๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Ananda memulainya dengan sebuah undangan kepada seorang
gadis yang pernah ia lihat sedang dibully
oleh siswa laki-laki karena bertubuh gendut. Sebuah undangan kecil bertuliskan
ilustrasi matahari dan jam di mana Ananda akan menunggunya lalu mereka pergi ke
Teluk Jakarta. Ananda memberinya sebuah botol dan kertas untuk ditulis sebuah
permohonan lalu menghanyutkannya di laut. Namanya Pevita dan kami memanggilnya
Pevi. Tahu apa yang ditulis Pevi di dalam botolnya? ‘Aku ingin sekali menjadi
kurus seperti Saira’.
Sejak kehadiran Pevi, semuanya menjadi lebih berwarna. Pevi
adalah gadis yang kurang percaya diri dengan bobotnya; nggak heran sih makanan
favoritnya Pevi adalah nasi Padang. Sepulang sekolah dia bahkan sering mengajak
kami makan di warung nasi Padang favoritnya. Dari sana aku tahu alasan mengapa
Nasi Padang terkenal di mana-mana. Menunya kebanyakan terbuat dari santan;
gulai, rendang dan sejenisnya. Aku juga sempat keranjingan makan nasi Padang.
Sebenarnya Pevi sendiri menyangsikan kalau dia bisa kurus
dan sudah lama putus asa dengan berat badannya yang bukan berkurang tapi malah
terus bertambah. Aku dan Ananda membuatnya benar-benar percaya itu akan
terjadi. Karena Pevi-lah jalan kaki dari sekolah ke Teluk Jakarta menjadi
sebuah ritual. Kami sengaja mengajaknya jalan kaki karena Pevi memang pemalas
dan kami membuatnya menjadi menyenangkan dengan tertawa dan menceritakan
hal-hal yang menyenangkan sepanjang jalan; walaupun sebelum ke Teluk Jakarta
tetap singgah di warung nasi Padang untuk makan.
Setelah Pevi berhasil menurunkan berat badannya, walaupun
hanya beberapa kilogram saja, ia pun terpikir untuk mengajak orang lain yang
mengalami nasib seperti dirinya yaitu di-bully
karena kekurangannya. Tapi, Ananda kurang setuju dengan itu karena kalau kami
terlalu ramai maka semua orang akan tahu. Ananda nggak ingin membentuk sebuah
geng karena menurutnya ritual menghanyutkan botol di laut adalah rahasianya dan
ia hanya ingin berbagi pada orang-orang yang ia percayai. Ananda nggak ingin
apa yang dia lakukan dianggap sebagai hal yang kekanakan dan konyol apalagi
sampai ada yang mencelanya. Itu malah akan menimbulkan sesuatu untuk dibully oleh anak-anak lain. Aku juga
nggak setuju karena aku berada di dalamnya dan aku terlanjur memiliki reputasi
sebagai ‘siswi nakal’. Aku nggak ingin orang lain jadi kebawa-bawa gara-gara
aku.
“Kita membuatnya menjadi rahasia!” seru Pevi yang
bersemangat sekali ingin berbagi. “Maksudnya semua yang kita lakukan itu adalah
rahasia.”
Aku dan Ananda hanya mengernyit. Kami masih belum mengerti
dengan rencananya.
“Iya, rahasia! Sama kayak Nanda ngasih gue undangan sama
kertas kecil yang dilipat-lipat. Itu ‘kan undangan rahasia,” jelasnya.
“Gue ngirim undangan itu sebagai tanda karena nggak tahu
cara lain supaya bisa ngasih tahu lo, Pev...” kata Nanda. “Kita ‘kan belum
pernah ngobrol sebelumnya....”
“Ya itu dia! Undangannya yang ada simbolnya,” dia berkata
dengan sangat yakin sambil berdiri dan menghadap laut. Sekali ia menoleh kepada
kami yang masih duduk di atas pasir sambil memandangi dia penuh dengan tanda
tanya. “Kita bisa mulai dari sini!”
Aku bertambah bingung dan Ananda menatapku heran.
“Ayo, sini!” panggil Pevi dengan lambaian tangannya.
