungku saat dia mendekatkan wajahnya dan kalau
saja bel tanda istirahat berakhir nggak pakai acara berbunyi segala, dia
berhasil menciumku.
Namun, esoknya Magisa kembali terlihat di sekitar Sidney.
***
Komentar
0 comments