Saat itu matahari hampir tenggelam dan langit mulai
kemerahan. Pevita mengajak kami untuk membuat sebuah perjanjian. Kami berdiri
berpegangan membentuk lingkaran sambil mengucapkan permohonan yang kami tulis
pada kertas dalam botol lalu berjanji nggak akan mengatakannya pada siapa pun.
“Aku ingin dapat beasiswa jurusan arsitektur di University
of Canberra,” Ananda mengucapkan permohonanannya.
“Aku ingin kurus dan punya pacar,” permohonan Pevi membuatku
tertawa namun Ananda menyentak tanganku agar gak meremehkan permohonannya.
Sayangnya aku belum mengucapkan permohonan apa-apa saat itu.
Aku belum pernah membuat surat dalam botol. Namun, aku berjanji akan menjaga
rahasia tentang apa yang mereka inginkan sembari memikirkan apa yang ingin aku
tulis. Yang jelas kemudian, aku memotong pendek rambutku sebagai permulaan yang
baru karena akhirnya aku memiliki teman-teman.
Undangan mulai tersebar secara rahasia. Karena aku
satu-satunya yang pasif, aku memutuskan untuk menjadi penulis undangan saja
ketimbang menargetkan siapa yang akan menerima undangan itu. Pevi dan Ananda
lebih tahu orang yang paling tepat untuk diundang; karena mereka pernah di-bully. Sedangkan aku adalah si pem-bully yang sudah jera dan ingin memulai
awal yang baru; kenyataan itu kadang membuatku merasa malu.
Biasanya Pevi dan Ananda memasukan undangan itu secara
diam-diam ke dalam tas atau menyelipkannya di buku milik orang yang mereka
tuju. Pevi menunggu yang terpilih di belakang sekolah untuk mengecek apakah
orang yang datang memiliki undangan. Sedangkan Ananda menunggu di Teluk Jakarta
untuk memberikan botol dan kertas kepada mereka untuk ditulisi permohonan.
Kalau aku sendiri lebih memilih sembunyi. Aku merasa nggak pantas berada di
antara mereka saat mengucapkan permohonan. Aku nggak punya impian atau
keinginan. Menyedihkan bukan?
Aku nggak pernah tahu apa yang aku inginkan sebelum aku
bertemu seseorang yang kemudian mengubah segalanya.
***
Siang itu, aku bosan sekali. Aku memang benci belajar. Aku
juga nggak punya hobi yang bikin aku merasa betah. Sejak berteman sama Ananda
aku lebih suka nongkrong di rumahnya sampai sore. Tapi, karena kegiatan
perkumpulan adalah rahasia bagi orang selain anggota, kami mulai jarang
duduk-duduk di sana. Aku nggak pernah bertemu Adrian yang memperhatikanku lagi
walaupun kadang Ananda bilang padaku Adrian sempat bertanya tentangku. Ya,
Adrian memang baik bahkan Ananda berkata seolah Adrian suka padaku. Bahkan
setelah Pevi juga tahu hal itu, mereka semakin bersemangat. Pernah setelah
kembali dari Teluk Jakarta, kami bela-belain pergi ke rumah Ananda untuk
mempertemukanku dengan Adrian.
Ya, Adrian memang baik dan ramah. Keren juga. Tapi, aku
nggak suka. Nggak tahu kenapa, aku nggak punya ketertarikan khusus pada Adrian.
Adrian memang sering membuatku tersipu malu saat mengobrol di dekatnya. Tapi,
perasaan itu jauh dari rasa suka yang sebenarnya. Aku merasa yang aku inginkan
bukan Adrian walaupun aku juga nggak
tahu orang seperti apa yang bisa membuatku jatuh cinta. Bahkan kata ‘jatuh
cinta’ masih sesuatu yang mewah bagiku; karena perasaan semacam itu nggak bisa
dibeli dengan uang.
Tiba-tiba aku ingin melarikan diri saja dari sekolah. Di
sekolah aku memang menjauhi Ananda dan Pevi. Sekali lagi aku bilang, aku ini
seperti racun yang berbahaya bagi kelangsungan hidup mereka di sekolah. Jadi,
kemudian aku memutuskan untuk membolos dengan memanjat pagar belakang. Kebiasaan
membolos itu terus berlanjut karena ruangan Bu Tetty nggak pernah membuatku
takut.
Aku masuk ke sana dan dimarahi; itu saja dan sebagai
gantinya aku bertemu dengan orang itu; namanya sama seperti nama kukang dalam
film Ice Age. Sebenarnya nama itu keren; kalau nggak salah ibukotanya
Australia; ah, aku juga nggak tahu ibukotanya Australia, tapi saat mendengar Bu
Tetty memanggilnya “Sid,” aku langsung tertawa. Manny dan Diego selalu
memanggil Sidney si kukang dengan ‘Sid’; biasanya kalau Sid melakukan kesalahan
yang konyol. Sid memang hewan yang lucu, tapi kalau cowok itu, dia sama sekali
nggak ada lucu-lucunya. Dia sangat kaku untuk ukuran orang bule yang kebanyakan
suka sekali menggangu cewek lokal.
Aku juga ingat saat
kelas Kimia; karena aku jurusannya IPA dan aku sama sekali nggak
mengerti apa-apa; disuruh menghafal nama-nama bahan kimia berbahaya.
Hydrofluoric Acid dengan nama lain Asam Fluorida. Aku langsung teringat
padanya. Acid; Sid; dan itu sama sekali nggak kedengaran keren. Sidney Adams,
memang berbahaya seperti Hydrofluoric Acid.
Jadi, ketika akhirnya dia menangkap basah aku yang berusaha
kabur, aku benar-benar takut. Tapi, takut itu seketika hilang karena aku jatuh
dan dia melihat celana dalamku. Aku malu. Tentu saja. Walaupun itu pertama
kalinya aku bicara dengannya, aku bersikap menggelikan dengan menantangnya
untuk melaporkanku ke Bu Tetty kalau dia berani.
Tapi, dia memang nggak pernah mengadukanku. Hanya saja,
sejak itu aku selalu menghindar setiap akan berpapasan dengannya. Bagaimana pun
kejadian hari itu sangat memalukan. Aku nggak ingin dia ingat bahwa akulah yang
terjatuh dengan konyol dari pagar saat mencoba bolos walaupun aku yakin seratus
persen dia tahu bahwa cewek sial itu adalah Saira Gayatri yang paling
bermasalah. Aku nggak sadar, itulah pertama kalinya aku takut dengan pendapat
orang tentangku.
Aku begitu gelisah. Aku jadi nggak berani lagi bolos lewat
pagar belakang terlebih aku mulai sering menemukan dia merokok di sana.
Firasatku mengatakan itu dia lakukan untuk mengantisipasi nggak ada yang kabur
saat pelajaran. Tapi, apa gunanya? Setahuku dia hanya anak magang dan tugasnya
bukan mengawasi tapi belajar sepertiku. Karena sering melihat dia di sana, aku
selalu mengambil langkah mundur dan balik kanan. Aku nggak ingin dia melihatku;
melihat aku yang seperti ini. Walaupun kadang rasa ingin menghampiri itu
muncul; tapi bagaimana caranya? Aku nggak pernah memulai pembicaraan dengan
seorang cowok. Lagipula dia lebih dewasa daripada Adrian; pasti aku akan
kelihatan kekanakan saat bicara sembarangan.
Tapi, dia merokok. Aku memang sering memperhatikan orang
dewasa yang merokok. Di sekolahku, rata-rata guru-guru pria memang merokok.
Mereka merokok di area tertentu saja supaya nggak dilihat murid dan menjadi
contoh. Dia juga. Pergi ke halaman belakang supaya nggak kelihatan sedang
merokok. Bagiku merokok itu adalah cara orang dewasa melupakan masalah sejenak.
Aku juga pernah melihat Mama-ku merokok saat dia sedang tertekan. Aku pernah
mencobanya juga tapi rasanya sama sekali nggak enak. Namun, entah mengapa aku
ingin mencobanya lagi.
***
Komentar
0 comments